PENGETAHUAN MENGENAI YANG TURUN PERTAMA DAN TERAKHIR
Ungkapan bahwa Rasulullah s.a.w. menerima Qur’an yang diturunkan kepadanya itu mengesankan suatu kekuatan yang dipegang seseorang dalam menggambarkan segala yang turun dari tempat yang lebih tinggi. Hal itu karena tingginya kedudukan Qur’an dan agungnya ajaran-ajarannya yang dapat mengubah perjalanan hidup umat manusia, menghubungkan langit dengan bumi, dan dunia dengan akhirat. Pengetahuan mengenai sejarah perundang-undangan Islam dari sumber pertama dan pokok yaitu Qur’an akan memberikan kepada kita gambaran mengenai pentahapan hukum dan penyesuaiannya dengan keadaan tempat hukum itu diturunkan, tanpa adanya kontradiksi antara yang lalu dengan yang akan datang. Hal demikian memerlukan pembahasan mengenai apa yang pertama kali turun dan apa yang terakhir kali. Demikian pula pembicaraan mengenai apa yang pertama kali dan yang terakhir kali turun itu memerlukan pembahasan mengenai segala perundang-undangan ajaran-ajaran Islam, seperti makanan, minuman, peperangan, dan lain sebagainya.
Dalam hal apa yang pertama kali diturunkan dan apa yang terakhir kali, para ulama mempunyai banyak pendapat, yang akan kami ringkaskan dan pertimbangkan di dalam pembahasan berikut ini.
Yang Turun Pertama Kali
Pendapat yang paling sahih mengenai yang pertama kali turun ialah firman Allah:
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu lebih Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq [96]:1-5).
Pendapat ini didasarkan pada suatu hadis yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadis dan yang lain, dari Aisyah r.a. yang mengatakan: ’Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah s.a.w. adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Dia melihat dalam mimpi itu datangnya bagaikan terangnya pagi hari. Kemudian dia suka menyendiri. Dia pergi ke gua Hira untuk beribadah beberapa malam. Untuk itu ia membawa bekal. Kemudian ia pulang kepada Khadijah r.a., maka Khadijah pun membekalinya seperti bekal terdahulu. Di gua Hira dia dikejutkan oleh suatu kebenaran. Seorang malaikat datang kepadanya dan mengatakan: ’Bacalah!’ Rasulullah menceritakan, maka aku pun menjawab: ’Aku tidak pandai membaca.’ Malaikat tersebut kemudian memelukku sehingga aku merasa amat payah. Lalu aku dilepaskan, dan dia berkata lagi: ’Bacalah!” Maka aku pun menjawab: Aku tidak pandai membaca. Lalu dia merangkulku yang kedua kali sampai aku kepayahan. Kemudian dia lepaskan lagi dan dia berkata: *Bacalah!’ Aku menjawab: ’Aku tidak pandai membaca.’ Maka dia merangkulku yang ketiga kalinya sehingga aku kepayahan, kemudian dia berkata: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan…’ sampai dengan ’…apa yang tidak diketahuinya’, (Hadis).
Dikatakan pula, bahwa yang pertama kali turun adalah firman Allah: Ya ayyuhal muddassir (wahai orang yang berselimut). In didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadis:
Dari Abu Salamah bin Abdurrahman; dia berkata: Aku telah bertanya kepada Jabir bin Abdullah: Yang manakah di antara Qur’an itu yang turun pertama kali? Dia menjawab: Ya ayyuhal muddassir. Aku bertanya lagi: Ataukah iqra’ bismi rabbik? Dia menjawab: “Aku katakan kepadamu apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. kepada kami:
” Sesungguhnya aku berdiam diri di gua Hira. Maka ketika habis masa diamku, aku turun lalu aku telusuri lembah. Aku lihat ke muka, ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Lalu aku lihat ke langit, tiba-tiba aku melihat Jibril yang amat menakutkan. Maka aku pulang ke Khadijah. Khadijah memerintahkan mereka untuk menyelimuti aku. Mereka pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan: ‘Wahai orang yang berselimut; bangkitlah, lalu berilah peringatan.’’
Mengenai hadis Jabir ini, dapatlah dijelaskan bahwa pertanyaan itu mengenai surah yang diturunkan secara penuh. Jabir menjelaskan bahwa surah Muddassir-lah yang turun secara penuh sebelum surah Iqra’ selesai diturunkan, karena yang turun pertama sekali dari surah Iqra’ itu hanyalah permulaannya saja. Hal yang demikian ini juga diperkuat oleh hadis Abu Salamah dari Jabir yang terdapat dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Jabir berkata:
“Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w. ketika ia berbicara mengenai terputusnya wahyu, maka katanya dalam pembicaraan itu: ’Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku angkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat malaikat yang mendatangi aku di gua Hira itu duduk di atas kursi antara langit dan bumi, lalu aku pulang dan aku katakan: Selimuti aku! Mereka pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan: Ya ayyuhal muddaSsir.”
Hadis ini menunjukkan bahwa kisah tersebut lebih kemudian daripada kisah gua Hira, atau Muddassir itu adalah surah pertama yang diturunkan setelah terhentinya wahyu. Jabir telah mengeluarkan yang demikian ini dengan ijtihadnya, akan tetapi riwayat Aisyah lebih mendahuluinya. Dengan demikian, maka ayat Qur’an yang pertama kali turun secara mutlak ialah iqra’ dan surah yang pertama diturunkan secara lengkap dan pertama diturunkan setelah terhentinya wahyu ialah Ya ayyuhal muddaSssir, dan surah yang pertama turun untuk risalah ialah Yd ayyuhal muddassir dan untuk kenabiannya adalah Iqra’.
Dikatakan pula, bahwa yang pertama kali turun adalah surah Fatihah. Mungkin yang dimaksudkan adalah surah yang pertama kali turun secara lengkap.
Disebutkan juga bahwa yang pertama kali turun adalah Bismillahirrahmanirrahim, karena basmalah itu turun mendahului setiap surah. Dalil-dalil kedua pendapat di atas hadis-hadis mursal. Pendapat pertama yang didukung oleh hadis Aisyah itulah pendapat yang kuat dan masyhur.
Az-Zarkasyi telah menyebutkan di dalam kitabnya al-Burhdn, hadis Aisyah yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun adalah Iqra’ bismi rabbikal lazi khalaq dan hadis Jabir yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun ialah Ya ayyuhal muddassir; qum fa anzir. Kemudian dia berkata: ”Sebagian besar ulama menyatukan keduanya yaitu, bahwa Jabir mendengar Nabi menyebutkan kisah per mulaan wahyu dan dia mendengar bagian akhirnya, sedang bagian pertamanya dia tidak mendengar. Maka dia (Jabir) menyangka bahwa surah yang didengarnya itu adalah yang pertama kali diturunkan, padahal bukan. Memang surah Muddassir itu adalah surah pertama yang diturunkan setelah surah Iqra’ dan setelah terhentinya wahyu. Hal itu juga termuat dalam Sahih Bukhari dan Muslim dari Jabir r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. di kala itu sedang membicarakan masalah terhentinya wahyu. Di dalam hadis itu dia berkata:
“Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari Jangit. Lalu kuangkat kepalaku, tiba-tiba yang datang kepadaku malaikat yang kulihat ketika aku di gua Hira duduk di atas kursi yang terletak di antara langit dan bumi, sehingga aku pun merasa ketakutan sekali. Kemudian aku pulang dan aku berkata: ’Selimuti aku; selimuti aku.’ Lalu Allah menurunkan: Wahai orang yang berselimut; bangkitlah, lalu berilah peringatan.”
Dalam hadis ini ia memberitahukan tentang malaikat yang datang kepadanya di gua Hira sebelum saat itu. Di dalam hadis Aisyah ia memberitahukan bahwa turunnya Iqra’ itu di gua Hira, dan bahwa Iqra’ itulah wahyu pertama yang turun. Kemudian setelah itu wahyu terhenti. Sedang dalam hadis Jabir ia memberitahukan bahwa wahyu berlangsung kembali setelah turunnya Ya ayyuhal muddassir.
Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa “Iqra’” adalah wahyu yang pertama sekali diturunkan secara mutlak, dan bahwa ’Muddassir” diturunkan sesudah Iqra’.
Demikian juga Ibn Hibban mengatakan dalam Sahih-nya:
Di antara kedua hadis itu tidak ada pertentangan. Sebab yang pertama kali diturunkan adalah iqra’ bismi rabbikal lazi khalag di gua Hira. Ketika kembali kepada Khadijah r.a. dan Khadijah menyiramkan air dingin kepadanya, Allah menurunkan kepadanya di rumah Khadijah ini: Ya ayyuhal muddassir. Maka jelaslah bahwa ketika turun kepada beliau Iqra’, ia pulang lalu berselimut; kemudian Allah menurunkan Ya ayyuhal muddassir.”
Juga ada dikatakan bahwa yang pertama kali turun ialah surah Fatihah. Hadis yang menunjukkan hal ini diriwayatkan melalui Abu Ishaq dari Abu Maisarah; dia berkata:
“Rasulullah s.a.w. mendengar suara, ia berlari. Ia menyebutkan turunnya malaikat kepadanya serta kata-kata malaikat itu: ’Katakanlah: Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin’… dan seterusnya.”
Qadi Abu Bakar dalam kitabnya al-Intisaér mengatakan, bahwa hadis ini munqati‘. Maka tetap kuatlah pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali turun ialah iqra’ bismi rabbik, dan sesudah itu pendapat yang menyatakan bahwa yang pertama kali turun itu adalah Ya ayyuhal muddassir. Cara menyatukan pendapat-pendapat di atas bahwa ayat yang pertama kali turun itu iqra’ bismi rabbik, dan ayat mengenai perintah tablig (untuk menyampaikan) yang pertama kali turun ialah Ya ayyuhal muddassir, sedang surah yang pertama kali turun ialah Fatihah. Hal yang demikian ini seperti apa yang termuat di dalam hadis:
“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba ialah salat.”! dan “Yang pertama kali diputuskan mengenai seorang hamba adalah urusan darah.””
Penyatuan kedua hadis itu ialah: “Yang pertama kali seorang hamba diadili dalam hal kezaliman yang terjadi sesama hamba adalah urusan darah, sedang yang pertama kali dihisab dari seorang hamba dalam hal kewajiban-kewajiban badaniah adalah salat.”
Juga dikatakan bahwa yang pertama kali turun mengenai kerasulan adalah Ya ayyuhal muddassir, dan yang pertama kali turun mengenai kenabian adalah /iqra’ bismi rabbik. Hal itu disebabkan para ulama mengatakan bahwa firman Allah Iqra’ bismi rabbik itu menunjukkan kenabian Muhammad s.a.w. sebab kenabian itu adalah wahyu kepada seseorang melalui perantaraan malaikat dengan penugasan khusus. Sedang firman Allah Ya ayyuhal muddassir; qum fa anzir itu menunjukkan kerasulannya, sebab kerasulan itu adalah wahyu kepada seseorang dengan perantaraan malaikat dengan penugasan umum.
Yang Terakhir Kali Diturunkan
Dikatakan bahwa ayat terakhir yang diturunkan itu adalah ayat mengenai riba. Ini didasarkan pada hadis yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Ibn Abbas, yang mengatakan:
”Ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat mengenai riba.” Yang dimaksudkan ialah firman Allah:
”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba yang belum dipungut.” (al-Baqarah [2]:278).
Dan dikatakan pula bahwa ayat Qur’an yang terakhir diturunkan ialah firman Allah :
“Dan peliharalah dirimu dari azab yang terjadi pada suatu hari yang pada waktu ttu kamu semua dikembalikan kepada Allah…”’ (al-Bagarah [2]:281).
Ini didasarkan pada hadis, yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan lain-lain, dari Ibn Abbas dan Sa‘id bin Jubair: ’Ayat Qur’an terakhir kali turun ialah: Dan peliharalah dirimu dari azab yang terjadi pada suatu hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah…” (al-Baqarah [2]:281).
Juga dikatakan bahwa yang terakhir kali turun itu ayat mengenai utang; berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Sa‘id bin al-Musayyab: ’’Telah sampai kepadanya bahwa ayat Qur’an yang paling muda di ‘Arsy ialah ayat mengenai utang.” Yang dimaksudkan adalah ayat:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…” (alBaqarah [2):282).
Ketiga riwayat itu dapat dipadukan, yaitu bahwa ketiga ayat tersebut di atas diturunkan sekaligus seperti tertib urutannya di dalam Mushaf. Ayat mengenai riba, ayat pelihara dirimu dari azab yang terjadi pada suatu hari kemudian ayat mengenai utang, karena ayat-ayat itu masih satu kisah. Setiap perawi mengabarkan bahwa sebagian dari yang diturunkan itu sebagai yang terakhir kali. Dan itu memang benar.
Dengan demikian, maka ketiga ayat itu tidak saling bertentangan.
Dikatakan pula bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah ayat mengenai kalalah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib; dia berkata: ’Ayat yang terakhir kali turun adalah:
“Mereka meminta fatwa kepadamu mengenai kaldlah, katakanlah: ’Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah.’’’ (an-Nisa’ (4):176).
Ayat yang turun terakhir menurut hadis Barra’ ini adalah berhubungan dengan masalah warisan.
Pendapat lain menyatakan bahwa yang terakhir turun adalah firman Allah:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri…” sampai dengan akhir surah.
Dalam al-Mustadrak disebutkan, dari Ubai bin Ka‘b yang mengatakan: “Ayat terakhir kali diturunkan: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri…” (at-Taubah [9]:1289) sampai akhir surah. Mungkin yang dimaksudkan adalah ayat terakhir yang diturunkan dari Surah at-Taubah. Muslim meriwayatkan dari Ibn Abbas, bahwa hadis ini memberitahukan bahwa surah ini ialah surah yang diturunkan terakhir kali, karena ayat ini mengisyaratkan wafatnya Nabi s.a.w. sebagaimana dipahami oleh sebagian sahabat. Atau mungkin surah ini adalah surah yang terakhir kali diturunkan.
Dikatakan pula bahwa yang terakhir kali turun adalah Surah al-Ma’idah. Ini didasarkan pada riwayat Tirmizi dan Hakim, dari Aisyah r.a. Tetapi menurut pendapat kami, surah itu surah yang terakhir kali turun dalam hal halal dan haram, sehingga tak satu hukum pun yang dinasikh di dalamnya.
Juga dikatakan bahwa yang terakhir kali turun adalah firman Allah:
“Maka Tuhan memperkenankan permohonan mereka: ’Aku tidak menyiakan-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki ataupun perempuan, karena sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.’” (Ali ‘Imran [3]:195).
Ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Mardawaih melalui Mujahid, dari Ummu Salamah; dia berkata: ”Ayat yang terakhir kali turun adalah ayat ini: “Maka Tuhan memperkenankan permohonan mereka: ’Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kaummu…” sampai akhir ayat tersebut.
Hal itu disebabkan dia (Ummu Salamah) bertanya: Wahai Rasulullah, aku melihat Allah menyebutkan kaum lelaki akan tetapi tidak menyebutkan kaum perempuan. Maka turunlah ayat: “Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain.” (an-Nisa’ [4]:32) dan turun pula: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim.” (ail-Ahzab [33]:35). serta ayat ini: “Maka Tuhan mereka…” Ayat ini adalah yang terakhir diturunkan dari ketiga ayat di atas. Ia ayat terakhir yang diturunkan yang didalamnya tidak hanya disebutkan kaum lelaki secara khusus.
Dari riwayat itu jelaslah bahwa ayat tersebut yang terakhir turun di antara ketiga ayat di atas, dan yang terakhir yang turun dari ayat-ayat yang di dalamnya disebutkan kaum perempuan.
Ada juga dikatakan bahwa ayat terakhir yang turun talah ayat:
Barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal dia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (an-Nisa [4]:93).
Ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan yang lain dari Ibn Abbas yang mengatakan:
“Ayat ini (Barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan Sengaja maka balasannya ialah Jahanam) adalah ayat yang terakhir diturunkan dan tidak dinasikh oleh apapun.”
Ungkapan “ia tidak dinasikh oleh apa pun” itu menunjukkan bahwa ayat itu ayat yang terakhir turun dalam hal hukum membunuh seorang mukmin dengan sengaja.”
Dari Ibn Abbas dikatakan: “Surah terakhir yang diturunkan ialah:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”
Pendapat-pendapat ini semua tidak mengandung sesuatu yang disandarkan kepada Nabi s.a.w., masing-masing merupakan ijtihad dan dugaan. Mungkin pula bahwa masing-masing mereka itu. memberitahukan mengenai apa yang terakhir didengarnya dari Rasulullah. Atau mungkin juga masing-masing mengatakan hal itu berdasarkan apa yang terakhir diturunkan dalam hal perundang-undangan tertentu, atau dalam hal surah terakhir yang diturunkan secara lengkap seperti setiap pendapat yang telah kami kemukakan di atas. Adapun firman Allah:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam jadi agama bagimu.” (al-Ma’idah [5]:3), maka ia diturunkan di Arafah tahun Haji Perpisahan (Wada’‘).
Pada lahirnya, ia menunjukkan penyempurnaan kewajiban dan hukum. Telah pula diisyaratkan di atas, bahwa riwayat mengenai turunnya ayat riba, ayat utang-piutang, ayat kalalah dan yang lain itu setelah ayat ketiga Surah al-Ma’idah. Oleh karena itu, para ulama menyatakan kesempurnaan agama di dalam ayat ini. Allah telah mencukupkan nikmat-Nya kepada mereka dengan menempatkan mereka di negeri suci dan membersihkan orang-orang musyrik daripadanya serta menghajikan mereka di rumah suci tanpa disertai oleh seorang musyrik pun; padahal sebelumnya orang-orang musyrik berhaji pula dengan mereka. Yang demikian itu termasuk nikmat yang sempurna, “dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku.”
Qadi Abu Bakar al-Baqalani dalam al-intisar ketika mengomentari berbagai riwayat mengenai yang terakhir kali diturunkan menyebutkan: ’Pendapat-pendapat ini sama sekali tidak disandarkan kepada Nabi s.a.w. Boleh jadi pendapat itu diucapkan orang karena ijtihad atau dugaan saja. Mungkin masing-masing memberitahukan mengenai apa yang terakhir kali didengarnya dari Nabi s.a.w. pada saat ia wafat atau tak seberapa lama sebelum ia sakit. Sedang yang lain mungkin tidak secara langsung mendengar dari Nabi. Mungkin juga ayat itu yang dibaca terakhir kali oleh Rasulullah s.a.w. bersama-sama dengan ayat-ayat yang turun di waktu itu, sehingga disuruh untuk dituliskan sesudahnya, lalu dikiranya ayat itulah yang terakhir diturunkan menurut tertib urutannya.”









One Comment