2. Pengertian Mukjizat
Mukjizat ialah sesuatu yang luar biasa, yang tampak di tangan orang yang mengaku utusan Allah swt. Ketika Rasul (utusan Allah) tersebut mengajak kaumnya untuk membenarkannya dan mengikuti syari’at-syari’at Allah yang diturunkan kepada mereka, pastilah kaumnya meminta bukti-bukti kebenaran ajarannya itu.
Mereka minta agar rasul itu dapat berbuat yang luar biasa tentang ini dan itu, misalnya pecahnya bulan, keluarnya unta dari batu, dan sebagainya.
Maka Allah membuat hal yang luar biasa dan mewujudkannya di tangan Rasul itu. Ketika itu, tampaklah kebenaran ajakannya dan mereka percaya kepada Rasul tersebut dan apa saja yang dibawanya dari sisi Allah swt.
Setelah permintaan bukti itu terkabul, mereka akan bertanya: “Perkara yang luar biasa ini hanya mampu dimunculkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk itu, seandainya orang laki-laki yang mengaku Rasul itu tidak benar, niscaya Allah tidak memunculkan hal yang aneh itu di kedua tangannya.
Maka, pemunculannya itu adalah pembenaran baginya dari sisi Allah yang tidak diragukan lagi. Mukjizat dalam hak Rasul dan kaumnya menduduki firman Allah: “Benarlah hamba-Ku dalam setiap apa yang disampaikan daripada-Ku”.
Perbandingan peristiwa itu ialah seorang laki-laki di hadapan raja yang mengaku, bahwa ia adalah menjadi utusan antara raja dan rakyatnya yang hadir di hadapan raja itu.
Kewajiban para hadirin ialah untuk membenarkan apa-apa yang disampaikan oleh laki-laki tersebut dari raja mereka. Maka, hadirin pun minta kepadanya untuk menunjukkan bukti kebenaran dari raja atas pengakuannya itu.
Lantas ia berkata: “Tanda kebenaran dari raja kepadaku ialah sekarang raja berdiri dari kursinya dan melangkah tujuh langkah. Hal itu dilakukannya tiga kali berbeda dengan biasanya”.
Setelah raja itu mendengar yang demikian lantas raja berdiri dari kursinya dan melakukan apa yang telah diucapkan oleh laki-laki itu.
Maka tidak diragukan lagi, bahwa rakyat yang hadir itu menjadi mantap akan kebenaran laki-laki itu dan dianggaplah berdirinya raja dengan cara demikian itu sebagai pembenarannya.
Tentu saja mereka akan mempercayai – apa yang disampaikan oleh laki-laki itu dari raja mereka. Barangsiapa yang mengingkarinya, ia termasuk orang yang dungu atau terbelenggu oleh kedurhakaan dan kerugian.









One Comment