MENGULANGI MAKNA ALLUTHFU
Secara menyeluruh ulama “Ushuuluddiin” mengatakan bahwa (Sifat kehalusan adalah rahmat dan kasih sayang) Pada pendahuluan Kitab” di dalam AL-IHYAA’ disebutkan : “Telah berkata Yahya bin Mu’adz : “Ampunan Allah melebihi semua dosa, maka bagaimanakah keridhaan-Nya?”, Keridhaan-Nya melebihi angan-angan maka bagaimanakah kecintaan-Nya?. Kecintaan-Nya mengagumkan
akal, maka bagaimanakah kasih-Nya ( ). Di dalam beberapa kitab disebutkan :
“Aku sebagai pencinta mempunyai hak untukmu, maka atas hak-Ku hendaklah engkau mencintai-Ku’”.
Didalam kitab ” “Juga disebutkan bahwa Allah Ta’atu telah mewahyukan kepada Nabi Dawud a.s. (dengan firman-Nya) : “Kalau sekiranya orang-orang yang berpaling dari pada-Ku itu mengetahui betapa penantianKu kepada mereka, kasih sayangKu kepada mereka, dan kerinduanKu agar mereka meninggalkan maksiat, niscaya mereka akan mati karena kerinduan mereka kepada-Ku, dan akan terputus pertalian (keluarga) mereka, karena kecintaan mereka kepada-Ku. Hai Dawud, ini hasrat-Ku terhadap orang-orang yang berpaling dari pada-Ku, maka bagaimanakah terhadap orang-orang yang datang menghadap-Ku? –
Hai Dawud, Aku sangat membutuhkan seorang-hamba manakala ia merasa tidak membutuhkan Aku, dan aku sangat mengasihi hamba-Ku manakala ia berpaling dari pada-Ku, dan hamba-Ku yang paling mulia disisiKu manakala ia kembali kepada-Ku).
Telah diriwayatkan dari Qasamah bin Zuhair r.a. bahwasanya ia telah berkata : “Aku mendengar bahwa Nabi Ibrahim a.s. telah berkata didalam hatinya bahwa beliau adalah makhluk yang paling penyayang”. Ia (Zuhair) berkata : “Maka Nabi Ibrahim a.s. diangkatlah oleh Allah SWT. hingga dapat melihat penghuni bumi dan apa-apa yang diperbuat oleh mereka. :
Beliau (Ibahim a.s.) berkata : “Ya Tuhanku, binasakanlah mereka!” Kemudian Allah Ta’ala berfirman : “
Aku lebih sayang kepada hamba-hambaKu dari padamu hai Ibrahim, turunlah engkau ke bumi, semoga mereka bertaubat dan kembali (ke jalan yang benar).
Karena itu, telah dihikayatkan dari Syaikh Abil Hasan ra. ia telah berkata : , ‘Pada suatu malam aku telah membaca : hingga firman-Nya : ” ” dan waswas (bisikan syetan yang jahat) itu memasuki antara dirimu dan hatimu, ia membuat engkau lupa kepada kehalusan-Nya (kasih-Nya) yang baik, dan mengingatkanmu akan perlakuan. Nya yang buruk. Ia akan mengurangi kebajikan amalmu dan memperbanyak amalmu yang buruk, (yaitu) dengan tujuan menyimpangkanmu dari berbaik sangka kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya menjadi berburuk sangka kepada Allah dan Rasul-Nya.
KEUTAMAAN DZIKIR INI
“NABI ALKHAIDZIR A.S.”
Diantara buku yang menunjukkan atas keagungan dan keutamaan do’a: yang telah dipilih oleh Sayyiduna Umar di dalam Ratib ini, adalah seperti yang dihikayatkan oleh Al-Imam Alyaafi’ di dalam kitabnya sbb:
Salah seorang hamba Allah berkata “Aku telah ditimpa kesulitan dan rasa takut yang amat sangat, lalu aku keluar dari rumah dengan fikiran yang kosong. Kemudian aku menyusuri jalan menuju Mekkah tanpa perbekalan dan kendaraan. Ketika itu, aku telah berjalan selama 3 (tiga) hari, dan pada hari yang ke-empat, aku merasakan dahaga yang amat sangat dan panas terik yung menyengat.
Akupun merasa khawatir atas diriku dari kematian, dan aku tidak menjumpai sebatang pohonpun untuk berteduh di daratan itu, hingga akhirnya akupun menyerahkan urusanku kepada Allah SWT. saja. Kemudian aku duduk menghadap Kiblat hinga akhirnya aku tertidur.
Dalam tidurku itu, aku melihat ada seorang laki-laki yang mengulurkan tangannya kepadaku seraya berkata : “Berikan tanganmu kepadaku!”. Lalu akupun menjulurkan tanganku kepadanya dan iapun menyalamiku.
Ia berkata : “Apakah engkau ini manusia, memberi salam dan melakukan shalat menghadap Baitullah Alharam? dan menziarahi kubur NabiNya SAW.?” Aku berkata kepadanya : “Siapakah tuan ini, semoga Allah merahmati tuan?”, “Aku adalah Alkhaidzir” jawabnya. Lalu aku berkata kepadanya : “Do’akan dengan kebajikan untukku”.
Kemudian di berkata : “Ucapkanlah |
“Wahai Dzat Yang Maha Belas Kasih pada mahluk-Nya, Wahai Dzat Yang
Maha Mengetahui keadaan mahluk-Nya, Wahai Dzat Yang Maha Memperhatikan makklukNya, kasihanilah aku wahai Dzat Yang Maha Belas Kasih, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Memperhatikan”. 3x -.
Lalu akupun mengucapkan do’a tersebut di atas. Kemudian ia berkata kepadaku : “Ini hadiah yang didalamnya terdapat kekayaan yang abadi. Apabila engkau mendapat kesulitan, atau suatu musibah. maka ucapkanlah do’a itu”. Lalu iapun lenyap dari padaku.
Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil : “Ya Syaikh!” Kemudian aku terbangun dari tidurku, ternyata ada seorang laki-laki menunggang unta seraya berkata : “Hai Syaikh, apakah engkau melihat pemudaku yang sifatnya begini …….. begini ……..?”. Aku berkata kepadanya : “Tidak, aku tidak melihat seorangpun”. Ia berkata : “Seorang pemuda dari keluarga kami telah pergi sejak 7 (tujuh) hari yang lalu, la memberitahukan kepada kami bahwa ia akan menunaikan Ibadah hajjl”.
la berkata : “Engkau akan menuju kemana?” Aku berkata : “Sekehendak Allah”. Kemudian ia menderumkan untanya, lalu ia turun dan mengambil kantung perbekalan dan menghidangkan kepadaku 2 (dua) potong roti yang diolesi tepung putih dan halwa dan air minum, sambil berkata : “Minumlah!” lalu aku minum dan makan sepotong roti yang rasanya sudah cukup lezat untukku. Kemudian ia berkata kepadaku : “Naiklah!” dan iapun naik pula di mukaku… lalu kami berjalan selama 2 (dua) malam dan 1 (satu) hari hingga kami dapat mengejar suatu kafilah. maka bertanyalah ia kepada rombongan itu apakah ada seorang pemuda di dalamnya? ternyata pemuda yany dicarinya itu ada. Kemudian ia pergi meninggalkan aku, dan tidak lama kcmudian iapun kembali layi kepadaku bersama pemuda itu.
Dia berkata : “Hai anakku, Allah telah memudahkan pertemuan kita karena orang ini”. Kemudian akupun mengucapkan “selamat berpisah” kepnda keduanya, dan akupun pulang. Tak lama kemudian, ada seorang yang tmenyusulku dengan memberikan sebuah bingkisan, ia mencium tanganku, lalu pergi meninggalkan aku.
Setelah aku lihat, ternyata didalamnya ada uang sebanyak 5 (lima) dinar (uang cmas). Akhirnya uang tersebut aku manfaatkan untuk biaya perjalanan ke Mckkah dan sisanya aku manfaatkan untuk biaya sehari-hari – selama di sana. Aku telah melaksanakan ibadah Hajji tahun itu dan berziarah ke makam Rasulullah SAW. kemudian aku kembali ke Alkhalil.
Setiap aku mendapat kesulitan atau musibah, aku selalu mendzikirkan kalimat yang diajarkan oleh Alkhaidzir a.s. itu kepadaku, dan akupun mengakui keutamaannya, dan akupun tidak lupa bersyukur kepada Allah Ta’ala atas ni’mat-Nya yong agung ini.








One Comment