Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Husunul Hamidiyah

Hal yang sudah-diketahui, bahwa Dzat Yang Kuasa untuk membelah bulan menjadi dua bagian, Dia Kuasa pula untuk menjauhkan keduanya sedemikian jauh, kemudian keduanya dikumpulkan-Nya kembali.

Di antara hikayat yang aneh dari sebagian uraian-uraian yang dibukukan, bahwa sebagian bulan itu turun ke larnbung Nabi dan keluar dari lengan baju beliau saw. Riwayat ini aneh dan kita tidak wajib mengimankannya, karena sanadnya tidak kuat.

Oleh karena itu kami tidak perlu mentakwilkan dan menyesuaikannya menurut hukum akal. Meskipun demikian, hal itu mungkin juga diterima hukum akal dengan mentakwilkan, bahwa potongan bulan yang turun dan keluar dari lengan baju beliau adalah kecil, sebab pada riwayat itu tidak dijelaskan, bahwa yang pecah itu separoh bulan. Ini juga tidak mustahil dan kekuasaan Allah itu layak untuk berbuat demikian. Kami kaum muslimin ketika mendengar berita tentang terbelahnya bulan sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw., dengan sanad yang shahih dan hal itu termasuk jaiz (mungkin) menurat akal dan termasuk bagian kekuasaan Allah swt., maka kita beriman dan membenarkan kejadian tersebut tanpa ragu-ragu.

Di antara mukjizat beliau saw. adalah terhentinya matahari beberapa saat dan kembali beredar sesudah terbenam. Hal ini telah diriwayatkan dalam sebagian hadits-hadits. Diriwayatkan juga, bahwa matahari itu pernah terhenti tidak terbenam, ketika Yusya’ bin Nun bersama Bani Israil memerangi para pemerkosa. Hal ini merupakan mukjizat bagi beliau juga.

Hadits-hadits tentang terhentinya matahari dan beredarnya kembali setelah terbenam, walaupun hadits-hadits tersebut tergolong hadits ahad, dengan arti perawinya tidak mutawatir yang pasti shahihnya dan orang yang mengingkari jadi kafir, tetapi iman kepadanya merupakan hal yang sesuai bagi sikap orang-orang Islam dan lebih menyelamatkan agama mereka, maka kita percaya dan membenarkannya.

Terhentinya matahari serta beredarnya kembali setelah terbenam, walaupun hal itu sendiri suatu urusan yang amat besar, tetapi termasuk jaiz (mungkin) menurut akal dan termasuk bagian kekuasaan Allah swt. dan hal itu sebenarnya tidaklah besar dibandingkan dengan kekuasaan Allah swt.

Penalaran peristiwa tersebut adalah, bahwasanya tidak ada perbedaan tentang anggapan kita bahwa matahan yang berjalan atau bulan yang berputar pada porosnya dan beredar mengitari matahari, sebagaimana diterangkan dalam ilmu astronomi.

Masing-masing dua hal itu hanya semata-mata kekuasaan Allah. Dia-lah yang menjalankan matahari atau mengedarkan bulan dengan kekuasaan-Nya. Dzat yang kuasa untuk menggerakkan dua barang yang besar itu, tentu kuasa pula untuk memberhentikannya sesaat pada siang hari atau membalik gerak keduanya itu sesaat, kemudian mengembalikan gerakan itu sebagaimana semula.

Hal yang demikian itu tidaklah mustahil. Jika dikatakan, berdasar perkiraan menerima pendapat kosmografi modern, bahwa bumi itu yang berputar. Seandainya bumi itu berhenti atau terbalik geraknya, pastilah air laut itu tetap bergerak sehingga air-air laut itu melimpah keatas daratan dan membenamkan penduduknya.

Kami jawab, bahwa Dzat Yang Maha Kuasa memberhentikan bumi atau membalik geraknya Dia mampu pula untuk menarik gerakan air laut itu dan dijadikan-Nya air laut itu mengikuti gerak dan berhenti bumi.

Jika demikian, maka air laut itu tidak melimpah ke daratan. Orangorang atheis (mulhid) mengatakan, bukanlah kebijaksanaan Dzat Maha Pencipta untuk memberhentikan barang besar yang geraknya tetap menurut hukum alam yang besar, yaitu hukum gaya tarik (gravitasi), sebagaimana dikatakan oleh para ahli kosmografi modern, yang karena kepentingan seorang manusia yaitu Muhammad atau Yusya’ a.s. Kami perlu menegaskan kepada mereka, bahwa perbuatan yang demikian itu bukanlah hanya karena kepentingan seorang manusia saja.

Tetapi hal itu merupakan suatu hikmah yang besar, yaitu untuk menampakkan mukjizat yang luar biasa, yang menyebabkan beribu-ribu makhluk mendapat petunjuk dan meninggalkan kekafiran yang merusak jiwa mereka menuju iman yang memberi kehidupan jiwa yang abadi. Dengan mukjizat itu timbul kemantapan dan ketenangan iman beribu-ribu orang yang telah beriman sebelum mukjizat itu.

Penutupan dan penukilannya tetap menjadi pembicaraan makhluk oleh kelompok demi kelompok manusia. Orang yang dikehendaki oleh Allah mendapat petunjuk-Nya, ia dapat mengambil kemanfaatan dengan disampaikannya berita itu, dan terbayang keagungan kekuasaan-Nya dan keajaiban ciptaan-ciptaan-Nya. Hikmah besar ini sebanding dengan keagungan tercapainya keluarbiasaan dan keunggulan itu, dan pantaslah tercapainya keluarbiasaan itu dengan hikmah dibaliknya.

Orang atheis, itu hanya memandang kepada kehebatan hal yang luar biasa itu saja, seandainya ia membandingkan dengan keagungan kekuasaan Allah, niscaya ia tidak mengajukan pernyataan tersebut. Keluarbiasaan dan tujuan seorang manusia di sisi Dzat Yang Maha Pencipta adalah dalam batas-batas yang sama, masing-masing itu di bawah kehendak-kehendak-Nya, dan tidak ada sesuatu yang besar di hadapan keagungan-Nya, walaupun hal itu dalam pandangan kita yang terbatas, terdapat perbedaan yang besar, sedangkan dua hal itu di sisi Allah sama saja, boleh dan mungkin

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker