Ulumul Quran

Terjemah Kitab Mabahits Fi Ulumil Qur’an Karya Manna Al Qattan

MAKKI DAN MADANI

Semua bangsa berusaha keras untuk melestarikan warisan pemikiran dan sendi-sendi kebudayaannya. Demikian juga umat Islam amat memperhatikan kelestarian risalah Muhammad yang memuliakan semua umat manusia. Itu disebabkan risalah Muhammad bukan sekedar risalah ilmu dan pembaharuan yang hanya diperhatikan sepanjang diterima akal dan mendapat respons manusia; tetapi, di atas itu semua, ia agama yang melekat pada akal dan terpateri dalam hati. Oleh sebab itu kita dapati para pengemban petunjuk yang terdiri atas para sahabat, tabi‘in dan generasi sesudahnya meneliti dengan cermat tempat turunnya Qur’an ayat demi ayat, baik dalam hal waktu ataupun tempatnya. Penelitian ini merupakan pilar kuat dalam sejarah perundang-undangan yang menjadi landasan bagi para peneliti untuk mengetahui metode dakwah, macam-macam seruan, dan pentahapan dalam penetapan hukum dan perintah. Mengenai hal ini antara lain seperti dikatakan oleh Ibn Mas‘ud r.a.:

“Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, setiap surah Qur’an kuketahui di mana surah itu diturunkan; dan tiada satu ayat pun dari Kitab Allah kecuali pasti kuketahui mengenai apa ayat itu diturunkan. Sekiranya aku tahu ada seseorang yang lebih tahu daripadaku mengenai Kitab Allah, dan dapat kujangkau orang itu dengan untaku, pasti aku pacu untaku kepadanya.”!

Dakwah menuju jalan Allah itu memerlukan metode tertentu dalam menghadapi segala kerusakan akidah, perundang-undangan dan perilaku. Beban dakwah itu baru diwajibkan setelah benih subur tersedia baginya dan pondasi kuat telah dipersiapkan untuk membawanya, Dan asas-asas perundang-undangan dan aturan sosialnya juga bar digariskan setelah hati manusia dibersihkan dan tujuannya ditentukan, sehingga kehidupan yang teratur dapat terbentuk atas dasar bimbingan dari Allah.

Orang yang membaca al-Qur’anul Karim akan melihat bahwa ayat-ayat Makkiah mengandung karakteristik yang tidak ada dalam ayat-ayat Madaniah, baik dalam irama maupun maknanya; sekalipun yang kedua ini didasarkan pada yang pertama dalam hukum-hukum dan perundang-undangannya.

Pada zaman jahiliah masyarakat sedang dalam keadaan buta dan tuli, menyembah berhala, mempersekutukan Allah, mengingkari wahyu, mendustakan hari akhir dan mereka mengatakan:

“Apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang-belulang, benarkah kami akan dibangkitkan kembali?” (as-Saffat (37]:16).

“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja kita mati dan kita hidup dan yang akan membinasakan kita hanyalah waktu.” (al Jasiyah [45]:24).

Mereka ahli bertengkar yang sengit sekali, tukang berdebat dengan kata-kata pedas dan retorika luar biasa, sehingga wahyu Makki (yang diturunkan di Mekah) juga berupa goncangan-goncangan yang mencekam, menyala-nyala seperti api yang memberi tanda bahaya disertai argumentasi sangat tegas dan kuat. Semua ini dapat menghancurkan keyakinan mereka pada berhala, kemudian mengajak mereka kepada agama tauhid. Dengan demikian tabir kebobrokan mereka berhasil dirobek-robek, begitu juga segala impian mereka dapat dilenyapkan dengan memberikan contoh-contoh kehidupan akhirat, surga dan neraka yang terdapat di dalamnya. Mereka yang begitu fasih berbahasa dengan kebiasaan retorika tinggi, ditantang agar membuat seperti apa yang ada di dalam Qur’an, dengan mengemukakan kisah-kisah para pendusta terdahulu sebagai pelajaran dan peringatan.

Demikianlah, akan kita lihat Qur’an Surah Makkiah itu penuh dengan ungkapan-ungkapan yang kedengarannya amat keras di telinga, huruf-hurufnya seolah melontarkan api ancaman dan siksaan, masingmasing sebagai penahan dan pencegah, sebagai suara pembawa malapetaka, seperti dalam Surah Qari‘ah, Gasyiah dan Waqi‘ah, dengan huruf-huruf hijatyah pada permulaan Surah, dan ayat-ayat berisi tantangan di dalamnya, nasib umat-umat terdahulu, bukti-bukti alamiah dan yang dapat diterima akal. Semua ini menjadi ciri-ciri Qur’an Surah Makkiah.

Setelah terbentuk jemaah yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab dan Rasul-Nya, kepada hari akhir dan qadar, baik dan buruknya, serta akidahnya telah diuji dengan berbagai cobaan dari orang musyrik dan ternyata dapat bertahan, dan dengan agamanya itu mereka berhijrah karena lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada kesenangan hidup duniawi maka di saat itu kita melihat ayat-ayat Madaniah yang panjang-panjang membicarakan hukum-hukum Islam serta ketentuan-ketentuannya, mengajak berjihad dan berkurban di jalan Allah kemudian menjelaskan dasar-dasar perundang-undangan, meletakkan kaidah-kaidah kemasyarakatan, menentukan hubungan pribadi, hubungan internasional dan antar-bangsa. Juga menyingkapkan aib dan isi hati orang-orang munafik, berdialog dengan Ahli Kitab dan membungkam mulut mereka. Inilah ciri-ciri umum Qur’an yang Madani.

Perhatian Para Ulama terhadap Surah Makki dan Madani

serta Contoh dan Faedahnya

Para ulama begitu tertarik untuk menyelidiki Surah-surah Makki dan Madani. Mereka meneliti Qur’an ayat demi ayat dan surah dem; surah untuk ditertibkan sesuai dengan nuzulnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Bahkan lebih dari itu, mereka mengumpulkan antara waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti objektif, gambaran mengenai penyelidikan ilmiah tentang ilmu Makki dan Madani. Dan itu pula sikap ulama kita dalam melakukan pembahasan. pembahasan terhadap aspek kajian Qur’an lainnya.

Memang suatu usaha besar bila seorang peneliti menyelidiki turunnya wahyu dalam segala tahapannya, mempelajari ayat-ayat Qur’an sehingga dapat menentukan waktu serta tempat turunnya dan, dengan bantuan tema surah atau ayat, merumuskan kaidah-kaidah analogis untuk menentukan apakah sebuah seruan itu termasuk Makki atau Madani, ataukah ia merupakan tema-tema yang menjadi titik tolak dakwah di Mekah atau di Medinah. Apabila sesuatu masalah masih kurang jelas bagi seorang peneliti karena terlalu banyak alasan yang berbeda-beda, maka ia kumpulkan, perbandingkan dan mengklasifikasikannya mana yang serupa dengan yang turun di Mekah dan mana pula yang serupa dengan yang turun di Medinah.

Apabila ayat-ayat itu turun di suatu tempat, kemudian oleh salah seorang sahabat dibawa segera setelah diturunkan untuk disampaikan di tempat lain, maka para ulama pun akan menetapkan seperti itu. Mereka berkata: ’Ayat yang dibawa dari Mekah ke Medinah, dan ayat yang dibawa dari Medinah ke Mekah.”’

Abul Qasim al-Hasan bin Muhammad bin Habib an-Naisaburi menyebutkan dalam kitabnya at-Tanbih ‘ala fadli ‘Ulaumil Qur’an: ”’Di antara ilmu-ilmu Qur’an yang paling mulia adalah ilmu tentang nuzul Qur’an dan daerahnya, urutan turunnya di Mekah dan Medinah, tentang yang diturunkan di Mekah tetapi hukumnya Madani dan sebaliknya, yang diturunkan di Mekah mengenai penduduk Medinah dan sebaliknya, yang serupa dengan yang diturunkan di Mekah Makkil tetapi termasuk Madani dan sebaliknya, dan tentang yang diturunkap di Juhfah, di Baitul Makdis, di Ta’if atau di Hudaibiyah. Demikian juga tentang yang diturunkan di waktu malam, di waktu siang, diturunkan secara bersama-sama,” atau yang diturunkan secara tersendiri, ayat-ayat Madaniah dari surah-surah Makkiah, ayat-ayat Makkiah dalam surah-surah Madaniah; yang dibawa dari Mekah ke Medinah dan yang dibawa dari Medinah ke Mekah; yang dibawa dari Medinah ke Abisinia, yang diturunkan dalam bentuk global dan yang telah dijelaskan, serta yang diperselisihkan sehingga sebagian orang mengatakan Madani dan sebagian lain mengatakan Makki. Itu semua ada duapuluh lima macam. Orang yang tidak mengetahuinya dan tak dapat membeda-bedakannya, ia tidak berhak berbicara tentang Qur’an.”?

Para ulama sangat memperhatikan Qur’an dengan cermat. Mereka menertibkan surah-surah sesuai dengan tempat turunnya. Mereka mengatakan misalnya: Surah ini diturunkan setelah surah itu.” Dan bahkan lebih cermat lagi sehingga mereka membedakan antara yang diturunkan di malam hari dengan yang diturunkan di siang hari, antara yang diturunkan di musim panas dengan yang diturunkan di musim dingin, dan antara yang diturunkan di waktu sedang berada di rumah dengan yang diturunkan di saat bepergian.

Yang terpenting dipelajari para ulama dalam pembahasan ini ialah: 1) Yang diturunkan di Mekah 2) yang diturunkan di Medinah; 3) yang diperselisihkan; 4) ayat-ayat Makkiah dalam surah-surah Madaniah; 5) ayat-ayat Madaniah dalam surah-surah Makkiah; 6) yang diturunkan di Mekah sedang hukumnya Madani; 7) yang diturunkan di Medinah sedang hukumnya Makki; 8) yang serupa dengan yang diturunkan di Mekah (Makki] dalam kelompok Madani; 9) yang serupa dengan yang diturunkan di Medinah [Madani] dalam kelompok Makki; 10) yang dibawa dari Mekah ke Medinah; 11) yang dibawa dari Medinah ke Mekah 12) yang turun di waktu malam dan di waktu siang; 13) yang turun di musim panas dan di musim dingin; 14) yang turun di waktu menetap dan dalam perjalanan.

Inilah macam-macam ilmu Qur’an yang pokok, berkisar di sekitar Makki dan Madani; oleh karenanya dinamakan ”ilmu Makki dan Madani.”

Beberapa contoh:

1, 2, 3. Pendapat yang paling mendekati kebenaran tentang bilangan surah-surah Makkiah dan Madaniah ialah bahwa Madaniah ada dua puluh surah: 1) al-Baqarah; 2) Ali ‘Imran; 3) an-Nisa’; 4) al. Ma’idah; 5) al-Anfal; 6) at-Taubah; 7) an-Nur; 8) al-Ahzab; 9) Mu, hammad; 10) al-Fath; 11) al-Hujurat; 12) al-Hadid; 13) al-Mujadalah. 14) al-Hasyr; 15) al-Mumtahanah; 16) al-Jumu‘ah; 17) al-Munafiqun; 18) at-Talaq; 19) at-Tahrim; dan 20) an-Nasr.

Sedang yang diperselisihkan ada dua belas surah: 1) al-Fatihah, 2) ar-Ra‘d; 3) ar-Rahman; 4) as-Saff; 5) at-Tagabun; 6) at-Tatfif; 7) al-Qadar; 8) al-Bayyinah; 9) az-Zalzalah; 10) al-Ikhlas; 11) al-Falag: dan 12) an-Nas.

Selain yang disebutkan di atas adalah Makki, yaitu delapan puluh dua surah. Maka jumlah surah-surah Qur’an itu semuanya seratus empat belas surah.

Ayat-ayat Makkiah dalam = surah-surah Madaniah. Dengan menamakan sebuah surah itu Makkiah atau Madaniah tidak berarti bahwa surah tersebut seluruhnya Makkiah atau Madaniah, sebab di dalam surah Makkiah terkadang terdapat ayat-ayat Madaniah, dan di dalam surah Madaniah pun terkadang terdapat ayat-ayat Makkiah. Dengan demikian, penamaan surah itu Makkiah atau Madaniah adalah menurut sebagian besar ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Karena itu, dalam penamaan surah sering disebutkan bahwa surah itu Makkiah kecuali ayat “anu” adalah Madaniah; dan surah ini Madaniah kecuali ayat “anu” adalah Makkiah. Demikianlah, kita jumpai di dalam mushaf-mushaf Qur’an.

Di antara sekian contoh ayat-ayat Makkiah dalam surah Madaniah ialah surah al-Anfal itu Madaniah, tetapi banyak ulama mengecualikan ayat:

”Dan (ingatlah) ketika orang kafir (Quraisy) membuat makar terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka membuat makar, tetapi Allah menggagalkan makar mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas makar.”’ (al-Anfal [8]:30).

Mengenai ayat ini Muqatil mengatakan: ’Ayat ini diturunkan di Mekah; dan pada lahirnya memang demikian, sebab ia mengandung apa yang dilakukan orang musyrik di Darun Nadwah ketika mereka merencanakan tipu daya terhadap Rasulullah sebelum hijrah”. Sebagian ulama mengecualikan pula ayat: “Wahai Nabi, cukuplah Allah dan orang-orang mukmin yang mengikutimu menjadi penolongmu.” (al-Anfal [8]:64), mengingat hadis yang dikeluarkan oleh al-Bazzar dari Ibn Abbas, bahwa ayat itu diturunkan ketika Umar bin Khattab masuk Islam.

Ayat-ayat Madaniah dalam surah Makkiah. Misalnya surah al An’am. Ibn Abbas berkata: Surah ini diturunkan sekaligus di Mekah, maka ia Makkiah, kecuali tiga ayat diturunkan di Medinah, yaitu ayat: ”Katakanlah: Marilah aku bacakan…” sampai dengan ketiga ayat itu selesai (al-An‘am [6]:151-153). Dan surah al-Hajj adalah Makkiah kecuali tiga ayat diturunkau di Medinah, dari awal firman Allah: ”Inilah dua golongan yang bertengkar mengenai Tuhan mereka…” (al Hajj [22]:19-21).

Ayat yang diturunkan di Mekah sedang hukumnya Madani. Mereka memberi contoh dengan firman Allah:

”Wahai manusia, Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.” (al-Hujurat [49]:13).

Ayat ini diturunkan di Mekah pada hari penaklukan kota Mekah, tetapi sebenarnya Madaniah karena diturunkan sesudah hijrah; di Samping itu seruannya pun bersifat umum. Ayat seperti ini oleh Para ulama tidak dinamakan Makki dan tidak juga dinamakan Madanj Secara pasti. Tetapi mereka katakan ’’ayat yang diturunkan di Mekah sedang hukumnya Madani.”’

Ayat yang diturunkan di Medinah sedang hukumnya Makki. Mereka memberi contoh dengan surah al-Mumtahanah. Surah ini dij. turunkan di Medinah dilihat dari segi tempat turunnya; tetapi seruan. nya ditujukan kepada orang musyrik penduduk Mekah. Juga sepertj permulaan surah al-Bara’ah yang diturunkan di Medinah, tetapi se. ruannya ditujukan kepada orang-orang musyrik penduduk Mekah.

Ayat yang serupa dengan yang diturunkan di Mekah [Makki] dalam Madani. Yang dimaksud oleh para ulama ialah ayat-ayat yang dalam surah Madaniah tetapi mempunyai gaya bahasa dan Ciri-cirj umum surah Makkiah. Contohnya firman Allah dalam surah al-Anfal yang Madaniah:

“Dan (ingatlah) ketika mereka golongan musyrik berkata: Ya Allah, jika benar (Qur’an) ini dari Engkau, hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (al-Anfal [8):32). Ini mengingat permintaan kaum musyrikin untuk disegerakan azab itu adalah di Mekah.

Yang serupa dengan yang diturunkan di Medinah [Madani] dalam Makki. Yang dimaksud oleh para ulama ialah kebalikan dari yang sebelumnya (no. 8). Mereka memberi contoh dengan firman Allah dalam surah an-Najm:

“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil.” (an-Najm [53]:32).

As-Suyuti mengatakan: ”Perbuatan keji ialah setiap dosa yang ada sanksinya. Dosa-dosa besar ialah setiap dosa yang mengakibatkan siksa neraka. Dan kesalahan-kesalahan kecil ialah apa yang terdapat di antara kedua batas dosa-dosa di atas. Sedang di Mekah belum ada sanksi dan yang serupa dengannya.”

Ayat yang dibawa dari Mekah ke Medinah. Contohnya ialah surah al-A‘la. Diriwayatkan oleh Bukhari dari al-Barra bin ‘Azib yang mengatakan: “Orang yang pertama kali datang kepada kami dari para sahabat Nabi adalah Mus‘ab bin ‘Umair dan Ibn Ummi Maktum. Keduanya membacakan Qur’an kepada kami. Sesudah itu datanglah ‘Amar, Bilal dan Sa‘d. Kemudian datang pula Umar bin Khattab sebagai orang yang kedua puluh. Baru setelah itu datanglah Nabi. Aku melihat penduduk Medinah bergembira setelah aku membacakan Sabbihisma rabbikal a‘la dari antara surah yang semisal dengannya.” Pengertian ini cocok dengan Qur’an yang dibawa oleh golongan Muhajirin, lalu mereka ajarkan kepada kaum Ansar.

Yang dibawa dari Medinah ke Mekah. Contohnya ialah awal surah al-Bara’ah, yaitu ketika Rasulullah memerintahkan kepada Abu Bakar untuk berhaji pada tahun kesembilan. Ketika awal surah al-Bara’ah turun, Rasul memerintahkan Ali bin Abu Talib untuk membawa ayat tersebut kepada Abu Bakar, agar ia sampaikan kepada kaum musyrikin. Maka Abu Bakar membacakannya kepada mereka dan mengumumkan bahwa setelah tahun ini tidak seorang musyrik pun diperbolehkan berhaji.

Ayat yang turun pada malam hari dan pada siang hari. Kebanyakan ayat Qur’an itu turun pada siang hari. Mengenai yang diturunkan pada malam hari Abul Qasim al-Hasan bin Muhammad bin Habib an-Naisaburi telah menelitinya. Dia memberikan beberapa contoh, di antaranya: bagian-bagian akhir surah Ali ‘Imran. Ibn Hibban dalam kitab Sahih-nya, Ibnul Munzir, Ibn Mardawaih dan Ibn Abud Dunya, meriwayatkan dari Aisyah r.a.:

Bilal datang kepada Nabi untuk memberitahukan waktu salat subuh; tetapi ia melihat Nabi sedang menangis. Ia bertanya: ”Rasulullah, apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Nabi menjawab:

“Bagaimana saya tidak menangis padahal tadi malam diturunkan kepadaku, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta per. gantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (Ali ‘Imran [3]:190). Kemudian katanya: ’Celakalah orang yang membacanya, tetapi tidak memikirkannya.”

Contoh lain ialah ayat mengenai tiga orang yang tidak ikut berperang. Terdapat dalam Sahih Bukhari dan Muslim, hadis Ka‘b: ”Allah menerima taubat kami pada sepertiga malam yang terakhir.”

Contoh lainnya ialah awal surah al-Fath. Terdapat dalam Sahih Bukhari, dari hadis Umar:

”Telah diturunkan kepadaku pada malam ini sebuah surah yang lebih aku sukai daripada apa yang disinari matahari.” Kemudian beliau membacakan: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”’

Yang turun di musim panas dan musim dingin. Para ulama memberi contoh ayat yang turun di musim panas dengan ayat tentang kalalah yang terdapat di akhir surah an-Nisa’. Dalam Sahih Muslim, dari Umar, dikemukakan:

Tidak ada yang sering kutanyakan kepada Rasulullah tentang sesuatu seperti pertanyaanku mengenai kalalah. Dan ia pun tidak pernah bersikap kasar tentang sesuatu urusan seperti sikapnya kepadaku mengenai soal kalalah ini; sampai-sampai ia menekan dadaku dengan jarinya sambil berkata: “Umar, belum cukupkah bagimu satu ayat yang diturunkan pada musim panas yang terdapat di akhir Surah an-Nisa’

Contoh lain ialah ayat-ayat yang turun dalam perang Tabuk. Perang Tabuk itu terjadi pada musim panas yang berat sekali, seperti dinyatakan dalam Qur’an.

Sedang untuk yang turun di musim dingin mereka contohkan dengan ayat-ayat mengenai “tuduhan bohong” yang terdapat dalam surah an-Nur: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga…” sampai dengan “Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia.” (an-Nur [24]:11-26).

Dalam hadis sahih dari Aisyah disebutkan:

“Ayat-ayat itu turun pada hari yang dingin.” Contoh lain adalah ayat-ayat yang turun mengenai perang Khandaq, dari surah Ahzab Ayat-ayat itu turun pada hari yang amat dingin.

Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah, dari Huzaifah yang mengatakan:

“Orang-orang meninggalkan Rasulullah pada malam peristiwa Ahzab, kecuali duabelas orang lelaki. Lalu Rasulullah datang kepadaku, dan berkata: ’Bangkit dan berangkatlah ke medan Perang Ahzab!’ Aku menjawab: ’Ya Rasulullah, demi yang mengutus engkau dengan sebenarnya, aku mematuhi engkau karena malu, sebab hari dingin sekali.’ Lalu turun wahyu Allah: Wahai orang beriman, ingatlah akan nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu ketika datang kepadamu tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat. Dan Allah Maha Melihat segala yang kamu kerjakan.” (al-Ahzab [33]:9).

Yang turun di waktu menetap dan yang turun di dalam perjalanan. Kebanyakan dari Qur’an itu turun di waktu menetap. Tetapi peri kehidupan Rasulullah penuh dengan jihad dan peperangan di jalan Allah, sehingga wahyu pun turun juga dalam perjalanan ‘tersebut. Suyuti menyebutkan banyak contoh ayat yang turun dalam perjalanan. Di antaranya ialah awal surah al-Anfal yang turun di Badar setelah selesai perang, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad melalui Sa‘d bin Abi Waqqas. Dan ayat:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah…” (at-Taubah [9]:34).

Diriwayatkan oleh Ahmad melalui Sauban, bahwa ayat tersebut turun ketika Rasulullah dalam salah satu perjalanan. Juga awal Surah al-Hajj. Tirmizi dan Hakim meriwayatkan melalui ‘Imran bin Husain yang mengatakan: “Ketika turun kepada Nabi ayat: Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar… sampai dengan firman-Nya: tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (al-Hajj [22]:12).”

Ayat ini diturunkan kepada Nabi sewaktu dalam perjalanan. Begitu juga surah al-Fath. Diriwayatkan oleh Hakim dan yang lain, melalui al-Miswar bin Makhramah dan Marwan bin al-Hakam, keduanya berkata: ’Surah al-Fath, dari awal sampai akhir, turun di antara Mekah dan Medinah mengenai soal Hudaibiyah.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker