Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Husunul Hamidiyah

Selama pada masa itu beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis, tidak pernah bergaul dengan orang yang pandai baca tulis dengan pergaulan yang memungkinkan beliau belajar baca tulis dari mereka dan tidak pula pernah bergaul dengan pergaulan menjadikan beliau ahli tentang pengetahuan-pengetahuan bangsabangsa, tentang hukum-hukum terdahulu dan undang-undang kerajaan.

Tidak ada pula berita. bahwa pada waktu itu beliau memperhatikan soal-soal tersebut sedikit pun, dan tidak melakukan latihan-latihan kefashihan dan kesusastraan. Beliau tidak mempunyai perhatian terhadap syair-syair, pidato-pidato dan surat-menyurat Arab: tidak ada perkataan maupun riwayat tentang itu. Beliau tidak gemar bercakap-cakap dengan orang-orang yang ahli bahasa dan tidak gemar berlomba dengan para sastrawan yang dapat meningkatkan keahlian dalam dua bidang ilmu yang mulia itu sampai ke tingkat yang tinggi di dunia Arab maupun Ajam, karena sedikit kemampuan dan tidak ada orang yang menolong dan membantu beliau.

Ayah-ayah beliau tidak pernah memiliki kekuasaan yang pernah dimiliki, kemudian hilang, sehingga beliau diduga hendak mengembalikan kekuasaan itu dengan cita-cita menjadi pimpinan. Beliau mengaku, bahwa Allah telah mengutus beliau kepada seluruh manusia untuk menyampaikan apa yang disyari’atkan Allah bagi mereka, dengan jaminan mereka selamat di dunia dan akhirat. Syari’ at beliau sesuai dengan masa pengutusan beliau sampai musnahnya dunia ini. Syari’at tersebut menghapuskan kebanyakan hukum-hukum syari’at para rasul yang diutus sebelum beliau, pada zaman yang lampau yang syari’at itu dulunya juga sesuai dengan zamannya.

Syari’at beliau melarang kebiasaan-kebiasaan dan akhlak yang buruk, yang diwarisi dari nenek moyang mereka atau bujukan-bujukan setan yang membahayakan kemaslahatan mereka. Kebiasaan yang paling buruk adalah menyembah berhala, api, batu dan pohon-pohonan.

Syari’at beliau memerintahkan manusia untuk mengesakan Allah swt. dan mempercayai, bahwa Allah bersifat dengan segala sifat-sifat kesempurnaan serta bersih dari sifat-sifat negatif Allah sendiri yang berhak disembah dan disyukuri nikmat-nikrnat-Nya yang dikaruniakan kepada manusia.

Pada hakikatnya syukur itu kembali kepada manusia dengan berbagai kemanfaatan, seperti merendahkan diri kepada Allah ketika shalat, yang menimbulkan kebersihan jiwa dan mempererat hubungan dengan Dzat Pencipta, dan seperti kunjungan mereka ke tempat-tempat yang telah dijanjikan oleh Allah (ibadah haji) akan mendapatkan ampunan atas kesalahan-kesalahan mereka dan sebagainya berupa hal-hal yang menarik kebaikan dan menolak kemelaratan bagi mereka.

Ketika beberapa golongan orang banyak mendengar pengakuan yang besar Nabi Muhammad saw. ini, merekaenggan mendengar pengakuan beliau, dan beliau ditentang dengan penentangan yang amat sangat.

Beliau ditinggalkan oleh keluarga dan teman-teman akrab, didustakan oleh orangorang tua dan pemuda-pemuda. Orang-orang yang sayang beralih menjadi musuh, teman menjadi lawan yang keras, mereka mulai menentang dan mendebatnya serta minta keterangan-keterangan (hujjah), masing-masing meminta bukti kebenaran pengakuan beliau dan masing-masing mencari kelemahan beliau dengan sesuka hatinya. Namun Nabi saw. dapat menunjukkan bukti-bukti dan dapat memberi jawaban kepada orang yang bertanya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker