Rasulullah bersabda: “Bersikap lunak kepada orang-orang adalah sedekah.” HR. Ibnu Hibban, Thabrani dan Baihagi dari Jabir bin Abdullah.
Maksudnya bersikap lemah lembut kepada orang-orang dengan perkataan dan perbuatan diberi pahala seperti pahala sedekah. Dalam menyaksikan orang semacam itu terdapat faidah besar jika engkau berhasil mengatasinya. Yaitu engkau saksikan hal ihwal perbuatan-perbuatannya yang buruk sehingga engkau bisa menjauhinya.
Orang yang bahagia ialah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain sedangkan orang yang sengsara ialah orang yang kejelekannya mengungguli kebaikannya. Orang mukmin adalah cermin orang mukmin lainnya. Maka ia mengukur dirinya dengan orang lain dalam hal ihwal dan perkataan yang disukai maupun yang tidak disukainya.
Dikatakan kepada Isa : “Siapa yang mengajarimu adab sedangkan engkau dilahirkan tanpa ayah.”
Isa menjawab: “Tak seorang pun ang mengajariku adab. Akan tetapi aku melihat kebodohan orang bodoh, lalu aku menjauhinya.”
Beliau berkata benar. Andaikata orang-orang menjauhi perkataan dan perbuatan tercela yang berasal dari orang lain, niscaya sempurnalah adab mereka dan tidak memerlukan pengajar adab. Karena orang berakal melihat perubahan zaman dan menjalankan adab sesuai dengan keadaannya. Secara keseluruhan manusia itu ibarat dan pohon. Di antaranya ada yang mempunyai bayangan tetapi tidak mempunyai buah. Ja adalah orang yang bermanfaat mengenai urusan dunia tanpa akhirat. Sesungguhnya manfaat dunia itu seperti bayangan yang cepat hilang. Ada pula yang mempunyai buah dan tidak mempunyai bayangan. Ia adalah orang yang bermanfaat untuk akhirat tanpa dunia. Ada pula yang tidak mempunyai buah maupun bayangan. Ada yang mempunyai salah satu dari keduanya. Semuanya ada empat macam.
Kewajiban kedua, ialah memelihara hak-hak persahabatan dan persaudaraan. Apabila terjadi persekutuan dan terjalin persahabatan, maka engkau harus menunaikan kewajiban-kewajiban yang harus diamalkan yang terdapat dalam adab-adab.
Rasulullah bersabda: “Perumpamaan dua orang saudara adalah seperti dua tangan, yang satu membasuh yang lain.”
Rasulullah mengumpamakan keduanya dengan dua tangan, bukan tangan dengan kaki, karena keduanya saling membantu untuk mencapai satu tujuan. Begitu pula dua orang bersaudara. Persaudaraan keduanya menjadi sempurna bila saling membantu mencapai satu tujuan. Keduanya dari satu sisi seperti satu orang. Ini menuntut kebersamaan dalam keadaan suka dan duka dan kebersamaan dalam menghadapi masa akan datang maupun masa sekarang.
Suatu ketika Rasulullah memasuki hutan, kemudian mengambil dua ranting. Yang satu bengkok dan yang lain lurus.
Menurut riwayat Nabi disertai seorang sahabatnya, yaitu Abdurrahman bin Auf, ada yang mengatakan beliau ditemani Usman bin Affan. Kemudian beliau memberikan yag lurus kepada sahabatnya dan menahan yang bengkok. Maka ia berkata kepada Nabi :”Ya Rasulullah, engkau lebih berhak memegang yang lurus daripada aku.” Kemudian Rasulullah berkata:” Tidaklah seseorang menemani temannya walaupun sesaat di siang hari, melainkan ia ditanya tentang persahabatannya, apakah ia menegakkan hak Allah dalam persahabatan itu atau menyianyiakannya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa yang diutamakan adalah menunaikan hak Allah dalam persahabatan.
Pada suatu hari Rasulullah keluar menuju sebuah sumur untuk mandi di situ, Hudzaifah memegang baju dan berdiri menutupi Rasulullah hingga beliau selesai mandi. Kemudian Hudzaifah duduk untuk mandi. Maka Rasulullah mengambil baju itu dan berdiri menutupi Hudzaifah dari pandangan orang-orang. Namun Hudzaifah menolak dan berkata: “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, ya Rasulullah, janganlah engkau lakukan itu.” Akan tetapi Rasulullah tetap menutupinya hingga Hudzaifah selesai mandi.
Rasulullah bersabda: “Tidaklah dua orang berteman, melainkan yang paling dicintai Allah ‘adalah yang paling lemah lembut terhadap temannya.”
Adab-adab dalam persahabatan ini ada dua belas:
- Mengutamakan temannya dalam pemberian harta. Jika tidak bisa melakukan ini, maka ia beri temannya dari hartanya di saat temannya membutuhkan, walaupun sedikit. Alhasil, pertolongan dengan harta terhadap saudara-saudara ada tiga tingkatan. Tingkatan terendah adalah bila engkau tempatkan temanmu dalam kedudukan hamba atau pelayanmu. Maka engkau penuhi kebutuhannya dari kelebihan hartamu. Bilamana ia mempunyai keperluan sedang engkau mempunyai kelebihan dari hartamu, maka engkau beri dia sebelum ia meminta. Karena jika ia memintanya kepadamu, maka itu adalah puncak kecerobohan terhadap hak saudara. Tingkatan kedua engkau tempatkan dia dalam kedudukan dirimu dan engkau rela ia ikut menikmati hartamu. Dan tingkatan tertinggi, yaitu engkau utamakan dia di atas dirimu dan engkau dahulukan kebutuhannya di atas kebutuhanmu bila sama-sama mempunyai keperluan. Ini adalah tingkatan pada shiddig dan puncak tingkatan orang-orang yang saling mencintai. Adapun dalam hal ibadat, maka tidaklah disukai mengutamakan orang lain dengannya.
- Menolong dengan jiwa dalam memenuhi kebutuhan atas kemauan sendiri tanpa menunggu permintaan.
Hal itu lebih menampakkan tawadhu dan ini juga terbagi dalam beberapa tingkatan seperti menolong dengan harta. Maka yang terendah adalah memenuhi kebutuhan ketika diminta dan dalam keadaan mampu, tetapi dengan wajah berseri-seri dan menampakkan kegembiraan.
- Menyimpan rahasia yang disampaikan temannya kepadanya dan tidak menyampaikannya kepada orang lain sama sekali maupun kepada temannya yang paling akrab dan tidak menyingkapnya sekalipun setelah pemutusan hubungan dan mengalami keresahan. Karena hal itu adalah tabiat yang hina dan batin yang buruk. Dan menutupi kejelekan yang diketahuinya, baik tanpa setahu temannya, meskipun berkaitan dengan larangan Allah demi menutupi kejelekan sebagaimana dianjurkan, sekalipun dalam keadaan putus hubungan. Dan tidak menyampaikan sesuatu yang menyedihkan dari celaan orang kepadanya. Ringkasnya ialah tidak menyampaikan perkataan yang tidak disukainya, kecuali bila wajib baginya mengucapkan sesuatu tentang amar maruf atau nahi munkar dan ia tidak menemukan rukhsah untuk diam. Ketika itu ia tidak peduli untuk tidak menyukainya, karena hal itu merupakan kebaikan kepadanya.
- Menyampaikan sesuatu yang menyenangkan berupa pujian orang kepadanya di samping menampakkan kegembiraan. Karena menyembunyikan hal itu merupakan kedengkian belaka. Nabi telah bersabda: “Apabila seseorang dari kamu mencintai saudaranya, hendaknya ia mengabarinya. Hendaklah ia mendengarkan dengan baik ketika temannya berbicara dan tidak menyelidiki keadaannya. Bilamana melihatnya di jalan atau sedang menunaikan suatu keperluan, janganlah ia menanyainya tentang tujuan kepergiannya. Barangkali ia merasa berat menyebutnya.”
- Hendaklah ia memanggil temannya dengan nama yang paling disukainya dan memujinya dengan menyebut kebaikannya yang ia ketahui, karena hal itu termasuk sebab terbesar untuk menimbulkan kecintaan. Begitu pula dengan memuji anak-anak dan keluarganya, hingga ilmu dan karangannya dan segala yang menggembirakannya tanpa berdusta dan berlebihan. Hendaklah ia berterima kasih kepadanya atas kebaikannya terhadap dirinya. Ini sesuai dengan AlIhya. Bahkan ia berterima kasih kepadanya atas niatnya, meskipun telah terlaksana.
Ali berkata: “Barangsiapa tidak memuji saudaranya (temannya) atas niatnya yang baik, maka ia pun tidak memujinya atas perbuatannya yang baik.” Hendaklah ia membela temannya bila ada yang menyinggung kehormatannya sebagaimana ia membela dirinya.
Ini lebih besar pengaruhnya dalam menimbulkan kecintaan, karena hak persaudaraan adalah berusaha keras dalam melindungi dan membela teman serta menegur dan memarahi siapa yang mengganggunya. Rasulullah mengumpamakan dua orang saudara dengan dua tangan, yang satu mencuci yang lain, adalah supaya saudara yang satu menolong saudara yang lain. Hendaklah ia menasihati temannya dengan lemah lembut dan secara tersamar bila ia perlu menasihatinya. Hal itu dilakukannya dengan menyebut kejelekan-kejelekan perbuatan itu dan faidahfaidah bila meninggalkannya serta mengingatkannya akan akibat buruk perbuatan itu di dunia dan di akhirat supaya ia berhenti melakukannya. Akan tetapi patutlah ia lakukan itu dengan diamdiam tanpa diketahui seorang pun. Apabila dilakukannya di hadapan orang banyak, maka itu adalah keburukan dan kecemaran. Dan apabila dilakukannya dengan diam-diam, maka itu adalah kasih sayang dan nasihat yang sebenarnya.









One Comment