Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Dalam hadis disebutkan, “Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap Muslim dan meletakkan ilmu pada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungkan permata, mutiara dan emas kepada babi.” Yakni orang yang meletakkan ilmu di luar tempatnya adalah zalim. Maka orang alim harus bersikap tulus dalam semua urusan. Ia perlakukan semua orang sesuai dengan keadaannya seperti dokter yang mengobati pasien sesuai dengan penyakitnya.

Diriwayatkan dari Maruf Al-Karkhi bahwa ketika Abu Yusuf sahabat Abi Hanifah meninggal dunia, tidak ada seorang pun yang menghadiri jenazahnya, karena ia pernah ikut dalam urusan raja. Sebelum ia dimakamkan aku bermimpi bertemu dengannya. Aku bertanya, “Apa yang dilakukan Allah terhadapmu?”

Abu Yusuf menjawab, “Tuhanku mengampuni diriku.

Aku bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau diampuni?”

Abu Yusuf menjawab, “Karena aku bersikap tulus kepada para pelajar.”

Kemudian aku terbangun dari tidur dan menghadiri jenazahnya.

Jika niat dan tujuanmu menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan hidayat dari Allah, atau untuk menghilangkan kebodohan diri atau menghidupkan dan mengekalkan agama Islam serta mencapai negeri akhirat dan memperoleh keridaan Allah  di samping mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan, bukan hanya sekadar meriwayatkan dan menukil dari ulama, maka gembiralah, karena para malaikat rida dengan apa yang engkau tuntut dan mereka akan membentangkan sayap-sayapnya sebagai hamparan bagi para penuntut ilmu. Ikan-ikan di laut pun akan memohonkan ampunan bagi orang yang mau berjalan menuju orang alim (guru) untuk belajar.

Hal itu disebabkan kebaikan dunia tergantung pada orang alim dengan penyampainnya terhadap hukum-hukum syariat yang diantaranya, diharamkan menyiksa hewan sebagaimana disebabkan oleh Al-Azizi.

Tanda dari tujuan itu, bila engkau lebih menyukai pembahasan ilmu secara pribadi daripada dengan orang banyak. Dan bila engkau tidak membedakan antara tersingkapnya kebenaran melalui lisanmu atau lisan orang lain. Sebuah hikayat, Suatu ketika Al-Allamah Man’uusy AlMagribi menghadapi kerumitan dalam pelajarannya, sedang majelisnya telah dihadari oleh imam-imam dari mazhab yang empat.

Ia menyanggah perkataan Asy-Syafi’i, yang mengatakan apabila syarat masuk dalam syarat, maka tidaklah menimbulkan hukum, kecuali dengan mendahulukan yang diakhirkan.

Misalnya, jika engkau bicara ketika engkau masuk rumah, maka engkau tertalak. Menurutnya tidaklah jatuh talak, kecuali bila ia masuk.

Maka Syeikh itu berkata: “Kami tidak melihat adanya dalil bagi perkataan itu dalam bahasa Arab.”

Hamdan yang ketika itu masih anak-anak berkata: “Apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i adalah benar.”

Orang-orang di sekitarnya melarangnya karena ia masih anak-anak. Asy-Syeikh berkata: “Biarkan dia, karena tidak ada permusuhan antara kami dengan kebenaran, meskipun berasal anak kecil.”

Termasuk kekhususan kami adalah menerima kebenaran, walaupun ia berasal dari anak kecil, dan anak kecil boleh menyanggah orang dewasa dalam hal kebenaran.

Lain halnya dengan umat-umat terdahulu. Apabila ada orang terpandang bersalah, maka tak seorangpun berani menyanggahnya, sehingga kesalahan itu berlaku sebagai syariat yang diamalkan di dunia.

Kemudian Asy-Syeikh menoleh kepada Hamdan dan berkata: “Katakan, apa yang ada padamu!”

Anak itu menjawab:” Apa pendapatmu tentang perkataan penyair dalam Bahrul Basiith:

Mereka minta tolong kepada kami Jika mereka takut niscaya mereka dapatkan dari kami tempat-tempat kemuliaan yang dihiasi kemurahan hati.

Permintaan tolong itu dibutuhkan sesudah timbul rasa takut, bukan sebelumnya. Dan apa yang dikatakan Asy-Syafi’i itulah yang benar. Hal itu dibuktikan dalam bahasa Arab. Maka Asy-Syeikh tersenyum dan senang dengan jawaban itu.

Ia berkata: “Engkau benar wahai anakku”, dan ia pun mendoakannya.

Asy-Syeikh berkata: “Sebenarnya aku tidak pantas menyanggah, hanya saja aku mengira bahwa Imam Asy-Syaffi yang menggerakkan lisanku untuk bicara.

Betapa indahnya perkataan penyair dalam Bahrul Ihawil:

Banyak anak kecil yang mendapat perhatian dari Allah. hingga orangorang tua memerlukannya.

Di samping menuntut ilmu, engkau harus beribadat atau ilmumu akan sia-sia. Sesungguhnya ilmu itu ibarat pohon dan ibadat ibarat buahnya. Maka hal pertama yang harus engkau jalani adalah mengenal Tuhan, kemudian menyembah-Nya. Bagaimana engkau bisa menyembah Tuhan, jika engkau tidak mengenal nama serta sifat-sifat Dzat-Nya, apa yang wajib bagi-Nya dan apa yang mustahil dalam sifat-Nya.

Mungkin engkau meyakini sesuatu pada Dzat dan sifat-sifat-Nya yang bertentangan dengan kebenaran, maka ibadatmu menjadi sia-sia. Hal itu dilakukan dengan mengetahui bahwa engkau mempunyai Tuhan Yang Maha Mengetahui, Berkuasa, Berkehendak, Hidup, Berbicara,

Mendengar, Melihat, Sudah ada sebelum makhluk, tiada sekutu baginya, memiliki sifat-sifat sempurna, bersih dari kecurangan, kehilangan dan tanda-tanda kebaruan. Dan Allah mengutus hamba-Nya Muhammad , beliau adalah utusannya yang benar dalam semua hukum yang dibawanya dan kejadiankejadian akhirat seperti perhimpunan manusia, kebangkitan, siksa kubur, pertanyaan Munkar dan Nakir, timbangan amal, ash-shirot, surga dan neraka, telaga, syafa’at dan lainnya.

Kemudian engkau dituntut mengenal hidayat menempuh jalan Allah , ia merupakan buah ilmu yang memiliki permulaan yang dinamakan syariat dan tharikat. Dan ia memiliki akhir yang dinamakan hakikat, karena hakikat sesuatu adalah akhirnya dari buah syariat dan tharigat sekaligus. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam, dan buah tharigat sebagaimana dikatakan oleh Ash-Shawi.

Hidayat juga memiliki lahir dan batin. Setiap batin memiliki lahir dan sebaliknya. Syariat adalah lahirnya hakikat, sedangkan hakikat adalah batinnya, keduanya saling berkaitan. Syariat tanpa hakikat, tidaklah akan berbuah, dan hakikat tanpa syariat adalah sia-sia dan tidak mengandung kebaikan dan tidak berhasil.

Seorang penyair berkata dari Bahrul Basiith.

Tasawwu adalah bila engkau jernih tanpa kekeruhan dan mengikuti kebenaran, Al-Quran serta agama dan bila engkau terlihat khusyuk kepada Allah dan susah atas dosa-dosamu sepanjang masa dan bersedih.

Ash-Shawi berkata: ”Syariat, adalah hukum-hukum yang disampaikan oleh Rasulluah  , dari Allah   berupa hal-hal yang wajib, sunah, haram, makruh dan mubah kepada kita.”

Ada yang mengatakan: “Syariat adalah mengamalkan agama Allah  , menjalankan perintah dan menjauhi larangan.”

Tharigat, adalah mengamalkan hal-hal yang wajib dan sunah, meninggalkan hal-hal yang dilarang maupun hal-hal yang mubah dan berlebihan serta berhati-hati (berlaku wara), dan melatih diri dengan tidak tidur, lapar dan diam.

Hakikat, adalah memahami hakikat segala sesuatu seperti menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan Dzat dan rahasia-rahasia Al-Qur’an, rahasia-rahasia larangan, kebolehan dan ilmu-ilmu ghaib yang tidak bisa diperoleh dari seorang guru, melainkan dipahami dari Allah.

Allah  berfirman: “Jika kamu bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadikan bagian furqan yakni pemahaman di dalam hatimu. Yang kamu dapatkan dari Tuhanmu tanpa guru.”

Dalam firman-Nya yang lain: “Dan takutlah kamu kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu” yakni tanpa seorang guru.

Imam Malik berkata: “Barangsiapa mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah memberikan kepadanya ilmu dari apa yang tidak ia ketahui, maka hal itu menunjukkan dengan kalimat-kalimat ini syariat, tharigat dan hakikat. Dengan perkataan ilmu beliau mengisyaratkan kepada syariat dan dengan perkataan amal beliau mengisyaratkan kepada hakikat.

Wahai penempuh jalan Allah, engkau tidak akan sampai kepada akhir dari sebuah ibadat, melainkan menyempurnakan permulaannya. Tidaklah engkau bisa mengetahui batin, melainkan mengetahui lahirnya.

Salah seorang dari mereka berkata, Syariat ibarat kapal yang berlayar, tharigat ibarat lautan dan hakikat dengan mutiaranya. Mutiara tidak bisa diperoleh, kecuali di dalam laut dan laut tidak dapat diarungi, kecuali dengan kapal.

Salah seorang dari mereka berkata, ketiga macam perkara tersebut ibarat buah kelapa. Syariat sebagai kulit luar, tharigat sebagai biji dan hakikat sebagai minyak yang terdapat di dalam biji. Minyak tidak dapat diperoleh, kecuali dengan menumbuk bijinya dan biji tidak bisa didapat, kecuali dengan membuka kulit kelapa.

Syariat dinamakan Qdar, thariqat dinamakan ubudiyah dan hakikat dinamakan ubudah.

Abu Ali Ad-Daqqaq berkata: “Ibadah untuk orang-orang mukmin yang awam, ubudiyah untuk khawaash dan ubudah untuk khawaashil khawaash.”

Syaikhul Islam berkata: “Orang yang sabar atas keinginan Allah sambil menanggung kepayahan dalam melaksanakan takdir untuk mencari balasan atasnya adalah dalam tingkatan ibadat.”

Orang yang rida dengan keinginan Allah . ia masuk dalam tingkatan ubudah. Wahai pencari kebaikan, kuisyaratkan kepadamu agar menempuh awal hidayat untuk menguji diri dan hatimu. Jika engkau dapati hatimu condong kepada awal hidayat dan nafsu yang terdapat di dalam hatimu tunduk kepadanya, maka majulah terus menuju penghabisannya dan masuklah dalam lautan ilmu, yakni ilmu rahasiarahasia ledunniyah yang dalamnya seperti lautan.

Jika pada awal hidayat hatimu selalu ingin menunda-nunda, maka ketahuilah bahwa nafsumu masih condong pada hal-hal yang bersifat buruk.

Nafsu itu bangkit menuntut ilmu dan menurut kehendak setan untuk menyampaikanmu kepada tipu-dayanya, kemudian menjerumuskanmu ke jurang kebinasaan. Setan bertujuan menimpakan keburukan atas dirimu dalam bentuk kebaikan hingga membawamu bersama orang-orang yang merugi. Yakni orang-orang yang menyerahkan diri mereka dalam suatu amalan yang mereka harapkan keutamaan dengannya, tetapi mereka mengalami kebinasaan. Mereka itu sia-sia hidupnya di dunia karena mengikuti setan, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat kebaikan. Yakni mengharapkan balasan atas perbuatan yang mereka yakini kebenarannya. Di saat setan bertujuan menampilkan keburukan dalam bentuk kebaikan, maka setan membacakan kepadamu keutamaan ilmu yang berguna dan derajat para ulama, khabar-khabar (hadis-hadis Nabi  dan atsar-atsar (perkataan para sahabat dan tabi’in) mengenainya.

Sebagaimana Nabi  bersabda: “Pandangan kepada orang alim lebih kusukai daripada ibadat setahun, puasa dan salatnya.”

Dalam sabdanya yang lain: “Orang-orang itu adalah orang alim dan pengajar sedangkan sisanya adalah lalat.”

Sabdanya yang lain pula: “Kelebihan orang alim atas ahli ibadat adalah 70 derajat dan jarak antara setiap dua derajat ibarat langit dan bumi.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker