Sebagian mukjizat yang disebutkan dalam Al-Qur’an bagi Nabi Musa ialah memancarnya air dari batu ketika dipukul dengan tongkatnya atas perintah Allah. Menurut riwayat batu itu batu unsur dan menurut riwayat lain batu biasa. Di sini kami katakan, bahwa orang yang mendapat berita ini, jika ia ingkar adanya Dzat Pencipta, maka telah kami terangkan cara yang tepat menghadapinya.
Jika ia orang yang percaya kepada keberadaan Dzat Pencipta dan kesempumaan kekuasaan serta keagungan ciptaan-ciptaanNya, maka untuk membenarkannya dia cukup membayangkan, bahwa memancarnya air dari batu itu mempunyai dua cara yang memungkinkannya. Cara pertama ialah Allah swt. menciptakan dan memunculkan air dari tidak ada, yang air itu dapat mencukupi Bani Israil. Kemudian diciptakan jalan keluar air dari batu bersamaan ketika batu itu dipukul oleh Musa, sebagaimana mereka saksikan.
Cara kedua ialah Allah mengubah udara menjadi air dan dijadikan jalan keluarnya dari batu sebagaimana mereka saksikan itu. Mengubah udara menjadi air dan sebaliknya adalah termasuk sesuatu yang mungkin dan para ahli kimia pun mampu sebagaimana hal itu diketahui dalam ilmu kimia.
Kini mereka dapat mengubah udara menjadi zat cair. Bagaimana tanggapanmu terhadap kemampuan Dzat yang menciptakar para ahli kimia dan seluruh karya-karya mereka?
Kami, kaum muslimin, ketika Rasul yang benar memberitakan kepada kami tentang hal-hal tersebut, kmi berpendapat, bahwa hal-hal itu termasuk jaiz (mungkin) dan termasuk di bawah tindakan Dzat Yang Maha Kuasa. Maka kami percaya dan membenarkannya, karena Allah mewujudkan hal tersebut sebagai mukjizat bagi Nabi Musa dan untuk melanjutkan kehidupan Bani Israil di padang Tih Yang sangat membutuhkan air.
Sebagian mukjizat Nabi Musa yang disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim ialah berubahnya tongkat Nabi Musa menjadi ular besar, yang menelan tali dan tongkat yang banyak, yang disihir oleh tukang-tukang sihir Fir’aun menjadi ular dalam pandangan manusia. Jika orang yang mendengar mukjizat ini tidak percaya kepada Dzat Pencipta dan keagungan kekuasaan-Nya, maka cara yang tepat untuk menghadapinya telah kami kemukakan di muka.
Jika yang mendengar berita ini orang yang beriman kepada Dzat Pencipta, maka cukuplah untuk memungkinkan terjadinya mukjizat itu dengan membayangkan keagungan ciptaan-ciptaan Allah dalam dunia tumbuhtumbuhan dan dunia hewan, yang seluruhnya itu terjadi dengan kekuasaanNya. Dan Dia telah mengubah bahan-bahan (materi)nya dani satu bentuk pada bentuk yang lain. Diubahnya tanah menjadi tumbuh-tumbuhan dan tumbuh-tumbuhan menjadi hewan.
Sesungguhnya sebab-sebab dan waktu yang dijadikan oleh Allah sebagai sarana dalam menjadikan barang-barang baru (hawadits), hanyalah sebagai proses biasa. Sedangkan Allah Maha Kuasa untuk menjadikan barang-barang tersebut tanpa sebab-sebab dan waktu.
Dan Allah Maha Kuasa untuk melenyapkan tubuh atau mencerai-beraikannya menjadi debu, yang tidak dapat dilihat oleh mata. Kita umat nabi Muhammad ketika beliau memberitakan adanya mukjizat-mukjizat itu bagi nabi Musa a.s. sedangkan kita telah percaya atas kekuasaan Allah untuk mengadakan mukjizat itu, bahkan yang lebih besar lagi, maka kita percaya dan membenarkan mukjizat mukjizat tersebut.
Kami berpendapat, bahwa tidak ada penghalang yang menghalangi Allah mengubah tongkat yang berasal dari jenis tumbuhtumbuhan menjadi ular yang besar tubuhnya, dengan mengumpulkan bendabenda bumi. Setelah ular itu menelan tali dan tongkat, maka Allah mengembalikannya sebagai tongkat dengan ukuran semula dan melenyapkan benda-benda yang menambah besarnya serta tali dan tongkat yang telah ditelannya. Atau mencerai-beraikan semuanya itu dan dijadikannya debu yang tidak terlihat.
Seluruhnya itu dijadikan oleh Allah tanpa sebab-sebab dan tanpa butuh waktu yang biasa dijadikan oleh Allah sebagai proses menciptakan sesuatu di alam ini, karena Dia Maha Kuasa atas yang demikian itu. Keluarbiasaan dalam keadaan ini adalah mukjizat yang menunjukkan kebenaran kerasulan Musa a.s.
Sebagian mukjizat Nabi Musa a.s. yang diberitakan oleh Al-Our’ an ialah terangkatnya Thur, yaitu terangkatnya bukit di atas Bani Israil sehingga mereka mau menerima perjanjian. Orang-orang yang percaya adanya Tuhan Yang Maha Kuasa dan mau merenungkan ciptaan-ciptaan-Nya yang mengagumkan, mereka pasti dapat menerima jaiznya (kemungkinan terjadinya) mukjizat ini.
Betapa banyak Allah mengangkat benda-benda yang besar sekali dan diletakkan pada tempat yang hampa, meskipun menurut ahli falak mutaakhirin mengatakan benda-benda itu berada pada tempat yang hampa karena hukum tarik-menarik. Kami katakan, bahwa Dzat yang mengadakan hukum tarik-menarik adalah kuasa untuk mengadakan hukum serupa untuk mengangkat bukit, karena sebab-sebab yang dijadikan Allah di alam ini tidak lain, kecuali kebiasaan, sebagaimana uraian di muka.









One Comment