Ulumul Quran

Terjemah Kitab Mabahits Fi Ulumil Qur’an Karya Manna Al Qattan

Cara Wahyu Allah Turun kepada Para Rasul

Allah memberikan wahyu kepada para rasul-Nya ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak melalui perantaraan.

Yang pertama: melalui Jibril, malaikat pembawa wahyu. Dan hal ini akan kami jelaskan nanti.

Yang kedua: tanpa melalui perantaraan, di antaranya ialah: mimpi yang benar dalam tidur.

Mimpi yang benar di dalam tidur.

Dari Aisyah r.a, dia berkata: Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah s.a.w. adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya pagi hari.”

Hal itu merupakan persiapan bagi Rasulullah untuk menerima wahyu dalam keadaan sadar, tidak tidur. Di dalam Qur’an wahyu diturunkan ketika beliau dalam keadaan sadar, kecuali bagi orang yang mendakwakan bahwa Surah Kausar diturunkan melalui mimpi, karena adanya satu hadis mengenai hal itu. Di dalam Sahih Muslim, dari Anas r.a., dia berkata:

”Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar. Maka tatkala anak itu telah sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ’Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia menjawab: ’Wahai bapak, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar’. Tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan kami panggillah dia: ’’Wahai Ibrahim, sesungguh engkau telah membenarkan mimpi itu’, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian, yaitu ’Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishak. seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.” (as-Saffat [37]:101-112).

Mimpi yang benar itu tidaklah khusus bagi para rasul saja. Mimpi yang demikian itu tetap ada pada kaum Mukminin, sekalipun mimpi itu bukan wahyu; hal itu seperti dikatakan oleh Rasulullah S.A.W.:

“Wahyu telah terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin.”

Mimpi yang benar bagi para nabi di waktu tidur itu merupakan bagian pertama dari sekian macam cara Allah berbicara seperti disebutkan di dalam firman-Nya:

”Dan tiada seorang manusia pun Allah akan berbicara kepadanya, kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari balik tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Dia sungguh Mahatinggi dan Mahabijaksana.” (asy-Syura [42]:51).

Yang lain ialah kalam ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara. Yang demikian itu terjadi pada Musa a.s.

“Dan tatkala Musa datang untuk munajat dengan Kami di waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, Musa berkata: ’Wahai Tuhan, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (al-A‘raf [7]:143).

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (al-Ma’ idah [5]:164).

Demikian pula menurut pendapat yang paling sah, Allah pun telah berbicara secara langsung kepada Rasul kita Muhammad s.a.w. pada malam Isra dan Mi’raj. Yang demikian ini yang termasuk bagian kedua dari apa yang disebutkan oleh ayat di atas (atau dari balik tabir), Dan di dalam Qur’an wahyu macam ini pun tidak ada.

Cara Penyampaian Wahyu oleh Malaikat kepada Rasul

Wahyu Allah kepada para Nabi-Nya itu adakalanya tanpa perantaraan, seperti yang telah kami sebutkan di atas, misalnya mimpi yang benar di waktu tidur dan kalam ilahi dari balik tabir dalam keadaan jaga yang disadari; dan adakalanya melalui perantaraan malaikat wahyu. Wahyu dengan perantaraan malaikat wahyu inilah yang hendak kami bicarakan dalam topik ini, karena Qur’an diturunkan dengan wahyu macam ini.

Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul:

Cara pertama: Datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat buat Rasul. Apabila wahyu yang turun kepada Rasulullah s.a.w. dengan cara ini, maka ia mengumpulkan segala -kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Dan suara itu mungkin sekali suara kepakan sayap-sayap para malaikat, seperti diisyaratkan di dalam hadis:

”Apabila Allah menghendaki suatu urusan di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firmanNya, bagaikan gemercingnya mata rantai di atas batu-batu yang licin.”

Dan mungkin pula suara malaikat itu sendiri pada waktu Rasul baru mendengarnya untuk yang pertama kali.

Cara kedua: malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara yang demikian itu lebih ringan daripada cara yang sebelumnya, karena adanya kesesuaian antara pembicara dengan pendengar. Rasul merasa senang sekali mendengarkan dari utusan pembawa wahyu itu, karena merasa seperti seorang manusia yang berhadapan dengan saudaranya sendiri.

Keadaan Jibril menampakkan dirt seperti seorang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia melepaskan sifat kerohaniannya. Dan tidak pula berarti bahwa zatnya telah berubah menjadi seorang laki-laki. Tetapi yang dimaksudkan ialah bahwa dia menampakkan diri dalam bentuk manusia tadi untuk menyenangkan Rasulullah sebagai manusia. Yang sudah pasti keadaan pertama tatkala wahyu turun seperti dencingan lonceng tidak menyenangkan karena keadaan yang demikian menuntut ketinggian rohani dari Rasulullah yang seimbang dengan tingkat kerohanian malaikat. Dan inilah yang paling berat. Kata Ibn Khaldun: ’Dalam keadaan yang pertama, Rasulullah melepaskan kodratnya sebagai manusia yang bersifat jasmani untuk berhubungan dengan malaikat yang rohani sifatnya. Sedang dalam keadaan lain sebaliknya, malaikat berubah dari yang rohani semata menjadi manusia jasman?’.

Keduanya itu tersebut dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin r.a., bahwa Haris bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah s.a.w. mengenai hal itu. Dan jawab Nabt:

”Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, dan aku pun memahami apa yang dia katakan.”

Aisyah juga meriwayatkan apa yang dialami oleh Rasulullah s.a.w. berupa kepayahan, dia berkata:

“Aku pernah melihatnya tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang amat dingin. Lalu malaikat itu pergi, sedang keringat pun mengucur dari dahi Rasulullah.”

Keduanya itu merupakan macam ketiga pembicaraan ilahi yang diisyaratkan di dalam ayat: “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan: perantaraan wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan laly diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang ia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi dan Mahabijaksana.” (asy-Syura [47]:S1).

Mengenai hembusan di dalam hati, telah disebutkan di dalam hadis Rasulullah s.a.w:

”Roh Kudus telah menghembuskan ke dalam hatiku bahwa seseorang itu tidak akan mati sehingga dia menyempurnakan rezeki dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan carilah rezeki dengan jalan yang baik.”

Hadis ini tidak menunjukkan keadaan turunnya wahyu secara tersendiri. Hal itu mungkin dapat dikembalikan kepada salah satu dari dua keadaan yang tersebut di dalam hadis Aisyah. Mungkin malaikat datang kepada beliau dalam keadaan yang menyerupai dencingan lonceng, lalu dihembuskannya wahyu kepadanya. Dan kemungkinan pula bahwa wahyu yang melalui hembusan itu adalah wahyu selain Qur’an.

Keraguan Orang-orang yang Ingkar terhadap Wahyu

Orang-orang jahiliyah baik yang lama ataupun yang modern selalu berusaha untuk menimbulkan keraguan mengenai wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong. Keraguan demikian itu lemah sekali dan tidak dapat diterima.

Mereka mengira bahwa Qur’an dari pribadi Muhammad, dengan menciptakan maknanya dan dia sendiri pula yang menyusun “bentuk gaya bahasanya” Qur’an bukanlah wahyu. Ini adalah sangkaan yang batil. Apabila Rasulullah s.a.w. menghendaki kekuasaan untuk dirinya sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat-mukjizat untuk mendukung kekuasaannya, tidak perlu ia menisbahkan semua itu kepada pihak lain. Dapat saja menisbahkan Qur’an kepada dirinya sendiri, karena hal itu cukup untuk mengangkat kedudukannya dan menjadikan manusia tunduk kepada kekuasaannya, sebab kenyataannya semua orang Arab dengan segala kefasihan dan retorikanya tidak juga mampu menjawab tantangan itu. Bahkan mungkin ini lebih mendorong mereka untuk menerima kekuasaannya, karena dia juga salah seorang dari mereka yang dapat mendatangkan apa yang tidak mereka sanggupi.

Tidak pula dapat dikatakan bahwa dengan menisbahkan Qur’an kepada wahyu ilahi, ia menginginkan untuk menjadikan kata-katanya terhormat sehingga dengan itu ia dapat memperoleh sambutan manusia untuk menaati dan menuruti perintah-perintahnya, sebab dia juga mengeluarkan kata-kata yang dinisbahkan kepadanya pribadi, yaitu yang dinamakan hadis nabawi, yang juga wajib ditaati. Seandainya benar apa yang mereka tuduhkan, tentu kata-katanya akan dijadikannya sebagai kalam Allah Ta‘ala.

Sangkaan ini menggambarkan bahwa Rasulullah s.a.w. termasuk pemimpin yang menempuh cara-cara berdusta dan palsu untuk mencapai tujuan. Sangkaan itu ditolak oleh kenyataan sejarah tentang perilaku Rasulullah s.a.w., kejujuran dan keterpercayaannya yang terkenal, yang sudah disaksikan oleh musuh-musuhnya sebelum disaksikan oleh kawan-kawan sendiri.

Orang-orang munafik menuduh istrinya Aisyah dengan tuduhan berita bohong, padahal Aisyah seorang istri yang sangat dicintainya. Tuduhan yang demikian itu menyinggung kehormatan dan kemuliaannya. Sedang wahyu pun datang terlambat, Rasulullah dan para sahabat merasa sangat sedih sekali. Beliau berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk meneliti dan memusyawarahkan nya. Dan satu bulan pun telah berlalu, akan tetapi akhirnya ia hanya dapat mengatakan kepadanya:

”Telah sampai kepadaku berita yang begini dan begitu. Apabila engkau benar-benar bersih, maka Allah akan membersihkanmu. Dan apabila engkau telah berbuat dosa, mohon ampunlah engkau kepada Allah”

Keadaan berlangsung secara demikian hingga turunlah Wahyu yang menyatakan kebersihan istrinya itu. Maka apakah yang meng. alanginya untuk mengatakan kata-kata yang dapat mematahkan para penuduh itu dan melindungi kehormatannya, seandainya Qur’an kata. katanya sendiri. Tetapi dia tidak mau berdusta kepada manusia dan juga tidak mau berdusta kepada Allah.

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami, tentulah Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi Kami dari pemotongan urat nadi itu.” (al-Haqqah [69]:44-47).

Ada segolongan orang meminta izin untuk tidak ikut berperang di Tabuk. Mereka mengajukan alasan. Di antara mereka terdapat Orang-orang munafik yang sengaja mencari-cari alasan. Nabi mengizinkan mereka. Maka turunlah wahyu Qur’an mencela dan mempersalahkan tindakannya itu.

”Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu alasan mereka) dan sebelum kau ketahui mana mereka yang benar dan mana yang berdusta?” (at-Taubah [9]:43).

Seandainya teguran ini datang dari perasaannya sendiri dengan menyatakan penyesalannya ketika ternyata pendapatnya itu salah, tentulah teguran yang begitu keras itu tidak akan diungkapkannya.

Begitu pula teguran kepadanya karena ia menerima tebusan tawanan perang Badar.

”Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki pahala akhirat untukmu. Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, tentulah kamu akan ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (al-Anfal [8]:67-68).

Begitu juga adanya teguran karena berpaling dari ‘Abdullah bin Umm Maktum r.a. yang buta, karena menekuni salah seorang pembesar Quraisy untuk diajak masuk Islam.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya dari dosa, atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya, Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pengajaran, sedang dia takut kepada Allah, maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhanmu itu adalah suatu peringatan.” (‘Abasa [80]:1-11).

Yang dikenal dalam peri kehidupan Rasulullah s.a.w. adalah bahwa dia sejak kecil merupakan teladan yang khas dalam hal budi pekerti yang baik, perilaku yang mulia, ucapan yang benar dan kejujuran dalam kata dan perbuatan. Masyarakatnya sendiri pun telah menyaksikan itu semua ketika ia mengajak mereka pada permulaan dakwah. la berkata kepada mereka:

“Bagaimana pendapatmu sekiranya aku beritahukan kepadamu bahwa pasukan berkuda di balik lembah ini akan menyerangmu, percayakah kamu kepadaku?” Mereka menjawab: ”Ya, kami tidak pernah melihat engkau berdusta.”

Peri hidupnya yang suci itu menjadi daya tarik bagi manusia untuk masuk Islam. Dari ‘Abdullah bin Sallam r.a., dia berkata:

“Ketika Rasulullah s.a.w, datang ke Medinah, orang orang mengerumuninya. Mereka mengatakan: “Rasulullah sudah datang, Rasulullah sudah datang!’. Lalu aku datang ke dalam kerumunan orang banyak itu untuk melihatnya. Ketika aku melihat wajah Rasulullah s.a.w., tahulah aku bahwa wajahnya itu bukanlah wajah pendusta.”!?

Orang yang memiliki sifat-sifat agung yang dihiasi oleh tanda-tanda kejujuran tidak pantas diragukan ucapannya ketika dia menyatakan tentang dirinya bahwa bukan dialah yang membuat Qur’an.

“Katakanlah: ’Tidaklah patut bagiku untuk menggantikannya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali wahyu yang diwahyukan kepadaku.’” (Yunus [10]:15).

Orang-orang Jahiliah, dahulu dan sekarang, menyangka bahwa Rasullullah s.a.w. mempunyai ketajaman otak, kedalaman penglihatan, kekuatan firasat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa dan renungan yang benar, yang menjadikannya memahami ukuran-ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melalui Ilham (inspirasi), serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf, sehingga Qur’an itu tidak lain daripada hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang diungkapkan oleh Muhammad dengan gaya bahasa dan retorikanya.

Apakah yang sebenarnya didasarkan pada kecerdasan, penalaran dan perasaan di dalam Qur’an itu?

Segi berita yang merupakan bagian terbesar dalam Qur’an tidak diragukan oleh orang yang berakal bahwa apa yang diterimanya hanya didasarkan pada penerimaan dan pengajaran. Qur’an telah menyebutkan berita-berita tentang umat terdahulu, golongan-golongan dan peristiwa-peristiwa sejarah dengan kejadian-kejadiannya yang benar dan cermat, seperti halnya yang disebutkan oleh saksi mata, sekalipun masa yang dilalui oleh sejarah itu sudah amat jauh, bahkan sampai pada kejadian pertama alam semesta ini. Hal demikian tentu tidak memberikan tempat bagi penggunaan pikiran dan kecermatan firasat. Sedang Muhammad sendiri tidak semasa dengan umat-umat dan peristiwa-peristiwa di atas dengan segala macam kurun waktunya sehingga beliau dapat menyaksikan kejadian-kejadian itu dan menyampaikan beritanya. Demikian pula beliau tidak mewarisi kitab-kitabnya untuk dipelajari secara terinci dan kemudian menyampaikan beritanya.

”Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi sebelah barat lembah Tuwa ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami telah mengadakan beberapa generasi, dan berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan tiadalah kamu tinggal bersama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus Rasul-rasul.” (al-Qasas [28]:44-45).

“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak pula kaummu sebelum ini.” (Hud [11]:49).

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Yusuf [12]:3).

”Padahal kamu tidak hadir beserta mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka untuk mengundi siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam.” (Ali ‘Imran [3]:44).

Dan di antaranya ialah berita-berita yang cermat mengenai angka-angka hitungan yang tidak diketahui kecuali oleh orang terpelajar yang sudah sangat luas pengetahuannya. Di dalam kisah Nabi Nuh:

”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (al-Ankabut [29]:14).

Hal ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam Kitab Kejadian di dalam Taurat. Dan di dalam kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua):

”Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.” (al-Kahfi [18]:25).

Hitungan itu menurut ahli kitab adalah tiga ratus tahun matahari. Sedang sembilan tahun yang disebutkan di atas ialah perbedaan perhitungan antara tahun matahari dengan tahun bulan. Dari manakah Muhammad memperoleh angka-angka yang benar ini, seandainya bukan karena wahyu yang diberikan kepadanya, sebab dia adalah seorang buta huruf yang hidup di kalangan bangsa yang buta huruf pula tidak tahu tulis-menulis dan berhitung? Orang-orang jahiliah lama lebih pintar dalam menentang Muhammad daripada orang-orang jahiliah modern. Sebab orang jahiliah lama itu tidak mengatakan bahwa Muhammad mendapat berita ini dari kesadaran dirinya seperti dikata. kan orang-orang jahiliah modern; tetapi mereka mengatakan bahwa Muhammad mempelajari berita itu dan kemudian dituliskan:

“Dan mereka berkata: ’Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.’” (al-Furqan [25]:5).

Muhammad tidak menerima pelajaran dari seorang guru pun akan kami jelaskan nanti jadi dari manakah berita-berita ini datang kepadanya secara seketika di waktu usianya telah empat puluh tahun?

“Apa yang diucapkannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (an-Najm [53]:4).

Itulah mengenai segi berita dalam Qur’an. Adapun ilmu-ilmu lain yang ada di dalamnya, bagian akaid saja mengandung perkara-perkara yang begitu terinci tentang permulaan makhluk dan kesudahannya, kehidupan akhirat dan apa yang ada di dalamnya seperti surga dengan segala kenikmatannya, neraka dengan segala azabnya dan lain sebagainya, seperti malaikat dengan segala sifat dan pekerjaannya. Pengetahuan ini semuanya tidaklah memberikan tempat bagi kecerdasan akal dan kekuatan firasat semata.

“Dan tidaklah Kami jadikan penjaga-penjaga neraka itu melainkan dart para malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya…” (al-Muddassir [74]:31).

“Tidaklah mungkin Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah; akan tetapi Qur’an itu membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya; tidak ada keraguan didalamnya, diturunkan dari Tuhan semesta alam.” (Yunus [10]:37).

Begitu juga ketentuan-ketentuan yang memberi keputusan tentang berita-berita yang akan datang yang berlaku pada sunnatullah yang bersifat sosial mengenai kekuatan dan kelemahan, naik dan turun, mulia dan hina, bangun dan runtuh yang terdapat di dalam Qur’an.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana ia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.”’ (an-Nur [24]:55).

“Allah pasti akan menolong orang yang membela agama-Nya. Allah benar-benar Mahakuat Mahaperkasa. Yaitu. orang-orang yang Jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”’ (al-Hajj [22]:40-41).

demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, kalau kaum itu tidak mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”’ (al-Anfal [8]:53).

Dapat ditambahkan pula, bahwa al-Qur’anul Karim telah menceritakan tentang Rasulullah bahwa dia hanyalah mengikuti wahyu.

“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Qur’an kepada mereka, mereka berkata: ’Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?’ Katakanlah: ’Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku…” (al-A‘raf [7]:203).

Dan bahwa dia adalah manusia yang tidak mengetahui perkara yang gaib dan tidak pula berkuasa atas dirinya sedikit pun.

“Katakanlah: ’Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu; aku mendapat wahyu, tetapi sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa.’” (al-Kahfi (18]:110).

”Katakanlah: ’Aku tidak berkuasa menarik manfaat untuk diriku dan tak dapat menolak mudarat kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa mudarat. Aku hanyalah memberi peringatan dan membawa berita gembira.’” (al-A‘raf [7]:188).

Rasulullah s.a.w. tidak sanggup memahami apa yang sebenarnya terjadi antara dua orang yang berselisih yang datang menghadapnya untuk meminta keputusan, meskipun dia mendengarkan kata-kata mereka berdua. Maka tentu saja dia tidak sanggup untuk mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang.

“Rasulullah s.a.w. telah mendengar suatu perselisihan yang terjadi di dekat pintu kamar beliau. Ia mendatangi mereka dan berkata: “Aku hanyalah seorang manusia; sedang kamu meminta kepadaku untuk diadili. Mungkin salah satu pihak dari kamu akan lebih baik dalam menyampaikan alasan, sehingga aku mengira bahwa dialah yang benar, lalu aku memutuskan hal itu dengan memenangkannya, Yang kuputuskan dengan memberikan kemenangan kepadanya dari hak seorang Muslim itu adalah sepotong api neraka. Dia boleh meng. ambilnya dan boleh pula meninggalkannya.”

Dr. Muhammad Abdullah Daraz mengatakan: ”Pendapat inilah yang diramaikan oleh orang-orang ateis masa kini dengan nama wahyu nafsi. Mereka mengira bahwa dengan nama ini mereka telah memberikan kepada kita pendapat ilmiah yang baru. Tetapi hal itu sebenarnya tidaklah baru; itu adalah pendapat jahiliah yang kuno; tidak berbeda sedikitpun baik dalam garis besarnya maupun dalam perinciannya. Mereka melukiskan Nabi s.a.w. sebagai seorang lelaki yang mempunyai imajinasi yang luas dan perasaan yang dalam, maka dari itu beliau adalah seorang penyair.

Kemudian mereka menambahkan bahwa kata hatinya mengalahkan inderanya, sehingga ia berkhayal bahwa dia melihat dan mendengar seseorang berbicara kepadanya. Apa yang dilihat dan didengarnya itu tidak lain daripada gambaran khayal dan perasaannya sendiri saja. Yang demikian itu suatu kegilaan dan ilusi. Namun mereka tidak bisa berlama-lama mempertahankan alasan-alasan ini. Mereka terpaksa harus ‘meninggalkan istilah ”gerak hati” (al-wahyun-nafsi) itu, ketika mereka melihat bahwa di dalam Qur’an terdapat segi berita, baik berita masa lalu maupun berita masa yang akan datang. Mereka mengatakan: Mungkin berita-berita itu dia peroleh dari para ahli ketika ia pergi berdagang. Dengan demikian berarti dia diajar oleh seorang manusia. Jadi manakah yang baru dalam pendapat ini semua? Bukankah hal itu hanyalah omongan biasa yang menyerupai omongan kaum jahiliah Quraisy? Demikianlah, ateisma dalam pakaiannya yang baru itu mempunyai bentuk yang kotor, bahkan amat kotor. Dan itulah yang menjadi sumber segala gagasan yang sudah ”’maju” di masa kini. Padahal ia hanyalah sisa-sisa hidangan yang diwariskan oleh hati yang sudah membatu di masa jahiliah pertama. ”…Demikianlah orang-orang yang sebelum itu berkata, persis seperti perkataan mereka. Memang hati mereka itu serupa…” (al-Baqarah [2]:118).

Namun demikian, kalau ada orang merasa heran, yang lebih mengherankan lagi adalah kata-kata mereka yang menyebutkan bahwa dia (Muhammad) adalah orang yang jujur dan terpercaya, dan bahwa dia beralasan menisbahkan apa yang dilihatnya sebagai wahyu ilahi, sebab mimpi-mimpinya yang kuat itu menyatakan sebagai wahyu ilahi. Dia tidak mau menjadi saksi kecuali apa yang dilihatnya. Demikianlah Allah menceritakan kepada kita tentang pendahulu-pendahulu mereka. “Sebenarnya mereka bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (al-An‘am [6]:33).

Apabila ini alasan Rasulullah dalam menyatakan apa yang dilihat dan didengarnya, maka apakah alasannya dalam pengakuannya bahwa dia tidak mengetahui berita-berita itu, juga tidak kaumnya sebelum itu; sedang menurut sangkaan mereka dia telah mendengarnya sebelumnya? Dengan demikian, mereka hendak mengatakan bahwa dia mengada-ada, agar tuduhan mereka itu sempurna. Tetapi mereka tidak mau menyatakan kata-kata itu, sebab mereka mendakwakan diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang objektif dan bijaksana. Ingatlah, sebenarnya mereka telah mengatakannya tetapi mereka sendiri tidak merasa.

Orang-orang jahiliah dahulu dan sekarang menyangka bahwa Muhammad telah menerima ilmu-ilmu Qur’an dari seorang guru. Yang demikian itu. adalah benar; akan tetapi guru yang menyampaikan Qur’an itu ialah malaikat wahyu; dan bukannya guru dari golongannya dan golongan lain.

Muhammad s.a.w. tumbuh dan hidup dalam keadaan buta huruf dan tak seorang pun di antara mereka yang membawa simbol ilmu dan pengajaran. Ini adalah kenyataan yang disaksikan oleh sejarah, dan tidak dapat diragukan. Bahwa dia mempunyai guru yang bukan dari masyarakatnya sendiri, dalam sejarah tidak ada kalangan penelit; yang dapat memberikan kata sepakat yang patut dijadikan Saksi, bahwa Muhammad telah menemui seorang ulama yang mengajarkan agama kepadanya sebelum ia menyatakan kenabiannya. Memang benar, bahwa di masa kecil ia pernah bertemu dengan Bahira yang rahih itu di pasar Busra di Syam; dan di Mekah bertemu dengan Waraqah bin Naufal setelah wahyu turun kepadanya; dan setelah hijrah ia ber. temu dengan ulama-ulama Yahudi dan Nasrani. Tetapi yang pasti dia tidak pernah mengadakan pembicaraan dengan mereka, sebelum ia menjadi nabi. Sedang setelah ia menjadi nabi, merekalah yang ber. tanya kepadanya untuk dijadikan bahan perdebatan, sehingga mereka yang mengambil manfaat dan belajar kepadanya. Dan sekiranya Rasulullah s.a.w. yang belajar, sedikit pun dari salah seorang di antara mereka, sejarah tidak akan diam, sebab dia tak ada perangainya yang buruk yang diremehkan orang, terutama oleh mereka yang memang menentang Islam. Dan apa yang disebutkan dalam sejarah mengenai rahib dari Syam atau Waraqah bin Naufal merupakan sambutan gembira tentang kenabiannya atau sebagai pengakuan.

Orang dapat menanyakan kepada mereka yang menyangka bahwa Muhammad s.a.w. diajar oleh seorang manusia: siapa nama gurunya itu? Ketika itu juga kita akan melihat jawaban yang kacau-balau, yang mereka reka-reka, bahwa gurunya itu seorang “pandai besi Rumawi”. Bagaimana dapat diterima akal bila ilmu-ilmu Qur’an itu datangnya dari orang yang tidak dikenal oleh Mekah sebagai orang yang pandai dan mendalami kitab-kitab? Bahkan hanya seorang pandai besi yang sehari-harinya hanya menekuni palu dan landasan besi, orang awam dengan lidah asing, yang dalam bacaannya dalam bahasa Arab pun hanya mericau saja.

“Sesungguhnya Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan bahwa Muhammad belajar kepadanya bahasa asing, sedang Qur’an dalam bahasa Arab yang jelas.” (an-Nahl [16]:103).

Orang-orang Arab sebenarnya ingin sekali menolak Qur’an karena dendam mereka kepada Muhammad, tetapi mereka tidak sanggup, tidak menemukan jalan dan usaha mereka jadi sia-sia. Lalu kenapa orang-orang ateis kini mencari-cari jalan dalam bekas-bekas sejarah, sekalipun kegagalan itu telah berlalu tiga belas abad lebih? Dengan ini, jelaslah bahwa Qur’an tidak mengandung unsur manusia, baik oleh pembawanya atau oleh orang lain. Ia diturunkan oleh Tuhan Yang Mahabijaksana dan Maha Terpuji.

Pertumbuhan Rasulullah s.a.w. di lingkungan yang buta huruf dan jahiliah, dan perilakunya di tengah-tengah kaumnya itu merupakan bukti yang kuat bahwa Allah telah mempersiapkannya untuk membawa risalah-Nya. Allah mewahyukan kepadanya Quran ini untuk menjadi petunjuk bagi umatnya.

”Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu Qur’an dengan perintah Kami. Sebelum itu kamu tidak mengetahui apa al-Kitab (Qur’an) dan tidak pula mengetahui apa iman itu. Tetapi Kami menjadikan Qur’an itu cahaya yang dengannya Kami tunjuki siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, Jalan Allah yang mempunyai segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (asy-Syura [42]:52-53).

Al-Ustaz Muhammad Abduh dalam Risdlatut Tauhid berkata: ”Di antara tradisi yang dikenal adalah bahwa seorang yatim yang fakir dan buta huruf seperti dia, jiwanya akan diwarnai oleh apa yang dilihatnya sejak awal pertumbuhan sampai masa tuanya, serta akalnya pun akan terpengaruh oleh apa yang didengar dari orang-orang yang bergaul dengannya, terutama apabila mereka kerabat dan satu suku. Sementara itu dia tidak memiliki kitab yang dapat memberinya petunjuk, tidak pula guru dan penolong yang akan memberi pelajaran dan melindunginya. Seandainya tradisi berjalan seperti biasa, tentulah dia akan tumbuh dalam kepercayaan mereka dan mengikuti aliran mereka pula hingga mencapai usia dewasa. Setelah itu, barulah dia berpikir dan mempertimbangkan, lalu menentang mereka, bila ada dalil yang menunjukkan kepadanya atas kesesatan mereka. Hal serupa itu juga telah dilakukan oleh beberapa orang yang semasa dengan dia.”

Tetapi keadaannya tidak demikian. Sejak kecil ia sudah amat membenci penyembahan berhala. Dia dibimbing oleh akidah yang bersih dan akhlak yang baik. Firman Allah menyatakan:

“Dia (Allah) mendapati engkau sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (ad-Duha [93]:7).

Ayat ini tidak mengandung pengertian bahwa dia berada dalam penyembahan berhala sebelum mendapat petunjuk tauhid, atau berada di jalan yang tidak lurus sebelum berakhlak yang agung. Sekali-kali tidak! Semua itu tentu hanya kebohongan yang nyata. Tetapi yang dimaksudkan adalah kebingungan yang mencekam hati orang-orang yang ikhlas, yang mengharapkan keselamatan bagi umat manusia, mencari jalan keluar dari kehancuran dan petunjuk dari kesesatan. Dan Allah telah memberi petunjuk kepada Nabi-Nya atas apa yang dicarinya, dengan dipilihnya dia untuk menyampaikan risalah-Nya serta menentukan syari’at-Nya.

Kesesatan Ahli ilmu Kalam

Para ahli ilmu kalam telah tenggelam dalam cara-cara para filsuf dalam menjelaskan kalam Allah sehingga mereka telah sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan yang lurus. Mereka membagi kalam Allah menjadi dua bagian: kalam nafsi yang kekal yang ada pada zat Allah, yang tidak berupa huruf, suara, tertib dan tidak pula bahasa; dan kalam lafzi (verbal), yaitu yang diturunkan kepada para Nabi a:s., yang di antaranya adalah empat buah kitab. Para ahli ilmu Kalam ini semakin terbenam dalam perselisihan skolastik yang mereka adakan: Apakah Qur’an dalam pengertian kalam lafzi, makhluk atau bukan? Mereka memperkuat pendapat bahwa Qur’an dalam pengertian kalam lafzi di atas adalah makhluk. Dengan demikian, mereka telah keluar dari jalan para mujtahid dahulu dalam hal yang tidak ada nasnya dalam Kitab dan Sunah. Mereka juga menggarap sifat-sifat Allah dengan analisis filosofis yang hanya menimbulkan keraguan dalam akidah tauhid.

Sedang mazhab Ahlus Sunnah wal Jama‘ah menentukan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sudah ditetapkan oleh Allah atau ditetapkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis sahih yang datang dari Nabi. Bagi kita sudah cukup dengan beriman bahwa kalam itu adalah salah satu sifat di antara sekian sifat Allah. Allah berfirman. ’ Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.”’ (an-Nisa’ [4]:164). Demikian pula al-Qur’anul Karim wahyu yang diturunkan kepada Muhammad adalah kalamullah, bukan makhluk, sebagaimana tersirat dalam ayat:

“Jika orang di antara orang-orang musyrik itu. meminta perlindungan kepadamu, lindungilah dia, supaya dia sempat mendengar kalam Allah.” (at-Taubah [9]:6).

Penetapan mengenai apa yang dinisbahkan oleh Allah sendiri atau oleh Rasulullah, sekalipun sifat itu juga ditetapkan pada hamba-hamba Allah, tidaklah mengurangi kesempurnaan kesucian-Nya dan tidak membuat-Nya serupa dengan hamba-hamba-Nya. Dengan demikian, kesamaan dalam nama itu tidak mengharuskan kesamaan dalam apa yang dikandung oleh nama itu. Amat berbeda antara Khalik dengan makhluk dalam hal zat, sifat dan perbuatan-Nya. Zat khalik adalah maha sempurna, sifat-Nya paling tinggi dan perbuatan-Nya pun paling sempurna dan tinggi. Apabila kalam itu merupakan sifat kesempurnaan makhluk, bagaimana sifat ini ditiadakan dari Khalik? Kita menerima apa yang diterima oleh para sahabat Rasulullah s.a.w., para ulama tabi‘in, para ahli hadis dan fiqih yang hidup pada masa-masa yang dinyatakan baik, sebelum lahir segala macam bidat (bid‘ah) para ahli ilmu kalam. Kita beriman kepada apa yang datang dari Allah atau sahih dari Rasulullah mengenai sifat-sifat dan perbuatan Allah, baik yang ditetapkan ataupun yang tidak, tanpa dikurangi, diserupakan, dimisalkan ataupun ditakwilkan. Kita tidak berhak menetapkan pendapat kita sendiri mengenai hakikat zat Allah ataupun sifat-sifat-Nya,

”Tiada apa pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (asy-Syura [42]:11).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker