3. Al-Baqa’ (Maha Kekal)
Alyah swt itu Wajib bersifat Al-Baqa’ dan mustalul bagiNya memiliki sifat kebalikannya, yaitu Kana” (Binasa).
Buktinya bahwa Allah bersifat Al-Baqa’ talah tetapnya sifat qidam bagi Allah swt dan mustahil baru-Nya. Selama Allah itu qidam karena dzat-Nya, sedang Dzat-Nya tetap ada dan Dzat itu menjadikan adaNya. maka tidak mungkin Dzat itu rusak dan binasa.
Dengan demikian. maka wajiblah Allah bersifat kekal. dan mustahil bagi-Nya bersifat kebalikanNya, yaitu rusak. Inilah yang dimaksudkan.
4. Al-Mukhalafah lil Hawadits (Tidak sama dengan barang baru. makhluk)
Allah swt. itu pasu bersifat mukhalafah lil hawadits tidak sama dengan yang baru) dan mustahil bagi Allah bersifat kebalikannya, yaitu menyerupai barang-barang baru (mumasalatu lil hawadits).
misalnya menyerupai salah satu benda-benda baru dalam ciri-ciri yang telah menjadi tabiatnya dan tidak dapat terlepas dari sifat-sifat tersebut. atau karena tabiatnya sendiri menerima sifat-sifat itu. baik sifat-sifat itu terdapat pada segala macam benda maupun sebagiannya. seperti: esensinya, jasmani. sifat. bertempat. tersusun dan terbaginya. keluarnya dari yang lainnya. melahirkan yang lainnya. bersambung dan berpisahnya. jenis hewan. tumbuh-tumbuhan. logam. perpindahannya dar) satu tempat ke tempat lain, emosionalnya. seperti tertawa. heran dan sebagainya.
Sebab. andaikata Allah menyerupai makhluk sedikit saja dari ciri-ciri tersebut, niscaya Dia menyerupai benda-benda baru itu. Karena sesuatu yang menyerupai benda Jain dalam satu cirinya saja. maka sesuatu itu berarti sama dengannya. Scandainya Tuhan itu seperti benda baru. niscaya Dia bisa menerima apa saja yang diterima oleh benda baru itu. seperti baru dan rusak.
Sebab. sesuatu ang mungkm bagi salah satu dari dua hal yang serupa. mungkin juga sesuatu itu bagi yang lain. Dalil atau buku. bahwa Allah itu bersifat Qidam dan Baqa’ serta mustahil bagi-Nya sifat baru dan fana” telah jelas.
Dengan pembahasan ini. jelaslah. bahwa Allah swt. tidak menyerupai barang-barang baru. Karena itu, wajib bagi-Nya bersifat mukhalafah lil hawadits (berbeda dengan barang-barang baru) dan mustahil bagi-Nya menyerupai barang-barang baru. Inilah yang dimaksudkan.
5. Qiyamuhu Binafsih (Berdiri Sendiri)
Allah swt. itu wajib bersifat Qiyamuhu binafsih (BerdiriSendiri) dan mustahil bagi-Nya sifat kebalikannya, yaitu giyamuhu bighairihi (berdiri dengan yang lain), dalam arti Allah membutuhkan tempat yang di diami, atau kediaman untuk tempat tinggal atau penentu (mukhashshish) yang menentukan kepada-Nya atau sesuatu yang mengadakan (muhdits) akan adaNya.
Bukti bahwa Allah bersifat Qiyamuhu binafsihi ialah sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan sifat Almukhalafah lil hawadits (Allah berbeda dengan barang baru).
Dalam pembahasan itu dijelaskan, bahwa Allah bukan esensi, dan bukan jasmani, sehingga tidak membutuhkan tempat. Sebab membutuhkan tempat adalah salah satu ciri esensi dan jasmani.
Allah bukan pula benda yang membutuhkan tempat untuk ditempati, sebagaimana bendabenda lain, seperti warna, rasa, dan sebagainya yang mesti membutuhkan tempat sandaran.
Telah dijelaskan juga, bahwa Allah swt. itu qadim yang tidak membutuhkan penentu yang memberi ketentuan bagi-Nya dan tidak pula membutuhkan kepada dzat yang menciptakan-Nya.
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa Allah swt. wajib bersifat giyamuhu binafsih (berdiri sendiri) dan mustahil bagi-Nya memiliki sifat giyamuhu bighairihi (berdiri karena yang lain). Inilah maksud pembahasan.









One Comment