URAIAN TENTAN ARTI KASIH DAN DZAT YANG MAHA BELAS KASIH
Telah berkata Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Alghazali Atlh-Thuusi didalam Kitabnya “Adz-Dzakhiirah” : “Jika seorang insan memperhatikan keberadaannya setelah tiada, yaitu pada masa yang tidak pemah disebut-sebut, kemudian Allah Ta’ala menciptakannya dari air hina (air mani), kemudian diberinya pendengaran, penglihatan, dan rupa yang indah, maka ia akan mengetahui dari itu semua “adanya Dzat Pencipta” Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Adapun hakikat ruhnya dapat menguraikan kata hati itu “suci” tidak dapat dimasuki angan-angan atau khayalan-khayalan. Seungguhnya ruh itu, tidak dapat dijeniskan sebagai sesuatu dan tidak dapat digolongkan sebagai apapun juga walau dengan ilmu kimia sekalipun. –
Kemudian, jika insan itu memperhatikan persendian anggota tubuhnya, ja akan mengetahui betapa sempurnanya kekuasaan Sang Pencipta Yang Maha Agung.
Adapun hikmah yang mengagumkan dalam kemanfaatan anggautaanggauta tersebut, merupakan saksi atas kesempunaan ciptaan-Nya. Dan jika pula ia memperhatikan apa-apa yang dibutuhkannya dan semua hajatnya, maka itu adalah dari sifat-sifat makhluk yang amat lemah. Karena itu, barang siapa mengenal dirinya (dalam kelemahannya), maka ia akan mengenal Tuhannya (dengan segala rahmat dan kekuasaan-Nya).
Kalau begitu, mengenali diri anak Adam, adalah merupakan kunci untuk memperoleh ma’rifah Allah Ta’ala.
Telah berkata Asy Syaikh Abul-Khair Al Aqtha : “Janganlah kalian meminta kepada Allah agar dijadikan sabar (atas suatu cobaan), tetapi mohonlah kepada-Nya agar kalian dibelas kasihani. Karena menanggung pahitnya sabar itu, amatlah berat bagi orang-orang seperti kita ini”.
Sesungguhnya Nabi Zakariyya a.s. ketika gergaji (orang-orang kafir) telah mulai menggores kepalanya, beliaupun mengerang karena kesakitan. Lalu Allah mewahyukan kepadanya : “Demi kemuliaan dan keagungan Ku, jika keluar erangan yang kedua kalinya, pasti Aku akan hapus namamu dari daftar kenabian”.
Dan bahwasanya Asy-Syaikh Ibrahim Al-Matbuli adalah orang yang tekun beribadah, yang tidak jemu-jemunya baik siang maupun malam, dan dia adalah penderita penyakit kencing batu dan sulit buang air kecil. Dan untuk keperluannya. ia menggali lubang seperti seckor sapi, lalu ia berucap : “Ya Tuhanku, aku tidak mohon kehadirat-Mu perubahan keadaanku yang Engkau telah takdirkan bagiku, namun aku mohon kiranya Engkau berbelas kasihan kepadaku (atas penyakitku ini)”.
Di dalam Kitab “Zahrul-Akmaam”, disebutkan bahwa Allah SWT. telah mewahyukan kepada sebahagian para nabi-Nya : “Dapatkanlah oleh
kalian apa yang disebut ( ) dan ( sesungguhnya Aku menyukai itu. (Sebahagian nabi a.s.) itu berkata: “Wahai Tuhanku, apa itu yang disebut ( ) ? dan apa pula ( )Allah berfirman:
adalah, jika seekor lalat atau lainnya hinggap padamu, maka ketahuilah bahwasanya Aku-lah yang menghinggapkannya padamu, maka mintalah kepada-Ku agar Aku mengangkatnya dari padamu. Adapun: ( ), adalah jika hatimu didatangi oleh ucapan (kata-kata) yang menggelisahkan, maka ketahuilah bahwasanya Aku-lah yang mendatangkannya, maka mintalah kepadaKu agar Aku mengangkatnya dari padamu. “
Adapun makna asma’-Nya )” adalah Dia Dzat yang menyegerakan terangkatnya rasa duka ketika datangnya musibah, dan datangnya ni’mat tanpa dikejar-kejar. Demikianlah yang diterangkan oleh Alqasyaani di dalam Kitab
Ia berkata pula tentang asma Allah Ta’ala : adalah nama dari sifat-sifat perbuatan dan sifat-Nya ( ) adalah ibarat mengalirnya rahmat dengan beraneka ragam pertolongan dan ni’mat dari Allah tanpa terputus. Sebagai yang terakhir makna ( ), adalah hak tercapainya oleh pandangan mata, Maha Suci dari keterikatan dengan tempat, arah atau negeri Maha Tinggi Allah dari. batas, maka akalpun tak akan mengetahui-Nya dengan pemahaman atau pemikiran bagaimanapun. Keberadaan Dzat-Nya lebih dekat dari segala sesuatu, dan lebih zahir dari sifat-sifat-Nya. Walaupun demikian, tidak akan dapat dicapai oleh pandangan mata sedang Allah dapat melihat mata, dan Dia adalah Dzat Yang maha halus lagi Maha Memperhatikan.
Untuk kehalusan ke-agungan-Nya dan ketertutupan ilmu-Nya yang dalam, dan ketersembunyian-Nya karena terhalang dari pandangan mata dengan tirai ke-agunganNya, dan dari akal dengan tirai kebesaran-Nya, dan dari hati dengan tirai nur keindahan-Nya.
Karena tajam serta terang benderang nur keindahan-Nya, maka DzatNya tak akan tercapai oleh pandangan mata, maka ghaiblah Dia (tak tampak dengan mata zahir).
Telah berkata Asy Syaikh Ahmad bin Umar Al Anshari seperti yang dikutip oleh muridnya Ibnu ‘Athaaillah di dalam “Latthoiful-Minan” : “Sesungguhnya Allah memiliki Malaikat, yang jika malaikat itu menempatkan kakinya di bumi, ia tidak akan dapat menempatkan kakinya yang kedua. Kemudian ia berkata : “Seseorang bertanya : “Jika seorang malaikat memenuhi alam seluruhnya, maka dimanakah malaikat yang akan memenuhi sepertiga alam ini, dan malaikat yang memenuhi dua pertiganya? Kemudian Radhiallahu berkata sebagai jawaban atas itu semua : “Makhluk halus itu tidak berdesak-desakan, seperti sebuah lampu jika engkau masukkan ke dalam rumah, maka cahayanya akan memenuhi ruangan rumah itu. Dan andaikata sesudah itu, engkaupun memasukkan lagi lampu yang lain, maka cahayanya akan cukup memenuhi ruangan rumah itu. Al Imam Al Baghawi telah mengutip di dalam tafsirnya yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. mengenai firmannya :
la berkata : artinya : “(Yang Maha Belas Kasih) kepada para wali-NYA dan ” ” artinya : “(Yang Maha Memperhatikan mereka) ada yang mengatakan bahwa ” adalah yang menyampaikan sesuatu dengan lemah lemhut dan kehati-hatian. Dan ada pula yang mengatakan bahwa ” ” adalah yang membuat para hamba Allah melupakan dosa-dosa mereka, agar mereka tidak merasa malu. Ia berkata : “Adapun ” Ha Jai “adalah kelembutan pandangan Allah pada segala sesuatu.









One Comment