Apabila persoalan itu demikian, maka apa yang menghalangi Allah Yang Maha Kuasa untuk menjaga unsur-unsur manusia yang asli itu sesudah matinya dari terpisah-pisah dan hilangnya bentuk dan dari menyatunya bagian-bagian itu ke unsur-unsur asli hewan lain, yang memakan manusia.
Apabila unsur-unsur asli manusia itu masuk pada susunan bagianbagian tambahan hewan itu, maka unsur-unsur itu akan terpisahpisah manakala ditinggalkan hewan-hewan itu, sebab hewan-hewan mati pula.
Kemudian ketika dikembalikan dan dibangkitkan, Allah mengembalikan hubungan ruh dengan bagian-bagian asli manusia itu dan dikumpulkan bagian-bagian tambahannya yang menyempurnakan ukuran tubuh manusia dan kerangkanya seperti dulu, sebelum mati.
Baik bagian-bagian itu berupa dzat yang dahulu ada sebelum meninggal atau dzat lainnya. Perasaan kenikmatan dan siksaan itu hanyalah karena terjalinnya kembali hubungan ruh dengan unsur-unsur asli.
Cara seperti ini bolehlah dikatakan pengembalian, karena antara ruh dengan unsur-unsur asli yang merupakan hakikat manusia dihubungkan kembali setelah keduanya berpisah.
Apabila keadaan itu demikian, maka tidak boleh dikatakan termasuk keragu-raguan filosoffilosof itu, bahwa manusia yang diberi kenikmatan atau siksaan, adalah bukan manusia yang ada sebelum meninggal.
Tidak boleh juga dikatakan, bahwa dua nyawa itu bisa bergabung dalam satu tubuh, apabila manusia makan manusia dan keduanya menjadi satu karena makan.
Tidak boleh dikatakan, bahwa satu materi menghasilkan manusia yang banyak, mengingat yang disaksikan di permukaan bumi beberapa bagian tubuh bangkai-bangkai orang mati dahulu kala, dan di bumi telah ditanam tanaman-tanaman yang banyak dan ditanam pula pepohonan-pepohonan yang dimakan manusia, dan semua itu menjadi daging darah di tubuh-tubuh mereka.
Dengan dasar seluruhnya itu, kami berkata: “Sesungguhnya unsur-unsur asli yang berhubungan dengan ruh sebelum meninggalnya, itulah orang yang bertemu dengan ruh ketika dibangkitkannya orang itu sendiri.
Kekuasaan Allah dan ilmu-Nya patut untuk melakukan cara ini dan tidak mengandung kemustahilan sama sekali.
Ketidaktahuan kita tentang unsur-unsur asli manusia itu tidak berarti unsur-unsur itu tidak ada, karena mungkin kita hanya menyaksikan terpecah-belahnya bagian-bagian tambahan dan tidak kita saksikan bagian asli yang merupakan hakikat manusia, baik karena lembut atau halusnya dan sebagainya.
Betapa banyak alam yang tersembunyi dan tertutup dari indera kita, dan tidak ada yang menghalangi akan adanya alam itu.
Kesimpulannya, bahwa nash-nash syari’at itu mengatakan tentang hidup kembali sesudah mati dan kebangkitan.
Oleh karena itu kita mengimankannya dan kita percaya, bahwa hal itu akan ada dan tidak mustahil. Kita tidak wajib menjelaskan cara hidupnya kembali manusia sesudah mati secara terperinci.
Jika kita membutuhkan keterangan ini kita jumpai, bahwa cara yang seperti itu sebagaimana yang telah kita terangkan itu sudah cukup dan sempurna untuk menjadikan akal dapat menerima dan menolak keragu-raguan, sebagaimana tidak samar bagi orang yang berpikir dan sadar, walaupun kita tidak dibebani untuk mempercayai perincian yang telah kita terangkan itu.
Tetapi yang dibebankan kepada kita ialah iman tentang adanya kebangkitan yang tidak mustahil, sebagaimana uraian di atas.
Kemudian kami kemukakan, bahwa dalam pembahasan tentang unsur-unsur asli yang telah kami uraikan itu, menolak kesamaran-kesamaran terhadap kenikmatan kubur dan siksaannya yang telah dijelaskan oleh nashnash syarak.
Karena akan ditanyakan: “Apakah yang menghalangi Allah swt. untuk menjadikan hubungan yang khusus bagi ruh dengan unsur unsur asli, sehingga dapat merasakan kenikmatan atau cobaan di waktu dalam kubur?”
Bagi kita, walaupun telah menyaksikan tubuh itu terpisah-pisah dan hancur serta tidak ada kehidupan di dalamnya, maka unsur-unsur asli itulah yang merasakan kenikmatan atau siksaan, dan kita sedikitpun tidak melihat bagian-bagian asli itu, karena tersembunyinya dari pandangan kita, dikarenakan kelembutan dan kehalusannya.
Demikian juga terbantahlah keragu-raguan terhadap nash-nash yang menjelaskan, bahwa sebagian orang mati itu hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezeki seperti orang-orang yang mati syahid.
Perlu dijelaskan juga. bahwa tidak ada penghalang bagi Allah untuk menjadikan ruh-ruh mereka hubungan khusus dengan unsur-unsur asli, sehingga menjadi hidup dengan kehidupan yang dapat menerima rezeki dan kenikmatan tertentu.
Itulah yang diberitahukan oleh nash-nash, walaupun kita tidak melihat hal itu.
Semua itu termasuk hal-hal yang jaiz (mungkin) menurut akal dan tidak mustahil, serta hal itu termasuk di bawah kekuasaan Allah swt.
Barangsiapa yang menelaah pendapat yang dikatakan oleh ahli-ahli ilmu alam moderen tentang hewan-hewan kecil yang hanya bisa dilihat melalui microskop terbesar, bahwa hewan-hewan itu mempunyai daya tangkap perasaan dan usaha untuk mencari makanan, menjaga hidupnya, dan saling membunuh antara sebagian dan sebagian yang lain, berupaya keras untuk memperoleh rezeki dan sebagainya.
Hal itu tidak jauh berbeda dengan uraian yang telah kami tetapkan tentang unsur-unsur asli manusia dan diterimanya perhubungan ruh-ruh dengan unsur-unsur asli itu, hingga dapat merasakan kenikmatan atau siksaan yang dikehendaki Allah tanpa kita ketahui sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kemudian mengenai semua anggota tubuh, kulit-kulit makhluk dan bumi menjadi akan memberi persaksian atas perbuatan mereka, ini termasuk hal yang jaiz (mungkin) menurut akal dan termasuk kekuasaan Allah swt., sebagaimana telah dijelaskan dalam keterangan mukjizat para rasul, yaitu berbicaranya benda-benda mati, Allah swt., Dia lah, yang menciptakan sifat kalam pada manusia dan penciptaan-Nya terhadap sifat berbicara itu tidak terbatas pada yang hidup atau tidak hidup, sebagaimana telah ditunjukkan bukti-buktinya.
Maka tidak ada penghalang bagi Allah untuk menciptakan kalam (pembicaraan) pada benda-benda itu, untuk menjadi saksi orang-orang yang durhaka tentang amal perbuatan mercka.
Hikmah yang terkandung dalam hal itu jalah. hamba-hamba merasa takut melaksanakan kemaksiatan, ketika para rasul memberitakan. bahwa anggotaanggota badan dan kulit mercka serta bumi yang mercka gunakan untuk berbuat maksiat akan memberi persakisan atas mereka di hari kiamat.
Juga untuk menampakkan keagungan kekuasaan Allah pada hari itu dan kehebatan hujjah-Nya kepada hamba-hamba-Nva.
“Hanya bagi Allah lah hujjah yang elok”.
Kemudian mengenai jembatan (Shirath) yang dibentangkan di tebing Jahanam untuk dilalui manusia. sebagaimana dalam uraian yang telah lalu Itu, tidak ada yang dianggap mustahil oleh akal.
Tetapi dalam sebagian riwayat lain terdapat penjelasasn tentang jembatan (Shirath) yang berbeda dengan riwayat-riwayat yang mutawatir dan masyhur, bahwa shirath itu lebih lembut daripada rambut dan lebih tajam daripada mata pedang.
hal yang demikian ini mungkin dipandang jauh kemukinannya oleh sebagian orang-orang yang lemah, walaupun hal seperti itu jaiz (mungkin) menurut akal dan termasuk kekuasaan Dzat Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung.
Dalam pada itu, ada sebagian ulama, seperti Imam Al-Izzu bin Abdis Salam, Syekh Qarafi dan Syekh Badar Az-Zarkasyi telah membantah tentang kestahihan riwayat itu, sebagaimana dikutip oleh Al-Bajuri dalam kitab “Al-Jauharah ”, mereka berkata: Apabila riwayat-riwayat diperkirakan sholah pengertiannya, dapat dibawa pada sclaim arti zhahirnya dengan dita wili, bahwa hal itu merupakan kinayah dari kesulitan yang luar biasa.
Al-Qarafi menambahkan, bahwa scbenarnya jembatan itu luas dan mempunyai dua jalur kanan dan kiri. Orang-orang yang bahagia melewati jalur kanan dan orang-orang yang celaka melewati jalur kiri.
Dengan penjelasan ini, maka tidak ada lagi kesulitan dalam memahami bagi pikiranpikiran orang-orang yang lemah. Setiap orang mukallaf itu cukup beriman akan adanya jembatan (shirath),walaupun dengan cara ini. Allah swt. Maha Mengetahui.
Di atas telah diterangkan, bahwa di antara tanda-tanda besar hari kiamat jalah terbitrnya matahari dari barat. Keterangan yang ada dalam hadits yang mulia ialah matahari terbit dari sebelah barat sampai pertengahan, kemudian kembali dan terbenam di sebelah barat.
Sesudah itu ia tetap seperti kebiasaannya. Peristiwa ini jaiz akli dan termasuk di bawah kekuasaan Allah swt. dan keagungan kekuasaan-Nya.
Barangsiapa yang beriman adanya Allah, maka tidak sulit baginya untuk mengimankan hal itu. Penjelasan jaiznya urusan ini telah diuraikan dalam pembahasan mukjizat berupa berhenti dan beredarnya kembali matahari sebagai mukjizat bagi Nabi Muhammad saw. dan Yusya’ a.s. di kala menerangkan mukjizat para rasul, dengan keterangan yang lebih jelas. Bacalah kembali, jika kalian menghendakinya pada fasal mukjizat-mukjizat. Allah Maha Mengetahui.









One Comment