Ulumul Quran

Terjemah Kitab Mabahits Fi Ulumil Qur’an Karya Manna Al Qattan

Banyaknya Nuzul dengan Satu Sebab

Terkadang banyak ayat yang turun, sedang sebabnya hanya satu. Dalam hal ini tidak ada permasalahan yang cukup penting, karena itu banyak ayat yang turun di dalam berbagai surah berkenaan dengan satu peristiwa. Contohnya ialah apa yang diriwayatkan oleh Sa‘id bin Mansur, ‘Abdurrazzaq, Tirmizi, Ibn Jarir, Ibnul Munzir, Ibn Abi Hatim, Tabarani dan Hakim yang mengatakan sahih, dari Ummu Salamah, ia berkata:

“Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menyebutkan kaum perempuan sedikit pun mengenai hijrah. Maka Allah menurunkan: Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ”Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan; (karena) sebagian kamu. adalah turunan dari sebagian yang lain….” (Ali ‘Imran [3]:195).

Diriwayatkan pula oleh Ahmad, Nasa’i, Ibn Jarir, Ibnul Munzir, Tabarani dan Ibn Mardawaih dari Ummu Salamah yang mengatakan:

”Aku telah bertanya: Rasulullah, mengapa kami tidak disebutkan dalam Qur’an seperti kaum laki-laki? Maka pada suatu hari aku dikejutkan oleh seruan Rasulullah di atas mimbar. Ia membacakan: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan Muslim… sampai akhir ayat 35 Surah al-Ahzab [33].”

Diriwayatkan pula oleh Hakim dari Ummu Salamah yang mengatakan:

“Kaum laki-laki berperang sedang perempuan tidak. Di samping itu kami hanya memperoleh warisan setengah bagian? Maka Allah menurunkan ayat: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain; karena bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan pula… (an-Nisa’ [4]:32) dan ayat: Sesungguhnya: laki-laki dan perempuan yang muslim…”

Ketiga ayat tersebut turun karena satu sebab.

Penurunan Ayat Lebih Dahulu daripada Hukumnya

Az-Zarkasyi mengemukakan satu macam pembahasan yang berhubungan dengan sebab nuzul yang dinamakan ”Penurunan ayat lebih dahulu daripada hukum (maksud)nya.“? Contoh yang diberikannya dalam hal ini tidaklah menunjukkan bahwa ayat itu turun mengenai hukum tertentu, kemudian pengamalannya datang sesudahnya. Tetapi hal tersebut menunjukkan bahwa ayat itu diturunkan dengan lafal mujmal (global), yang mengandung arti lebih dari satu, kemudian penafSirannya dihubungkan dengan salah satu arti-arti tersebut, sehingga ayat tadi mengacu kepada hukum yang datang kemudian. Di dalam alBurhan disebutkan: “Ketahuilah bahwa nuzul atau penurunan sesuatu ayat itu terkadang mendahului hukum. Misalnya firman Allah, Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). (al-A‘la [87}:14). Ayat tersebut dijadikan dalil untuk zakat fitrah. Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan diisnadkan kepada Ibn Umar, bahwa ayat itu turun berkenaan dengan zakat Ramadan (zakat fitrah); kemudian dengan isnad yang marfu‘ Baihaqi meriwayatkan pula keterangan yang sama. Sebagian dari mereka berkata: Aku tidak mengerti maksud pentakwilan yang seperti ini, sebab surah itu Makki, sedang di Mekah belum ada Idul Fitri dan zakat.”

Di dalam menafsirkan ayat tersebut, Baqawi‘! menjawab bahwa nuzul itu boleh saja mendahului hukumnya, seperti firman Allah: Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini; dan kamu (Muhammad) bertempat di kota ini (al-Balad [90]:1-2). Surah ini Makki, dan bertempatnya di Mekah ini baru terealisir sesudah penaklukan kota Mekah, sehingga Rasulullah berkata: “Aku menempatinya pada siang hari.”

Demikian pula ayat yang turun di Mekah, yakni: Golongan itu pasti akan dikalahkan dan akan mundur ke belakang (al-Qamar [54]:45). Umar bin Khattab mengatakan: “Aku tidak mengerti golongan mana yang akan dikalahkan itu. Namun ketika terjadi perang Badar, aku melihat Rasulullah berkata: Golongan itu pasti akan dikalahkan dan akan mundur ke belakang.”

Kita melihat pada apa yang dikemukakan pengarang al-Burhdn bahwa bentuk redaksi sebab nuzul itu mungkin menunjukkan sebab dan mungkin pula menunjukkan hukum-hukum yang dikandung oleh ayat: ’Telah diriwayatkan oleh Baihaqi dengan diisnadkan kepada Ibn Umar bahwa ayat di atas tadi turun mengenai zakat Ramadan.” Dan ayat-ayat yang disebutkannya itu bersifat mujmal, mengandung lebih dari satu makna, atau dengan bentuk bahasa pemberitahuan tentang apa yang akan terjadi di masa datang, Golongan itu pasti akan dikalahkan dan akan mundur kebelakang.

