Adzkar

Terjemahan Kitab Al Qirthos

KISAH NABI YUSUF DA. RAJA MESIR .

Al Baghawi telah meriwayatkan didalam tafsirnya bahwa setelah Nabi Yusuf a.s. keluar dari penjara, datanglah seorang pesuruh Raja kepadanya, dan meminta agar Nabi Yusuf menghadap Raja. Sebelum meninggalkan penjara, ia berdiri lama dimuka pintu, sambil berdo’a untuk keluarganya dengan ucapan :

“Ya Allah, lembutkanlah hati orang-orang yang baik kepada mereka (keluarganya). dan tidak disebar-luaskan kabar berita mengenai mereka, karena merekapun adalah manusia yang paling tahu tentang keadaan mereka sendiri disetiap pelosok negeri”.

Ketika Nabi Yusuf a.s. keluar dari penjara, dia menulis pada pintu penjara : “INI KUBURAN ORANG-ORANG YANG MASIH HIDUP, RUMAH YANG PENUH KESEDIHAN BAGI PARA SAHABAT, DAN RUMAH YANG PENUH KEKEJAMAN DARI PARA MUSUH””.

Kemudian dia mandi, membersihkan diri dari kotoran yang melekat karena lamanya didalam penjara, dan mengganti pakaian yang bersih lalu menghadap Raja.

Wahab berkata : “Ketika Nabi Yuasuf a.s. berdiri di muka pintu istana Raja, dia berdo’a sebagai berikut :

“Cukuplah bagiku Tuhanku dari duniaku. Cukuplah bagiku Tuhankar dari makhluk-Nya. Maha perkasa perlindungan-Nya Maha Agung puji diatas Dzat-Nya dan riada Tuhan (yang patut disembah) selain Dia”. Kemudian, Nabi Yusuf a.s. masuk dalam istana untuk menghadap Raja sambil mengucapkan :

“Ya Allah. sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan-Mu dari kebaikan raja, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan dari kejahatan orang-orang yang ada disekelilingnya”.

Adapun ucapan para ulama salaf, adalah seperti yang diriwayatkan dari Ma’ruf Alkurkhi r.a. bahwasanya ia telah berkata kepada Muhammad bin Hisaan: “Maukah engkau. aku ajari 10 kalimat: 5 (lima) kalimat untuk urusan duniamu, dan 5 (lima) kalimat untuk urusan akhiratmu?””. Siapa yang berdo’a dengan kalimat-kalimat itu, ia akan memperoleh rahmat Allah terlimpah kepadanya. Muhammad bin Hisaan berkata : “Aku telah berkata kepada Ma’ruf Alkurkhi r.a.: “Tuliskanlah untukku!”. Ia berkata: “Tidak, tetapi akan aku membacanya berulang-ulang untukmu, seperti yang diulangulanginya untuk Abubakar bin Kharrus (semoga Allah merahmatinya) sebagai berikut :

“Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Agung sebagai penolong ata agamaku, Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Penyabar sebagai penolong aras urusan duniaku. Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Pemurah sebagai penolong atas kepenringanku. Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Kuat sebagai penolong atas orang yang berbuat jahat kepadaku. Cukuplah bagiku Alah Yang Muha Kerus sebagai penolong aras orang yang akan herbuat keburukan kepadaku. Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Penyayang sebagai penolong kenka aku menghadapi kematian. Cukuplah hagiku Allah Yang Maha Penyayang sebagai penolong ketika aku menghadapi masalah di dalam kubur, Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Pemurah sebagai penolong ketika aku menghadapi hisaab. Cukuplah hagiku Allah Yang Maha Belas Kasih sehagai penolong ketika aku menghadapi timbangan amal. Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Kuasa sehagai penolong kerika aku menyeberangi shiraat. Cukuplah bagiku Allah Yang tiada Tuhan (yang hak) selain Dia, kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Pemilik “Arasy yang Agung”. Penulis berkata: “Ketahuilah bahwa ucapan (   ) adalah .

“aku ridho atas ketentuan dan takdir-Nya, aku serahkan urusanku kepadaNya dan aku perlindungkan diriku kepada-Nya”.

Allah Yang Maha Pemurah telah berfirman di dalam kitab-Nya yang Agung:

Jika mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka dan berkata: (  ). seperti yang telah: diriwayatkan tentang N. Ibrahim a.s. ketika telah diriwayatkan tentang N. fbrahim a.s. ketika telah diikat pada Al Manjanig, beliau mengucapkan : ‘

(Cukuplah bagiku Allah sebagai penolong). Ucapan i termasuk do’a-do’a yang agung, dan dengannya beliau telah diuji ketika Jibril a.s. mengejarnya seraya berkata : “Apakah engkau berhajat kepadaku hai Ibrahim?”. Beliau bersabda : “Jika kepada engkau, mmaka aku tidak berhajat’”.

Itu adalah kesetiaan Nabi Ibrahim a.s. atas ucapannya : (  ) Karena itu Allah telah memberitahukan tentang Nabi Ibrahim a.s. dengan   firman-Nya :   (dan lembaran-lembaran Ibrahim a.s. yang menyempurmakan janjinya) (QS. An Najmu : 37)

yaitu sehubungan ,   dengan ucapannya :   Menurut riwayat Allah SWT. telah mewahyukan kepada Nabi Dawud a.s. sebagai berikut : .

“Tiada seorang hamba yang berlindung kepada-Ku tanpa meminta pertolongan kepada makhluk-Ku, kemudian seandainya penghuni langit dan bumi memperdayainya, maka Aku akan memberinya jalan keluar”.

Sebahagian mereka berkata : “Apabila engkau ridha akan Allah Sebagai pelindungmu, maka engkau akan memperoleh jalan kepada setiap kebajikan”.

Telah berkata Sayyiduna Abdullah bin Alwi Al Haddad :

.

Dia telah berkata : “Cukuplah bagiku Allah Pemilik ‘Arasy yang mengetahui yang tersembunyi dan yang nyata. Karena itu berserah dirilah kepada. Nya (maka) engkau akan selamat”.

“Janganlah engkau mencari-cari alasan, karena engkau akan menyesali Dan ridhalah kepada gadha yang pahit sekalipun, niscaya engkau akan selamat dari bencana”. Telah berkata Al Imam Ja’far Ash Shadig : “Aku terheran-heran kepada orang yang telah diuji dengan 4 (empat) perkara tetapi lupa kepada 4 (empat) hal :

  1. Orang yang diuji degan penyakit, ia lupa cara menyembuhkannya yaitu dengan ucapan :

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang”. (QS. Al Anbiyaa’ : 83).

“Maka Kami-pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami melenyapkan penyakit yang ada padanya”. (QS. Al Anbiyaa’ : 83).

  1. Aku heran kepada orang yang merasa ketakutan dari sesuatu, ia lupa cara menghilangkannya dengan ucapan :

“Cukuplah bagiku Allah sebaik-baik penolong dan pelindung”.

Allah Ta’ala berfirman :

“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang dasar) dari Allah, mereka mengikuti keridhaan Allah”. (QS. Ali Innran : 174).

  1. Aku heran kepada orang yang memperoleh makar (tipu daya), ia lupa cara menghindarinya dengan ucapan : .

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”. (QS. Al Mu’minun : 44). Allah SWT. berfirman :

“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka”. (@S. Al Mu’minun : 45).

  1. Aku heran kepada orang yang memperoleh nikmat dari Allah dan takut akan hilang (nikmat itu) bagaimana cara memeliharanya yaitu dengan ucapan :

“Sungguh atas kehendak Allah semua itu terwujud tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”. (QS. Al Kahfi : 39).

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Massyaa Allah, laa guwwata illa billaah”. Sesungguhnya atas kehendak Allah. semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali atas pertolongan Allah”. (QS. Al Kahfi : 39).

Demikian sunnatullah Ta’ala bagi orang yang meyakini adanya perlindungan Allah, dan tidaklah ia berserah diri dalam segala urusannya kecuali kepada Allah SWT.

Pada sebagian kitab disebutkan pula : “Aku terheran-heran kepada orang yang memperoleh kesempitan dan rasa duka cita, bagaimana ia menghilangkannya dengan mengucapkan :

“Bahwa tidak,ada Tuhan (yang berhak disembahy selain Engkau. Maha, Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Al Anbiya’ : 87).

“Muka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan, Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al Anbiyaa’ : 88).

Didalam hadits Oudsi, dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW. beliau telah bersabda :

Tidaklah ada orang yang berbicara didalam buaian kecuali 3 (tiga) orang saja yaitu : Isa putra Maryam, sahabat Jariij dan bayi yang sedang disusui ibunya. Ia telah melintasi seorang jariyah yang sedang dipukuli beramai-ramai dengan teriakan : “Dia berzina dia mencuri” sedang si Jariyuh it terus-menerus mengucapkan :     (Cukuplah bagiku Allah, Dia adala sehuik-baik Penolong).

Kemudian ibu dari si bayi berdo’a : “Ya Allah.janganlah Engkau jadikan bayiku ini seperti dia”. Laju bayi itu berhenti menyusu dan memandang wajah ibunya sambil berdo’a : “Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia (jariyah). (Al Hadits)

WIRID DZIKIR YANG SEPULUH

FAIDAH BESAR

Wirid dzikir yang 10 (sepuluh) ini, telah ditekuni oleh para hamba Allah yang zuhud. Dan konon wirid tersebut termasuk di dalam kategori kegiatan para abdaal (para wali). Barang siapa yang membiasakan membacanya setiap hari selepas shalat subuh, dan maghrib, ia akan dibebaskan Allah dari kedukaan, baik saat mengucapkannya itu benar-benar diyakini (dengan sungguh-sungguh) atau tidak.

Alangkah besar manfaatnya. Hal itu telah dicoba oleh orang-orang saleh, dan ternyata mereka telah memperoleh keberkahan, keberuntungan, kemudahan rezki,.pembebasan dari rasa duka, pemeliharaan diri dari tipu daya manusia, dari sihir, dari jin, dari syetan, pemeliharaan diri dari musibah pada jiwa, keluarga, harta, juga untuk kelapangan dada, keharuman naina, memperoleh nur didalam kubur dll. yang tidak terhingga didalam kehidupan dunia dan akhirat.

DZIKIR YANG SEPULUH ITU ADALAH :

  1. “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang………………..(100 x)
  1. “Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta”……………….(100x)
  1. “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan atas Nat, Muhammad SAW. dan keluarganya……….. (100x)
  1. “Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Muhammad itu utusan Allah”. …………….. (100x)
  1. “Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung”……………… (100 x)
  1. “Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku mohon taubat kepada-Nya”. ……..(100 x)
  1. “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kehadirat-Mu kiranya aku dapat berbuat kebajikan, meninggalkan keburukan dan mencintai orang. orang miskin dan mohon pula kiranya aku diampuni dan dirahmati”…………(100 x)
  1. “Katakanlah Dia adalah Allah Yamg Maha Esa (hingga akhir surat)”…………….. (100x)
  1. “Cukuplah Allah bagi kami sebaik-baik Penolong dan sebaik-baik Pelindung”………

…. (100 x)

  1. “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan atas junjungan kami Muhammad. Nabi yang ummi dan atas keluarga Muhammad”………… (3x)

(PENJELASAN BAHWA IMAN, ITU BERTAMBAH DAN BERKURANG)

Telah berkata Al Imam Al Baidhawi tentang firman Allah Ta’ala pada ayat yang lalu (  ) yang jelas mereka (para sahabat) tidak mengindahkan peringatan orang-orang kafir dan tidak merasa lemah bahkan dengan ayat tersebut keyakinan kaum muslimin kepada Allah tetap mantap, dan bertambah pula keimanan mereka. Karena itu mereka telah menzhahirkan semangat keberanian Islam dengan penuh keikhlasan.

Itu adalah bukti nyata, bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. Hal itu telah diperkuat dengan ucapan Ibnu Umar r.a. :

“kami berkata : “Ya Rasulullah, apakah iman itu bertambah dan berkurang?. Beliau bersabda : “Ya, bertambah hingga orang-orang yang bersangkutan masuk syorga, dan berkurang hingga yang bersangkutan masuk neraka ‘. Firman Allah Ta’ala :

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : “Siapakah diantara kamu yang bertambah imannya dengan (turunya) Surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka Surat itu menambah imannya. sedang mereka Merasa gembira, Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada peryaki maha dengan surat itu bertambah kekafiran mereka. disamping kehufirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafiry”. (OS At Taubat: 124-125).

Telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya ia telah berkata (“Sesungguhnya dzikir itu. akan menumbuhkan iman di dalam hati, seperti air akan menumbuhkan sayur mayur”.

Di: dalam AL Bukhari tentang Kirabul aman adalah ucapan. perbuatan, bertambah dan berkurang, ata adalah bersifat fardhu. syari’ah, hukum, sunnah dan cinta karena Allah dan marah karena AHah termasuk dari keimanan.

Ibnu Majah telah meriwayatkan dari suatu hadits tentang iman : “Keyakinan didalam hau. mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan semua rukun”.

Telah bersubda SAW. : “Siapa yang melakukan perbuatan dosa, akan berbekas didalam hatinya suatu bintik hitam, dan apabila ia bertaubat. maka akan licinlah hatinya. Dan jika ia tidak bertaubat, maka bertambah pula bintikbintik itu hingga menghitamlah hatinya. Itulah kotoran seperti yang difirmankan Allah Ta’ala : ..

“Sekali-kali tidak demikian sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka” (QS. Al Muthaffifiin : 14)

Di dalam suatu hadits diterangkan bahwa :

Sesungguhnya iman itu akan tampak bagaikan sesuatu yang mengkilap putih di dalam hati, kemudian akan bertambah sehingga hati itu akan menjadi putih semua. Dan sesungguhnya sifat nifaq itu, akan tampak bagaikan suatu bintik hitam, kemudian akan bertambah sehingga bintik itu menjadi hitam semua”.

Para ularna berkata: “Iman itu bertambah dengan cara membiasakan diri melakukan amal shaleh dengan ikhlas. Adapun sifat nifag (kita berlindung kepada Allah) akan bertambah karena melakukan maksiat atau perbuatan buruk seperti meningggalkan yang wajib dan melanggar apaapa yang dilarang oleh Allah SWT.

Al Imam An Nawawi telah mengutip dari Shahih Al Bukhari, sabda Rasulullah SAW. : “Siapa yang menghantarkan jenazah dengan iman dan kesadaran dan ia tetap bersamanya hingga menshalatkannya hingga selesai menguburkannya, ia akan diberi pahala sebanyak 2 (dua) giraath, tlaptiap giraath sama besarnya dengan Gunung Uhud. Dan siapa yang menshalatkannya, kemudian ia pulang sebelum menguburkan jenazah itu, maka ia hanya memperoleh pahala satu giraath.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker