Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Husunul Hamidiyah

Kami akhiri pembahasan ini dengan menyebutkan bukti-bukti menurut akal tentang adanya kebangkitan dan balasan.

Bukti-bukti itu, walaupun bukan pembukuan yang pasti, namun dapat diterima oleh akal dan menenangkan hat.

Dengan disebutkan dalil-dalil tersebut secara global. maka akal menjadi mantap terhadap kebangkitan dan pembalasan, dan tidak lagi menimbulkan keraguan bagi telinga yang mendengarnya.

Ketahuilah, bahwa kebangkitan dan pembalasan, walaupun secara umum bukti jaiznya itu masuk akal, sebagaimana kalian ketahui dalam uraian yang telah lewat, namun bukti terjadinya perisuwa itu secara nyata adalah berdasar syarak, yaitu nash-nash syari’at yang terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia dan hadits Nabi saw.

Tetapi apabila pemikiran itu diteliti, maka akan ditemukan bukti-bukti yang masuk akal, memantapkan dan menenangkan hati terhadap keyakinan adanya kedua hal itu, sebagaimana telah kami katakan.

Dengarkanlah hasil pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan kebangkitan dan pembalasan itu.

Setelah dijelaskan bukti-bukti yang pasti adanya Tuhan, Pencipta alam yang bersifat dengan sifat-sifat sempurna, berupa kebijaksanaan, keadilan dan kasih sayang kepada makhluk-Nya, itu pasti, bahwa setiap orang yang percaya kepada semua itu akan mengetahui dengan jelas kebijaksanaan dan keadilan Allah swt. sesudah menciptakan makhluk dan diberinya akal yang dapat membedakan antara baik dan buruk dan merupakan ukuran untuk mengukur baik dan buruk.

Allah mencegah mereka berkeyakinan buruk kepada-Nya, mencegah kebodohan, dusta, menyakitkan makhluk-Nya yang shalih-shalih dan keburukan yang lain.

Allah menyenangkan mereka pada perbuatan baik dan mendorong mereka agar berperangai yang mulia, yang menjadikan kehidupan mereka teratur.

Hal yang sudah maklum, bahwa dua hal memerintahkan kebaikan dan melarang Keburukan tidak sempurna, kecuali dengan mengaitkan perbuatan baik dengan pahala dan perbuatan buruk dengan siksaan.

Masing-masing pahala dan siksaan jika tiadak diberikan di dunia, maka tentu akan diberikan di akhirat.

Tidak boleh dikatakan, bahwa dalam menakuti berbuat berbuat kemungkaran dan menolong berbuat kebaikan itu, cukup diserahkan pahala yang mampu menilai baik terhadap kebaikan dan memilih buruk pada keburukan, karena hawa nafsu itu mengajak manusia untuk bergelimang dalam kesenangan-kesenangan jasmani dan kelezatan-kelezatan tubuh.

Apabila hal ini terjadi, maka terjadilah perlawanan antara hal-hal yang ditunjukkan oleh akal dan-hal-hal yang ditunjukkan oleh hawa nafsu.

Maka, haruslah ada dzat yang memenangkan yang kuat dan penolong yang sempurna. Yang demikian itu tidak akan tercipta, kecuali dengan mengikutsertakan janji dan ancaman, pahala bagi orang berbuat kebaikan dan siksa bagi orang yang meninggalkan.

Termasuk kebijaksanaan Penguasa Yang Maha Bijaksana dan Maha Penyayang, ialah membangkitkan jiwa rakyat agar belas kasihan kepada orang-orang fakir, agar mereka menolong dengan harta untuk kemaslahatankemaslahatan kehidupan orang-orang fakir tersebut.

Bagi orang-orang kaya, selayaknya dalam memben pertolongan itu berdasarkan rasa senang dan lapang dada.

Dengan demikian, keadaan orang-orang fakir menjadi baik, kesengsaraan mereka berkurang dan secara global terhindar dari kesulitan.

Mengingat jiwa-jiwa itu mempunyai rasa cinta harta dan tidak berkenan untuk membelanjakan sedikit hartanya, kecuali apabila mendapatkan ganti yang lebih baik, maka termasuk kebijaksanaan Allah dalam menjadikan dunia selain dunia ini, yang di sana memberi balasan kebaikan yang setimpal terhadap orang-orang bersedekah atau memberi santunan kepada fakir miskin dan menyiksa orang-orang yang enggan mengeluarkan sedekah dan zakat dari harta yang mereka miliki.

Apabila orang-orang kaya itu mengerti adanya dunia lain, dan di sana mereka diberi imbalan pahala dengan sepuluh kali lipat, maka mereka itu akan memberikan nafkah kepada fakir miskin dengan rasa senang dan lapang dada, karena mereka memperoleh pahala, bahkan mereka akan senang pula bersedekah jariyah, yakni sedekah yang tidak terputus (pahalanya), mereka perhatikan wakaf-wakaf yang besar, mereka lakukan, membangun masjid-masjid, surau-surau dan pondok-pondok besar.

Dari semua usaha baik ini, timbul kebaikan-kebaikan yang tak terhitung.

Semua itu tumbuh dari rasa keinginan mendapatkan kenikmatan di dunia akhirat dan selamat dari siksaan. Seandainya bukan karena itu, niscaya peninggalan kebaikan hanyalah amat sedikit.

Kemudian penguasa yang adil, bijaksana dan penyayang itu apabila memiliki sekelompok rakyat, sebagiannya kuat-kuat dan sebagiannya lemahlemah, maka karena kebijaksanaan, keadilan dan kasih sayangnya ia akan memohon keadilan untuk orang yang dizhalimi, yang tertindas dari orang zhalim, yang kuat.

Sedang Allah swt. Penguasa Yang Maha Bijaksana, Maha Adil dan Maha Penyayang. Sehingga karena kebijaksanaan, keadilan dan kasih sayang-Nya, Dia akan menuntut keadilan untuk hamba-Nya yang dizhalimi kepada hamba-Nya yang zhalim.

Tuntutan keadilan ini belum terwujud di dunia ini, karena kita masih melihat orang-orang yang dizhalimi di dunia ini kadang-kadang masih tetap terhina, sangat rendah dan tertindas, dirampas hartanya dan ternoda kehormatannya, sedangkan orang yang zhalim tetap di dalam puncak kemegahan dan kekuasaan.

Oleh sebab itu pasti ada dunia lain, yakni akhirat, tempat mewujudkan dan menegakkan keadilan. Sesungguhnya seandainya tidak ada akhirat, niscaya kedudukan dan kemuliaan manusia lebih hina daripada seluruh binatang.

Jelasnya adalah kesengsaraan manusia di dunia lebih banyak daripada kesengsaraan seluruh binatang, karena seluruh binatang sebelum jatuh sakit dan menderita, itu kosong hatinya, senang hatinya, sebab binatang itu tidak mempunyai pikiran dan angan-angan.

Adapun manusia, karena memiliki akal yang selamanya dipergunakan, untuk memikirkan tentang hal Ihwal yang sudah lampau dan yang akan datang, maka dia mengalami berbagai macam kesedihan dan kecemasan, sebab banyaknya hal ihwal masa lampau, dan dia mengalami berbagai ketakutan dan kekhawatiran, karena banyaknya berbagai hal yang dia pikirkan di masa yang akan datang.

Dengan demikian, benarlah, bahwa adanya akal bagi manusia, menjadi sebab terjadinya kesengsaraan besar di dunia dan penyakit-penyakit jiwa yang amat kuat.

Adapun kesenangan-kesenangan jasmani, maka sama antara manusia dan seluruh binatang, karena kotoran bagi serangga terasa enak, sebagaimana manisan (kembang gula) yang mewah terasa enak bagi manusia.

Seandainya manusia tidak memiliki tempat kembali (akhirat) yang dapat menyempurnakan keadaannya dan menampakkan kebahagiaannya, niscaya kesempurnaan akal itu justru menjadi sebab bertambahnya kesedihan, kegundahan dan kesusahan, tanpa ada imbalan yang menggantinya secara setimpal.

Jelas sekali, bahwa segala sesuatu yang menjadikan demikian, maka hal itu merupakan sebab bertambahnya kehinaan, kerendahan, kesengsaraan dan kepayahan yang tidak bermanfaat.

Maka nyatalah, bahwa seandainya tidak ada kebahagiaan di akhirat, niscaya manusia itu lebih hina dari binatang, bahkan lebih hina dan ada kutu busuk dan ulat.

Ketika hal itu jelas salah, maka kita ketahui, bahwa wajib adanya akhirat. Manusia itu memang diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker