Seandainya Musa mengajarkan sihir kepada mereka, sebagaimana dikatakan oleh Fir’aun, apakah akal dapat membenarkan, bahwa mereka mau menjalani penyiksaan hanya karena belajar dari beliau dan mereka siap menerima penghinaan setelah kemuliaan, sanggup dibunuh dan disalib sebagai ganti hidup, padahal mereka orang-orang yang berakal, yang dapat membedakan antara baik dan buruk?
Seandainya bukan karena keyakinan mereka yang kokoh, bahwa mukjizat itu bukan jenis sihir dan mukjizat adalah bukti kebenaran Musa dalam pengakuan kerasulan beliau, dan mereka meskipun memisahkan diri dari kemuliaan dunia dan meninggalkan kehidupan yang fana ini, lalu mereka akan diganti dengan kemuliaan akhirat yang kekal abadi, niscaya mereka tidak berbuat senekat itu (menentang Fir’aun) dan tidak mau menerima siksaan yang ditimpakan kepada mereka.
Keraguan Fir’aun mengakui kebenaran Nabi Musa ini adalah lebih hina daripada sarang laba-laba. Fir’aun berbuat demikian karena sombong dan durhaka, bodoh dan celaka.
Demikian pula ketika Allah swt. mengutus Nabi Isa a.s. ilmu kedokteran telah mengalami kemajuan yang pesat di kalangan Bani Israil. Di antara kebijaksanaan Allah adalah menjadikan sebagian besar mukjizat Nabi Isa a.S. berkaitan dengan profesi ahli ilmu kedokteran, yakni pengobatan.
Beliau dapat menyembuhkan penyakit sopak dan buta dengan kedua tangan beliau, bahkan dapat menghidupkan orang mati. Scorang ahli kedokteran tidak mengalami kesulitan untuk membenarkan kerasulan beliau. Bahkan mereka akan berkata: Kami mengerti ilmu kedokteran dan ukuran pekerjaan yang dapat diatasi oleh manusia dan yang udak mungkin diatasinya.
Hanya golongan dokter yang benar-benar ahlilah yang mampu menyembuhkan orang yang sakit sopak, tetapi dengan pengobatan yang spesial dalam proses waktu yang tertentu pula. Adapun peyembuhan beliau seketika dan hanya menyentuh atau mendoakannya, maka hal ini tidaklah dalam kemampuan para dokter.
Mungkin para dokter dapat menyembuhkan sakit mata akibat penyakit yang datang kemudian, bukan karena cacat bawaan. Adapun menyembuhkan orang buta yang tidak mempunyai penglihatan, maka hal itu bukanlah dalam kemampuan manusia.
Menghidupkan orang mati juga bukan merupakan kemampuan manusia sama sekali: karena Isa a.s. membawa keluarbiasaan yang di luar kemampuan manusia, sebagaimana jelas bagi kita berdasarkan penelaahan dalam ilmu kedokteran, maka hal itu merupakan bukti kebenaran pengakuan kerasulan beliau, karena keluarbiasaan-keluarbiasaan itu yang mengadakan hanyalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu: yang Dia letakkan di atas tangan Nabi Isa sebagai mukjizat bagi beliau serta penguat pengakuannya.
Adapun orang yang bukan ahli ilmu kedokteran, hendaklah mereka mengambil bukti kebenaran beliau dengan pembenaran para dokter itu, sebagaimana pengambilan bukti bagi orang yang beriman kepada Nabi Musa, padahal mereka bukanlah orang yang ahli ilmu sihir, karena mereka hanya menyaksikan para tukang sihir beriman kepada Musa.
Apabila kalian telah mengetahui seluruh yang telah-kami uraikan, maka ketahuilah, bahwa kita telah mendapat berita secara mutawatir dan memberi pengertian, yakni sekumpulan orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya telah memberitakan kepada kita dan akal menganggap mustahil jika mereka bersepakat untuk berdusta, seperti kemustahilan adanya kesepakatan seluruh manusia atas berita adanya Mekkah, sedang Mekkah itu tidak ada, padahal berita itu dari sekelompok orang yang banyak, demikian seterusnya secara berturut-turut dari kelompok orang yang banyak dan mereka menyaksikan nabi Muhammad bin Abdullah dan mereka melihat beliau dengan mata kepala mereka, serta mereka mengetahui tingkah laku beliau dan hal hal yang ada pada beliau di masa hidup beliau, di tengah umat manusia: sehingga sempurnalah pembenaran kepada beliau oleh beribu-ribu pengikut beliau terhadap apa yang beliau bawa, bahwa nabi Muhamrnad saw. sesudah 40 tahun hidup di tengah-tengah kaumnya, terkenal sebagai orang yang jujur dan tepercaya, sehingga mereka menggelarinya Al-Amin.









One Comment