Adab Tidur
Semua yang engkau kerjakan dalam harimu mempunyai adabadab, demikian juga dengan tidur. Sebelum engkau tidur hendaknya mengerjakan adab-adabnya yang enam,
Pertama, menghadap kiblat. Menggelar alas tidur dengan menghadap kiblat. Menghadap kiblat itu ada dua macam, yang pertama:
- Menghadap kiblat seperti orang yang menghadapi ajal, yakni berbaring di atas punggungnya, wajah dan perutnya menghadap kiblat. Cara berbaring ini dibolehkan bagi orang lelaki dan makruh bagi perempuan.
- Tidur di atas sisi kanan sebagaimana mayit berbaring di dalam lahatnya, dan dengan bagian depan badan menghadap kiblat. Adapun tidur di atas wajah, maka itu adalah tidurnya setan dan hukumnya makruh. Adapun tidur di atas sisi sebelah kiri, dianjurkan para dokter, karena mempercepat pencernaan makanan. Untuk memenuhi sunah dan segi kedokteran patutlah ia berbaring di atas sisi kanan sebentar sesudah makan, kemudian berbalik di atas sisi kiri.
Kedua, ketahuilah bahwa tidur ibarat kematian dan jaga ibarat kebangkitan, karena setiap orang tidak tahu kapan ia akan dicabut nyawanya. Barangkali Allah mencabut nyawamu di saat tidur. Maka bersiaplah untuk berjumpa dengan-Nya dengan tidur dalam keadaan suci.
Ketiga, hendaklah menulis wasiat yang diletakkan di bawah bantal. Karena boleh jadi nyawamu diambil di waktu tidur. Maka jika seseorang mati tanpa wasiat, ia tidak berbicara di alam barzakh. Sesungguhnya orang-orang mati saling mengunjungi di dalam kubur-kubur mereka. Seseorang berkata kepada yang temannya: “Kenapa orang yang miskin ini?”
Dijawab: “Ia mati tanpa meninggalkan wasiat.” Demikian dinukil dari Ibnu Sholah. Al-Bujairami berkata, hal itu bisa diartikan bila ia mati tanpa meninggalkan wasiat yang wajib karena telah dinazarkannya.
Keempat, tidurlah dalam keadaan bertobat dari dosa-dosa dan memohon untuk tidak mengulangi berbuat dosa.
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abi Said Al-Khuudfi dari Nabi beliau bersabda:
“Barangsiapa ketika hendak tidur mengucapkan, “Aku mohon ampun kepada Allah yang rada Tuhan selam Dia Yang Hidup Kekal dan selalu mengurusi makhluk-Nya tiga kali, maka Allah mengampuni dosa| dosanya.”
Berusahalah untuk selalu berbuat kebaikan kepada sesama muslim jika Allah membangkitkanmu dari tidur.
Nabi bersabda:
“Barangsiapa tidur tanpa berniat untuk menganiaya seseorang dan tidak mendendam kepada seseorang, diampunilah dosanya.”
Ingatlah bahwa engkau akan berbaring dalam lahatmu seperti itu dalam keadaan sendirian dan terasing. Engkau tidak mempunyai sesuatu apa pun selain amal dan tidak dibalas kecuali dengan usahamu. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya hasil usahanya akan dilihatnya.”
Yakni dalam timbangannya pada hari kiamat tanpa ada keraguan dengan janji yang tidak akan meleset, meskipun setelah waktu yang lama.
Kelima, janganlah membiasakan dirimu tidur di atas kasur yang empuk, dan janganlah tidur bila tidak sangat mengantuk, kecuali kalau ingin tidur supaya bisa bangun di akhir malam. Adalah mereka tidur bila sangat mengantuk, dan makan bila sangat lapar dan berbicara hanya seperlunya.
Janganlah paksakan tidur, karena tidur itu menganggurkan kehidupan, kecuali bila jagamu berakibat buruk atas dirimu, dan tidurmu menimbulkan keselamatan bagi agamamu, maka ketika itu engkau boleh tidur.
Disunahkan bagi untuk merapikan dan membersihkan tempat tidurnya bila ingin kembali tidur sesuai dengan sabda Nabi :
“Apabila seseorang dari kamu ingin tidur, hendaklah ia mengebas alas tidurnya dengan bagian dalam sarungnya, karena ia tidak tahu apa yang ditinggalkannya di situ.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah)
Ketahuilah bahwa dalam sehari semalam 24 jam, maka gunakan waktumu untuk tidur siang dan malam tidak lebih dari 8 jam.
Jika engkau tidur di waktu malam lebih dari 8 jam, maka tidak ada artinya tidur di siang hari. Maka cukuplah bagimu jika engkau hidup misalnya 60 tahun bahwa engkau menyia-nyiakan 20 tahun darinya, yaitu sepertiga umurmu.
Siapkan siwakmu dan air untuk bersuci ketika akan tidur dan bertekadlah untuk bangun malam atau bangun sebelum Subuh. Diriwayatkan dari Rasulullah , bahwa beliau bersiwak beberapa kali setiap malam ketika hendak tidur dan di waktu bangun dari tidur.
Adalah dua rakaat di tengah malam merupakan salah satu simpanan kebaikanmu untuk memenuhi kebutuhanmu di dalam kubur dan di hari kiamat. Simpanan hartamu di dunia tidak akan cukup bagimu bila engkau mati. Nabi bersabda: “Barangsiapa mendatangi tempat tidurnya sedang ia berniat bangun malam dan mengerjakan salat, tetapi ia tertidur sampai pagi, maka ditulis baginya apa yang diniatkannya dan tidurnya menjadi sedekah atas dirinya dari Allah
Keenam, berdoa ketika akan tidur dan ketika bangun dari tidur, katakanlah ketika hendak tidur.
“Dengan menyebut nama-Mu ya Tuhanku, aku letakkan lambungku dan dengan menyebut nama-Mu aku mengangkatnya, maka ampunilah dosaku. Ya Allah, lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau bangkirkan hamba-hamba-Mu Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan aku mati. Dan aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari kejahatan setiap makhluk yang jahat dan kejahatan setiap makhluk yang nyawanya berada di tangan-Mu, sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Ya Allah, Engkaulah yang permulaan, maka nada sesuatu pun sebelum Engkau. Dan Engkaulah yang penghabisan, maka tiada sesuatu pun selai Engkau. Engkaulah Yang Tampak dan tiada sesuatupun di atas-Mu dan Engkaulah Yang Tersembunyi, maka nada sesuatu pun di dekat-Mu. Lunaskanlah hutangku daan cukupilah aku dan jauhkan aku dari kemiskinan.”
Di dalam Al-Ihya’ dan Al-Adzkar yang diriwayatkan oleh Abi Dawud, sampai pada kata “anta al-awalu”.
Adapun riwayat Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah, maka seperti itu, kecuali lafaz: “Lunaskanlah hutang kami dan cukupilah kami dan jauhkan dari kemiskinan.”
“Ya Allah, Engkau ciptakan diriku dan engkau mematikannya. Engkaulah yang berkuasa mematikan dan menghidupkannya sewaktu-waktu. Jika Engkau mematikannya, maka ampunilah dia dan jika Engkau menghidupkannya, maka peliharalah dia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang salih. Ya Allah, aku mohon kepadaMu maaf dan keselamatan dalam agama, dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim dari Ibnu Umar)
“Ya Allah, bangunkanlah aku dalam saat yang paling aku sukai dan Jadikanlah aku sebagai pelaku amal yang paling Engkau sukai untuk mendekatkan aku kepada-Mu sedekat-dekatnya dan menjauhkan aku dari kemarahan-Mu sejauh-jauhnya. Aku memohon kepada-Mu hingga Engkau memberiku dan aku mohon ampun kepada-Mu hingga Engkau ampuni aku dan aku berdoa kepada-Mu hingga Engkau mengabulkannya bagiku.”
Kemudian bacalah ayat Kursi. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi bahwa siapa membacanya ketika hendak tidur, maka Allah mengamankannya atas dirinya, tetangganya dan rumah-rumah di sekitarnya. Demikian disebutkan dalam As-Siraajul Munir. Kemudian diteruskan dengan membaca ”Aamanaar rasuul” hingga akhir surah Al-Baqarah. Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Bagarah dalam suatu malam, maka kedua ayat itu akan melindunginya.” Asy-Syarbini menambahi, yakni dari ketidak-mampuan bangun malam atau dari segala yang menyedihkannya.
Diriwayatkan oleh Abu Bakar dari Ali bahwa ia berkata: “Tidaklah kulihat seorang yang berakal tidur sebelum membaca tiga ayat terakhir dari surah Al-Bagarah dan Al-Ikhlas tiga kali sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Al-Mu’ awwidzatain.”
Kemudian tiuplah dalam kedua tanganmu ketika membaca dan usaplah kepala, wajah dan bagian tubuhmu yang lain dan lakukan itu tiga kali. Kemudian bacalah surah Al-Mulk, dan ucapkanlah dalam keadaan terjaga:
“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Penakluk, Tuhan Penguasaa langit dan bumi dan segala yang terdapat di antara keduanya. Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Aisyah Hendaklah engkau tertidur dalam keadaan berzikir dan dalam keadaan suci.
Barangsiapa bersuci sebelum tidur, ruhnya dinaikkan ke Arsy dan ditulis sebagai orang yang salat hingga ia bangun dan mimpinya benar. Jika tidak tidur dalam keadaan suci, maka mimpi-mimpinya kacau dan tidak benar. Saya maksudkan dengan ini kesucian batin dan lahir sekaligus. Kesucian batin itulah yang berpengaruh dalam tersingkapnya tabir kegaiban. Apabila engkau bangun, maka kembalilah kepada apa yang saya beritahukan kepadamu pertama sekali dalam bab adab-adab di waktu bangun dan peliharalah tertib ini dalam sisa umurmu. Jika berat bagimu memeliharanya, maka sabarlah dengan kesabaran orang sakit yang menahan pahitnya obat sambil menunggu kesembuhan dan pikirkanlah umurmu yang pendek.
Jika engkau hidup seratus tahun misalnya, maka umur itu sedikit dibandingkan tinggalmu di negeri akhirat yang abadi.
Renungkanlah bagaimana engkau menanggung kepayahan dan kehinaan dalam mencari dunia selama sebulan atau setahun karena berharap bisa beristirahat dengan kenikmatan dunia itu selama 20 tahun misalnya. Mengapa engkau tidak sanggup menanggung kepayahan dengan mengamalkan wirid-wirid dalam masa yang sebentar dari hidupmu di dunia demi mengharapkan istirahat untuk selama-lamanya. Kenikmatan dunia dibanding pahala akhirat tidak ada artinya.
Janganlah engkau panjangkan angan-anganmu sehingga menjadi berat bagimu untuk beramal sementara kematian telah dekat.
Katakanlah dalam hatimu: Aku menanggung kepayahan hari ini dengan membaca wirid-wirid, karena boleh jadi aku mati nanti malam. Dan aku bersabar malam ini dengan menanggung pahitnya berjaga dalam melakukan ibadat, karena boleh jadi aku mati besok. Maka ibadat itu menjadi bekal bagiku di akhirat.
Sesungguhnya kematian tidak akan datang kepada seorang hamba dalam waktu yang telah ditentukan, tetapi ia kan datang sewaktu-waktu dalam setiap keadaan, baik keadaan sehat, sakit, lalai maupun ingat. Dan kematianpun tidak datang dalam umur tertentu, tetapi ia akan datang kepada anak kecil, pemuda maupun orang tua.
Maka kematian itu pasti menyerang dalam setiap keadaan sehingga persiapan untuk menghadapinya lebih patut daripada persiapan untuk mendapatkan kenikmatan dunia, sedangkan engkau tahu bahwa engkau tidak tinggal di dalamnya kecuali sebentar. Barangkali ajalmu hanya tinggal sehari atau sedetik, maka pikirkanlah serangan kematian ini dalam hatimu setiap hari.
Nabi bersabda: “Hadiah bagi orang mukmin adalah kematian.” Nabi mengatakan ini karena dunia adalah penjara bagi orang mukmin di mana ia bersusah payah dan mematahkan syahwat serta memerangi setannya. Maka kematian merupakan pembebasan baginya dari siksaan ini, sedangkan pembebasan itu adalah hadiah baginya.
Ar-Rabi bin Khaitsam berkata: ”Andaikata hatiku tidak mengingat kematian sesaat, niscaya rusaklah dia.”
Paksakan dirimu untuk sabar dalam mentaati Allah hari demi hari karena jika engkau bisa hidup selama 50 tahun misalnya, dan engkau memaksanya bersabar dalam mentaati Allah, niscaya nafsu itu putus asa dan menjadi sulit bagimu.
Maka jika engkau lakukan itu, engkau pun gembira di saat kematian dengan kegembiraan yang tak berakhir, setelah engkau melihat tempatmu di surga, karena engkau telah bersiap-siap untuk akhirat dengan beribadat dan membersihkan jiwa. Jika engkau menunda-nunda ketaatan dan menggampangkannya, maka datanglah kematian kepadamu secara mendadak dalam waktu yang tidak engkau sangka dan engkau pun menyesal dengan penyesalan yang tak berakhir. Amalan orang-orang di waktu malam berupa ibadat akan dipuji di pagi hari sebagaimana halnya orang-orang yang melakukan perjalanan malam akan terpuji di waktu pagi karena mempersingkat perjalanan.
Saat kematian adalah kabar yang jelas kepadamu, yakni gembira dengan mendapat rida Tuhan sekalian alam atau bersedih karena mendapat kemurkaan-Nya dan kamu akan mengetahui kabar tersebut setelah waktu tertentu, yakni setelah habis umurmu.
Setelah kami tunjukkan kepadamu tertib dari wirid-wirid, maka akan kami sebutkan bagimu cara salat dan puasa, adab-adabnya dan adab-adab imam, makmum dan salat Jumat.









One Comment