Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Husunul Hamidiyah

III. SIFAT-SIFAT ALLAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN SESUATU DAN YANG TIDAK BERHUBUNGAN

Sifat-sifat Allah tiga belas. yang telah kami jelaskan bukti-bukti tentang wajibnya sifat-sifat tersebut bagi Allah dan mustahilnya sifat-sifat kebalikannya itu ada dua bagian:

1. Ada yang tidak berhubungan dengan sesuatu

Sifat-sifat wajib Allah yang tidak berhubungan dengan sesuatu itu ada tujuh, yaitu: Al-Wujud, Al-Qidam, Al-Baga, Al-Mukhalafatu lil hawadiis, Al-Qiyamuhu bi nafsih, Al-Wahdaniyah, Al-Hayah.

Pengertian tidak berhubungannya sifat-sifat tersebut dengan sesuatu ialah: Allah dalam menentukan sesuatu, mewujudkan. memperlihatkan dan menunjukkannya itu tidak menggunakan sifat-sifat tersebut.

2. Ada yang berhubungan dengan sesuatu

Sifat-sifat wajib Allah yang tidak berhubungan dengan sesuatu itu ada enam, yaitu: Al-Iradah, Al-Qudrah, As-Sam’u, Al-Bashar. Al-Ilmu dan Al-Kalam.

Sifat Al-Qudrah dan Al-Iradah berhubungan dengan sesuatu yang jaiz saja, dan tidak berhubungan dengan sesuatu yang wajib dan mustahil sifat Al-Iradah berhubungan dengan sesuatu yang jaiz dengan hubungan menentukan. Dengan sifat Al-Iradah itu, pada zaman azali Allah menentukan barang jaiz dengan kejadian yang jaiz bagi-Nya.

Misalnya pada zaman azali Allah menentukan Zaid akan diciptakan atau tidak. Jika diciptakan, maka ia akan bersifat begini, pada masa ini, tempat ini. daerah bumi ini dan sebagainya. Dengan ketentuan ini, maka barang jaiz itu pasti sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah kepadanya dengan IradahNya dan mustahil akan menyimpang dari ketentuan itu.

Karena seandainya barang tersebut berbeda dengan apa yang telah dikehendaki oleh Allah. maka pastilah Allah itu terpaksa dan dipaksa. Dalam kerajaan-Nya, berarti terjadi Sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Keadaan seperti ini untuk makhluk manusia saja tidak menyenangkan, apalagi bagi Allah Maha Pencipta, Raya dani segala raja, dan Maha Suci lagi Maha Luhur.

Sifat Al-Qudrah berhubungan dengan sesuatu yang jaiz dengan hubungan yang bersifat memberi otoritas untuk menciptakan atau meniadakan sesuaty itu sesuai dengan apa yang telah direncanakan oleh Iradah-Nya pada zaman azal:. Misalnya, apabila pada zaman azali Allah berkehendak menjadikan Zaid dengan sifat ini, pada masa ini, di tempat itu, maka apabila tiba masa yang iradah Allah yang berhubungan dengan penciptaan Zaid, berhubungan pula dengan Qudrah Allah untuk menciptakan Zaid.

Kemudian Allah mewujudkan Zaid menurut sifat dan tempat yang telah ditentukan oleh Iradah-Nya.

Demikian pula apabila Iradah Allah berhubungan dengan meniadakan Amr dengan cara tertentu, maka berhubungan pula gudrah-Nya dengan meniadakan Amr itu. Allah meniadakan Amr dengan gudrah-Nya sesuai dengan iradah-Nya, tidak berbeda sedikit pun.

Jika tidak demikian, maka pasti ada perselisihan dalam sifat Iradah-Nya dan ini adalah muhal, sebagaimana uraian terdahulu.

Sifat Al-Qudrah dan Al-Iradah Allah swt. masing-masing tidak berhubungan dengan barang-barang wajib, baik dalarn hal mengadakan atau menjadakannya, seperti dzat dan sifat-sifat-Nya dan tetapnya barang pada tempat. Dua sifat tersebut juga tidak berhubungan dengan barang yang mustahil, seperti adanya sekutu bagi-Nya, dan menyatukan dua hal yang berlawanan, seperti Zaid ada dan tidak ada dalam satu waktu. Karena barang yang wajib bagi Allah ada secara pasti, dan tidak mungkin berubah dan ada menjadi tidak ada.

Oleh sebab itu, sifat Al-Qudrah dan Al-lradah Allah tidak berhubungan dengan wajib, tidak juga dalam hal menciptakannya, karena hal itu mewujudkan apa yang sudah ada dan itu adalah muhai: juga tidak berhubungan dengan meniadakan, karena mustahil tidak adanya dan keluar dari adanya, karena barang yang mustahil itu pasti tidak ada dan tidak dapat ada.

Oleh karena itu, sifat Al-Qudrah dan Al-Iradah Allah tidak berhubungan dengan sesuatu yang mustahil: baik meniadakannya karena hal itu menghasilkan apa yang sudah. dan itu adalah muhal, maupun mengadakannya, karena muhal adanya dan keluarnya dari barang tidak ada.

Sebagai catatan, apabila ada sescorang bertanya: “Apakah Allah kuasa meniadakan barang yang wajib atau mewujudkan barang yang mustahil, seperti mencipta sekutu bagi-Nya” Sebagai jawaban yang sopan kami katakan: “Sesungguhnya bukti-bukti sudah menunjukkan, bahwa kekuasaan Allah itu tidak berhubungan dengan barang wajib dan tidak pula berhubungan dengan barang mustahil, baik mengadakan maupun meniadakannya.

Sedang yang anda tanyakan itu adalah yang termasuk hal wajib atau termasuk hal yang mustahil, padahal gudrat Allah tidak berhubungan dengan keduanya itu”.

Kami tidak mengatakan, bahwa Allah tidak kuasa atas demikian itu.Karena jawaban yang demikian ini termasuk tidak sopan terhadap hadlirat Allah dan memberi kesan lemah kepada-Nya, sedangkan Dia Maha Suci dari yang demikian.

Adapun sifat As-Sam’u dan Al-Bashar itu berhubungan dengan seluruh barang yang ada, baik wajib maupun jaiz, dengan hubungan yang bersifat menyingkapkan.

Kedua sifat itu tidak berhubungan dengan barang yang tidak ada, baik mustahil maupun jaiz. Allah swt. melihat kepada Dzat-Nya yang mulia, sifat-sifat-Nya dan mendengar firman-Nya, sebagaimana Dia melihat dan mendengar pada sesuatu yang dilihat dan didengar dari makhluk-Nya yang jaiz. Allah swt. melihat benda yang paling kecil di malam yang gelap gulita serta mendengar derap jalannya pada batu yang licin, karena penglihatan dan pendengaran-Nya tidak seperti penglihatan dan pendengaran makhluk yang banyak kekurangannya, karena daya penangkapannya itu tergantung pada syarat-syarat dan sebab yang biasa.

Adapun sifat “Al-Ilmu dan Al-Kalam itu berhubungan dengan sesuatu yang wajib, mustahil dan jaiz, balk ada maupun tidak ada. Sifat Al-Ilmu Allah berhubungan dengan hal-hal ini dengan hubungan yang bersifat penyingkapan. Allah dengan sifat Al-Ilmu-Nya dapat mengetahui sesuatu yang wajib yang benar-benar wajib, seperti dzat dan sifatsifat-Nya yang Suci. Diketahui-Nya pula hal-hal yang mustahil, yang benar-benar mustahil, seperti ada sekutu bagi-Nya. Allah mengetahui sesuatu yang jaiz yang benarbenar jaiz, baik ada maupun tidak ada, akan ada atau tidak.

Allah mengetahui apa yang ada padanya dan tidak ada sesuatu yang lepas dari Ilmu-Nya, baik secara global maupun detail, di bumi atau di langit. Allah mengetahui jumlah pasir, tetesan air hujan, daun-daun pepohonan, dan dzat makhluk-Nya. Pengetahuan Allah tidak ada batasnya dan telah meliputi segala sesuatu.

Adapun sifat Al-Kalam itu berhubungan dengan sesuatu yang mustahil dan jaiz dengan hubungan yang bersifat menunjukkan (dalalah). Firman Allah yang tanpa huruf, tanpa suara itu menunjukkan setiap barang yang wajib, mustahil dan jaiz, baik yang tidak ada dengan segala apa yang ada padanya. Dengan sifat Al-Kalam pula Allah memben pengertian kepada seluruh hambahambanya-Nya yang dikehendaki-Nya, seperti malaikat dan para rasul-Nya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker