Dia Maha Kuasa untuk mewujudkan makhluk tanpa sebab-sebab. Kita, orangorang yang membenarkan Al-Qur’anul Karim yang memberitakan mukjizat ini, yang mana mukjizat itu termasuk jaiz menurut akal dan termasuk bagian tindakan Dzat Yang Maha Kuasa, yang kita percayai adanya dan sempurna kekuasaan-Nya, maka kita percaya dan membenarkan terjadinya mukjizat itu bagi Nabi Musa, karena kekuasaan Allah swt. sehingga kaumnya mau menerima pejanjian.
Sebagian mukjizat Nabi Musa yang lain ialah merajalelanya belalang, kutu kepala, katak dan darah pada kaum Fir’aun. Juga turunnya manna dan salwa di padang Tih. Orang-orang yang percaya kepada Allah Yang Maha Kuasa tentu percaya terhadap ini, bahkan yang lebih besar lagi. Penjelasan Jaiznya itu ialah saat ini dapat disaksikan merajalelanya belalang dan binatang hama seperti ulat dan tikus yang merusak tanaman suatu kaum dan tidak merusak tanaman kaum lain.
Dapat disaksikan pula, bahwa pada sebagian daerah ada yang airnya rusak, sebinpga jika diminum menyebabkan timbul penyakit pada penduduk yang meminumnya. Sesudah diteliti sebab-sebab nya, ternyata dalam an atu terdapat kuman-kuman penyakit yang tidak dapat dilihat dengan mikroskop. Kemungkinan darah yang menimpa Bani Israil semacam dengan hal ini.
Dapat dilihat juga, bahwa kadang-kadang turun sebagai ganti hujan, benda yang tidak biasa. Setelah para pencliti mencari sebab-sebab terjadinya, ternyata ada angin yang memindahkan benda itu dari suatu tempat dan diturunkannya pada tempat yang lain. Seluruhnya itu termasuk jaiz (mungkin) menurut akal, dan yang serupa dengan itu dapat kita lihat pada zaman sckarang.
Maka, apakah yang mencegah Tuhan mewujudkan hal tersebut sebagai mukjizat bagi Nabi Musa a.s. dan sebagai rezeki bagi Bani Israil yang berada di Tih, yang membutuhkan makanan pokok, Allah mengaruniai mereka dengan manna dan salwa. Kita, kaum muslimin, percaya tejadinya hal-hal yang jaiz itu di tangan Nabi Musa dengan ciptaan Allah, sebagai mukjizat bagi Nabi Musa, sebagaimana telah diberitakan oleh Rasul yang bersifat Ash-Shiddig (benar).
Di antara mukjizat yang disebutkan dalam Al-Qur’an ialah keluarnya unta dani batu di tangan Nabi Shalih a.s. ketika kaumnya meminta hal itu agar mereka beriman kepadanya. Barangsiapa yang mendengar berita ini dan dia orang yang percaya adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, maka untuk membenarkan kemungkinan terjadinya mukjizat ini cukuplah ia menggambarkan keajaiban ciptaan-ciptaan-Nya dan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa untuk mengubah debu menjadi binatang dan mengubah benda menjadi bentuk yang bermacam-macam, karena tidak ada penghalang bagi Allah untuk membentuk sebagian bahan (materi) di dalam batu menjadi bentuk unta betina, dihidupkan dan diberi indera. Kemudian dibelahlah batu itu dan unta tersebut dikeluarkan kepada kaum Nabi Shalih sebagai mukjizat Nabi Shalih a.s.
Sesungguhnya sebab-sebab dan waktu yang biasa berlaku dalam menciptakan binatang-binatang tidak lain hanyalah menurut hukum kebiasaan saja. Allah Maha Kuasa untuk menciptakan binatang tanpa sebab-sebab.
Betapa banyak di dalam batu terdapat binatang, misalnya ulat yang tidak diketahui oleh para peneliti bagaimana terjadinya ulat itu di dalam batu, dan di sekelilingnya terdapat banyak tumbuhan yang halus, seperti lumut yang ada pada dinding-dinding yang menjadi makanannya. Setiap tumbuh-tumbuhan itu habis dimakan, maka tumbuh pula yang lain. Hal ini telah disaksikan adanya dan orang-orang yang tepercaya telah memberitakannya.
Selagi hal ini jaiz (mungkin) bagi binatang-binatang seperti ini, niscaya hal itu jaiz (mungkin) pula bagi binatang semisal unta, sebab perbedaannya hanya besar dan kecil. Sesuatu yang tidak mustahil pada benda kecil, tidak mustahil pula pada benda besar.
Kita orang-orang mukmin percaya terjadinya mukjizat itu, karena termasuk barang jaiz yang termasuk di bawah tindakan Allah dan telah diberitakan oleh orang yang benar. Mukjizat itu benar-benar ada dan tidak diragukan lagi.









One Comment