6. Wahdaniyyah (Esa)
Allah swt. pasti bersifat Wahdaniyyah, yakni Allah itu Esa dalam dzat. sifat-sifat, dan perbuatan-Nya. Dan mustahil bagi-Nya sifat kebalikannya, yaitu Ta’addud (tidak Esa) dalam hal-hal tersebut, misalnya Allah tersusun dalam dzat, sifat-sifat atau ada sesuatu yang menyamai-Nya, baik dalam dzat maupun sifat-sifat-Nya, atau ada sekutu bagi-Nya dalam menciptakan suatu pekerjaan dari berbagai pekerjaan.
Adapun dalil atau bukti, bahwa Allah swt. tidak tersusun baik dalam dzat maupun sifat-Nya ialah seandainya Allah swt. itu tersusun dalam dza! atau sifat-Nya, niscaya Dia menyerupai barang baru dalam salah satu karakter dan dzat-Nya, yaitu tersusun sebagaimana telah diuraikan di atas dalam penjelasan tentang dalil sifat Almukhalafah lil hawadits (Allah itu berbeda dengan barang baru)yang menjadikan Allah itu baru seperti barangbarang baru.
Padahal dalil yang menunjukkan wajibnya sifat qidam bagi Allah dan mustahil Allah itu baru, telah jelas, sebagaimana diuraikan di atas.
Bukti yang menunjukkan bahwa tidak ada satu benda pun yang menyamai Allah swt., baik dalam dzat maupun sifat-Nya ialah, seandainya ada sesuatu yang menyerupai Allah dalam dzat-Nya, maka wajib bagi sesuatu itu halhal yang wajib bagi Allah swt. dan mustahil pula atas sesuatu itu hal-hal yang mustahil atas Allah swt. Atau seandainya ada sesuatu yang menyerupai Allah dalam sifat-sifat-Nya yang wajib dan qadim, terutama sekali dalam hal kesempurnaan kekuasaan membuat sesuatu yang mungkin, niscaya sesuatu yang menyamai Allah dalam dzat maupun sifat-sifat yang wajib dan qadim tersebut adalah Tuhan pula.
Padahal apabila ada tuhan lain bersama Allah, maka alam semesta tidak akan ada, sebagaimana disyaratkan oleh firman Allah:
“Seandainya di langir dan di bumi ada tuhan selain Allah, niscaya langit dan bumi itu rusak”.
Maksudnya, seandainya dalam penciptaan langit dan bumi ada tuhan selain Allah, walaupun Allah bersama mereka, maka langit dan bumi itu pasti rusak dan tidak akan terwujud.
Lebih jelasnya, uraian dalil ini ialah: Seandainya Tuhan alam semesta ini banyak, misalnya di sana ada dua Tuhan atau lebih, niscaya alam ini sama sekah tidak ada. Tetapi, ketiadaan alam ini adalah jelas batal (salah), sebab alam ini telah ada dan dapat disaksikan.
Oleh karena itu, segala sesuatu yang menyebabkan alam ini tidak ada, berupa banyaknya Tuhan, jelas batil. Jika terdapat banyak Tuhan itu batal, maka nyatalah Allah swt. bersifat wahdaniyat. Inilah yang dimaksud.
Adanya Tuhan dua, itu menyebabkan tidak adanya alam semesta ini, karena keduanya adakalanya bersepakat untuk mewujudkan alam atau berselisih.
Jika dua Tuhan itu akur atau sepakat, maka tidak mungkin keduanya mewujudkan alam. Karena masing-masing kedua Tuhan itu berhasil menciptakan alam sendiri-sendiri, sehingga terdapat dua alam semesta, padahal alam semesta ini hanya satu.
Jika pembuatan alam yang dilakukan oleh dua Tuhan, menghasilkan satu alam semesta, berarti masing-masing dua Tuhan itu tidak dapat mewujudkan alam secara sendirian, tetapi bisa mewujudkan karena bersekutu dengan Tuhan lain.
Jika demikian, maka dua Tuhan itu telah bergabung dan menjadi satu Tuhan, dan penciptaan alam ini dinisbatkan kepadanya, tidak dapat dinisbatkan kepada salah satu dari kedua Tuhan itu saja, karena Dia bagian dari dzat yang mewujudkan, bukan dzat yang mewujudkan dengan sendirinya.
Padahal Tuhan alam semesta hanyalah Tuhan yang mewujudkan alam dengan sendirinya, karena Dia memiliki kekuasaan yang sempurna, sedangkan dzat yang tidak mandiri adalah lemah dan membutuhkan penolong.
Apabila dikatakan, bahwa hakikat Tuhan itu gabungan yang terdiri dari dua bagian, maka kami tegaskan bahwa adanya gabungan bagi Tuhan mustahil, karena Tuhan itu berbeda dengan benda-benda baru dalam ketentuan sifat-sifatnya yang antara lain tersusun.
Tidak mungkin pula salah satu dan Tuhan itu mewujudkan alam, kemudian yang satunya lagi mewujudkan alam lain, karena demikian ini berarti mengadakan sesuatu yang sudah ada. Ini jelas muhalnya.
Tidak mungkin pula salah satu dari dua Tuhan itu mewujudkan sebagian alam ini dan Tuhan satunya membuat sebagiannya lagi, karena hal itu menunjukkan kelemahan dua Tuhan itu sendiri, karena manakala kekuasaan salah satunya itu tergantung pada yang lain, maka tertutuplah jalan tergantungnya kekuasaan bagi Tuhan yang lain itu. Hal ini merupakan satu kelemahan yang meniadakankekuasaan terhadap segala sesuatu, sedangkan ketiada kekuasaan bagi Tuhan adalah muhal, sebagaimana akan dijelaskan pembahasan tentang wajib kesempurnaan kekuasaan Allah swt. atas segala sesuatu yang mungkin..
Jika dua Tuhan ini berselisih, yakni Tuhan yang satu dari kedua Tuhan itu bermaksud mengadakan alam, dan Tuhan yang lain bermaksud melenyapkan alam, maka tidak mungkin kedua kehendak Tuhan itu terlaksana dalam waktu yang sama, sebab tidak mungkin ada dua hal yang berlawanan dapat berkumpul, yaitu adanya alam dan lenyapnya dalam satu waktu. Hal itu jelas muhal.
Tidak mungkin juga kehendak salah satu dari dua Tuhan itu terlaksana, sedang kehendak Tuhan yang lain tidak terlaksana, karena hal yang demikian itu menunjukkan kelemahan Tuhan yang kehendak-nya tidak terlaksana.
Tuhan yang lain pun seperti itu, karena antara kedua Tuhan itu terdapat persamaan. Dikatakan pula, apabila kehendak salah satu dari dua Tuhan itu terlaksana, sedang kehendak Tuhan yang lain tidak terlaksana, maka Tuhan yang kehendaknya terlaksana dialah Tuhan, dan yang lain bukan Tuhan, karena ia lemah. Selesailah kiranya bukti atau dalil sifat Al-Wahdaniyyah.
Bukti lain atas kemustahilan Tuhan itu berjumlah lebih dari satu, yaitu kepastian adanya Tuhan bagi alam semesta ini, dengan bukti bahwa bendabenda baru pasti ada yang membuatnya, dan apabila ada Tuhan lain yang adakalanya masing-masing dari dua Tuhan itu tidak mampu mewujudkan alam, maka masing-masing dua Tuhan itu bukanlah Tuhan, karena yang dianggap Tuhan, Dia lah yang cakap dan mandiri.
Boleh jadi salah satu dari dua Tuhan itu cakap, berarti Tuhan yang kedua sia-sia, tidak dibutuhkan. Padahal Tuhan tidak demikian halnya.
Adapun bukti bahwa Allah swt. tidak memiliki sekutu dalam segala perbuatamya, itu karena semua kejadian di alam ini, baik kejadian pada binatang, tumbuh-tumbuhan, tambang, atau gerak dari selain hewan, seperti beredarnya bintang-bintang dan berhembusnya angin, atau gerak hewan yang bukan dengan kehendaknya sendiri, seperti pertumbuhannya, gerakan yang disebabkan demam, maka semua itu sangat jelas, bahwa tidak ada yang ikut serta dalam mengadakan dan menjadikannya, kecuali Allah.
Di antara sesuatu yang diyakini oleh orang yang berakal, bahwa rupa dan bentuk yang dia sandang itu tidak dibuat oleh ayah-ibunya atau salah satu makhluk.
Selanjutnya dapat dikatakan, bahwa bukti keesaan Allah dalam mewujudkan seluruh apa yang tersebut di atas itu sama dengan dalil bahwa Allah itu tidak memiliki sekutu dalam dzat dan sifat-sifat-Nya, karena dalam hal ini dapat kita katakan, seandainya di sana ada dua pencipta alam, boleh jadi keduanya itu bersepakat dalam mewujudkannya dan mungkin juga berselisih.
Pembuktiannya telah sempurna, sebagaimana baru saja diterangkan di muka. Dengan demikian, maka jelaslah, bahwa tidak ada pencipta bendabenda di alam ini, kecuali Allah swt.
Adapun mengenai tejadinya gerakan orang yang diusahakan sendir (ikhuanyyah), seperti berdiri, berjalan dan sebagainya yang menciptakan dan yang mengadakan perbuatan itu adalah Allah juga. Buktinya ialah seandainya manusia itu sendiri yang mewujudkan dan menciptakan perbuatan. perbuatan itu, niscaya orang tersebut akan tahu perincian-perinciannya, Tetapi. pengetahuannya tentang perincian perbuatannya itu tidak benar.
Oleh karenanya, apabila dia sendiri yang mewujudkan perbuatan itu, maka bataj (salah). Dengan demikian, maka yang mengadakan perbuatan manusia itu hakikatnya adalah Allah yang menciptakan seluruh makhluk, dan tidak ditemani oleh siapa pun.
Bukti ketidakbenaran manusia mengetahui perincian perbuatannya itu terlihat pada orang yang tidur. Dia melakukan perbuatan-perbuatan ikhtiari, namun ia tidak tahu terhadap perincian perbuatannya dan bagaimana keadaannya selama tidur.
Bukti lain terlihat pada orang yang menulis, dia membentuk huruf dan kata-kata dengan gerak jari-jarinya, tanpa merasakan terhadap bagian dan anggota jari-jarinya, seperti tulang-tulangnya, urat-urat, syarafnya, otot-otot dan sendi-sendinya, dan tidak tahu perincian gerak-gerik jari-jarinya, sehingga dengan mudah dapat membuat gambar-gambar dan lukisan-lukisan.
Sesungguhnya nash-nash syarak telah banyak menyebutkan, bahwa yang menciptakan perbuatan manusia ialah Allah, sebagaimana firman Allah dalam Kitab-Nya yang mulia:
“Dan Allah yang menciptakan kamu dan apa-apa yang kamu kerjakan.”
Firman-Nya yang lain:
“Apakah ada pencipta selain Allah?”
Bagi orang yang beriman, tetap berpegang pada nash-nash yang shahih yang terdapat dalam agama Nabi Muhammad saw. mereka menjadikannya sebagai dalil aqidah mereka menunjukkannya, bahwa yang yang membuat perbuatan-perbuatan manusia adalah Allah swt. Tetapi manusia itu tetap mempunyai usaha-usaha dalam melakukan perbuatannya yang ikhtiari.
Usaha-usaha itulah yang merupakan tempat bergantung pahala dan siksa. Dengan dasar itu, benarlah kiranya menisbatkan perbuatan tersebut kepada manusia dalam ucapan kita sehari-hari, yang berbunyi: perbuatan manusia. Imam Abu Hanifah r.a. berkata dalam Fighul Akbar, yang teksnya sebagai berikut:
“Seluruh perbuatan hamba yang berupa gerak dan diam adalah usaha mereka. Menurut hakikatnya, yang menciptakan perbuatan itu adalah Allah”
Para Imam menafsirkan ucapan Imam Hanafi tersebut dengan kesimpulan, asal perbuatan manusia itu adalah dengan kekuasaan Allah, sedangkan yang mewujudkan menjadi ketaatan atau kedurhakaan adalah kekuasaan manusia itu sendiri.
Dengan kata lain, hamba itulah yang mengarahkan kemauannya pada perbuatan tertentu, tetapi ia menggantungkan kemampuannya kepada Allah.
Oleh karena itu, hamba menjadi sebab bagi perwujudan perbuatan itu, seperti hubungan seluruh sebab dengan akibatakibatnya. Usaha itu dari manusia, di kala itu Allah dengan kekuasaan-Nya mewujudkan perbuatan tersebut. Inilah yang hak dan inilah pendapat moderat antara aliran-aliran yang berlebihan dan keterlaluan.
Kami tidak mengatakan, bahwa manusia tidak ikut campur tangan dalam seluruh perbuatannya, dan kami tidak mengatakan, bahwa Allah tidak ikut campur tangan dalam perbuatan-perbuatan manusia yang bersifat ikhtiari. Tetapi kami katakan, bahwa Allah menciptakan perbuatan, sedang hamba itulah yang melaksanakan. Karena usaha inilah manusia itu diberi pahala atau siksa.









One Comment