Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Karena bukti perbuatan lebih kuat dari pada bukti perkataan. Abul Aswad berkata:

Bila engkau menegur teman dan menyalahkannya sedang engkau sendiri berbuat itu, maka engkau pun tercela mulailah dengan dirimu dan laranglah dia dari penyimpangannya bila engkau berhenti darinya, maka engkau pun bijaksana janganlah engkau melarang suatu perbuatan tetapi engkau sendiri melakukannya adalah besar kejelekanmu bila engkau melakukannya.

Jika engkau seorang siswa, maka adab-adab siswa terhadap orang alim (guru) ada tiga belas.

  1. Memulai memberi salam dan minta izin masuk.
  1. Sedikit bicara di hadapannya.
  1. Tidak berbicara selama tidak ditanya oleh gurunya.
  1. Tidak menanyakan sesuatu sebelum minta izin kepada gurunya lebih dulu.
  1. Tidak menyanggah guru dengan perkataan si fulan yang berbeda dengan yang engkau katakan atau semacam itu.
  1. Tidak menyanggah pendapat guru bila berbeda denganmu, sehingga menjatuhkan martabatnya dan mengurangi berkah.
  1. Janganlah bertanya kepada teman di majelisnya dan jangan tertawa ketika berbicara dengannya.
  1. Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi duduk sambil menundukkan pandangannya dengan tenang dan sopan seakan-akan ia di dalam salat.
  1. Tidak banyak bertanya kepada gurunya ketika sedang jemu atau bersedih, walaupun dengan berdasarkan dugaan yang kuat.
  1. Apabila guru berdiri, maka siswa pun berdiri untuk menghormatinya.
  1. Tidak mengikuti guru dengan berbicara dan menanyainya.
  1. Tidak bertanya dijalan, tetapi tunggulah sampai ia tiba di rumahnya atau tempat duduknya.
  1. Tidak berburuk sangaka kepadanya mengenai perbuatan-perbuatan yang lahirnya adalah mungkar menurut siswa. Guru lebih tahu tentang rahasia-rahasianya. Ingatlah kisah Nabi Musa yang berkata kepada Al-Khaidhir bernama Balya’ bin Mulkan: ” Mengapa kamu melobangi perahu itu yang berakibat menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan besar.”

Perbuatan itu pada lahirnya adalah munkar. Oleh karena itu Musa menyalahkan gurunya Al-Khaidir pertama kalinya. Akan tetapi pada hakikatnya sesuai dengan batin syariat. Dan akhirnya Musa membenarkan perbuatan gurunya. Hendaklah seorang siswa ingat bahwa ia bersalah ketika mempersalahkan gurunya dengan mengandalkan dhahirnya, ketahuilah bahwa guru mengetahui rahasia-rahasia.

Diriwayatkan bahwa ketika Ibnu ‘Arabi sedang mengerjakan salat, para muridnya memperhatikan Ibnu ‘Arabi menggerak-gerakkan kakinya berulang kali dalam salat. Selesai salat, mereka menanyainya: “Mengapa anda menggerakkan kaki?” Ibnu ‘Arabi menjawab: ”Fakhrur Rasi akan wafat dan para setan mengepungnya untuk menghilangkan imannya, maka kuusir mereka dengan kakiku hingga ia mati dalam keadaan iman.”

Jika engkau mempunyai ayah dan ibu, maka adab-adab anak terhadap kedua orang tuanya yang muslim ada dua belas.

  1. Mendengarkan perkataan mereka.
  1. Berdiri menyambut keduanya ketika mereka berdiri demi menghormati dan memelihara kehormatan mereka, meskipun kedudukan mereka berada di bawahnya.
  1. Mematuhi perintahnya selama perintah itu bukan dalam mendurhakai Allah.
  1. Tidak berjalan di depan kedua orangnya, tetapi di samping atau dibelakangnya. Jika ia berjalan di depan kedua orang karena sesuatu hal, maka tidaklah mengapa ketika itu.
  1. ‘Tidak mengeraskan suaranya melebihi suara kedua orang tua demi sopan santun terhadap mereka. Ini adalah adab yang paling ditekankan sebagaimana dikatakan oleh Ar-Ramli dalam Umadatur Raabih.
  1. Menjawab panggilan mereka dengan jawaban yang lunak seperti: Labbaik.

7, Berusahalah keras untuk mencari keridaan kedua orang tua dengan perbuatan dan perkataan.

  1. Bersikaplah rendah hati dan lemah lembut kepada kedua orang tua seperti melayani mereka. Menyuapi makan dengan tangannya bila keduanya tidak mampu dan mengutamakan keduanya di atas diri dan anak-anaknya.
  1. Tidak mengungkit-ungkit kebaikanmu yang kepada keduanya maupun pelaksanaan perintah yang dilakukan olehnya. Seperti ia katakan:” Aku beri engkau sekian dan sekian dan aku lakukan begini kepada kamu berdua.” Karena perbuatan itu bisa mematahkan hati. Ada yang mengatakan, menyebut-nyebut kebaikan itu bisa memutuskan hubungan.
  1. Janganlah ia memandang kedua orang tua dengan pandangan sinis.
  1. Janganlah bermuka cemberut kepada keduanya.
  1. Janganlah bepergian, kecuali dengan izin keduanya, yaitu perjalanan untuk jihad, haji tathawwu’, menziarahi para nabi dan wali serta perjalanan yang bisa mengancam keselamatan untuk berniaga. Maka perjalanan macam itu diharamkan, bilamana tidak diizinkan oleh ayah dan ibu, meskipun diizinkan oleh yang lebih dekat darinya. Kecuali perjalanan untuk belajar ilmu yang fardu, walaupun kifayah, seperti belajar nahwu dan derajat pemberian fatwa. Maka tidaklah diharamkan atasnya, meskipun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Demikian disebutkan dalam Fathul Mu’iin. Adapun ayah dan ibu yang kafir, maka anaknya harus mempergaulinya dengan baik dalam halhal yang tidak berkaitan dengan agama selama ia masih hidup.

Ketahuilah bahwa selain orang-orang yang tersebut ini, yakni orang alim (guru), siswa dan kedua orang tua, maka ada tiga golongan dalam hakmu,

Mereka itu adalah teman-teman, para kenalan atau orang-orang yang belum dikenal sebelumnya. Apabila engkau bergaul dengan orang awam yang belum dikenal sebelumnya, maka adab di waktu duduk dengan mereka ada lima.

  1. Tidak ikut campur pembicaraan mereka.
  1. Sedikit mendengarkan cerita-cerita mereka yang buruk dan perkataan mereka yang dusta.
  1. Mengabaikan apa yang terjadi dari perkataan mereka yang buruk.
  1. Menghindari banyak pertemuan dengan mereka dan tidak menampakkan kebutuhan kepada mereka.
  1. Mengingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut dan nasihat agar mereka mau menerimanya. Karena hati orang awam cepat berubah. Maka jika nasihat tidak bermanfaat, sebaiknya engkau berpaling darinya.

Adapun terhadap saudara-saudara dan teman-teman, maka engkau mempunyai dua tugas.

Pertama: Engkau harus mencari lebih dulu syarat-syarat bersahabat dan berteman.

Oleh karena itu Janganlah engkau bersaudara, kecuali dengan orang yang cocok untuk menjadi saudara dan teman. la harus mempunyai sifatsifat yang disukai dalam berteman dengannya dan sesuai dengan faidahfaidah yang diinginkan.

Hendaklah diketahui bahwa apa yang disyaratkan untuk berteman dalam urusan-urusan dunia tidaklah disyaratkan untuk berteman bagi tujuan akhirat. Karena teman itu ada tiga macam. Ada teman untuk akhiratmu, ada teman untuk duniamu dan teman supaya engkau terhibur dengannya. Tujuan-tujuan ini tidak berkumpul pada satu orang, tetapi terpencar-pencar pada sejumlah orang sehingga terbagilah syarat-syarat itu pada mereka.

Rasulullah  bersabda:

“Manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kami melihat dengan siapa ia berteman.”

Dalam sabdanya yang lain: “Manusia itu mengikuti siapa yang disukainya dan ia mendapat apa yang dilakukannya.” HR. Timidzi dari Anas.

Sahl bin Abdullah berkata: “Hindarilah berteman dengan tiga macam orang, yaitu para penguasa yang sombong dan lalai, para ahli baca

(ulama) yang berpura-pura baik dan para pengamal tasawwuf yang bodoh. Apabila engkau mencari teman untuk menjadi mitramu dalam belajar dan temanmu dalam urusan agama serta duniamu, maka perhatikanlah lima perkara di dalamnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker