(SIFAT-SIFAT ORANG MU’MIN YANG BENAR )
Yahya bin Mu’adz r.a. telah menghimpun sifat-sifat orang mu’min sebagai berikut :” Hendaklah ia banyak malu (dari perbuatan yang negatif), tidak suka mengganggu (siapa saja), banyak berbuat kebajikan, sedikit sekali berbuat kerusakan , jujur perkataannya, sedikit pembicaraannya, banyak amalnya, sedikit kesalahannya, sedikit keinginan tahu urusan Orang lain, banyak amal baktinya kepada karib kerabat, banyak bersitaturrahim, banyak sabar, banyak bersyukur, banyak ridha kepada Allah ketika rizki sedang menyempit, menyayangi saudara-saudaranya, mulia diri, penyayang, tidak suka mengutuk, tidak suka mencaci, tidak suka menghina, tidak suka mengadu-ngadu, tidak suka berghibah (menggunjingkan orang lain), tidak suka tergesa-gesa dalam urusannya, tidak suka hasud, tidak suka dengki, tidak suka menyombongkan diri, tidak mencintai dunia (secara berlebihan), tidak memiliki panjang anganangan, tidak suka banyak tidur, tidak suka berbuat riya”, tidak berlaku munafik (lain dimulut lain dihati), tidak bersifat kikir. Hendaknya wajahnya selalu cerah dan lidahnya ramah, tidak murung. .
Dia mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, ridha atas sesuatu karena Allah, maka ia akan bertambah takwanya dan keras kemauannya didalam ibadah kepada Allah, dan akan baik akibatnya.
Teman duduknya adalah dzikirnya, kekasitinya adalah Tuhannya, dan kegiatannya adalah urusan akhiratnya. Dan ia (Mu’adz) telah menyebutkan kurang lebih 330 sifat, diantaranya adalah yang telah disebutkan diatas tadi.
( SIFAT NIFAQ DAN DAMPAKNYA DIDALAM HATI )
Haatim Al’asham telah berkata :”Orang mu’min itu selalu sibuk dengan : berfikir dan mempelajari ilmu, dan orang munafik sibuk dengan kekikiran dan angan-angan (kosong).orang mu’min berputus asa (dari keinginan memiliki yang ada ditangan orang lain) kecuali dari Allah, dan orang munafik takut dari setiap orang kecuali dari Allah. Orang mu’min mengorbankan hartanya dan bukan agamanya, dan orang munafik mengorbankan agamanya dan bukan hartanya.
Orang mu’min berbuat kebajikan dan menangis, dan orang munafik berbuat kesalahan (maksiat) dan tertawa. Orang mu’min mencintai kesendirian (aikhalwah), dan orang munafik mencintai hura-hura dan bercampur baur dengan manusia. Orang mu’min menanam dan takut rusak, dan orang munafik memotong dan mengharapkan panen.
Orang mu’min memerintahkan dan mencegah siasat lalu akan menjadikan mashlahat, dan orang munafik memerintah dan mencegah kepemimpinan lalu menjadi rusak.
(Telah berkata Sayyiduna Ali k.w.: ” Iman itu tampak didalam hati berupa titik putih, maka setiap iman itu bertambah, bertambah pula warna putih itu, dan jika iman itu telah sempurna, maka secara keseluruhan hati itu menjadi putih. Dan sesungguhnya nifag (sifat munafik) itu didalam hati tampak sebagai titik hitam, maka setiap nifag itu bertambah, bertambah pula warna hitam itu, dan jika nifag itu telah sempurna, maka secara keseluruhan hati itu menjadi hitam).
(Dari Abi Hurairah r.a. ia telah berkata :”Telah bersabda Rasul Allah SAW. :”Jika seorang laki-laki berzina, (maka) akan keluarlah iman dari padanya, diatas kepalanya ada semacam naungan. Maka jika ia mengangkat ya’ni bertaubat, maka iman itu akan kembali kepadanya). (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Atturmudzi).
(Telah bersabda ‘alaihish shalaatu wassalaam : “Barang siapa yang ridha Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai nabinya, ja wajib masuk syorga). (HR. Abu Sa’id).
(Telah bersabda ‘alaihish shalaatu wassalaam :” Siapa yang mengucapkan diwaktu pagi dan diwaktu sore 3x (tiga kali) :
maka Allah berhak meridhainya).
