Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Adapun takbir, maka apabila lisanmu mengucapkannya, janganlah hatimu mendustakannya. Jika dalam hatimu ada sesuatu yang engkau anggap lebih besar daripada Allah, maka Allah menyaksikan bahwa engkau dusta. Adapun doa iftitah, awal kalimatnya adalah perkataanmu: Kuhadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan bukanlah yang dimaksud wajah yang nampak, karena engkau hanya menghadapkannya ke arah kiblat sedangkan Allah tidak dibatasi oleh arah. Sesungguhnya hatilah yang kita hadapkan kepada Pencipta langit dan bumi.

Maka lihatlah kepadanya, apakah ia memikirkan urusan dunia dan mengikuti syahwat atau menghadap kepada Pencipta langit. Apabila engkau katakan: Hanii an musliman, (secara lurus sebagai orang muslim), maka hendaklah engkau renungkan bahwa orang muslim itu ialah orang yang tidak mengganggu sesama muslim dengan lisan atau tangannya. Jika tidak, maka engkau dusta. Apabila engkau katakan: ”Dan bukanlah aku termasuk orang musyrik,” maka renungkanlah syirik tersembunyi dan waspadalah terhadap syirik ini. Karena nama syirik berlaku untuk yang sedikit maupun yang banyak. Apabila engkau katakan: Hidup dan matiku bagi Allah, maka ketahuilah bahwa ini adalah keadaan seorang hamba yang hilang untuk dirinya dan ada untuk Tuannya.

Apabila engkau katakan: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, maka ketahuilah bahwa ia adalah musuhmu dan selalu berusaha memalingkan hatimu dari Allah  karena dengki kepadamu atas munajatmu dengan Allah dan sujudmu kepada-Nya. Ketahuilah bahwa termasuk tipu daya setan adalah menyibukkan dalam salatmu dengan mengingat akhirat dan memikirkan perbuatan akhirat untuk mencegahmu dari memahami apa yang engkau baca. Maka ketahuilah bahwa segala apa yang melalaikanmu dari memahami maknamakna bacaanmu, maka itu adalah was-was. Karena gerakan lisan tidaklah dituju, tetapi yang dituju adalah makna-maknanya.

Apabila membaca: Bismillahi” Rahmanir Rahim, rnaka niatkanlah tabarruk dengannya karena mengawali bacaan dengan kalamullah. Pahamilah bahwa maknanya: Segala sesuatu itu tergantung pada Allah dan yang dimaksud dengan nama di sini adalah pemilik nama itu sendiri. Makna alhamdu adalah bahwa segala syukur itu bagi Allah, karena segala kenikmatan berasal dari Allah. Apabila engkau ucapkan Ar-Rahmanir Rahim, rnaka hadirkan dalam hatimu segala macam karunia-Nya supaya rahmat-Nya menjadi jelas bagimu. Kemudian resapkan pengagungan bagi Allah dalarn hatimu dan rasa takut terhadap kedahsyatan hari kiamat dengan perkataanmu: Maaliki yaumuiddin.

Kemudian perbaharuilah keikhlasan dengan perkataanmu: iyyakta na ‘budu dan perbaharuilah ketidakmampuan, kebutuhan dan kebebasan dari daya dan kekuatan dengan perkataanmu: Wa iyyaaka nastta’iin.

Kemudian mintalah hajatmu yang terpenting dan ucapkanlah: Ihdinash shirotol mustagiim. Kemudian mohonlah ijabah (pengabulan doa) dengan mengucapkan: Amin. Apabila engkau membaca Al-Fatihah, maka engkau termasuk orang-orang yang dikatakan Allah  dalam hadis yang diriwayatkan dari Nabi : “Aku membagi salat, yakni bacaannya antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua, yakni separuhnya bagi-Ku dan separuhnya bagi hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya. Apabila hamba mengucapkan, Alhamdulillahi Robbil ‘aalamiin, Allah , berkata: “Hamba-Ku memuji-Ku.” Apabila hamba mengucapkan: Ar-Rahmanir Rahiim, Allah  berkata: “Hamba-Ku menyanjung-Ku.” Apabila hamba mengucapkan: Maaliki yaumiddiin, Allah  berkata: “Hamba-Ku mengagungkan Aku.” Apabila hamba mengucapkan: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in, Allah  berkata:”Ini antara Aku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.”

Apabila hamba mengucapkan: lldinash shirorol mustagim, shirotol ladziina anamta ‘alaihim ghairil maghdluubi alaihim wa ladidhoollium, maka Allah  berkata: “Ini bagi hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.”

Adapun berdiri yang lama, maka itu adalah peringatan untuk menegakkan hati bersama Allah dengan kehadiran penuh. Adapun rukuk dan sujud, hendaklah engkau mengingat berulang kali kebesaran Allah dan engkau angkat kedua tanganmu seraya berlindung dengan maaf Allah  dari hukuman-Nya. Apabila engkau duduk menghadap-Nya, maka duduklah dengan sopan dan hadirkan Nabi  di dalam hatimu sebagai pribadi yang mulia, kemudian renungkan bahwa Allah menjawab salammu dengan penuh sebanyak hamba-hamba-Nya yang salih. Kemudian engkau saksikan bahwa Allah Maha Esa dan Muhammad  adalah nabi dan rasul-Nya dengan memperbaharui janji kepada Allah  dengan mengulangi dua kalimat syahadat.

Kemudian berdoalah di akhir salatmu dengan doa yang diriwayatkan dari Nabi  Tunjukkan sikap tawadhu’, khusyuk dan harapan yang tulus bahwa doamu akan terkabul. Ikutkan dalam doamu kedua orang tuamu dan orang-orang mukmin lainnya. Ketika memberi salam niatkanlah salam itu untuk para malaikat dan hadirin dan akhirilah salat dengannya. Sembunyikanlah dalam hatimu rasa syukur kepada Allah  atas taufikNya untuk menyempurnakan ketaatan ini. Bayangkan bahwa engkau berpamitan dengan salatmu ini dan barangkali engkau tidak hidup lebih lama lagi untuk menunaikannya. Takutlah bahwa salatmu tidak diterima dan engkau dibenci dengan sebab itu lahir dan batin hingga ditolak salatmu di depanmu. Meskipun begitu, berharaplah bahwa Allah  akan menerimanya dengan kemurahan dan karunia-Nya.

Di antara mereka ada yang tinggal sesaat sesudah salat seakan-akan ia sakit. Maka hendaklah manusia memeriksa salatnya dan gembira atas kadar yang telah dikerjakannya dengan sempurna serta menyesali ketinggalannya. Hendaklah ia berijtihad untuk terus melakukan itu. Apabila engkau penuhi batin hatimu dengan ketakwaan, maka ketika itu tersingkaplah tabir antara engkau dengan Tuhanmu dan tersingkap pula cahaya makrifat. Sumber-sumber hikmah memancar dari hatimu rahasiarahasia kerajaan Allah (Al-mulk dan Al-malakuut).

Al-mulk adalah segala yang engkau saksikan dengan penglihatan matamu sedangkan Al-malakuut adalah segala sesuatu yang bisa engkau ketahui dengan mata hatimu. Dengannya engkau akan mudah memperoleh ilmu ladunni berupa rahasia-rahasia mukasyafah dan ma’arif tanpa berusaha dan bersusah payah sehingga engkau anggap remeh ilmuilmu baru yang belum pernah ada di zaman para sahabat dan tabi’in radhiyallahu ‘anhum seperti fikih dan nahwu serta lainnya.

Diceritakan bahwa Imam Al-Ghazali ketika menjadi imam di masjidnya, sementara saudaranya bernama Ahmad tidak mengikutinya. Maka Imam Al-Ghazali berkata kepada ibunya: Hai ibuku, suruhlah saudaraku Ahmad untuk mengikuti aku dalam salatku supaya orangorang tidak menuduhku atas perbuatanku yang buruk. Kemudian ibunya menyuruh Ahmad mengikuti Al-Ghazali menjadi makmum dalam shalamya, maka saudaranya mengikutinya. Kemudian ia melihat darah dalam perut Al-Ghazali. Maka saudaranya memisahkan diri darinya. Setelah selesai salat, Imam Ghazali bertanya kepadanya tentang sebab pemisahan dirinya dalam salat. Saudaranya menjawab: “Aku melihat perutmu penuh dengan darah.” Al-GHazali bertanya: “Dari mana engkau belajar ilmu itu?”

Saudaranya menjawab: “Aku mempelajarinya dari Asy-Syeikh Al-Utaqi. Seorang menjahit sandal-sandal yang sudah usang dan memperbaikinya. Kemudian Al-Ghazali pergi kepada Asy-Syeikh AlKharrazi.

Al-Ghazali berkata kepadanya:” Wahai tuanku, aku ingin belajar ilmu darimu”. Asy-Syeikh berkata: “Barangkali engkau tidak sanggup mentaati perintahku.”

Al-Ghazali berkata: ”Insya’ Allah aku sanggup”. Kemudian AsySyeikh berkata: “Sapulah lantaimu.” Ketika Al-Ghazali hendak menyapu dengan sapu, Asy-Syeikh menyuruh menyapu lantai itu dengan tangannya. Maka Al-Ghazali menyapu dengan tangannya. Kemudian ia melihat kotoran (tahi) banyak sekali di lantai tersebut. Asy-Syeikh berkata: “Sapulah kotoran itu.” Ketika Al-Ghazali hendak melepaskan bajunya, Asy-Syeikh berkata kepadanya: ”Sapulah lantai itu dengan baju yang engkau pakai.” Ketika Al-Ghazali dengan senang hati hendak menyapunya, Asy-Syeikh melarangnya dan menyuruh pulang ke rumahnya. Setelah Al-Ghazali kembali dan tiba di madrasahnya, yaitu tempat mengajarkan ilmu kepada para pelajar, ia berkata kepada para santrinya: “Ini tempat kita bermain bersama anak-anak kecil.”

Allah  telah memberinya ilmu-ilmu ladunni dan ketika itu ia menyadari bahwa semua ilmu yang diajarkannya kepada muridnya adalah ilmu yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang ditanamkan Allah dalam hatinya tanpa berusaha dan bersusah-payah. Jika engkau mencari ilmu dari berdebat, maka betapa besarnya musibahmu dan betapa lamanya kepayahanmu serta betapa besarnya kerugianmu.

Maka kerjakanlah apa saja yang engkau sukai dari hal-hal yang dilarang jika engkau tidak takut binasa. Karena engkau tak akan mendapatkan dunia dengan menjual agama, dan akhiratmu juga akan lenyap (meninggalkanmu). Maka siapa yang mencari kesenangan dunia dengan menjual agama, ia pun rugi kedua-duanya. Dan siapa yang meninggalkan kesenangan dunia demi agama, ia pun beruntung keduaduanya. Sesungguhnya dunia adalah musuh Allah dan musuh para wali-Nya serta musuh dari para musuh Allah. Adapun permusuhannya terhadap Allah , maka ia putuskan jalan dari para wali-Nya. Adapun permusuhannya terhadap para wali Allah, maka disebabkan ia berhias bagi mereka dan membutakan mereka dengan keindahannya sehingga mereka menanggung pahitnya kesabaran dalam memutuskan hubungan dengannya.

Sedangkan permusuhannya dengan musuh-musuh Allah adalah mereka menikmatinya dalam waktu yang lama hingga mereka mengandalkannya. Semua yang tersebut ini adalah petunjuk menuju permulaan jalan dalam perlakuanmu terhadap Allah  dengan menunaikan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Saya nasihatkan kepadamu sekarang dengan sejumlah adab supaya engkau bisa mengoreksi dan mengobati dirimu dalam pergaulanmu dengan para hamba Allah dan ketika engkau berteman dengan mereka di dunia. Adab ialah perlakuan terpuji berupa perkataan dan perbuatan dengan akhlak dan sifat-sifat yang baik seperti menunjukkan wajah yang menyenangkan, perjumpaan yang baik serta mengambil sesuatu dengan cara yang baik.

Ibnu Atha’illah berkata: “Adab ialah menjalankan segala sesuatu yang dipandang baik.” Ada yang mengatakan: “Ia adalah penghormatan kepada orang yang lebih tinggi dan kasih sayang terhadap yang lebih rendah kedudukannya.” Seorang ulama terdahulu berkata: “Adab ibarat makanan tubuh, yang harus di olah dahulu sebelum memakannya makanan yang dibuat, demikian pula makanan akal adalah adab-adab yang didengar.”

Seorang penyair berkata:

Tidaklah setiap waktu engkau lihat berguna maka peliharalah jalan adab niscaya kau lihat Allah menyingkap sesuatu yang tersembunyi hingga kau peroleh pahala dan kau capai pangkat yang tinggi

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker