Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Adab Bergaul Dengan Al-Khaliq Dan Sesama

Ketahuilah bahwa seseorang yang tidak akan pernah berpisah dengan Tuhannya baik dalam perjalanan, di waktu tidur dan jaga, bahkan di masa hidup dan kematian di dunia ini. Dia adalah Tuan, Pemimpin dan Penciptanya, di manapun ia mengingat-Nya dengan lisan atau hatinya, maka Dia adalah teman dudukmu. Dalam hadis Oudsi Allah  berfirman: ”Aku adalah teman duduk orang yang menyebut-Ku.”

Allah  berfirman: “Hai hamba-Ku, Aku tergantung pada sangkaanmu terhadap-Ku dan Aku menyertaimu dengan taufik atau Aku menyertai dengan pengetahuan-Ku ketika engkau menyebut-Ku sehingga Aku mendengar apa yang engkau katakan dan mengabulkan doamu.”

Ini dan semacamnya adalah mengenai zikir dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan lalai.

Allah  berfirman:

“Hai anak Adam, jika engkau menyebut-Ku dalan keadaan sendiri, maka Aku menyebutmu dalam keadaan sendirian. Jika engkau menyebut-Ku dalam suatu majelis, maka Aku menyebutmu dalam majelis yang lebih baik darinya. Jika engkau mendekat dari-Ku sehasta, maka Aku mendekat darimu sedepa. Dan jika engkau mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatangimu dengan berlari.”

Artinya ialah jika engkau menyebut Allah dengan diam-diam secara ikhlas dan menjauhi riya, maka Allah segera memberimu pahala sesuai dengan amalmu. Jika engkau menyebut Allah dalam sekelompok orang untuk membanggakan dan mengagungkan-Nya di antara para makhluk-Nya, maka Allah akan menyebutmu di antara para malaikat yang didekatkan dan arwah para rasul untuk membanggakanmu dan mengagungkan derajatmu. Dan jika engkau mendekat kepada Allah dengan ijtihad dan ikhlas dalam mentaati-Nya, maka Allah mendekatkanmu dengan hidayat dan taufik. Jika engkau menambah, maka Allah pun menambah ganjarannya.

Demikian disebutkan oleh Al-Azizi. Bilamana patah hatimu dan sedih atas kecerobohanmu mengenai hak agamamu, maka Dia adalah temanmu dan pendampingmu. Karena Allah  berfirman dalam hadis Oudsi:” Aku menyertai orang-orang yang patah hatinya demi Aku.”

Yakni Allah bersama orang-orang yang khusyuk dengan taufik karena kecerobohan dalam melakukan ketaatan dan melakukan maksiat. Andaikata engkau mengenai Allah dengan sebenarnya, niscaya engkau menjadikan-Nya sebagai teman dan mengesampingkan orang-orang.

Seorang penyair berkata:

Sejak aku mengenal Tuhan, aku tidak mengenal lainnya begitu pula selain Dia terlarang di dekat kami Sejak aku berkumpul aku tak takut berpisah sekarang aku pun sampai dan berkumpul

Seorang penyair berkata dari Bahrul Basiith:

Segala sesuatu yang engkau tinggalkan tentu ada gantinya tetapi jika engkau tinggalkan Allah maka tidak ada gantinya.

Jika engkau tidak bisa melakukan itu dalam seluruh waktumu, maka janganlah engkau kosongkan malam dan siangmu dari suatu waktu dimana engkau menyendiri bermunajat kepada Allah. Hendaklah engkau pelajari adab-adab berteman dengan Allah

Adab bergaul dengan Allah ada empat belas:

  1. Menundukkan kepala dan merendahkan pandangan.
  1. Memusatkan perhatian kepada Allah.
  1. Memperbanyak diam disertai dengan zikirullah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi :” Hendaklah engkau banyak diam, karena hal itu bisa mengusir setan.”
  1. Menenangkan anggota badan dari gerakan yang sia-sia. Karena pada waktu itu dituntut khusyuk, tunduk dan kehadiran hati bersama Allah
  1. Segera mematuhi perintah.
  1. Menjauhi larangan.
  1. Sedikit menyanggah takdir.

Nabi bersabda: “Sembahlah Allah dengan keridaan. Jika engkau tidak mampu, maka terdapat kebaikan yang banyak dalam kesabaran atas apa yang tidak engkau sukai.”

Allah  berfirman:

“Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka siapa yang tidak sabar atas cobaan-Ku dan tidak mensyukuri nikmat-Ku serta tidak menerima keputusan-Ku, biarlah ia mencari Tuhan selain Aku.”

Abu Ali Ad-Daggag rahimahullah berkata: “Bukanlah keridaan itu bila seseorang tidak merasakan cobaan, tetapi keridaan itu adalah bila ia tidak menyanggah hukum dan keputusan Allah.”

Diceritakan dari Asy-Syeikh Afifuddin Az-Zahid bahwa ketika berada di Mesir ia mendengar tentang penyerbuan suku Tartar ke Baghdad. Maka ia pun tidak bisa menerimanya dan berkata: “Ya Robb, bagaimana terjadi kehancuran ini sedang di antara mereka terdapat anak-anak dan orang-orang tak berdosa?”

Kemudian ia bermimpi melihat seorang lelaki yang di tangannya terdapat sebuah kitab bertulisan dua bait syair:

Tinggalkan sanggahan itu, karena kejadian itu bukan urusanmu dan jangan menghakimi tentang gerakan-gerakan alak Janganlah engkau tanyakan kepada Allah tentang perbuatan-Nya barangsiapa memasuki gelombang laut, ia pun binasa.

  1. Senantiasa berzikir, yakni dengan lisan dan hati.
  1. Selalu memikirkan tentang nikmat Allah dan keagunganNya.
  1. Mengutamakan kebenaran di atas kebatilan.
  1. Tidak mengandalkan manusia dalam segala keperluan, baik di waktu bepergian maupun di dalam kota, karena manusia tidak bisa memberikan manfaat dan tidak menimbulkan bahaya (tanpa kehendak Allah).
  1. Tunduk disertai rasa takut kepada Allah
  1. Bersedih disertai rasa malu kepada Allah atas kecerobohan dalam ibadat.
  1. Tidak mengandalkan siasat dalam mencari penghasilan karena percaya pada jaminan Allah Allah berfirman: “Dan tidak ada suatu binatang melata (yakni makhluk bernyawa) pun di bumi, melainkan Allah yang memberi rezekinya.”
  1. Huud: 6.

Dan bersandar pada karunia Allah karena mengetahui pilihan Allah yang baik. Semua adab ini patut menjadi peganganmu dalam seluruh malam dan siangmu. Karena adab-adab ini adalah adab-adab berteman dengan sesama yang tidak meninggalkanmu dalam seluruh waktumu sementara manusia seluruhnya meninggalkanmu.

Allah  berfirman: “Dan Dia selama bersama kamu dimana pun kamu berada.”

Jika engkau seorang alim, maka adab-adab orang alim ada tujuh belas.

  1. Menerima pertanyaan yang diajukan oleh murid-muridnya dan sabar atas hal itu.
  1. Tidak terburu-buru dalam segala urusan.
  1. Duduk dengan penuh wibawa disertai ketenangan dan menundukkan kepala.
  1. Tidak bersikap sombong kepada semua manusia, kecuali terhadap orang-orang yang zalim dan terang-terangan menunjukkan kezalimannya untuk mencegah mereka berbuat zalim. Karena bersikap sombong terhadap orang-orang yang sombong adalah sedekah seperti tawadhu terhadap orang-orang yang bersikap tawadhu.
  1. Mengutamakan tawadhu’ di tempat-tempat pertemuan dan majelismajelis.
  1. Tidak bermain dan bercanda.
  1. Menunjukkan kasih sayang kepada pelajar di waktu mengajarnya dan bersabar terhadap siswa yang tidak pandai bertanya tetapi mengaku mengetahui sesuatu sedang ia tidak mengetahuinya, yaitu engkau perlakukan dia dengan sikap dan perkataan yang baik.
  1. Memperbaiki siswa yang bebal dengan bimbingan yang baik.
  1. Tidak memarahi siswa yang bebal dan tidak menyindirnya.
  1. Tidak sombong, tidak segan dan tidak malu mengatakan: ”Saya tidak tahu,” atau mengatkan: “Wallahu Alam,” jika masalahnya tidak jelas atau tidak diketahui.

Diriwayatkan dalam hadis bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi : “Negeri mana yang paling buruk?”

Nabi menjawab: “Aku tidak tahu, aku akan menanyakannya kepada Jibril.” Jibril menjawab: “Aku tidak tahu. Aku akan menanyakannya kepada Robbil izzah.”

  1. Memusatkan perhatian kepada penanya dan memahami pertanyaannya untuk menjawab masalahnya.
  1. Menerima dalil yang benar dan mendengarkannya, meskipun dari lawan, karena mengikuti kebenaran adalah wajib.
  1. Tunduk kepada kebenaran dengan kembali kepadanya ketika bersalah, sekalipun kebenaran itu dari orang yang lebih rendah kedudukannya.
  1. Melarang siswa mempelajari ilmu yang membahayakan dalam agama seperti ilmu sihir, nujum dan ramal.
  1. Melarang siswa dari mengharap selain rida Allah dan negeri akhirat dengan ilmu yang berguna.
  1. Mencegah siswa dari menyibukkan diri dengan fardu kifayah sebelum menyibukkan diri dengan fardu ‘ain, sedangkan fardu ‘ainnya adalah memperbaiki lahir dan batinnya dengan ketakwaan, yakni dengan menunaikan ibadat yang lahir dan batin dan menjauhi maksiat lahir dan batin sebagaimana disebutkan dalam kitab ini.
  1. Mengutamakan memperbaiki diri sendiri sebelum menyuruh orang lain berbuat kebaikan dan sebelum melarang mereka berbuat kejahatan dengan bertakwa supaya diikuti amal perbuatan dan perkataannya oleh siswa.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker