3.WAHYU
Kemungkinan dan Terjadinya Wahyu.
Perkembangan ilmiah telah maju dengan pesat, dan cahayanya pun telah menyapu segala keraguan yang selama ini merayap dalam diri manusia mengenai roh yang ada di balik materi. Ilmu materialistis yang meletakkan sebagian besar dari yang ada di bawah percobaan dan eksperimen percaya terhadap dunia gaib yang berada di balik dunia nyata ini, dan percaya pula bahwa alam gaib itu lebih rumit dan lebih dalam daripada alam nyata, dan bahwa sebagian besar penemuan modern yang membimbing pikiran manusia menyembunyikan rahasia yang samar yang hakikatnya tidak bisa dipahami oleh ilmu itu sendiri, meskipun pengaruh dan gejalanya dapat diamati. Hal yang demikian ini telah mendekatkan jarak antara pengingkaran terhadap agama-agama dengan keimanan. Dan itu sesuai dengan firman Allah:
“Akan kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Qur’an itu benar adanya.” (Fussilat [41]:53).
Dan firman-Nya:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (al-Isra’ [17]:85).
Pembahasan psikologik dan rohani kini mempunyai tempat yang penting dalam ilmu pengetahuan. Dan hal itu pun didukung dan diperkuat oleh perbedaan manusia dalam kecerdasan, kecenderungan dan naluri mereka. Di antara inteligensi itu ada yang istimewa dan cemerlang sehingga dapat menemukan segala yang baru. Tetapi ada pula yang dungu dan sukar memahami urusan yang mudah sekalipun. Di antara dua posisi ini, terdapat sekian banyak tingkatan. Demikian pula halnya dengan jiwa. Ada yang jernih dan cemerlang, dan ada pula yang kotor dan kelam.
Di balik tubuh manusia ada roh yang merupakan rahasia hidupnya. Apabila tubuh itu kehabisan tenaga dan jaringan-jaringan mengalami kerusakan jika tidak mendapatkan makanan menurut kadarnya, maka demikian pula roh. Ia memerlukan makanan yeng dapat memberikan tenaga rohani agar ia dapat memelihara sendi-sendi dan ketentuan-ketentuan lainnya.
Bagi Allah bukan hal yang jauh dalam memilih dari antara hamba-Nya sejumlah jiwa yang dasarnya begitu jernih dan kodrat yang lebih bersih yang siap menerima sinar ilahi dan wahyu dari langit serta hubungan dengan makhluk yang lebih tinggi; agar kepadanya diberikan risalah ilahi yang dapat memenuhi keperluan manusia. Mereka mempunyai ketinggian rasa, keluhuran budi dan kejujuran dalam menjalankan hukum. Mereka itulah para rasul dan nabi Allah. Maka tidaklah aneh bila mereka berhubungan dengan wahyu yang datang dari langit.
Manusia kini menyaksikan adanya hipnotisma yang menjelaskan bahwa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi itu menimbulkan pengaruh. Ini mendekatkan orang kepada pemahaman tentang gejala wahyu. Orang yang berkemauan lebih kuat dapat memaksakan kemauannya kepada orang yang lebih lemah; sehingga yang lemah ini tertidur pulas dan ia dikemudikan menurut kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan, maka mengalirlah semua itu ke dalam hati dan mulutnya. Apabila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama manusia, bagaimana pula dengan yang lebih kuat dari manusia itu?!
Sekarang orang dapat mendengar percakapan yang direkam dan dibawa oleh gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, daratan dan lautan tanpa melihat si pembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telepon, sekalipun yang seorang berada di ujung timur dan yang Jain di ujung barat, dan terkadang pula keduanya saling melihat dalam percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk di sekitarnya tidak mendengar apa-apa selain dengungan yang seperti suara lebah, persis seperti dengungan di waktu turun wahyu.
Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami percakapan dengan diri sendiri, dalam keadaan sadar atau dalam keadaan tidur yang pernah terlintas dalam pikirannya tanpa melihat orang yang diajak berbicara di hadapannya?
Yang demikian ini serta contoh-contoh lain yang serupa cukup menjelaskan kepada kita tentang hakikat wahyu.
Orang yang sezaman dengan wahyu itu menyaksikan wahyu dan menukilnya secara mutawatir dengan segala persyaratannya yang meyakinkan kepada generasi-generasi sesudahnya. Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya di dalam kebudayaan bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan menjadi mulia selama tetap berpegang pada keyakinan itu, dan akan hancur serta hina bila mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tak dapat diragukan lagi, serta perlunya manusia kembali kepada petunjuk wahyu demi menyiram jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur dan kesegaran rohani.
Rasul kita Muhammad s.a.w. bukanlah Rasul pertama yang diberi wahyu. Allah telah memberikan juga wahyu kepada rasul-rasul sebelum itu seperti yang diwahyukan kepadanya:
“Sesungguhnya Kami telah menyampaikan wahyu kepadamu seperti Kami telah menyampaikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah menyampaikan wahyu pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘kub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Daud. Dan kami telah mengutus rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (an-Nisa’ [4]:163-164).
Dengan demikian, maka wahyu yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w. itu bukanlah suatu hal yang menimbulkan rasa heran. Oleh sebab itu Allah mengingkari rasa heran ini bagi orang-orang yang berakal.
”Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: ’Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan tinggi di sisi Tuhan mereka?’ Orang-orang kafir berkata: ’Sesungguhnya orang ini (Muhammad) adalah benar-benar tukang sihir yang nyata.’” (Yunus [10]:2).
Arti Wahyu
Dikatakan wahaitu ilaih dan auha itu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lam. bang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
Al-Wahy atau wahyu adalah kata masdar (infinitif); dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu: tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, maka dikatakan bahwa wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi terkadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah almiha yaitu pengertian isim maf‘il, yang diwahyukan. Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi:
Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa:
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia…” (al-Qasas [28]:7).
Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah:
“Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah: ’Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia.’” (an-Nahl [16]:68).
Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Qur’an:
“Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka: ’Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (Maryam [19]:11).
Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia.
“Sesungguhnya syaitan-syaitan itu. membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (al-An‘am [6]:121).
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dari jenis jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.”’ (al-An‘am [6]:112).
Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan.
“Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: ’Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian Orang-orang yang beriman.’” (al-Anfal [8]:12).
Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syara‘ mereka definisikan sebagai ”kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi’’. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul, yaitu al-miaha (yang diwahyukan). Ustaz Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid sebagai ’pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara ataupun tidak; yang pertama melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali. Beda antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal seperti itu serupa dengan perasaan lapar, haus, sedih dan senang.”
Definisi di atas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal definisi int mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyaf, tetapi perbedaannya dengan ilham di akhir definisi meniadakan hal ini.
Cara Wahyu Allah Turun kepada Malaikat
Di dalam al-Qur’anul Karim terdapat nas mengenai kalam Allah kepada para malaikat-Nya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman: ’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ’Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya…?’” (al-Baqarah [(2]:30).
Juga terdapat nas tentang wahyu Allah kepada mereka:
“Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman.’” (al-Anfal [8]:12).
Di samping ada pula nas tentang para malaikat yang mengurus urusan dunia menurut perintah-Nya.
“Demi malaikat-malaikat yang membagi-bagi urusan.” (az-Zariyat [51]:4).
“Dan demi malaikat-malaikat yang mengatur urusan dunia.”’ (anNazi‘at [79]:5).
Nas-nas di atas dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu. Hal itu diperkuat oleh hadis dari Nawas bin Sam‘an r.a. yang mengatakan: Rasulullah s.a.w. berkata:
“Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu; maka langit pun tergetarlah dengan getaran atau dia mengatakan dengan goncangan — yang dahsyat Karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka di antara mereka itu adalah Jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat langit itu: Apakah yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai Jibril? Jibril menjawab: Dia mengatakan yang hak dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti diperintahkan Allah ‘azza wa jalla.”
Hadis ini menjelaskan bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara, dan para malaikat mendengarnya. Dan pengaruh wahyu itu pun sangat dahsyat. Apabila pada lahirnya di dalam perjalanan Jibril untuk menyampaikan wahyu hadis di atas menunjukkan turunnya wahyu khusus mengenai Qur’an, akan tetapi hadis tersebut juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara umum. Pokok persoalan itu terdapat di dalam hadis sahih:
“Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena terpengaruh oleh firman-Nya, bagaikan mata rantai di atas batu yang licin.”
Telah nyata pula bahwa Qur’an telah dituliskan di lauhul mahfiz, berdasarkan firman Allah:
“Bahkan ia adalah Qur’an yang mulia yang tersimpan di lauhul mahfuz.” (al-Buruj [85]:21-22).
Demikian pula bahwa Qur’an itu diturunkan sekaligus ke baitul ‘izzah yang berada di langit dunia pada malam lailatul qadar di bulan Ramadan.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya Qur’an pada malam lailatul qadar.” (al-Qadar [97]:1).
“Sesungguhnya Kami menurunkannya Qur’an — pada suatu malam yang diberkahi.” (ad-Dukhan [44]:3).
“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya aiturunkan Qur’an.” (al-Baqarah [2}:185).
Di dalam sunah terdapat hal yang menjelaskan nuzul (turunnya) Qur’an yang menunjukkan bahwa nuzul itu bukanlah nuzul ke dalam hati Rasulullah s.a.w.
Dari Ibn Abbas dengan hadis mauquf: ’ Qur’an itu diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qadar. Kemudian setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun. Lalu Ibn ‘Abbas membacakan: ’Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu dengan membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penyelesaiannya.’ (al-Furqan [25]:33). “Dan Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya secara perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.’ (al-Isra’ [17]:106)
Dan dalam satu riwayat:
”Telah dipisahkan Qur’an dari az-Zikr, lalu diletakkan di Baitul ‘izzah di langit dunia; kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi S.a.w.”
Oleh sebab itu para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pendapat:
Bahwa Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus.
Bahwa Jibril menghafalnya dari Lauhul mahfuz.
Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau lafal Muhammad s.a.w.
Pendapat pertama itulah yang benar; dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, serta diperkuat oleh hadis Nawas bin Sam‘an di atas.
Menisbahkan Qur’an kepada Allah itu terdapat dalam beberapa ayat:
“Sesungguhnya kamu benar-benar diberi Qur’an dari Allah yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.” (an-NamI [{27]:6).
”Dan jika ada orang di antara kaum musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah.” (at-Taubah [9]:6).
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Kami berkata: ’Datangkanlah Qur’an yang lain dari ini atau gantilah ia’, Katakanlah: ’Tidaklah patut bagiku untuk menggantikannya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku…” (Yunus {10]:15).
Qur’an adalah kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad. Sedang pendapat kedua di atas itu tidak dapat dijadikan pegangan, sebab adanya Qur’an di lauhul mahfuz itu seperti hal-hal gaib yang lain, termasuk Qur’an.
Dan pendapat ketiga lebih sesuai dengan hadis, sebab hadis itu wahyu dari Allah kepada Jibril, kemudian kepada Muhammad s.a.w. secara maknawi saja. Lalu hal itu diungkapkan dengan ungkapan beliau sendin.
“Dia (Muhammad) tidaklah berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Apa yang diucapkannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (an-Najm [53]:3-4).
Dan oleh sebab itulah diperbolehkan meriwayatkan hadis menurut maknanya, sedang Qur’an tidak.
Demikianlah, telah kami perbincangkan perbedaan Qur’an dengan Hadis Kudsi dan Hadis Nabawi.
Keistimewaan Qur’an: 1) Qur’an adalah mukjizat; 2) kepastiannya mutlak; 3) membacanya dianggap ibadah; 4) wajib disampaikan dengan lafalnya. Sedang hadis kudsi, sekalipun ada yang berpendapat lafalnya juga diturunkan, tidaklah demikian halnya.
Hadis nabawi ada dua macam: Pertama: Yang merupakan ijtihad Rasulullah s.a.w. Ini bukanlah wahyu. Pengakuan wahyu terhadapnya dengan cara membiarkan, hanyalah bila ijtihad itu benar, Kedua: Yang maknanya diwahyukan, sedang lafalnya dari Rasulullah sendiri. Oleh sebab itu, ini dapat dinyatakan dengan maknanya saja. Hadis kudsi itu menurut pendapat yang kuat, maknanya saja yang diturunkan, sedang lafalnya tidak. Ia termasuk ke dalam bagian yang kedua ini. Sedang menisbahkan hadis kudsi kepada Allah dalam periwayatannya karena adanya nas syara’ tentang itu; sedang hadits-hadits nabawi lainnya tidak.









One Comment