(PENUTUP )
Sayyiduna Abdullah bin Alwi Alhaddaad didalam Kitabnya : ”Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, bahwa orang yang ridha kepada Allah sebagai Tuhan, maka seharusnya ia merasa ridha atas peraturan-NYA dan menerima atas sepahit apapun qadha-Nya, dan atas rizki yang diberikan kepadanya. Karena itu,hendaklah ia selalu mentaati-Nya, memelihara fardhu-fardhu-Nya, menjauihi larangan-larangan-Nya, selalu bersabar atas cobaan-cobaan-Nya,selalu bersyukur atas ni’ mat-ni’matNya, selalu menginginkan perjumpaan dengan DzatNya, selalu ridha dengan-Nya sebagai Pelindung, penguasa dan Pemelihara. Ikhlas beribadah kepada-Nya, bersandar kepada-Nya baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, tidak merasa cemas didalam menghadapi segala urusan penting lagi genting, kecuali bersandar kepadaNya dan tidak memohon sesuatu kecuali kepada-Nya.Barang siapa yang ridha dengan Islam sebagai agamanya, maka akan besariah kehormatan dan syi’arnya. Dan selama ia bersungguh-sungguh dalam memperkuat serta menambah pengetahuan keislamannya, garis keteguhan pendiriannya dalam menuntut ilmu, maka ia akan merasa gembira dan lapang dadanya. Dia juga akan merasa takut kehilangan keislamannya, karena itu membenci orang-orang yang mengingkarinya dan nemusuhinya.
Dan barang siapa yang ridha Muhammad s.a.w. sebagai nabinya, maks pendaklah ia meneladaninya, mengikuti petunjuknya, berpegang teguh jengan syari’atnya, mengagungkan haknya, memperbanyak shalawal kepadanya, mencintai ahli-bait dan sahabatnya dan saling sayang menyayangi sesama ummatnya.
(Dan telah bersabda s.a.w. : “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan amalmu, tetapi Dia melihat pada hati dan niatmu”).
(Dan telah bersabda s.a.w.: “Jika cahaya iman telah masuk kedalam hati, maka hati itu akan terasa gembira dan lapang. Ada yang berkata:”Apakah hal itu ada tandanya?”Beliay bersabda : Ya (yaitu) menjauhkan diri dari urusan duniawi, dan kembali ke (urusan-urusan tkhirat, dan bersiap-siap menghadapi maut sebelum tiba saatnya). Dengan ladits ini, maka jelaslah bagimu apa-apa yang sebelum dan sesudahnya, ‘ bahwasanya tanda kekuatan iman adalah kesederhanaan hidup didunia, ” YANG AMAT PENTING ”
Telah berkata Asy-syaikh Muhammad bin Ibad didalam “penjelasan hikmah”: Dari keagungan ni’mat Allah SWT kepada seorang hamba adalah mewujudkan iman dan kecintaan melakukan keta’atan didalam hatinya, dan begitu pula rasa benci kepada kekufuran dan perbuatan maksiat, Maka itu semua, termasuk ni’mat yang agung, yang tidak ditemukan oleh seorang hamba kecuali atas kurnia Allah SWT.
Kalau tidak karena kedua ni’mat tersebut, sudah pasti ia akan berada dalam kegelapan dan kesesatan, dan akan tenggelam dalam lautan kejahilan. Allah SWT telah mengingatkan atas ni’mat tersebut didalam Kitab-Nya yang mulia dengan firman-Nya :
(tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran,kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan ni’mat dari Allah). (OS. Alhujuraat:7-8)
(dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya. lahir dan bathin) (OS. Lugman : 20) Secara zhahir, ni’ mat itu telah tampak dampaknya pada dirimu, dan secara batin dengan kurnia-kumia-Nya dan kelebihan anugerahNya pada dirimu secara berkesinambungan.
(OODAR / TAKDIR ADALAH RAHASIA ALLAH DI BUMI )
Seorang laki-laki telah bertanya kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. :”Ya Amirul-mu’minin beritahukanlah kepadaku tentang godar ?”Beliau
“(ia adalah jalan yang gelap yang kita tidak lalui). Ia mengulangi lagi pertanyaan itu. Beliau berkata : (Ia adalah laut yang dalam, jangan engkau menyelami). lapun mengulangi lagi pertanyaan itu. Beliaupun berkata:
(Itu adalah rahasia Allah dibumi, tersembunyi darimu, janganlah kita membahasnya).
Al-Imam Annawawi dalam “Syarah Shahih Muslim” telah berkata:”Ahli Sunnah Waljama’ah telah sepakat menetapkan bahwa godar atau takdir adalah seluruh peristiwa yang terjadi adalah atas ketentuan Allah, yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan bermadharaat.
Firman Allah Ta’ala :
(Dia tidak ditanya apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanya). (OS. Al-anbiyaa : 23)
Semua itu adalah milik Allah Ta’ala, Dia dapat melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, dan tak seorangpun yang dapat mencegah Allah Maha Raja atas kerajaan-Nya. Imam Abul-Muzhaffar Assam’aani telah berkata
:”Sebagai jalan untuk mengetahui bab ini (Algodar/takdir) adalah harus berdasarkan Alkitab (Alqur’an) dan Assunnah, dan bukan sekedar dari kias buah fikirannya yang tidak masuk akal. Maka barang siapa yang berpaling dari nash, ia akan tersesat dan kebingungan sendiri, sedang jiwanya tidak mendapat kesembuhan dan tidak mendapat ketenangan didalam hati. Karena Qodar/takdir adalah salah satu dari rahasia Allah tertutup tirai-tirai khusus yang menutupi akal para makhluk dan pengetahuan mereka, Karena itu kita berhenti pada batas ini dan tidak melampauinya
Sayyiduna Al-Umari telah berkata :” Cabang iman itu ada 3(tiga) macam :
(1). Ilmul-Yaqiin adalah : hasil dari penglihatan dengan dalil (bukti) ilmu secara pasti.
(2). Ainul-Yaqiin adalah hasil dari penyaksian secara nyata.
(3). Haqqul-Yaqiin yaitu apa yang terjadi secara nyata dan mendadak. Maka yang pertama, seperti orang mengetahui bahwa dilaut itu ada air. Yang kedua dan ketiga seperti orang. yang terjun kedalam air untuk mandi dan minum dari padanya.
Maka Ilmu-Yaqiin dapat diusahakan, sedang Ainul-Yaqiin seperti itu juga, dan-Haqqul-Yaqiin kekal, dan ialah yang berhak menetap didalam hati dan sesudah itu tidak akan menghilang. Dengan dalil lain, maka tidaklah semua ilmul-yagiin berhak menetap, dan kalau demikian, maka dimanakah letak keyakinan para nabi a.s. dari keyakinan beberapa orang manusia.
Al-Umari telah berkata :”Iman itu berupa lintasan-lintasan hati ketika ketidak hadiran dari alhadrah” dan yaqiin adalah tetap selama hadir. Maka siapa yang benar ilmunya, benar agidahnya, benar imannya.Dansiapa yang benar imannya, benar ma’rifatnya.Dan siapa yang benar ma’rifatnya, benar tauhidnya dan siapa yang benar tauhidnya didunia, benar pertemuannya dengan Allah di akhirat.Maka Al-Iman adalah dasar dari Al-yagiin (keyakinan), dan ilmul-yagiin, ainul-yagiin dan haggul-yagiin adalah cabang-cabangnya dan sebahagian melebihi sebahagian yang lain.
Telah diterangkan didalam hadits, bahwa :”Iman itu adalah keyakinan secara keseluruhan”.
Telah dihikayatkan dari Asy-syaikh Ma’ruf Alkurkhi bahwasanya ia telah berkata kepada Haatim Al’asham :”Bekalku ada 4 (empat) macan:
(1) Aku melihat dunia dan akhirat sebayai kerajaan Allah.
(2). Aku melihat semuanya hamba Allah dan kekasih-kekasihNya.
(3). Aku melihat rezki dan sebab-sebabnya adalah ditangan Allah.
(4). Aku melihat gadha (ketentuan) Allah terlaksana pada makhlukNya diseluruh bumi Allah.
Semoga Allah memberi manfa’at kepada kita semua. Ammiiin. Telah berkata Sayyiduna Al-Umrari :” Ketahuilah bahwa siksa kabur betul adanya, terjadi atas ruh dan jasad sedang mengimaninya adalah wajib sebagaimana yang diterangkan didalam Alkitab dan Assunnah. Juga kita wajib mengimani adanya syorga dan ncraka dalam ilmu Allah. Adapun ketentuan tempatnya, belum ada nash yang secara terus terang menerangkan dimana, hingga kita tidak dapat menentukannya. Dan kebanyakan berpendapat bahwa syorga itu berada diatas lapisan langit yang ketujuh dibawah Arasy, sesuai firman-Nya :
((yaitu) di Sidratil Muntaha. Didekatnya ada syorga tempat tiggal). (OS. Annajm : 14-15) dan sabdanya s.a.w.:
(langit-langit syorga adalah Arasy Yang Maha Pengasih, adapun api neraka (semoga) Allah melindungi kita dari padanya, berada dibawah lapisan bumi yang ketujuh).
Dan telah diterangkan pula bahwa air asin (air laut) adalah dari tingkatan jahanam. Selesailah uraian Al-Umari. Asy-sya’roni telah mengutip didalam Kitabnya” qari Muhyiddiin bin ‘Arobi didalam Kitabnya 4 dari Muhyiddiin bin ‘Arobi bahwasanya ia telah berkata :”Ahlul Kasyaf (orang yang dapat melihat dengan indera ke-enam) melihat laut yang asin (airnya) sekarang, menyalanyala apinya. Dia berkata :”Karena sebab inilah, Ibnu Umar dan lainnya tidak suka berwudhu dengan air laut walaupun menurut hukum diperbolehkan”. Sebahagian dari mereka mengatakan bahwa tayamum lebih disuka: dari berwudhu dengan air laut.
Ia mengutip firman Allah Ta’ala :
(Dan apabila lautan dipanaskan). (OS. Attakwir : 6) ya’ni kembali menjadi api yang bernyala-nyala.









One Comment