Kami telah menyebutkan jalan-jalan masuknya syubhat, halal dan haram dalam sebuah kitab khusus, dalam bab Halal dan Haram dari kitab Ihya? Uluumiddin. Maka carilah kitab itu, tetapi ringkasannya tertulis dalam syarah ini.
Sesungguhnya pengetahuan tentang rezeki halal dan pencariannya adalah wajib atas setiap muslim seperti salat lima waktu berdasarkan sabda Nabi : “Mencari nafkah halal adalah wajib atas setiap muslim.” HR. Ad-Dailami dari Anas.
Yakni mencari pengetahuan tentang mana yang halal dan mana yang haram adalah wajib. Atau artinya mencari nafkah halal adalah wajib. Demikian dinukil oleh Al-Azizi dari Al-Manawi. Dan hadis yang lain Nabi #£ bersabda: “Mencari nafkah (rezeki) halal adalah wajib sesudah kewajiban lainnya.” HR. Thabrani dari Ibnu Mas’ud.
Yakni nafkah (rezeki) halal untuk biaya dirinya, istri dan anakanaknya adalah wajib sesudah iman dan salat atau sesudah semua kewajiban yang ditetapkan Allah. Maka mencari apa yang diperlukannya bagi dirinya, istri dan anak-anaknya adalah wajib tanpa melebihi dari yang cukup. Demikian dikatakan oleh Al-Azizi.
Nabi bersabda: “Mencari nafkah halal adalah jihad.” HR. AlOudha’iy dari Ibnu Abbas.
Mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga pahalanya seperti pahala jihad.
Adapun kemaluan, maka jagalah dia dari perbuatan yang diharamkan Allah seperti zina, liwath (homoseks), hubungan antara wanita dengan sejenisnya (lesbian), mengeluarkan mani dengan tangan (onani), menggauli istri di waktu haid dan di waktu suci sebelum mandi serta bersetubuh dengan hewan. Jadilah engkau sebagaimana Allah berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka mereka itu tidak dipersalahkan.”
Engkau tidak akan sampai kepada hakikat pemeliharaan mata dari pandangan terlarang dan memelihara hati dari memikirkan keindahan wanita serta memelihara perut dari syubhat dan terlebih pula dari yang haram atau dari makan terlalu kenyang.
Karena semua ini dapat menggerakkan syahwat dan pokok-pokoknya. Adapun kedua tangan, maka jagalah keduanya dari memukul atau dzimmi tanpa alasan yang sah seperti memukul muka atau membunuh dengan tangan secara langsung atau karena suatu sebab seperti menggali sumur secara aniaya.
Nabi bersabda:
“Andaikata penghuni langit dan penghuni bumi bersekutu dalam menumpahkan darah seorang mukmin, niscaya Allah menjerumuskan mereka ke dalam neraka.”
Atau engkau peroleh harta haram dengan perantaraan kedua tanganmu atau menganggu seseorang atau menghianati amanat atau titipan atau engkau tuliskan sesuatu yang tidak boleh diucapkan, karena pena adalah salah satu dari kedua pesan. Maka jagalah pena dari apa yang tidak boleh diucapkan oleh lisan.
Dzun Nun Al-Mishri berkata:
Tidaklah setiap penulis, melainkan ia akan binasa i sedang apa yang ditulis kedua tangannya akan terap hidup maka janganlah engkau menulis dengan tanganmu kecuali sesuatu yang menyenangkanmu di hari kiamat ketika melihatnya.
Adapun kedua kaki, maka jagalah keduanya supaya tidak berjalan menuju ke tempat yang diharamkan seperti berjalan menuju pintu raja yang zalim dengan meridai kezalimannya. Demikian dikatakan oleh Ibnu Hajar. Karena berjalan menuju raja yang zalim tanpa keperluan yang sah dan tanpa melakukan maksiat adalah dosa besar.
Sebab berjalan menuju mereka berarti merendahkan diri dan memuliakan mereka atas kezaliman mereka sedangkan Allah telah menyuruh berpaling dari mereka dalam firman Allah : “Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” QS. Hud: 114.
Perbuatan itu memperbanyak kelompok mereka dan membantu mereka untuk berbuat zalim. Dalam kabar disebutkan: “Sebaik-baik umara adalah yang mendatangi ulama dan seburuk-buruk ulama adalah yang mendatangi umara.”
Dalam kabar disebut: “Para ulama adalah orang-orang kepercayaan para rasul atas hamba-hamba Allah selama mereka tidak bergaul dengan raja (penguasa). Apabila mereka lakukan itu, maka mereka telah mengkhianati para rasul. Maka waspadalah dan jauhilah mereka.
Abi Dzar berkata: “Barangsiapa memperbanyak kelompok suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. Seperti halnya raja-raja, ketentuan ini berlaku pula bagi para pejabat mereka.
Al-Auza’y berkata: Tidaklah sesuatu yang lebih dibenci Allah dari pada seorang alim yang mengunjungi pejabat.
Bilamana kedatangan kepada mereka itu bertujuan meminta harta mereka, maka itu berarti kepergian menuju sesuatu yang haram.
Nabi bersabda:
“Barangsiapa merendahkan diri kepada seorang kaya yang salih karena kekayaannya, lenyaplah dua pertiga agamanya.”
Yang dimaksud dengan agama di sini adalah adab. Artinya ialah adab itu ada tiga macam, yaitu adab terhadap Allah, adab terhadap Rasulullah dan adab terhadap orang banyak. Apabila seseorang merendahkan diri kepada orang kaya, lenyaplah kedua adabnya, yaitu adab terhadap Allah dan adab terhadap rasul-Nya dan tinggalah satu adab.
Lenyapnya dua pertiga adab ini adalah mengenai seorang kaya yang salih. Maka bagaimana sangkaanmu terhadap orang kaya yang zalim.
Ringkasnya ialah gerak dan diammu pada anggota tubuhmu adalah salah satu nikmat Allah padamu. Maka janganlah engkau gerakkan sebagian darinya dalam mendurhakai Allah seluruhnya. Akan tetapi gunakanlah anggota-anggota itu dalam mentaati Allah Ketahuilah bahwa jika engkau lamban dalam melakukan ketaatan, maka engkau akan merugi.
Dan jika engkau giat dalam melakukan ketaatan, maka engkau akan mendapat faidahnya.
Allah tidak membutuhkan dirimu dan tidak membutuhkan amalmu.
Akan tetapi setiap jiwa tergantung pada amalnya di sisi Allah.
Ali berkata: “Barangsiapa menduga bahwa tanpa susah payah ia bisa masuk surga, maka ia pun berangan-angan. Dan siapa yang menduga bahwa dengan mencurahkan segenap tenaga, ia bisa masuk surga, maka ia pun berangan-angan. Maka janganlah engkau tinggalkan amal.” Hasan Al-Bashri berkata: “Meminta surga tanpa beramal adalah salah satu dosa.”
Waspadalah dari perkataanmu: “Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang dan mengampuni dosa-dosa bagi orang-orang yang durhaka. Karena ini adalah perkataan hak, tetapi maksudnya batil dan orang yang mengucapkannya disebut orang dungu seperti sebutan yang diberikan Rasulullah ”
Beliau bersabda:
“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan nafsunya dan beramal untuk kehidupan sesudah mari sedangkan orang yang dungu ialah orang yang na sunya mengikuti keinginannya dan berangan-angan dusta terhadap Allah.”
Hasan Al-Bashri berkata: “Banyak orang yang dilalaikan oleh anganangan ampunan hingga mereka keluar dari dunia dalam keadaan bangkrut dan tidak mempunyai kebaikan.”
Salah seorang dari mereka berkata: “Aku berbaik sangka kepada Tuhanku.” Ia berdusta: “Sesungguhnya jika ia berbaik sangka kepada Tuhannya, niscaya ia beramal baik untuk-Nya.”
Ketahuilah bahwa perkataan ini sama dengan orang yang merasa pandai tentang ilmu-ilmu agama tanpa belajaf ilmu dan tidak berbuat apa-apa.
Maka ia berkata: “Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang dan berkuasa untuk menampakkan berbagai ilmu dalam hatiku sebagaimana Dia menampakkannya dalam hati para nabi-Nya tanpa bersusah payah maupun belajar berulang-ulang. ”
Yahya bin Mw’adh berkata: “Keterpedayaan itu menurutku adalah terus-menerus berbuat dosa dengan mengharap ampunan tanpa menyesal dan mengharap kedekatan dari Allah 4& tanpa melakukan ketaatan, menunggu tanaman surga dengan menabur benih mereka, mencari negeri orang-orang yang taat dengan melakukan berbagai maksiat serta menunggu melampaui batas.”
Makna ini telah disebutkan penyair dalam Bahrul Basitth: Engkau harapkan keselamatan tetapi tidak menempuh jalan-jalannya sesungguhnya kapal tidak bisa berlayar di atas tempat yang kering.
Ia seperti orang yang menginginkan harta, tetapi tidak mau bertani, tidak mau berdagang dan tidak mau bekerja, tetapi tetap menganggur. Sedangkan ia berkata: “Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia mempunyai perbendaharaan langit dan bumi. Dan Dia berkuasa untuk menunjukkan kepadaku harta terpendam di bumi sehingga cukup bagiku tanpa bekerja. Dia telah melakukan itu pada sebagian hamba-Nya. Maka jika engkau mendengar perkataan dari kedua macam orang ini, niscaya engkau menganggap keduanya orang dungu dan engkau ejek kedua orang itu, meskipun apa yang dikatakannya benar dan betul bahwa Allah $$ Maha Pemurah dan Maha Kuasa.
Hal itu disebabkan Allah menjadikan bagi segala sesuatu kebutuhan manusia sebagai sebab dan jalan untuk mencapai keinginannya. Jika tidak begitu, niscaya Allah tidak berfirman kepada Sayyidah Mary am: “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” QS. Maryam: 25. Sesungguhnya Allah sanggup menggugurkan kurma yang masak kepada Sayyidah Maryam tanpa menggoyang pangkal pohon kurma. Akan tetapi Allah “ menjadikan segala sesuatu melalui sebab.
rakyatnya: “Bagaimana keadaan pemimpinmu?”
Orang itu menjawab: “Wahai Amirul mukminin, apabila sumber airnya tawar, maka sungai pun menjadi sedap.”
Apabila demikian halnya, maka perbaikilah hati itu supaya anggotaanggota badanmu menjadi baik dan kebaikannya tercapai dengan melakukan muragabah, yaitu menghadirkan hati bersama Allah JS dan memusatkan perhatian kepada-Nya.
Salah seorang dari mereka berkata: “Kebaikan terdapat dalam lima perkara, yaitu banyak lapar, membaca Al-Qur’an dengan merenungkan maknanya, yaitu sambil menangis kepada Allah di waktu dini hari, mengerjakan salat di waktu malam dan duduk dengan orang-orang salih.”
Seorang penyair berkata:
Obat hatimu yang keras ada lima lakukanlah itu, niscaya engkau mendapat kebaikan dan keberuntungan kekosongan perut dan merenungkan Al-qur’an ‘ merengek sambil menangis kepada Allah di waktu dini hari begitu pula sholat di tengah malam dan duduk dengan orang-orang salih.
Ada yang menambahkan:
makan makanan halal dan diam mengasingkan diri tidak suka mengurusi hal ihwal orang lain.









One Comment