Apabila kalian telah mengetahui hal yang demikian itu, maka kita harus mengambil pendapat imam-imam yang pandai itu, dan berpegang pada pendapat yang mereka unggulkan tentang ketidakshahihan riwayat ini. Kita tidak diwajibkan percaya tentang kisah dua malaikat ini.
Dan jika riwayat tersebut shahih, sebagaimana oleh sebagian ulama, maka kami katakan: Kemungkinan kisah itu termasuk bagian perumpamaan-perumpamaan saja, sebagaimana disebutkan oleh Imam Baidhawi dan Abu Sa’ud.
Guru saya, Zaadah dan Sailakuni dalam catatan kaki beliau terhadap Tafsir Baidhawi mengenai cara perumpamaan itu, atau kemungkinan riwayat dalam kisah ini adalah cerita yang dibuat orang Yahudi dan menganggapnya termasuk kisahkisah mereka.
Tapi kebatilan kisah itu sendiri tidak meniadakan kebenaran riwayat yang mereka ceritakan kepada kami. Atas dasar ini Sailakuni membawa perkataan Baidhawi yang diriwayatkan dari Yahudi.
Ringkasnya, kisah ini tidak menentang terpeliharanya (kema’shuman) seluruh malaikat. Allah swt. Yang Maha Tahu.
Termasuk hal yang terdapat dalam nash-nash syarak yang wajib kita imani adalah, bahwasanya setiap hamba itu disertai malaikat Hafadzah (penjaga) dan malaikat pencatat amal perbuatannya baik perbuatan yang baik maupun maupun perbuatan yang buruk.
Orang yang mengingkari terhadap malaikat pencatat ini menjadi kafir, karena orang itu tidak mempercayai Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu) itu. Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Namun, pencatatan itu sama sekali bukan suatu yang wajib, sebab pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Hanya saja faedah pencatatan itu adalah apabila hamba itu mengetahuinya, lantas dia pasti malu, lalu meninggalkan kemaksiatan.
Buku catatan itu adalah hakiki dengan alat kertas dan tinta yang diketahui oleh Allah sawt. berdasarkan penafsiran nash-nash secara lahirnya, dan memang hal itu tidak mustahil. Allah adalah lebih mengetahui.
Di antara hal-hal yang disebutkan oleh nash-nash syari’at ialah adanya malaikat yang mencabut ruh-ruh, yakni mengeluarkan ruh dani tempat tinggalnya.
Kita wajib iman kepada hal ini. Malaikat itu adalah “Izrail dan ia mempunyai pembantu sebanyak sejumlah orang yang meninggal. Ia bersikap halus terhadap orang mukmin dan mendatanginya dengan bentuk yang bagus, berbeda dengan orang selain mukmin.
Dan insya Allah akan kami uraikan pada bab tiga, yaitu Bab Tentang Kesamaran yang Berkaitan dengan Malaikat.









One Comment