IMAN KEPADA MALAIKAT , KITAB, QADHA’ DAN QADAR
1. Arti Iman Kepada Malaikat
Ketahuilah, bahwa setiap orang mukallaf menurut syarak itu wajib beriman kepada malaikat a.s. dengan kepercayaan yang kokoh terhadap adanya mereka.
Malaikat adalah hamba Allah yang mukmin kepada-Nya serta dimuliakan. Selalu mereka melaksanakan perintah-Nya, takut kepadaNya dan mengerjakan apa yang diperintahkan. Semua itu telah disebutkan dalam nash-nash syarak.
Hakikat malaikat menurut kebanyakan kaum muslimin: adalah jisim-jisim halus, yang diberi kemampuan oleh Allah untuk menjelma dengan berbagai bentuk. Tempat tinggal mereka di langit.
Banyak sekali nash syarak yang memberi pengertian, bahwa malaikat Itu dibagi menjadi beberapa bagian. Sebagian dari mereka ada yang bertugas memanggul arasy. sebagian mereka adalah pemimpin-pemimpin malaikat, seperti Jibril, Mikail dan Israfil. Sebagian dari mereka adalah malaikat penjaga surga. sebagian mereka malaikat penjaga neraka, sebagian dari mereka bertugas pencatat amal, sebagian dari mereka ada yang diserahi mengurus manusia, sebagian mereka ada yang diserahi mengatur dunia ini. Sebagian mereka bertugas menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul.
Ada juga beberapa nash syarak yang menunjukkan, bahwa malaikat mampu mengerjakan perbuatan-perbuatan yang rumit lagi besar, yang tidak dapat dikerjakan oleh beribu-ribu manusia, bahkan seluruh manusia dan yang lain-lain, sebagaimana terdapat di dalam Al-Our’ an dan hadits-hadits.
Para imam kaum muslimin telah sepakat -sebagaimana diambil dari Syifa’usy Syarif-atas terpeliharanya para malaikat yang diutus menyampaikan wahyu kepada para nabi, sebagaimana terpeliharanya para nabi. Tetapi para ulama berbeda pendapat tentang terpeliharanya malaikat yang bukan utusan.
Imam Fakhrur Razi berkata: Mayoritas ulama besar berpendapat atas terpeliharanya malaikat dari seluruh dosa. Orang-orang yang menentang terpeliharanya para malaikat itu berdasar dengan beberapa hal: Di antaranya, bahwa Iblis adalah dari Malaikat, kemudian ia durhaka dan kafir kepada Allah.
Kami jawab: Sesungguhnya iblis itu dari jin dan bukan dari malaikat, sebagaimana ditahqiqkan oleh Imam Ar-Razi dan ulama-ulama yang lain. Di antaranya lagi berdasar kisah Harut dan Marut. Kami jawab: Ayat-ayat yang mengisahkan Harut dan Marut, yaitu firman Allah:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan. bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dengan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil. yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorang pun sebelum mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu. apa yang dengan sahir ituu, mereka dapat menceraikan antara seorang (Suami) dengan Istrinya.
Menurut pendapat Imam Ar-Razi dalam tafsirnya, tentang ayat tersebut yang ringkasannya ialah, bahwa pada waktu itu banyak tukang sihir, dan dapat tahu bab-bab sihir yang aneh. Mereka mengaku nabi dan menjadikan perbuatan-perbuatan sihir sebagai mukjizatnya. Allah kemudian mengutus dua malaikat ini, agar mengajarkan kepada manusia tentang bab-bab sihir, sehingga manusia itu mampu melawan para tukang sihir yang mengaku nabi dengan kepalsuan, dan jelas sekali, bahwa hal ini merupakan maksud terbaik.
Dua malaikat ini tidaklah mengajarkan sihir kepada seseorang, kecuali keduanya itu memberikan nasihat, lalu keduanya berkata: “Kami hanyalah Cobaan”, ujian untuk membedakan orang yang taat dan yang durhaka. Inilah yang kami terangkan kepadamu tentang sihir itu, walaupun maksudnya untuk menampakkan perbedaan antara sihir dan mukjizat, tetapi memungkinkan kamu untuk sampai pada kerusakan dan kemaksiatan. Jauhilah olehmu segala yang terlarang, atau mencapai tujuan-tujuan dunia.
Kemudian ada sekelompok kaum mempelajari ilmu sihir dan dipergunakannya untuk tujuan tidak baik dan menceraikan seseorang dari istrinya. Kemudian Ar-Razi berkata: Ahli tahgig sepakat, bahwa mengetahui Sihir tidak buruk dan tidak dilarang, yang dilarang adalah menggunakan Sihir itu.
Penjelasan ayat dari segi ini sudah jelas tidak ada kesulitan, dan tidak menunjukkan kedurhakaan dua malaikat tersebut. Bahkan kedua malaikat itu telah mengikuti perintah Allah swt. dalam mengajarkan itu, sebagaimana tidak adanya kesulitan bagi Allah menurunkan sihir yang terlarang itu kepada mereka, karena yang diharamkan itu adalah mengerjakannya, bukan mengajarkannya dengan tujuan yang baik.
Adapun riwayat yang diceritakan, bahwa malaikat ini telah menjelma menjadi manusia dan diberi syahwat, lantas keduanya mendatangi seorang wanita yang disebut Zuhrah, dan dia membawa kedua malaikat itu pada maksiat dan kemusyrikan, kemudian wanita itu naik ke langit karena telah belajar dari kedua malaikat itu, maka kami katakan: Para ulama telah berselisih pendapat tentang shahnya mengutip kisah ini.
Imam Fakhrudin Ar-Razi dalam tarsirnya berkata: Riwayat ini adalah rusak dan tertolak, tidak dapat diterima, karena dalam Kitabullah tidak ada dalil yang menunjukkan kisah itu, bahkan di dalam kisah ini terdapat hal-hal yang dari beberapa segi dapat membatalkan kisah itu sendiri. Ia lalu menerangkan segi-segi itu. Imam Al-Baidhawi mengatakan, bahwa riwayat seperti itu adalah dari orang Yahudi.
Abu Sa’ud berkata dalam tafsirnya: Sesungguhnya riwayat itu tidak ada dasarnya, karena peredarannya adalah riwayat Yahudi dan di dalamnya terdapat pertentangan dengan dalil naqli dan akli.
Qadhi Iyadh berkata dalam Syifausy Syarif. Sesungguhnya berita-berita tentang kisah Harut dan Marut itu sama sekali tidak ada riwayat, baik berupa hadits yang ber’ilat maupun hadits yang shahih dari Rasulullah saw. dan hal itu bukanlah sesuatu yang diambil dari qiyas.









One Comment