Akhirat, adalah tempat untuk membedakan antara orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk. Agar yang pertama itu dibalas dengan pahala dan yang akhir (kedua) dibalas dengan siksaan.
Karena, setiap orang yang buruk itu berhak dan lebih pantas masuk neraka. Bagiannya adalah kelezatan yang diperolehnya di alam yang rusak (dunia).
Oleh karena itu, kita melihat banyak orang yang sesat dan orang jahat banyak mendapat limpahan dunia dan orang-orang ahli iman dan kebaikan tertekan dan sengsara.
Dari posisi ini dapat diketahui, bahwa aliran yang mengingkari terhadap akhirat, yaitu orang-orang kafir, adalah suatu keburukan yang tidak ada bandingnya, karena mereka tidak mengenal halal dan haram sama sekali. Meskipun demikian, dia tidak mendapat kemakmuran.
Mereka berkata, bahwa aturan alam semesta akan sempurna, dengan pengetahuan manusia terhadap hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.
Pengetahuan ini akan sempurna dengan ilmu yang benar-benar sempurna dan umum. Dalam menjawabnya, kami katakan, bahwa mereka telah lalai tentang keinginan, syahwat-syahwat dan senang kelezatan, itu tidak dapat diberantas oleh undang-undang saja, yang undang-undang itu ditegakkan oleh ilmu politik.
Maka, haruslah ada pencegah lain yang menyelamatkan jiwa dari kemadharatan dan ada pendorong yang menenangkan jiwa untuk mengikuti jalan kebaikan dan meninggalkan jalan keburukan, yaitu iman terhadap akhirat dan adanya balasan terhadap amal perbuatan.
Jika perbuatan itu baik, maka balasannya baik, dan jika buruk, maka balasannya pun buruk. Jika tidak demikian, maka hendaklah orang yang berakal itu memikirkan tentang manusia.
Apabila dia berkeyakinan, bahwa dirinya seperti tumbuh-tumbuhan di bumi, tumbuh kemudian musnah, tidak kembali lagi, dan dia tidak memiliki bagian dari wujudnya, kecuali tubuh kebinatangan yang diperoleh selama hidupnya, lalu bagaimana pun ilmu politik menjelaskan kepadanya tentang undang-undang untuk mengetahui halhal yang berguna dan madharat atas diri manusia. kemudian dia dapat membunuh orang lain serta menambil hartanya yang mencapai jutaan tanpa dilihat oleh scorang pun atau melakukan perkosaan dan mencapai kelezatan tanpa dilihat oleh seorangpun, maka apakah manusia mengira, bahwa undang-undang yang di hasilkan oleh ilmu politik dapat mengekang seseorang dari melakukan hal itu? Tidak akan ada yang mengatakannya, kecuali orang yang sombong.
Telah diketahui. bahwa manusia itu bernaluri cinta pada dirinya, barangsiapa yang benar-benar mengerti, maka ia merasa tidak akan aman sedikitpun, kecuali apabila dikaitkan dengan agama.
Dan kami lihat, bahwa sebagian bangsa-bangsa yang beriman pada akhirat dan tampak kerusakan di kalangan bangsa itu dari sebagian individu-individu.
Lalu, bagaimana keadaan bangsa itu seandainya keyakinan itu dihapus dari bangsa-bangsa itu?
Maka tdak ragu-ragu lagi. bahwa kerusakan bangsa-bangsa itu akan menjadi parah: karena kami telah lihat bangsa-bangsa yang ilmu keduniaannya berkembang pesat lebih-lebih ilmu politik pada masa kini itu selalu mengambil jalan keburukan-keburukan, bahkan setiap kali ilmu itu bertambah maju di kalangan mereka, maka bertambah meningkat pula di kalangan mereka kejahatan. perzinaan, pembunuhan, bunuh diri, mabukmabukan dengan segala minuman atau hal-hal yang memabukkan dan berbagai penipuan. perampokan dan perampasan dan banyak lagi perangaiperangai yang merusak tatanan sosial.
Semua itu terjadi hanyalah karena ilmu pengetahuan mereka yang telah berkembang maju itu tidak diikuti dengan kepercayaan terhadap hari pembalasan di akhirat.
Dan mungkin seandainya bangsa-bangsa itu tidak memiliki keyakinan sama sekali adanya hari akhir, yang akan mereka alami, niscaya kami jumpai bangsa-bangsa itu telah menuju kehancuran dan bangsa itu mulai terhapus.
Suatu hal yang menggelikan adalah kaum yang mengingkan kebangkitan dan hari akhirat, ketika mereka melihat bahwa ilmu pengetahuan itu tidak menjamin tertib sosial, kecuali apabila ilmu itu sempurna dan dikuasai oleh seluruh person-person manusia, maka mereka mensyaratkan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan secara menyeluruh oleh setiap orang, agar ilmu itu bisa menjamin tertib sosial.
Mereka kemudian berkata: “Pada suatu hari ilmu itu akan demikianlah adanya, tapi hal itu masih jauh sekali, mungkin beberapa ribu generasi lagi.
Mereka enggan menerima kepercayaan adanya akhirat dan menganganangankan ilmu dengan angan-angan yang tidak menentu, seperti dokter dungu yang be kata kepada orang yang menderita sakit keras: “Tinggalkan diet (pantangan makan dan makanan) dan makanlah apa yang kamu kehendaki.
Setelah kami mengadakan analisa beberapa tahun, saya akan memberikan obat kepadamu untuk kesembuhanmu.” Dan sampai dokter itu mendatanginya dengan membawa obat, orang sakit itu telah hancur dan telah menjadi tulang yang lapuk.
Bagaimanapun hal itu bukanlah langkah yang baik, bukan pikiran yang tepat dan bukan tindakan yang mantap.
Mereka tanpa meyakini adanya akhirat menyatakan secara terbuka tentang peranan ilmu di kalangan umum hingga mereka beranggapan, bahwa ilmu yang mereka duga dapat menjamin tertib dunia itu telah sempurna dan merata.
Jika tidak terbukti, maka pernyataan mereka terhadap pendapat yang salah dan yang batal ini berarti mereka telah membuka pintu kehancuran bagi alam semesta.
Kami berlindung kepada Allah dari penyebaran pikiran ini di kalangan bangsa-bangsa dan kami berlindung kepada Allab pula dari penyebaran sesuatu yang bertentangan dengan akal.
Semoga Allah memberi petunjuk kita dan mereka pada sebaik-baik jalan yang ditempuh oleh sebaik-baik manusia (Rasulullah).
Nasihat untuk orang-orang yang mengingkari akhirat, hendaknya mereka teguh serta hati-hati dan hendaklah berpikir, bahwa apabila mereka membenarkan akhirat dan bersiap-siap untuknya, maka apabila benar mereka selamat, jika salah, maka i’tiqad ini tidak membahayakan mereka.
Inti pembahasan dalam bab ini dapat dikatakan, bahwa sesungguhnya manusia itu akan kehilangan kesenangan-kesenangan jasmani, orang yang berakal untuk harus tidak begitu memperdulikan kesenangan-kesenangan jasmani karena dua hal:
Pertama: Sebenarnya kesenangan-kesenangan dunia itu sangat hina dan rendah, karena di dalam kesenangan dunia itu sama antara manusia dan binatang, serangga dan ulat-ulat.
Kedua: Kesenangan dunia itu tidak langgeng, segera sirna dan lenyap, dan cinta pada kesenangan dunia itu tidak bisa mengimbangi sikap gigih dan hati-hati dalam menghadapi persesuaian yang dikhawatirkan akibat-akibat buruknya.
Allah adalah Maha Pemberi pertolongan.









One Comment