Beberapa Ayat Turun Mengenai Satu Orang

Terkadang seorang sahabat mengalami peristiwa lebih dari satu kali, dan Qur’an pun turun mengenai setiap peristiwanya. Karena itu banyak ayat yang turun mengenainya sesuai dengan banyaknya peristiwa yang terjadi. Misalnya, apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab “al-Adabul Mufrad” tentang berbakti kepada kedua orang tua. Dari Sa‘d bin Abi Waqqas yang mengatakan: ”Ada empat ayat Qur’an turun berkenaan denganku. Pertama, ketika ibuku bersumpah bahwa ia tidak akan makan dan minum sebelum aku meninggalkan Muhammad; lalu Allah menurunkan: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (Luqman [[31]:15). Kedua, ketika aku mengambil sebilah pedang dan mengaguminya; maka aku berkata kepada Rasulullah: ’Rasulullah, berikanlah kepadaku pedang ini.” Maka turunlah: Mereka bertanya kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang (al-Anfal [8]:1). Ketiga, ketika aku sedang sakit Rasulullah mengunjungiku, aku bertanya kepadanya: ’Rasullullah, aku ingin membagikan hartaku, bolehkah aku mewasiatkan separuhnya?’ Ja menjawab: ’Tidak.’ Aku bertanya: ’”Bagaimana kalau sepertiga?’ Rasulullah diam. Maka wasiat dengan sepertiga harta itu diperbolehkan.*° Keempat, ketika aku sedang minum minuman keras (khamr) bersama kaum Ansar, seorang dari mereka memukul hidungku dengan tulang rahang unta. Lalu aku datang kepada Rasulullah, maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan larangan minum khamar.” Dan termasuk ke dalam kategori ini yakni, banyaknya ayat yang turun mengenai satu orang ialah muwafagah atau kebersesuaian kehendak/sikap Umar dengan wahyu. Dalam hal ini telah turun wahyy yang sesuai dengan pendapatnya dalam banyak ayat.

Faedah Mengetahui Asbabun Nuzul dalam Lapangan Pendidikan dan Pengajaran.

Dalam dunia pendidikan, para pendidik mengalami banyak ke. sulitan dalam penggunaan media pendidikan yang dapat membangkitkan perhatian anak didik supaya jiwa mereka siap menerima pelajaran dengan penuh minat dan seluruh potensi intelektualnya terdorong untuk mendengarkan dan mengikuti pelajaran. Tahap pendahuluan darj suatu pelajaran memerlukan kecerdasan brilian, yang dapat menolong guru dalam menarik minat anak didik terhadap pelajarannya dengan berbagai media yang sesuai; serta memerlukan latihan dan pengalaman cukup lama yang dapat memberinya kebijakan dalam memilih metode pengajaran yang efektif dan sejalan dengan tingkat pengetahuan anak didik tanpa kekerasan atau dipaksakan. Di samping tahap pendahuluan itu bertujuan membangkitkan perhatian dan menarik minat, juga bertujuan memberikan konsepsi menyeluruh mengenai tema _ pelajaran, agar guru dapat dengan mudah membawa anak didiknya dari hal-hal yang sifatnya umum kepada yang khusus, sehingga semua materi pelajaran yang telah ditargetkan dapat dikuasai dengan mendetail sesudah anak didik itu memahaminya secara umum (garis besarnya). Dan pengetahuan tentang asbabun nuzal merupakan media paling baik untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan di atas dalam mempelajari al-Qur’anul Karim baik bacaan maupun tafsirnya.

Asbabun Nuziil ada kalanya berupa kisah tentang peristiwa yang terjadi, atau berupa pertanyaan yang disampaikan kepada Rasullullah untuk mengetahui hukum suatu masalah, sehingga Qur’an pun turun sesudah terjadi peristiwa atau pertanyaan tersebut. Seorang guru sebenarnya tidak perlu membuat pengantar pelajaran dengan sesuatu yang baru dan dipilihnya; sebab bila ia menyampaikan sebab nuzul, maka kisahnya itu sudah cukup untuk membangkitkan perhatian, menarik minat, memusatkan potensi intelektual dan menyiapkan jiwa anak didik untuk menerima pelajaran, serta mendorong mereka untuk mendengarkan dan memperhatikannya.

Mereka segera dapat memahami pelajaran itu secara umum dengan mengetahui asbabun nuzul karena di dalamnya terdapat unsur-unsur kisah yang menarik. Dengan demikian, jiwa mereka terdorong untuk mengetahui ayat apa yang diturunkan sesuai dengan sebab nuzul itu serta rahasia-rahasia perundangan dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, yang kesemua ini memberi petunjuk kepada manusia ke jalan kehidupan lurus, jalan menuju kekuatan, kemuliaan dan kebahagiaan.

Para pendidik dalam dunia pendidikan dan pengajaran di bangku-bangku sekolah ataupun pendidikan umum, dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan nya perlu memanfaatkan konteks asbabun Nuzul untuk memberikan rangsangan kepada anak didik yang tengah belajar dan masyarakat umum yang dibimbing. Cara demikian merupakan cara paling bermanfaat dan efektif untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan tersebut dengan mempergunakan metode pemberian pengertian paling menarik dan bentuk paling tinggi.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker