Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Husunul Hamidiyah

III. MUKJIZAT NABI MUHAMMAD SAW.

1. Al-Qur’an Mukjizat Nabi Muhammad Terbesar

Di antara mukjizat Nabi Muhammad saw. terbesar ialah Al-Qur’an yang mulia. Hanya Al-Qur’an itulah mukjizat yang kekal hingga hancurnya dunia. Ia berbeda dengan seluruh mukjizat, karena masing-masing mukjizat itu lenyap pada waktunya.

Selanjutnya, akan kami uraikan mukjizat yang agung dan luar biasa ini dengan bahasan yang mudah difahami oleh orang-orang khusus dan umum, dan tidak menjadikan samar bagi orang yang mempunyai pengertian.

2. Kearifan Allah dalam Membuat Mukjizat

Ketahuilah, bahwa kebijaksanaan Allah yang benar-benar mengena ialah kadang-kadang Dia menguatkan rasul-rasul-Nya dengan mukjizat-mukjizat, berupa sesuatu yang melebihi sesuatu yang dianggap luar biasa oleh kaum Rasul tersebut, sehingga terputuslah hujjah kaum itu terhadap Rasul yang ada di hadapan mereka.

Kami sebenarnya tidak mengerti jenis keluarbiasaan yang anda bawa. Kemungkinan anda telah mengetahui cara mewujudkannya, sedang kami tidak mengetahuinya. Padahal perkara itu hanyalah biasa saja.

Misalnya: Ketika Allah mengutus Musa a.s. ilmu sihir di kalangan bangsa Qibti (Egypt), kaum Fir’aun benar-benar meluas. Mereka memiliki kepandaian yang sempurna dalam ilmu sihir. Mereka mengetahui sesuatu yang mungkin atau bisa diperbuat oleh manusia, dan sesuatu yang di luar kemampuan manusia.

Ketika tukang-tukang sihir atas perintah Fir’aun menyihir, tali dan tongkat menjadi ular, maka tampaklah ular-ular dalam jumlah yang banyak, yang berjalan.

Dengan izin Allah, Musa kemudian melemparkan tongkatnya, lalu Allah mengubah menjadi ular (naga) yang besar. Selanjutnya, ular-ular yang banyak itu ditelan oleh ular yang besar ini. Ketika Musa mengambil ular yang besar itu dengan tangannya, maka kembalilah ular itu menjadi tongkat seperti semula. Menyaksikan yang demikian ini, maka tertunduklah tukangtukang sihir seraya sujud kepada Allah dan mereka menyatakan iman terhadap kerasulan Musa serta bersabar menghadapi siksaan Fir’aun kepada mereka, lalu mereka dibunuh dengan cara disalib di atas batang-batang kurma.

Hal yang demikian itu tidak lain, kecuali karena mereka mengerti tentang ilmu-ilmu sihir, mereka tahu hal-hal yang di dalam kemampuan manusia dan yang tidak dalam kemampuan manusia. Mereka yakin, bahwa kelainan itu, yaitu berubahnya tongkat Musa menjadi ular yang amat besar serta menelan tali dan tongkat yang disihir itu menjadi bentuk ular, kemudian tongkat itu kembali menjadi tongkat sebagaimana semula, sedang tali dan tongkat itu tidak ada dan lenyap, itu jelas bukan semacam sihir dan sudah di luar kemampuan manusia. Manusia tidak akan dapat sampai pada derajat itu.

Kemudian mereka percaya, bahwa kejadian itu adalah luar biasa dan tidak ada yang mampu melakukan, kecuali Tuhan langit dan bumi, yang mewujudkannya sebagai mukjizat bagi Nabi Musa dan sebagai penguat terhadap pengakuan kerasulan beliau.

Barangsiapa yang tidak mengetahui ilmu sihir, maka ia dapat mengambil bukti terhadap kebenaran Nabi Musa dengan pembenaran tukang-tukang sihir itu kepada beliau, dengan mengatakan bahwa tukang-tukang sihir itu tanpa ragu-ragu memegangi agama nenek moyang mereka. Mereka merasa bangga dengan kerajaan Fir’aun.

Kemudian mereka menguasai ilmu sihir, sehingga mengetahui halhal yang termasuk dan tidak termasuk dalam kemampuan manusia. Seandainya mereka tidak tahu dengan yakin bahwa keluarbiasaan yang ada di tangan Nabi Musa bukan jenis sihir dan bukan termasuk kemampuan manusia untuk sampai padanya, niscaya mereka tidak iman kepada Nabi Musa, tidak meninggalkan agama nenek moyang mereka dan tidak menerima kemuliaan Fir’aun serta rela disiksa dan disalib di pohon-pohon kurma, lantas mereka berkata kepada Fir’aun:

“Karena itu, putuslah apa yang kamu putuskan. Kamu hanya dapat memutuskan dalam hidup di dunia ini”.

Keimanan tukang-tukang sihir kepada Musa dengan segala akibatnya, adalah bukti terbesar atas kebenaran Musa dalam pengakuan kerasulannya, sesungguhnya keluarbiasaan yang ditampakkan oleh Allah di tangan Musa adalah mukjizat yang membenarkan kebenaran beliau.

Adapun orang yang tidak dikehendaki akan kebaikannya oleh Allah, sebagaimana yang terjadi pada Fir’aun, ia sesat, tidak marnpu mengambil pelajaran dari kejadian ini dan mengikuti. jalan syubhat. Ia malah berkata Kepada tukang tukang sihur: “Sesungguhnya Musa, niscaya pembesarmu yang mengajarkan sihir pada kalian semua”.

“Sesungguhnya Musa itu benar-benar pemimpinmu yang mengajar sihir padamu ‘”.

Hal itu adalah suatu kesalahpahaman yang salah, karena sudah jelas, bahwa Musa dari Bani Israil yang mengabdikan diri kepada bangsa Oibti, bangsa para tukang sihir yang memiliki kekuasaan dan kerajaan. Tentu saja keadaan seperti ini jelas tidak mungkin bagi hamba-hamba itu mengajak tukang-tukang sihir bangsa Oibti itu untuk menentang Fir’aun dan mengikuti Musa.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker