Menjauhi Perbuatan Maksiat
Ketahuilah bahwa agama memiliki dua ketentuan. Meninggalkan perbuatan-perbuatan terlarang dan melakukan ketaatan. Meninggalkan perbuatan terlarang lebih berat dan lebih sulit dari pada melakukan ketaatan. Oleh karena itu pahalanya lebih besar. Karena ketaatan dapat dilakukan oleh setiap orang sedangkan meninggalkan syahwat tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang benar. Mereka adalah orangorang yang mengetahui hujjah-hujjah dan ayat-ayat serta membersihkan hati dan melakukan riyadhah menuju puncak Irfan hingga mengetahui segala sesuatu dan memberitahukannya menurut apa adanya.
Oleh karena itu Rasulullah , bersabda: “Muhajir itu orang yang meninggalkan keburukan sedangkan mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya.”
Dalam riwayat Tirmidzi dan Ibnu Hibban: “Muhajir ialah orang yang berjihad melawan nafsunya, yakni menekan nafsunya yang buruk untuk melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat.
Jihad melawan hawa nafsu adalah puncak dari semua jihad, karena bila ia tidak bisa memeranginya, maka ia pun tidak bisa memerangi musuh.
Tentara hawa nafsu ada sepuluh, dengki, kesewenang-wenangan, sombong, dendam, tipu-daya, was-was, melawan perintah, berburuk sangka dan suka mendebat. Demikian disebutkan oleh Al-Hamadani.
Ketauilah bahwa sesungguhnya engkau mendurhakai Allah dengan anggota tubuhmu yang merupakan nikmat dari Allah atas dirimu serta amanat padamu yang harus engkau pelihara dari perbuatan yang dilarang Allah. Maka penggunaan nikmat Allah olehmu untuk melakukan maksiat merupakan puncak pengingkaran nikmat sedangkan pengkhiatanmu terhadap amanat yang dititipkan Allah $& padamu adalah puncak pelanggaran dalam kedurhakaan yang engkau lakukan. Anggota-anggota tubuhmu adalah di bawah pengawasanmu, maka lihatlah bagaimana engkau memeliharanya dengan menunaikan haknya. Karena masingmasing dari kamu adalah pemimpin dan masing-masing dari kamu bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.
Orang laki-laki pemimpin dalam keluarganya dan bertanggungjawab atas yang dipimpinnya dan orang perempuan pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung-jawab atas yang dipimpinnya sedangkan pelayan adalah penjaga harga tuannya dan bertanggung-jawab atas harta yang dijaganya. Demikian disebutkan dalam Az-Zawuayir:
Seorang penyair berkata:
Kiranya kita dibiarkan begitu saja setelah mari niscaya kematian merupakan istirahat bagi setiap orang yang hidup akan tetapi setelah ini kita ditanya tentang segala sesuatu
Ketahuilah bahwa semua anggotamu akan menjadi saksi atas dirimudi tempat-tempat berkumpul pada hari kiamat dengan perkataan yang fasih dan jelas.
Anggota tubuhmu akan mengungkapkan semua keburukan dengan lisan itu dihadapan orang banyak.
Allah berfirman dalam surah An-Nur: ”Pada hari dimana lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan.” Yakni berupa perkataan dan perbuatan di hari kiamat. Pada hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang sebenarnya.
Dalam surah yang lain Allah berfirman:
“Pada hari ini kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yaa-Siin: 65)
Setiap anggota menceritakan apa yang pernah dilakukannya. Mengenai cara penutupan mulut mereka ada dua pendapat. Yang terkuat adalah pendapat bahwa Allah membungkam mulut mereka dan menjadikan anggota tubuh mereka berbicara, lalu bersaksi atas diri mereka sedangkan itu adalah mudah dalam kekuasaan Allah Adapun pembungkaman mulut, maka sudah jelas.
Adapun pengadaan bicara, maka lisan adalah anggota yang bergerak dengan gerak tertentu. Bilamana demikian, maka anggota lainnya bisa digerakkan pula seperti itu. Sedangkan Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Pendapat lainnya ialah mereka tidak mengucapkan sesuatu apa pun, karena mereka tidak mempunyai uzur dan tabir mereka telah tersingkap. Maka mereka berdiri dengan kepala tertunduk tidak bisa mengajukan uzur dan tidak bisa menyatakan tobat.
Pembicaraan tangan-tangan adalah nampaknya kejadian yang tidak bisa diingkari. Yang shahih adalah pendapat pertama. Demikian disebutkan dalam As-Siraajul Munir.
Oleh sebab itu, hai manusia yang miskin, peliharalah seluruh anggota badanmu dari maksiat, terutama anggota-anggotamu yang tujuh. Karena neraka mempunyai tujuh lapisan dan setiap lapisan mempunyai bagian tertentu.
Ibnu Juraij berkata: “Neraka mempunyai tujuh lapis. Lapis pertama adalah Jahannam, kedua Ladha, ketiga Al-Huthamah, keempat As-Sa’ir, kelima Sagar, keenam Al-Jahiim, dan ketujuh Al-Haawiyah.
Pengkhususan jumlah ini adalah karena penghuninya terdiri dari tujuh golongan. Dan jumlah itu sesuai dengan tujuh anggota badan, yaitu mata, telinga, lidah, kemaluan, tangan dan kaki, karena semua itu adalah sumber perbuatan-perbuatan dosa.
Maka tempat-tempat masuknya adalah pintu-pintu yang berjumlah tujuh. Oleh karena anggota-anggota itu adalah sumber kebaikankebaikan dengan syarat niat, sedangkan niat termasuk amalan hati, maka anggotanya bertambah satu sehingga pintu-pintu (lapisan) surga dijadikan delapan.
Dalam setiap lapisan pertama ada golongan bertauhid yang dimasukkan neraka. Mereka disiksa sesuai dengan dosa-dosa mereka, kemudian dikeluarkan. Sedang lapisan kedua dihuni kaum Nasrani, lapisan ketiga dihuni kaum Yahudi, lapisan keempat kaum Shabi’in, lapisan kelima kaum Majusi, lapisan keenam kaum Musrikin, dan lapisan ketujuh kaum Munafik.
Diriwayatkan dari Umar bahwa Rasulullah bersabda: ”Neraka Jahanam mempunyai tujuh pintu (lapisan) dan salah satunya diperuntukkan bagi orang yang menghunus pedang terhadap umatku. Demikian disebutkan dalam As-Siranjul Munir. Tidaklah dimasukkan dalam pintu-pintu itu melainkan siapa yang mendurhakai Allah dengan ketujuh anggota ini, yaitu mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan dan kaki. Masing-masing kenikmatan ini harus disyukuri oleh pemiliknya dengan menggunakannya dalam ketaan terhadap Allah
Mata diciptakan bagimu untuk menunjukimu dalam kegelapan dan memenuhi kebutuhanmu serta memandang kerajaan bumi dan langit dan mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di dalamnya, yakni petunjuk-petunjuk yang jelas atas ke-Esa-an Allah.
Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, kapal yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” Al-Baqarah: 164.
Maka jagalah mata dari empat perkara, memandang yang bukan mahramnya. Jagalah matamu dari memandang aurat wanita, walaupun mahramnya. Tidaklah berdosa seseorang yang melihatnya pertama kali tanpa disengaja. Lain halnya bila ia mengulangi pandangangnya. Demikian dikatakan oleh Ar-Ramli.
Atau memandang bentuk rupa yang tampan dengan syahwat. Diriwayatkan bahwa suatu kaum datang kepada Nabi , sedang diantara mereka terdapat seorang pemuda tampan yang mulus wajahnya. Maka Nabi mendudukkannya di belakang punggungnya.
Beliau berkata: “Sesungguhnya fitnah yang menimpa Dawud adalah dari sebab pandangan. Janganlah engkau memandang kepada seorang muslim dengan pandangan penghinaan atau menggunakannya untuk menyelidiki aib seorang muslim.”
Allah berfirman: “Katakanlah kepada orang-orang mukmin supaya mereka menjaga pandangan mereka.”
Seorang penyair berkata:
Semua kecelakaan diawali dari pandangan dan api yang besar disebabkan oleh percikan api yang kecil manusia itu selama mempunyai mata yang digerakkannya di antara mata-mata yang lunak ia pun cenderung menghadapi bahaya betapa banyak pandangan berbuat dalam hati pemiliknya seperti panah tanpa busur dan talinya pemandangnya merasa senang dengan apa yang membahayakan hatinya tiada kebaikan bagi kegembiraan yang menimbulkan bahaya









One Comment