Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Janganlah engkau tinggalkan tahiyyat masjid, meskipun imam sedang berkhutbah. Akan tetapi pada saat itu engkau harus meringankannya dengan hanya mengerjakan dua rakaat saja dan membaca yang wajib saja. Juga tidak dibolehkan bagi salah seorang yang hadir salat selain tahiyyat setelah khatib duduk, meskipun ia tidak mendengar khatib. Andaikata ia masuk masjid di akhir khutbah, maka jika besar dugaannya bahwa apabila ia kerjakan salat dua rakaat yang ringan, ia akan ketinggalan takbiratul ihram bersama imam, tidaklah disunahkan tahiyyat baginya, tetapi berdiri hingga diserukan iqamat dan janganlah ia duduk supaya ia tidak duduk di masjid sebelum mengerjakan tahiyyat.

Termasuk sunah adalah engkau baca dalam empat rakaat surah AlAn’aam, Al-Kahfi, Thaahaa dan Yaa-Siin.

Dalam Al-ihya’ disebutkan anjuran mengerjakan salat ini dengan membaca surah-surah ini dihari ini atau di waktu malamnya. Jika tidak mampu, maka engkau baca surah Yaa-Siin, Ad-Dukhan, Alif Laam Miim As-Sajdah dan surah Al-Mulk.

Janganlah engkau tinggalkan pembacaan surah-surah ini di malam Jumat, karena di dalamnya terdapat keutamaan yang banyak.

Menurut riwayat: “Barangsiapa membaca surah Al-An’aam, ia pun terpelihara agamanya dan mendapat rezeki yang baik serta dikaruniai keberuntungan dalam dunia dan akhiratnya.

Nabi , bersabda: “Barangsiapa membaca surah Al-Kahfi pada malam Jumat atau siang hari Jumat, ia diberi cahaya dari tempat ia membacanya sampai ke Mahsyar dan diampuni dosanya sampai Jumat berikutnya, ditambah tiga hari, didoakan oleh 70.000 malaikat sampai pagi dan dilindungi dari dabiilah (semacam penyakit perut yang sangat keras atau jantung), radang paru, lepra, belang dan fitnah Dajjal.”

Nabi , bersabda: “Tidaklah penghuni surga membaca Al-Quran, kecuali Yaa-Siin dan Ihaahaa.”

Menurut riwayat: Barangsiapa membaca surah Ihaahaa ia pun menyukai salat malam dan melakukan kebaikan serta menyukai pergaulan dengan para ahli agama. Dan siapa yang membaca surah Yaa-Siin, maka agamanya menjadi kuat. Diriwayatkan dari Ubaiy bin Ka’ab bahwa Nabi  bersabda: “Barangsiapa membaca surah Alif Laam Miim Tanzil, ia diberi pahala seperti orang yang menghidupkan malam Oodar.”

Menurut riwayat: “Barangsiapa membaca surah As-Sajdah, ia pun kuat tauhidnya dan selamat keyakinannya.” Nabi  bersabda:

“Barangsiapa membaca Haa Mim Ad-Dukhan pada malam Jumat atau hari Jumat, maka Allah membangun baginya sebuah rumah di surga.”

Menurut riwayat: “Barangsiapa membaca surah Al-Mulk, Allah nemberinya kebaikan dunia dan akhirat, harta milik dan kekayaannya menjadi banyak.”

Barangsiapa tidak bisa melakukan itu dengan baik, hendaklah ia banyak membaca surah Al-Ihklash dan banyak mengucapkan salawat untuk Nabi  pada hari ini secara khusus dan banyak membaca surah Al-Kahfi. Al-Wanna’iy berkata: “Sedikitnya salawat atas Nabi  adalah 300 kali di waktu malam dan 300 kali di waktu siang.”

Sedikitnya membaca surah Al-Kahfi adalah tiga kali dan membacanya di siang hari lebih utama, yang paling utama adalah sesudah Subuh.

Begitu khatib naik mimbar hentikanlah salat dan pembicaraan dan jawablah muazin, kemudian dengarkanlah khutbah dan ambillah pelajaran darinya. Al-Wanna’iy berkata: “Ketika khatib sudah berada di atas mimbar, maka seseorang yang salat harus meringankan bacaannya guna mendengar nasihat khatib. Akan tetapi memulai salat sebelum khatib duduk dan sesudah ia mulai naik tidaklah diharamkan.”

Adapun sesudah ia duduk, maka diharamkan. Salat tidak dikerjakan sama sekali, kecuali dua rakaat tahiyyat berdasarkan ijma’ sebagaimana disebutkan dalam Haasyiyah Al-Iqma. Janganlah bicara sama sekali di waktu imam menyampaikan khutbah.

Dalam khabar disebutkan bahwa siapa yang mengatakan kepada temannya: “Diamlah, maka ia pun telah berbuat dosa dan siapa yang berdosa tiada pahala Jumat baginya.” Maka patutlah ia melarang orang lain dengan isyarat, bukan dengan lafaz. Dalam mazhab jadid (baru) tidak diharamkan bicara di waktu khutbah, tetapi dihukum makruh.

Diam di saat imam menyampaikan khutbah adalah sunah. Yang di maksud dengaan perkataan Al-Laaghwi dalam khabar yang masyhur adalah menyalahi sunah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar. Yang dimaksud dengan perkataan: “Tiada Jumat baginya adalah tidak sempurna Jumatnya, bukan tidak sah Jumatnya.” Dalam mazhab godim (lama) diharamkan bicara pada waktu itu seperti imam-imam yang tiga dan wajib diam.

Al-Bujairami berkata: “Tidaklah dikatakan makruh berbicara sebelum khutbah dan sesudahnya dan di antara dua khutbah, walaupun tanpa keperluan. Kemudian ikutilah apa yang dilakukan imam dalam salat Jumat. Apabila engkau mendengar bacaan imam, maka janganlah membaca selain Al-Fatihah.

Apabila engkau selesai dari salat Jumat dan memberi salam, maka bacalah Al-Fatihah sebelum bicara tujuh kali, Al-Ikhlash tujuh kali dan Al-Mw’awwidzatain masing-masing tujuh kali.

Surah-surah tersebut melindungimu dari bahaya sejak hari Jumat itu hingga hari Jumat berikutnya dan menjadi pelindung bagimu dari gangguan setan sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Aisyah dari Rasulullah  akan tetapi tanpa Al-Fatihah.

Diriwayatkan oleh Al-Hafidh Al-Mundzini dari Anas bahwa nabi , bersabda:

“Barangsiapa membaca setelah imam memberi salam pada hari Jumat sebelum melipat kakinya Al-Fatihah dan Qul huwallahu Ahad serta Al-Mu’aumridzatain masing-masing tujuh kali, diampunilah dosanya yang terdahulu dan yang kemudian dan ia diberi pahala sebanyak orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya.” Ucapkanlah empat kali sesudah salam dari salat Jumat sebagaimana diriwayatkan dari Ad-Dimyari dari Abi Thalib Al-Makki sebagaimana lisebutkan dalam Al-Ihya’.

”Ya Allah, Ya Tuhan Yang Maha Kaya, Ya Tuhan Yang Maha Terpuji, Ya Tuhan Yang Memulai Penciptaan, Ya Tuhan Yang Mengulangi Penciptaan, Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, Ya Tuhan Yang Maha Penyayang,

cukupilah aku dengan segala yang engkau halaikan dan jauhkanlah aku dari segala yang Engkau haramkan. Cukupilah aku dengan mentaati-Mu daanjauhkan aku dari bermaksiat kepada-Mu serta cukupilah aku dengan karunia-Mu tanpa membutuhkan selain Engkau.”

Menurut riwayat: “Barangsiapa yang terus membaca doa ini, Allah mencukupiny a hingga tidak membutuhkan makhluk-Nya dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangkanya.”

Kemudian kerjakan salat dua rakaat sesudah Jumat sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Umar atau empat rakaa’at sebagaimana diriwayatkan oleh Abi Hurairah atau enam rakaat sebagaimana diriwayatkaan oleh Ali dan Abdullah bin Abbas masing-masing dua rakaat dan perkataan ini tidak disebutkan dalam Al-Ihya’

Semua itu, yakni keterangan jumlah dua rakaat empat dan enam rakaat itu diriwayatkan dari Rasulullah  dalam berbagai keadaan.

Nabi , bersabda:

”Barangsiapa di antara kamu salat sesudah Jumat, hendaklah ia salat empat rakaat.”

Dalam sebuah riwayat Muslim:

“Apabila seseorang dari kamu selesai mengerjakan salat Jumat hendaklah ia salat sesudahnya empat rakaat.”

Al-Barkawi berkata mengenai makna hadis ini: Hai para mukallaf, barangsiapa di antara kamu yang ingin menunaikan salat sesudah menunaikan fardu Jumat, hendaklah ia salat empat raka’aat dengan satu malam.

Hadis ini menunjukkan bahwa yang muakkad dari keenam rakaat ini sehabis salat Jumat adalah empat rakaat.

Ini adalah pendapat Abi Hanifah dan Muhammad dan Asy-Syafi’i dalam satu pendapat. Menurut Abi Yusuf: Yang sunah muakkadah sesudah salat Jumat adalah enam rakaat. Empat rakaat sunah Jumat dan dua sunah waktu.

Yang lebih utama adalah salat empat rakaat, kemudian dua rakaat. Berdasarkan ini, maka kedua rakaat yang lebih dari empat rakaat termasuk nawafil yang berdasarkan waktu, bukan nawafil mutlak.

Kemudian tinggallah di masjid sampai Magrib atau Asar. Menurut riwayat: Barangsiapa menunaikan salat Asar di masjid, maka ia mendapat pahala haji. Dan siapa yang menunaikan salat Magrib, maka ia mendapat pahala haji dan umrah. Jika ia takut mendapat bencana karena pandangan manusia kepada iktikafnya atau takut membicarakan sesuatu yang tidak pantas, maka yang lebih utama adalah kembali ke rumahnya dengan mengingat Allah, memikirkan nikmat-nikmatnya, mensyukuri Allah  atas taufik-Nya, merasa takut atas kecerobohannya, mengawasi hati dan lisannya hingga matahari terbenam supaya tidak ketinggalan saat yang mulia dan janganlah ia membicarakan urusan dunia di masjid atau lainnya.

Berusahalah mendapatkan saat yang mulia, karena ia tersembunyi dalam seluruh hari. Mudah-mudahan engkau menemukannya sedang engkau tunduk kepada Allah  merendahkan diri dan berdoa dengan tulus. Janganlah engkau menghadiri majelis-majelis ta’lim di masjid pada waktu itu.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa Nabi  melarang menghadiri majelis ta’lim pada hari Jumat sebelum salat, kecuali bilamana di situ terdapat orang yang alim dan mengingatkan tentang hari-hari Allah, dan mengajarkan agama Allah sedang ia berbicara di masjid di waktu pagi, lalu duduk mendengarkannya supaya ia kumpulkan antara kedatangan di awal waktu dan mendengarkan pelajaran, karena mendengarkan perkataan yang berguna tentang akhirat lebih utama daripada menyibukkan diri dengan nawafil.

Janganlah engkau hadiri majelis-majelis tukang dongeng, karena taida kebaikan dalam perkataan mereka. Akan tetapi hadirilah majelis ilmu yang berguna, yaitu yang menambah rasa takutmu kepada Allah  dan mengurangi keinginanmu terhadap kesenangan dunia. Telah diriwayatkan oleh Abi Dzar bahwa menghadiri suatu majelis ilmu lebih baik dari pada salat seribu rakaat.

Lebih baik engkau tidak mengetahui suatu ilmu bilamana ilmu itu tidak mengalihkanmu dari dunia ke akhirat. Maka berlindunglah engkau kepada Allah dari ilmu yang tidak berguna. Katakanlah:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hari yang tidak tunduk, mata yang tidak menangis, nafsu yang tidak pernah puas, amal yang tidak diangkat (diterima) dan doa yang tidak didengar”

Perbanyaklah berdoa di waktu matahari naik, matahari tergelincir, matahari terbenam, di waktu mendengar iqamat, di waktu khatib menaiki mimbar dan di waktu orang-orang berdiri untuk menunaikan salat. Maka tidaklah patut engkau dalam keadaan kosong di seluruh hari Jumat dari berbagai kebaikan dan doa hingga datang kepadamu saat yang mulia sedang engkau dalam keadaan baik. Tidaklah mengapa bila engkau mengucapkan doa ini:

“Ya Allah, kami mohon kepada-Mu pengertian tentang agama, tambahan dalam ihmu, kecukupan dalam rezeki, afiat dan kesehatan dalam badan, tobat sebelum mati, ketenangan di waktu mari, ampunan sesudah mati dan kenikmatan memandang wajah-Mu yang mulia, Ya Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Ya Tuhan yang paling suka bila dimintai.” Saat yang mulia itu ada di antara waktu-waktu ini. Para ulama berselisih mengenainya dalam beberapa pendapat. Ada yang mengatakan: ”AIlah  menyembunyikannya dalam hari itu.” Ada yang mengatakan: ”la adalah permulaan siang. Ada yang mengatakan: Ia terdapat pada akhirnya dan ini adalah pendapat sebagian besar ulama.”

An-Nawawi berkata, yang benar ialah yang disebutkan dalam hadis Muslim bahwa Nabi  bersabda: “Saat itu terdapat antara duduknya imam di atas mimbar hingga ia memberi salam dari salat.”

Dhahir hadis ini menunjukkan bahwa doa itu dianjurkan ketika imam sibuk berkhutbah. Masalah ini dirumitkan dengan perintah untuk diam ketika imam berkhutbah. Al-Bulqini menjawab tentang kerumitan ini bahwa bukanlah termasuk syarat doa mengucapkannya dengan jelas. Akan tetapi menghadirkannya di dalam hati sudah cukup.

Al-Hulaimi berkata: “Sesungguhnya doa itu diucapkan apabila imam duduk sebelum ia memulai khutbah atau di antara dua khutbah atau antara khutbah kedua dan salat atau di dalam salat sesudah tasyahud.”

Apa yang dikatakan oleh Al-Hulaimi lebih tepat. Demikian yang dinukil oleh Al-Bujairami dari Al-Ajhur.

Berusahalah mengeluarkan sedekah menurut kemampuanmu walaupun sedikit, karena sedekah di waktu itu mendapat pahala yang berlipat ganda. Maka engkau kumpulkan antara salat, puasa, sedekah, pembacaan Al-Qur’an, berzikir, beriktikaf dan menunggu salat demi salat.

Seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa memberi makan orang miskin pada hari Jumat, kemudian pergi di awal waktu ke masjid dan tidak mengganggu seseorang, kemudian ia mengucapkan setelah imam memberi salam:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ”Yang Hidup Kekal dan Yang selalu mengurusi makhluk-Nya, aku mohon

kepada-Mu agar Engkau meengampuni aku dan menyayangi serta menyelamatkan aku dari api neraka.”

Kemudian ia ucapkan doa yang diinginkannya. Maka dikabulkanlah doanya. Jadikanlah hari ini khusus bagi akhiratmu dan perbanyaklah membaca wirid di waktu itu. Mudah-mudahan hari ini menjadi penebus bagi hari-hari yang lain dalam minggu ini. Ringkasnya, siapa yang ingin sampai kepada Allah agar menambah wiridnya dan berbagai macam kebaikannya, karena apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia menjadikannya sebagai pelaku amal-amal utama. Dan apabila Allah membencinya, Dia menjadikannya sebagai pelaku amal-amal buruk dalam waktu-waktu yang mulia itu supaya lebih pedih dalam hukumannya dan menunjukkan kebencian-Nya yang sangat karena ia tidak mendapat berkah waktu dan melanggar kehormatannya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker