Ulumul Quran

Terjemah Kitab Mabahits Fi Ulumil Qur’an Karya Manna Al Qattan

Turunnya Qur’an Secara Bertahap Allah berfirman dalam Qur’an:

”Dan Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam; dia dibawa turun oleh ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan; dengan bahasa Arab yang jelas.” (asy-Syu‘ara’ [26]:192-195). Dan firman-Nya:

“Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.” (an-Nahl [16]:102).

Dan firman-Nya:

“Kitab ini diturunkan dari Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.” (al-Jasiyah [45]:2).

Dan firman-Nya:

“Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah saja yang semisal Qur’an itu.” (al-Baqarah [2]:23).

Dan firman-Nya:

”Katakanlah: ’Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (al Baqarah [2]:97).

Ayat-ayat diatas menyatakan bahwa al-Qur’anul Karim adalah kalam Allah dengan lafalnya yang berbahasa Arab; dan bahwa Jibril telah menurunkannya ke dalam hati Rasulullah s.a.w.; dan bahwa turunnya ini bukanlah turunnya yang pertama kali ke langit dunia, Tetapi yang dimaksudkan adalah turunnya Qur’an secara bertahap. Ungkapan (untuk arti menurunkan) dalam ayat-ayat di atas menggunakan kata tanzil bukannya inzal. Ini menunjukkan bahwa turunnya itu secara bertahap dan berangsur-angsur. Ulama bahasa membedakan antara inzal dengan tanzil. Tanzil berarti turun secara berangsur-angsur sedang inzal hanya menunjukkan turun atau menurunkan dalam arti umum.

Qur’an turun secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun: tiga belas tahun di Mekah menurut pendapat yang kuat, dan sepuluh tahun di Medinah. Penjelasan tentang turunnya secara berangsur itu terdapat dalam firman Allah:

“Dan Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (al-Isra’ [17]:106).

Maksudnya: Kami telah menjadikan turunnya Qur’an itu secara berangsur agar kamu membacakannya kepada manusia secara perlahan dan teliti dan Kami menurunkannya bagian demi bagian sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian.

Adapun kitab-kitab samawi yang lain, seperti Taurat, Injil dan Zabur, turunnya sekaligus, tidak turun secara berangsur-angsur. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya:

“Dan berkatalah orang-orang yang kafir: ’Mengapa Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok.” (al-Furqan [25):32).

Ayat ini menunjukkan bahwa kitab-kitab samawi yang terdahulu itu turun sekaligus. Dan inilah pendapat yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama. Seandainya kitab-kitab yang terdahulu itu turun secara berangsur-angsur, tentulah orang-orang kafir tidak akan merasa heran terhadap Qur’an yang turun secara berangsur-angsur. Makna kata-kata mereka, ’Mengapa Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja’ seperti halnya kitab-kitab yang lain. Mengapa ia diturunkan secara bertahap? Mengapa ia diturunkan secara berangsur-angsur? Allah tidak menjawab mereka bahwa ini adalah Sunnah-Nya di dalam menurunkan semua kitab samawi sebagaimana Dia menjawab kata-kata mereka:

“Dan mereka berkata: Mengapa rasul int memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?” (al-Furqan [25]:7) dengan jawaban:

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (al-Furqan (25]:20), dan seperti Dia menjawab ucapan mereka:

“Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?” (al-Isra’ [17]:94) dengan jawaban:

*Katakanlah: ‘Kalau Seandainya ada malaikat-malaikat Yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul.’” (al-Isra’ [17]:95) dan dengan firman-Nya:

“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. (alAnbiya’ [21]:7).

Tetapi Allah menjawab mereka dengan menjelaskan hikmah mengapa Qur’an diturunkan secara bertahap dengan firman-Nya: ”Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu”, maksudnya: Demikianlah Kami menurunkan Qur’an secara bertahap dan terpisah-pisah karena suatu hikmah, yaitu untuk memperkuat hati Rasulullah. “Dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok”, maksudnya: Kami menentukannya seayat demi seayat atau bagian demi bagian, atau Kami menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya, karena turunnya yang bertahap sesuai dengan peristiwa-peristiwa itu lebih dapat memudahkan hafalan dan pemahaman yang merupakan salah satu penyebab kemantapan (di dalam hati).

Penelitian terhadap hadis-hadis sahih menyatakan bahwa Qur’an turun menurut keperluan, terkadang turun lima ayat, terkadang sepuluh ayat, terkadang lebih banyak dari itu atau lebih sedikit. Terdapat hadis sahih yang menjelaskan sepuluh ayat telah turun sekaligus berkenaan dengan berita bohong tentang Aisyah. Dan telah turun pula sepuluh ayat dalam permulaan Surah Mukminun secara sekaligus. Dan telah turun pula, …yang tidak mempunyai alasan (gaira ulid darari) saja yang merupakan bagian dari suatu ayat.

Hikmah Turunnya Qur’an Secara Bertahap

Kita dapat menyimpulkan hikmah turunnya Qur’an secara bertahap dari nas-nas yang berkenaan dengan hal itu. Dan kami meringkaskannya sebagai berikut:

Hikmah pertama: Menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah s.a.w.

Rasulullah s.a.w. telah menyampaikan dakwahnya kepada manusia, tetapi ia menghadapi sikap mereka yang membangkang dan watak yang begitu keras. Ja ditantang oleh orang-orang yang berhati batu, berperangai kasar dan keras kepala. Mereka senantiasa melemparkan berbagai macam gangguan dan ancaman kepada Rasul. Padahal dengan hati tulus ia ingin menyampaikan segala yang baik kepada mereka, sehingga dalam hal ini Allah mengatakan:

”Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan int (Qur’an).” (al-Kahfi [18]:6).

Wahyu turun kepada Rasulullah s.a.w. dari waktu ke waktu sehingga dapat meneguhkan hatinya atas dasar kebenaran dan memperkuat kemauannya untuk tetap melangkahkan kaki di jalan dakwah tanpa menghiraukan perlakuan jahil yang hadapinya dari masyarakatnya sendiri, karena yang demikian itu hanyalah kabut di musim panas yang segera akan berakhir.

Allah menjelaskan kepada Rasul akan Sunnah-sunnah-Nya yang berkenaan dengan para nabi terdahulu yang didustakan dan dianiaya oleh kaum mereka; tetapi mereka tetap bersabar sehingga datang pertolongan dari Allah. Dijelaskan pula bahwa kaum Rasulullah itu mendustakannya hanya karena kecongkakan dan kesombongan mereka, sehingga ia akan menemukan “sunnah ilahi’” dalam iring-iringan para nabi sepanjang sejarah. Yang demikian ini dapat menjadi hiburan dan penerang baginya dalam menghadapi gangguan dan cobaan dari kaumnya dan dalam menghadapi sikap mereka yang selalu mendustakan dan menolaknya.

“Sesungguhnya Kami telah mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu. menyedihkan hatimu. Janganlah bersedih hati, karena sebenarnya mereka bukan mendustakan kamu, tetapi orang. orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.” (al-An‘am [6]:33-34).

“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan pula, mereka membawa mukjizat mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (Ali ‘Imran [3]:184).

Qur’an juga memerintahkan Rasul bersabar sebagaimana rasul-rasul sebelumnya:

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul telah bersabar.” (al-Ahqaf [46]:35).

Jiwa Rasul menjadi tenang karena Allah menjamin akan melindunginya dari gangguan orang-orang yang mendustakan firman-Nya:

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku saja bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan, dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.” (al-Muzzammil [73]:10-11).

Demikianlah hikmah yang terkandung dalam kisah para nabi yang terdapat di dalam Qur’an:

“Dan kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (Hud [11]:120).

Setiap kali penderitaan Rasulullah s.a.w. bertambah karena didustakan oleh kaumnya dan merasa sedih karena penganiayaan mereka, maka Qur’an turun untuk melepaskan derita dan menghiburnya serta mengancam orang-orang yang mendustakan bahwa Allah mengetahui hal-ihwal mereka dan akan membalas apa yang mereka Lakukan itu.

“Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.” (Yasin [36]:76).

“Dan janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Yunus [10)]:65).

Demikian pula Allah menyampaikan berita gembira kepadanya dengan ayat-ayat (yang isinya menjanjikan) perlindungan, kemenangan dan pertolongan:

“Allah memelihara kamu dari gangguan mereka.” (al-Ma’idah [5]:67).

“Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat.” (al-Fath [48]:3).

“Allah telah menetapkan: ’Aku dan rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Mahakuat dan Mahaperkasa.” (al-Mujadalah [58]:21).

Demikianlah, ayat-ayat Qur’an itu turun kepada Rasulullah secara berkesinambungan sebagai penghibur dan pendukung sehingga ia tidak dirundung kesedihan dan dihinggapi rasa putus asa. Di dalam kisah para nabi itu terdapat teladan baginya. Dalam nasib yang akan menimpa orang-orang yang mendustakan terdapat hiburan baginya. Dan dalam janji akan memperoleh pertolongan Allah terdapat berita gembira baginya. Setiap kali ia merasa sedih sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia ayat-ayat penghibur pun datang berulang kali sehingga ia berketetapan hati untuk melanjutkan dakwah dan merasa tenteram dengan pertolongan Allah.

Dengan hikmah yang demikianlah Allah menjawab pertanyaan orang-orang kafir mengapa Qur’an diturunkan secara bertahap, dengan firman-Nya:

”Demikianlah, supaya Kami memperkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok.” (al-Furqan [25]:32).

Abi Syamah berkata: ’Apabila ditanya: Apakah rahasia Qur’an diturunkan secara bertahap dan mengapakah ia tidak diturunkan sekaligus seperti halnya kitab-kitab yang lain? Kami menjawab: Pertanyaan yang demikian ini sudah dijawab oleh Allah. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang kafir berkata: Mengapa Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?). Mereka bermaksud, mengapa Qur’an tidak diturunkan kepadanya seperti halnya kitab-kitab lain yang diturunkan kepada para rasul sebelum dia. Maka Allah menjawab pertanyaan mereka dengan firman-Nya: “Demikianlah, (Kami menurunkannya secara berangsur) untuk memperkuat hatimu dengannya). Sebab apabila wahyu selalu baharu dalam setiap peristiwa, maka pengaruhnya dalam hati menjadi kuat dan orang yang menerimanya mendapat perhatian. Hal yang demikian ini menghendaki seringnya malaikat turun kepadanya, kebaharuan situasi dan risalah yang dibawanya dari sisi Allah Yang Mahaperkasa. Hal ini menimbulkan kegembiraan di hati Rasul s.a.w. yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Itulah sebabnya, Rasulullah sangat bermurah hati di bulan-bulan Ramadan karena dalam bulan ini Jibril sering menemuinya.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker