Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Husunul Hamidiyah

Karena dengan cara iman seperti inilah maka orangorang Ajam (selain orang Arab) dibebani untuk mengimankan kerasulan Nabi kita, Muhammad saw. walaupun mereka tidak mengetahui bahasa beliau, yakni bahasa Arab.

Perlu diketahui, bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat pembuktian atas kebenaran Nabi Muhammad saw. tentang pengakuan kerasulannya melalui Cara selain cara yang berkaitan dengan kefashihan dan kesusastraan yang keduanya itu telah melemahkan orang-orang Arab yang fashih dan ahli sastra mereka.

Dari segi ini Al-Qur’an juga merupakan mukjizat yang luar biasa, yang tidak mungkin dapat ditandingi oleh manusia, jelasnya adalah apabila para kritikus sastra merenungkan Al-Our’ an dan mengetahui keistimewaan di dalamnya dan mereka termasuk orang-orang yang memiliki pengetahuan, seni, dan politik dan merenungkan gaya bahasa Al-Qur’an dan kandungankandungannya, maka nyatalah bagi mereka berdasarkan pemikiran yang benar, bahwa di dalam Al-Qur’an itu terdapat keistimewaan-keistimewaan yang utama dan sifat-sifat yang sempurna yang tidak mungkin dikumpulkan dalam satu kumpulan pembicaraan, bagaimana pun rapi penyusunannya dan luas penelaahannya pada hal-hal yang sudah lampau, sedang dihadapi dan masa yang akan datang, urusan hal ihwal seluruh bangsa meliputi seluruh bidang ilmu pengetahuan kesusastraan, hikmah yang terhindar dari adanya pertentangan dan perlawanan, kebaikan gaya bahasa tidak sama dengan gaya bahasa-gaya bahasa yang sudah dikenal oleh bangsa Arab, kecuali orang itu akan berkata: Dia-lah Allah Yang Maha Kuasa atas seluruhnya itu dan mengumpulkan dalam suatu pembicaraan yang dikumpulkan di dalam Al-Qur’an itu.

Demikianlah, sesungguhnya mereka menjumpai Al-Qur’an ini memberitakan tentang perkara-perkara ghaib, yang akan datang dan perkaraperkara itu datang sesuai dengan pemberitaannya, seperti janjinya terhadap pengikut Muhammad saw. untuk memasuki Mekkah dalam keadaan aman, maka datanglah itu sebagaimana yang dijanjikan.

Al-Our’ an memberitakan kisah orang-orang terdahulu dan perilaku mereka, sebagaimana hikayat orang yang menyaksikan dan menghadirinya. Dia memberitakan tentang isi hati yang tidak ditampakkan oleh orang-orang yang memilikinya, baik perkataan maupun perbuatan, sebagaimana yang terjadi pada pengikutpengikut Muhammad saw. dan sebagian musuh beliau, seperti disebutkan dalam kitab-kitab Tafsir dan Hadits.

Al-Our’ an dengan keluasan medianya dalam setiap bidang, seperti bidang pemberitaan, hukum-hukum, nasihatnasihat, perumpamaan-perumpamaan, budi pekerti, kesusastraan , hal yang menggembirakan dan yang menakutkan, pujian terhadap orang yang terpilih, celaan kepada orang-orang yang keji, mempertakuti dari perangai yang buruk dan perilaku yang rendah, memainkan peran politik, mendebat lawan bertengkar, mencela kehinaan, menunjukkan bukti-bukti keberadaan Dzat Pencipta dan keEsaan-Nya.

Di samping itu, menunjukkan peristiwa berkumpul manusia di Mahsyar dan bangkit sesudah mati, menolak kesamaran, menghilangkan keraguan, mensifati kehidupan surga dan perilaku penghuninya, kehidupan neraka yang besar nyala dan keruwetan-keruwetannya, mensifati alam langit, tanda-tanda yang ada di alam angkasa berupa bintang-bintang, hujan, awan, kilat, halilintar dan keajaiban-keajaibannya, mensifati bumi dan gunung, tanah datar, lautan, sumber-sumber, sungai-sungai dan segala yang ada di atasnya.

Seperti tumbuh tumbuhan, binatang, tambang, bunga bunga, buah buah, pohon pohon, burung burung, gelap dan cahaya, semua ada dalam Al Qur’an, sehingga benar jika dikatakan, bahwa tidak ada ilmu ilmu yang terdahulu dan terkemudran, kecuali Al Qur’an telah menjelaskan atau menunjukkan dengan gaya bahasa yang berbeda beda dan cara yang baru. Tidak terjadi di dalamnya pertentangan dan perbedaan terhindar dari semua aib, dan indah susunannya, tanpa terjadi kesamaan pada tiap gaya bahasa, tidak ada perumpamaan yang diturutnya dan tidak ada imam yang diikutinya.

la bukanlah merupakan gasidah-gasidah orang Arab (syair), bukan pula pidato-pidato suku Badui (kalam natsar). Meskipun demikian, ia terasa indah dan bagus menurut pikiran, terasa manis dalam jiwa, enak alam rasa, sejuk dalam hati, sedap dalam pendengaran, tidak membosankan setiap kali diulang, dari mulut siapa saja terdengar tinggi dan berharga.

Menurut akal yang sehat, tidak benar berkumpul sifat-sifat itu terjadi secara tiba-tiba, dan terjadi dengan kebetulan dalam pemikiran yang benar. Maka, di antara kewajiban orangorang yang merenungkan Al-Our’ an, dan memikirkan kandungannya, dan yang layak dengan kesadaran mereka adalah berkata: “Sesungguhnya sesuatu yang tampak bagi kita berupa menyatunya sifat-sifat itu dalam pembicaraan yang indah, adalah perkataan yang tidak bisa ditandingi oleh kekuatan manusia walaupun sebagian mereka tolong-menolong pada sebagian yang lain”.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker