10. As-Sam’u (Maha Mendengar)
Allah swt. itu pasti bersifat As-Sam’u, yaitu suatu sifat qadim yang lekat pada Dzat-Nya, tanpa mempergunakan daun telinga dan lubangnya. Dengan sifat itu terungkaplah segala sesuatu yang di dengar-Nya. Dan mustahil bagi Allah sifat kebalikannya yaitu Shamam (tuli).
Bukti bahwa Allah swt. bersifat As-Sam’u ialah karena sifat tuli itu merupakan sifat negatif, sedangkan sifat negatif bagi Tuhan alam semesta yang telah menciptakan alam dengan sempurna dan memberi pendengaran kepada sebagian besar makhluk-Nya, yang pendengaran itu merupakan nikmat-Nya yang paling besar adalah sangat mustahil. Apabila tuli itu muhal bagi Allah, maka Allah swt. wajib bersifat As-Sam’u (Mendengar). Inilah yang dimaksudkan.
11. Al-Bashar (Maha Melihat)
Allah swt. itu pasti bersifat Al-Bashar, yaitu suatu sifat qadim yang lekat pada Dzat-Nya, tanpa menggunakan biji mata dan orang-orangan mata. Dengan sifat itu terungkaplah segala sesuatu yang dilihat-Nya. Mustahil bagi-Nya sifat kebalikannya, yaitu A’ ma (buta).
Bukti bahwa Allah swt. bersifat Al-Bashar ialah karena sifat buta itu merupakan sifat negatif, sedangkan sifat negatif bagi Allah swt. yang telah menciptakan alam dengan sempurna dan menghiasi kepada sebagian makhlukNya dengan nikmat penglihatan, adalah muhal. Apabila buta bagi Allah itu muhal, maka wajib baginya sifat Al-Bashar (Melihat). Inilah yang dimaksudkan.
12. Al-Kalam (Maha Berfirman)
Allah swt. itu pasti bersifat Al-Kalam, yaitu suatu sifat qadim yang lekat pada Dat-Nya. Firman-Nya itu tanpa huruf dan tanpa suara. Sifat itu menunjukkan hal-hal yang wajib, mustahil dan jaiz, baik yang sudah ada maupun yang akan ada.
Dengan sifat ini Allah memben pengertian tentang sesuatu yang dikehendaki-Nya kepada salah satu hamba-hamba-Nya, dan mustahil atas-Nya sifat kebalikannya, yaitu Bukmu (bisu).
Bukti, bahwa Allah bersifat Al-Kalam ialah, karena bisu itu adalah sifat negatif, sedangkan sifat negatif bagi Allah, Tuhan alam semesta yang telah menciptakan alam semesta dan menyempurnakan sebagian makhluk-Nya dengan bisa bertutur kata adalah muhal. Apabila bisu itu mustahil bagi Allah, maka Dia pasti bersifat Al-Kalam (Berfirman). Inilah yang dimaksudkan.
Penjelasan tentang buku wajibnya sifat mendengar, melihat dan berfirman bagi Allah swt. dan mustahilnya kebalikan tiga sifat tersebut yaitu tuli, buta dan bisu dengan uraian yang sederhana ialah, bahwa sembilan sifat yang terdahulu bagi Allah telah ditetapkan, yaitu: wujud (ada), qidam (dahulu), Baqa’ (kekal), mukhalafatu lil hawadits (berbeda dengan barang baru), giyamuhu bi nafsih (berdiri dengan sendiri-Nya), wahdaniyah (esa), iradah (kemauan), gudrah (kuasa), dan ilmu (mengetahui).
Sifat-sifat tersebut menjadi pusat sifat ketuhanan, dan menjadi pusat bahasan adanya Tuhan yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut, yang cukup dalam mengarahkan alam semesta ini dan dapat diterima oleh akal yang sehat. Apabila kita merenungkan tentang keadaan Tuhan Yang Maha Suci dan keindahan hasil ciptaan-Nya serta kesempurnaan, kerapian dan keteraturan kandungannya yang Dia berikan beserta segala sesuatu yang menjadi kelangsungan, dan kebaikan keadaannya, maka kita semakin yakin, bahwa apabila hasil ciptaanNya demikian sempurna, maka sangat mustahil jika Allah yang membuatnya bersifat yang tidak sempurna, karena dalam pemikiran kami tidak ada sesuatu dapat mengadakan sesuatu yang sama dengan dirinya.
Apalagi sesuatu yang tidak sempurna dapat menciptakan sesuatu yang sempurna, atau sesuatu yang sempurna dapat menciptakan sesuatu yang lebih sempurna daripadanya. Manusia adalah makhluk yang paling pandai dan paling menguasai bidang pertukangan.
Bagaimanapun pandainya ta membuat dan mencipta. namun buatannya itu tidaklah dapat mendekati kesempurnaan yang ada pada dirinya, apalagi membuat sesuatu yang menyamai atau lebih sempurna daripada dirinya. Manusia tidaklah dapat membuat tumbuh-tumbuhan. apalagi hewan atau manusia. Bahkan scandainya ada schelai rambut rontok dari badannya, pasti dia tidak mampu mengembalikan sebagaimana keadaan semula.
Apa yang kalian lihat, yang dikerjakan oleh tangan manusia berupa tumbuhnya tumbuh-tumbuhan dan membiaknya hewan, itu semata-mata perbuatan yang secara langsung dijadikan oleh Allah swt. sebagai sebab yang biasa dalam pembiakan tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Engkau melihat mereka itu menaburkan benih di tanah yang mendapat sinar matahari dan disiram dengan air, maka daripadanya tumbuhlah tumbuh-tumbuhan. sedangkan ia sendiri tidak tahu, bagaimana benih itu tumbuh dan terjadinya ciri-cirinya dalam berbagai warna, rasa, bau, dan sebagainya.
Demikian juga orang yang meletakkan telur di tempat yang hangat, maka menctaslah burung daripadanya. Ia tidak tahu. bagaimana burung itu terjadi. bagaimana terbelahnya pendengaran dan penglihatan, bagaimana terbentuknya daging. darah dan seluruh organ tubuhnya.
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa manusia itu tidak dapat membuat tumbuh-tumbuhan dan hewan, hanya saja mereka menjadi sebab dalam pembuatannya itu. Mereka sendiri ternyata tidak mengetahui cara tumbuh keduanya itu dari asalnya. Tuhanlah yang menjadikan keduanya itu.
Atas dasar semua penjelasan tersebut, kami pastikan bahwa Tuhan inilah yang telah menciptakan alam semesta dari tidak ada, dengan berancka ragam yang mengagumkan pemikiran. Sebagian makhluk-Nya, Dia lengkapi dengan pendengaran, penglihatan dan pembicaraan.
Maka, pastilah Tuhan itu mempunyai tingkat kesempurnaan yang jauh, melebihi makhluk-Nya di dalam sifat-sifat-Nya, yang telah kami tetapkan berdasar hukum akli.
Dan masing-masing sifat itu memiliki kesempurnaan yang sesuai dengan Allah swt. Jika tidak demikian. maka Dia di bawah hasil ciptaannya, dan hal itu jelas bertentangan dengan apa yang dibenarkan Oleh akal pikiran. Maka kita percaya. bahwa Allah itu Maha Mendengar.
Maha Melihat lagi Maha Berfirman, bahkan bersifat dengan seluruh sifat, Sifat kesempurnaan yang sesuai dengan sifat Ketuhanan. Mustahil bagi AL lah, memiliki sifat-sifat seperti tuli, buta, bisu, sebab Dia-lah yang menciptakan pendengaran, menjadikan penglihatan dan menggerakkan lidah untuk berbicara, sebagaimana mustahil atas-Nya kekurangsempurnaan sifat. Sifat itu. Karena Dia telah membuat kesempurnaan pada benda-benda ciptaan. Nya.
Cukuplah bagi kita umat Islam, dalam mengimani tiga sifat wajib bagi Allah (Al-Bashar, As-Sam’u, dan Al-Kalam) dengan dalil firman Al. lah swt.:
“Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
“Dan Allah berfirman terhadap Musa dengan benar-benar berfirman”
Dengan mengetahut dalil firman Allah swt. tersebut, kita terhindar dari taklid, sebagaimana yang telah ditetapkan.
13. Al-Hayat (Maha Hidup)
Allah itu pasti memiliki sifat Al-Hayat, yaitu suatu sifat qadim yang ada pada Dzat-Nya, yang dibenarkan oleh hukum akal, sebagaimana aka! membenarkan Allah bersifat dengan sifat-sifat yang agung, seperti Al-Qudrah (Kuasa), Al-Iradah (Berkemauan), Al-Ilmu (Berpengetahuan). Dan mustahil bagi-Nya sifat kebalikannya, yaitu maut (mati).
Bukti bahwa Allah swt. bersifat Al-Hayat ialah seandainya Allah swt. itu mati, niscaya tidak benar Dia bersifat dengan sifat-sifat yang telah dibuktikan wajibnya bagi Allah, seperti kuasa, berkemauan dan pengetahuan. Tetapi bukti yang menunjukkan, bahwa Allah pasti bersifat dengan sifat-sifat tersebut, telah jelas, sebagaimana telah diuraikan di atas, maka muhal Allah itu bisa mati. Apabila muhal Allah dapat mati. maka wajiblah Dia bersifat Al-Hayat (hidup). Inilah yang dimaksudkan.









One Comment