Semua itu adalah termasuk hal-hal jaiz (mungkin) menurut akal. dan kekuasaan Allah pantas untuk menimbulkannya. Terjadinya peristiwa Itu sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw… telah diriwayatkan secara shahih dan kami sebagai orang Islam, percaya dan membenarkannya.
Di antara mukjizat beliau saw. adalah menyembuhkan penyakit-penyakit kronis dengan kedua tangannya hanya dengan menyentuh orang yang berpenyakit atau hanya dengan mendoakan mereka, mengembalikan mata salah seorang sahabat beliau yang keluar, sehingga kembali sebaik dahulu kala, dan menghidupkan orang mati hanya dengan berdoa saja.
Hal-hal yang luar biasa seperti itu telah sarnpai kepada kami melalui hadits-hadits yang mulia, karena itu kami percaya dan membenarkannya, sebab hal seperti itu jaiz (mungkin) dan termasuk di bawah kekuasaan Allah: Dia-lah yang menjadikannya di tangan Rasul-Nya sebagai mukjizat bagi beliau.
Penjelasan tentang hal tersebut adalah bahwa penyembuhan penyakit-penyakit, meskipun dalam kebiasaannya memerlukan sebab-sebab dan dalam proses waktu panjang. Itu adalah menurut hukum ady (kebiasaan) Allah Maha Kuasa.
Tetapi untuk menimbulkannya, tanpa sebab-sebab dan tanpa membutuhkan waktu, dengan menyalahi kebiasaan, sebagaimana keterangannya yang telah lampau. Mengembalikan mata yang terlepas, walaupun adat tidak berlaku itu sebenarnya termasuk hal jaiz akli dan akal tidak menganggap mustahil.
Kami lihat kebanyakan dokter menyambung sebagian bagian-bagian badan hewan yang telah terputus dan bisa menyatu kembali dengan perantaraan operasi. Mengembalikan mata yang dilakukan Rasul, walaupun tidak termasuk dalam kemampuan manusia, tetapi termasuk dalam kekuasaan Allah swt. yang sempurna, yang tidak dapat ditandingi kekuasaan manusia mana pun.
Menghidupkan orang mati adalah termasuk jaiz akli, walaupun dalam adat tidak berlaku. Dzat Yang Maha Kuasa menciptakan benda padat menjadi hewan serta memberinya perasaan, gerak dan daya tangkap. Dia Maha Kuasa untuk menghidupkan jasmani hewan setelah mati. Barang siapa yang menggambarkan keagungan kekuasaan Allah swt. dan keajaiban-keajaiban ciptaan-ciptaan-Nya, tidaklah terhalang untuk membenarkan terjadinya hal yang luar biasa ini selagi dihubungkan dengan kekuasaan Allah swt.
Di antara mukjizat Nabi Muhammad saw. adalah bayi yang masih menyusu dapat berbicara, demikian pula hewan, pohon dan batu serta persaksian semua itu atas kerasulan beliau. Peristiwa ini telah disebutkan dalam beberapa hadits dan telah sampai kepada kita kerasulan beliau.
Dalam Al-Qur’an yang mulia ada persamaannya, yaitu bicaranya burung hud-hud dan semut kepada Nabi Sulaiman a.s. Keluarbiasaan ini termasuk hal-hal yang jaiz akli, yang termasuk dalam kekuasaan Tuhan.
Penjelasannya ialah, bahwasanya setiap sesuatu di alam ini, baik benda-benda maupun sifat-sifat, seperti suara dan sebagainya, semuanya atas penciptaan Allah.
Maka, sifat berkata pada manusia yang telah besar, itu pasti ciptaan Allah, karena watak kebinatangan manusia sendiri tidak mengharuskan adanya sifat berkata, sebab tidak ada perbedaan antara tabiat manusia dengan hewan dalam tingkat kebinatangannya, bahkan tidak ada perbedaan antara manusia dan benda-benda padat dalam pokok kejasmaniannya, sebagaimana bentuknya juga tidak mengharuskan adanya sifat berbicara. Karena, kadang-kadang terdapat beberapa, macarn kera yang benar-benar menyerupai rupa manusia, kecuali rambut yang menjadi pakaian kulitnya.
Ini tidaklah merupakan perbedaan yang mewajibkan manusia besar bisa berbicara, sementara kera tidak dapat berbicara. Tidak ada bukti atas wajibnya kekhususan sifat berbicara bagi manusia, bahkan ada sebagian hewan yang jauh berbeda dengan manusia dapat menerima pelajaran berbicara, sebagaimana burung beo. Dalam uraian kami itu jelaslah, bahwa manusia memperoleh sifat berbicara semata-mata karena Allah memuliakannya dengan sifat kemampuan berkata-kata.
Jika diteliti, mungkin di dalam diri manusia yang besar itu ada sesuatu yang tersembunyi, yang tidak terdapat pada makhluk lain, sesuatu itulah yang mewajibkan manusia mempunyai sifat berbicara, mungkin itulah yang disebut kekuatan ucapan dan dianggap suatu kelebihan bagi manusia, atau bagian khusus di dalam otaknya, sebagaimana dikatakan oleh ulama-ulama modern.
Kami jawab: “Pembatasan sesuatu yang memastikan adanya kemampuan berbicara, karena dua hal itu tidak dapat diterima. Yang pasti bagi kami, adalah bahwa hal-hal yang memastikan itu adalah sebab biasa, sedangkan Allah Maha Kuasa untuk membuat kemampuan berbicara tanpa perantaraan, Dzat Yang Maha Kuasa untuk menciptakan sifat berbicara pada manusia, pasti kuasa pula menciptakannya pada makhluk lain, seperti anak kecil yang masih disusui, hewan, benda-benda padat, walaupun hal ini menyalahi adat kebiasaan dan tergolong luar biasa sebagai mukjizat bagi Rasul Allah menciptakan perkataan-perkataan yang terdapat pada benda-benda yang tidak kita kenal, ia berbicara dan Allah memunculkan daripadanya kata-kata yang dapat didengar oleh orang-orang yang hadir.
Kami golongan kaum muslirnin telah percaya terhadap mukjizat-mikjizat ini karena mukjizat-mukjizat tersebut termasuk jaiz (mungkin) menurut akal dan termasuk dalam kekuasaan Tuhan langit dan bumi.
Di antara mukjizat beliau a.s. yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh hadits yang mulia ialah: Lemparan Nabi saw. Ke wajahwajah orang kafir pada Waktu perang dengan segenggam debu, sehingga mata masing-masing orang kafir terkena debu itu dan larilah mercka.
Kejadian luar biasa ini termasuk jaiz akli, karena tak ada sesuatu yang menghalangi sampainya dcbu itu pada mata-mata Uap-tap orang, tetapi bukan dalam kemampuan manusia untuk menyampaikan sedemikian itu dan membagikannya pada mata-mata mereka sedemikian banyak ini, tetapi hal itu karena kekuasaan Allah Maha Kuasa untuk melakukan yang demikian Itu. sebagai mukjiyat bagi Rasul-Nya. Beliau juga benar-benar telah dikokohkan oleh keluarbiasaan ini yang membuat musuh-musuh itu berpaling dan lari dari Nabi saw. dan para sahabat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang mulia sebagai syarat terhadap Nabi saw. dengan firmanNya:
“Kamu tidak melempar kerika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar”. Maksudnya: Hakikatnya kamu tidaklah melempar dan menyampaikan debu pada tiap-tiap mata orang kafir, ketika zhahirnya kamu melempar: karena hal itu bukan dalam kemampuanmu, tetapi hakikatnya Allah-lah yang melempar dan menyampaikan butir-butir debu itu ke mata musuh-musuh yang memerangimu. Kita golongan mukminin mengimani keluarbiasaan. ini sebagai mukjizat bagi Nabi kita. Muhammad saw.
Di antara mukjizat Nabi Muhammad saw . yaitu pemberitaan beliau tentang berang-barang ghaib yang akan datang kemudian, walaupun beratus-ratus tahun yang akan datang. Mengenai mukjizat ini ada beberapa hadits yang mutawatir maknawi tentang banyaknya peristiwaPeristiwa itu, yang satu per satunya ibarat lautan yang tiada berpantai. Adapun pemberitaan beliau yang ghaib dari penglihatan beliau, seperti pemberitaan beliau tentang meninggalnya raja Najasyi, dan sekedup yang membawa surat kepada kaum Quraisy.
Dalam kitab-kitab, hadits banyak sekali terdapat hal-hal yang sedemikian itu yang memenuhi halaman-halaman kitab, Barangsiapa yang berkehendak menelaahnya, lihatlah hadits-hadits itu, maka ia akan melihat keajaiban yang sangat menakjubkan.









One Comment