FAIDAH:
Al-Imam Abul-‘Abbas telah berkata : “Seandainya syetan mengetahui ada Jalan yang dapat menyampaikan kepada Allah Ta’ala lebih baik dari syuku niscaya ia (syetan) akan berhenti di situ. Apakah engkau tidak mengetahui bagaimana dia mengatakan : (kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereko. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. (OS Al A’raaf : 17), dan dia (syetan) tidak mengatakan : kebanyakan mereka bersabar atau kebanyakan mereka merasa ketakutan atau kebanyaka mereka menaruh harapan”.
PENUTUP SYUKUR, ARTINYA DAN APA-APA YANG BERHUBUNGAN DENGAN SYUKUR
Allah Ta’ala telah berfirman melalui lisan Nabi-Nya Sulaiman a.s. ketika melihat Singgasana Ratu Balgis telah berada dihadapannya, dan melihat pula kurnia Allah yang berupa kerajaan agung disamping kenabian dan ilmu hikmahnya :
“Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni’mat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha mulia”. (O.S. An Namlu : 40).
Para ulama telah berkata : “Tidak diragukan lagi bahwa beraneka ni’mat yang-dikurniakan kepada seorang hamba, dapat membuatnya menjadi hamba yang bersyukur. Hal itu dapat terjadi, jika hamba itu menyadari betulbetul ni’mat-ni’mat itu semata-mata kurnia Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Agung yang diberikan kepadanya.
Karena itu, kemudian ia melakukan kewajibannya kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Maka syukur kepada Allah itu dampaknya akan kembali kepada dirinya yaitu sesuai dengan maksud firman-Nya :
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”. (QS. Ibrahim : 7). atau mungkin juga ni’mat itu sebagai penyebab kekufuran seorang hamba karena kejahilannya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dan ketidak tahuannya bahwa ni’mat-ni’mat itu berasal dari padaNya, dan dikurniakan untuk dirinya.
Kemudian ia tidak melakukan kewajibannya terhadap Allah SWT.
yang telah menganugerahkan ni’mat-ni’mat itu. Kekufuran hamba itu, Pada hakekatnya tidak bermadharrat bagi Allah SWT. karena Allah itu Maha Kaya dari alam semesta, seperti yang difirmankan Allah di dalam Al Ouran, Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa syukur itu hanyalah berupa ucapan ( ) tanpa adanya pelaksanaan hak-hak terhadap Dzat yang memberi ni’mat-ni’mat itu sendiri Demikian pula, bukanlah Islam hanya berupa ucapa – ” ( ) tanpa pelaksanaan hak-haknya. Dernikian pula istighfar, – hanya berupa ucapan ( , ) sedang engkau tetap melakuka perbuatan dosa. Aliah SWT. berfirman : ,
“Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. (QS. Ash Shaf : 3).
“dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum dikerjakan “ (QS. Ali Imran : 188).
Adapun Basyar Alhaafii (rahimahullah) telah berkata : “Siapa yang bersyukur dengan lidahnya tanpa seluruh anggautanya, maka telah berkuranglah syukurnya”. Ada yang bertanya : “Apa itu syukur anggauta?”. ia berkata : “Syukur kedua mata adalah digunakan untuk melihat yang baik dan disebarkannya sedang yang buruk ditutupinya”. Ada yang bertanya : “Apa itu syukur kedua telinga?”. Ia berkata : “Apabila ia mendenga’ kebajikan dihafalnya, dan jika mendengar keburukan dilupakannya”. Ap’ itu syukur kedua tangan?” Ya berkata : “Agar tidak mengambil dan tidal memberi kecuali kepada yang berhak”. Ada yang bertanya : “Apa itu syuku’ perut?” Ta berkata : “Agar ia dipenuhi dengan ilmu dan hikmah”. Ada yang bertanya : “Apa itu syukur farji (kemaluan) ?”, Ia berkata : “Agar tidak dipergunakan kecuali pada yang diperbolehkan menurut agama saja “
Barang siapa yang berbuat menurut apa yang telah kami sampaikan maka ia termasuk orang-orang yang bersyukur.









One Comment