Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Ketahuilah bahwa buruk sangka adalah haram seperti perkataannya. Sebagaimana diharamkan bagimu berbicara kepada orang lain tentang keburukan-keburukan seseorang, maka diharamkan pula berbicara dalam hatimu tentang hal itu dan berburuk sangka kepadanya.

Allah  berfirman: “Jauhilah banyak sangkaan.”

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah  bersabda: “Jagalah dirimu dari sangkaan, karena sangkaan itu adalah pembicaraan yang paling dusta.” Yang dimaksud dengan sangkaan adalah pemastian hati terhadap keburukan orang lain. Adapun lintasan pikiran dan bisikan hati yang tidak menetap dan dibiarkan lewat oleh orang yang mengalaminya, maka hal itu dimaafkan menurut ijma’ ulama, karena ia tidak mempunyai kemauan atas kejadian itu dan tidak bisa melepaskan diri darinya. Itulah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah :

“Sesungguhnya Allah memaa kan bagi umatku apa yang dibisikannya dalam hatinya selama belum dibicarakannya atan dikerjakannya.”

Para ulama berkata: Yang dimaksud dengan itu adalah lintasan pikiran yang tidak menetap, sama halnya apakah lintasan pikiran itu merupakan ghibah atau kufur atau lainnya.

Maka siapa yang mengalami lintasan kufur tanpa disengaja untuk melakukannya, kemudian di singkirkannya seketika itu, maka ia bukan kafir dan tidak berdosa. Sebab pemaafannya adalah karena tidak mungkin menghindarinya. Yang mungkin hanyalah mencegahnya untuk terus berlangsung.

Oleh karena itu kelangsungannya dan ketetapan hati atas hal itu adalah haram. Apa pun lintasan pikiran yang menimpa dirimu seperti ghibah dan maksiat lainnya, wajiblah engkau mengusirnya dengan berpaling darinya dan menyebut takwil-takwil yang menjauhkannya dari lahirnya. Demikian di sebutkan An-Nawawi dalam Al-Adzkarnya..

  1. Membantah dan mendebat. Yang dimaksud adalah mencela pendapat orang lain dan mendustakannya serta meremehkan orang yang mengatakannya dan tiada tujuan baginya selain itu.

Dan pertengkaran yang berlarut-larut dengan orang lain. Inilah yang dinamakan khusumat. Hal itu merupakan kekerasan sikap dalam berbicara untuk memperoleh harta atau hak tertentu. Kadang-kadang dilakukan dari permulaan dan kadang-kadang sebagai sanggahan. Perbuatan itu menimbulkan gangguan terhadap orang yang diajak bicara dan ejekan serta celaan terhadapnya. Dalam hadis disebutkan: Tidaklah orang mukmin itu suka menyerang kehormatan orang lain. Dalam perbuatan itu pula terdapat pujian kepada diri sendiri sebagai orang yang pandai dan berilmu, kemudian ia pun mengeruhkan kehidupan. Karena tidaklah engkau membantah seorang yang bijaksana, melainkan ia membencimu dan mendendam kepadamu.

Barangsiapa siap memulai pertengkaran, ia pun telah mengacaukan pikirannya sehingga dalam salatnya ia sibuk mengurusi lawannya.

Nabi $£ bersabda:

“Barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang ia mengakui kesalahannya, maka Allah mendirikan baginya sebuah rumah di tepi surga. Dan siapa meninggalkan perdebatan sedang ia mengakui benar, maka Allah mendirikan baginya sebuah rumah di surga yang paling atas.”

Meninggalkan perdebatan dibolehkan bila hal itu tidak menghilangkan hak yang wajib dan tidak menimbulkan kerusakan.

Dalam sebuah riwayat Abi Dawud dan Tirmidzi dari Abi Umamah bahwa Rasulullah  bersabda:

“Barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang ia mengaku salah, didirikan baginya sebuah rumah di tepi surga. Dan siapa meninggalkannya sedang ia mengaku benar, didirikan baginya sebuah rumah di tengahnya.

Sedangkan siapa yang baik akhlaknya, didirikan baginya sebuah rumah di surga yang paling atas.”

Tidaklah pantas bagimu bila setan menipumu dan berkata kepadamu: ”Tampakkan kebenaran dan janganlah bersikap lunak dalam membela kebenaran”, karena setan selalu berusaha menjerumuskan orang-orang yang dungu ke dalam kejahatan dalam bentuk kebaikan.

Maka janganlah engkau menjadi bahan tertawaan setan sehingga ia mengejekmu. Menampakkan kebenaran adalah baik terhadap siapa yang mau menerimanya darimu.

Hal itu dilakukan dengan cara nasihat secara diam-diam, bukan dengan cara perdebatan. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnyaa di dalam surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalamnya dan bagian dalamnya terlihat dari luarnya. Allah menyediakannya bagi siapa yang memberi makan orang lain dan bersikap lunak di waktu bicara.”

Beliau berkata pula: “Perkataan yang baik adalah sedekah.”

Nasihat adalah sifat dan keadaan sedang ia memerlukan sikap lunak atau ia akan menyingkap kejelekan orang lain dan kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya.

Barangsiapa bergaul dengan para pelajar fikih di zaman ini, maka ia pun bertabiat suka membantah dan berdebat dan sulit untuk diam karena diajarkan kepadanya oleh para ulama. yang buruk bahwa itu adalah keutamaan sedangkan kemampuan untuk mengalahkan lawan dengan hujjah dan menyelidiki sesuatu perkara adalah perbuatan terpuji. Maka hindarilah mereka seperti engkau menghindari singa, dan ketahuilah bahwa perdebatan adalah penyebab kebencian di sisi Allah dan para makhluk.

Nabi  bersabda: “Tinggalkanlah perdebatan, karena hikmahnya tidak dipahami dan fitnahnya tidak bisa dihindari.” Beliau bersabda pula: “Tidaklah seorang hamba menyempurnakan hakikat iman hingga ia tinggalkan perdebatan, meskipun ia mengaku benar.

Muslim bin Yasar berkata: “Jagalah dirimu dari perdebatan, karena ia adalah saat kejahilan orang alim dan ketika itu setan mengharapkan kesalahannya.”

Abi Darda berkata: “Cukuplah dosa bagimu bila engkau selalu berdebat.”

Umar  berkata: “Janganlah engkau belajar ilmu karena tiga perkara dan jangan meninggalkannya karena tiga perkara. Janganlah engkau belajar untuk berdebat dan membanggakan diri serta bersikap riya. Janganlah meninggalkannya karena malu untuk mempelajarinya maupun untuk menghindarinya dan karena tidak ingin mengetahuinya.”

  1. Memuji diri dengan cara membanggakan diri. Adapun untuk mengakui nikmat, maka itu adalah baik, karena menyebut kenikmatan berarti mensyukurinya.

Hal itu hanya boleh bila bertujuan mensyukurinya dan untuk mengikuti teladan orang lain dan tidak mengkhawatirkan fitnah atas dirinya sedangkan menutupi hal itu lebih utama. Demikian dikatakan oleh Asy-Syarbini.

Allah  berfirman: “Janganlah kamu memuji dirimu, Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertakwa di antara kamu kamu.” Yakni Allah  mengetahui siapa yang bertakwa di antara kamu sebelum Dia mengeluarkan kamu dari sulbi bapakmu Adam .”

Dikatakan kepada orang bijak: ” Apakah kebenaran yang buruk itu?” Maka ia menjawab: “Pujian manusia terhadap dirinya.” Perbuatan itu termasuk tanda seseorang yang tertutup dari Allah  sebagaimana dinukil oleh Asy-Syarbini dari Al-Ousyairi.

Maka janganlah engkau membiasakan dirimu di antara orang banyak serta menyebabkan engkau dibenci di sisi Allah  Apabila engkau ingin mengetahui bahwa pujian atas dirimu tidak menambah derajatmu di sisi orang lain, maka lihatlah kepada teman-teman yang sebaya denganmu ketika mereka memuji diri mereka dengan kebaikan dan kedudukan yang tinggi sebagaimana hatimu tidak menyukai mereka dan tabiatmu tidak bisa menerimanya. Lihatlah bagaimana engkau mencela mereka atas pujian itu ketika engkau tinggalkan mereka dari majelis itu.

Apabila demikian halnya, maka ketahuilah bahwa mereka pun mencelamu dalam hati mereka di saat engkau memuji dirimu dan mereka akan menampakkan celaan itu dengan lisan mereka ketika engkau tinggalkan mereka. Orang mukmin itu cermin dari orang mukmin. Ia melihat aib-aib orang lain, karena tabiatnya hampir sama dalam mengikuti hawa nafsu.

Cukuplah ini sebagai pendidikan bagimu. Andaikata orang-orang meninggalkan apa yang tidak mereka sukai dari selain mereka, niscaya mereka tidak memerlukan pendidik.

An-Nawawi berkata: “Ketahuilah bahwa penyebutan kebaikankebaikan seseorang ada dua macam, tercela dan disukai.

Yang tercela ialah bila seseorang menyebutnya untuk membanggakan diri dan menunjukkan keunggulan di atas teman-temannya dan sebagainya. Yang disukai ialah bila di dalamnya terdapat maslahat keagamaan. Hal itu dilakukan dengan menyuruh berbuat yang maruf atau mencegah yang mungkar atau menasihati atau menunjukkan suatu maslahat atau mengajar atau mendidik atau mengingatkan atau mendamaikan antara dua orang atau menolak kejahatan dari dirinya atau semacam itu, lalu ia sebut kebaikan-kebaikannya dengan meniatkan bahwa hal ini lebih dekat untuk menerima perkataannya dan mengandalkan apa yang disebutnya. Atau bahwa perkataan yang saya katakan tidak kalian temukan pada orang lain, maka peliharalah dia atau semacam itu.

  1. Melaknat sesuatu, atau mendoakan orang lain agar dijauhkan dari rahmat Allah Maka jagalah dirimu dari melaknat sesuatu dari makhluk Allah, berupa hewan, makanan atau seseorang, walaupun orang kafir. Seperti mengatakan, semoga Allah melaknat si fulan, meskipun ia orang Yahudi misalnya. Hal itu sangat bahaya, mungkin kelak ia mendapat hidayat dari Allah dan masuk Islam, kemudian mati dan dekat di sisi Allah Adapun melaknat tanpa menunjuk pribadi, maka hal itu dibolehkan. Seperti mengatakan, semoga Allah melaknat orang-orang zalim, semoga Allah melaknat orang-orang kafir, semoga Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani, semoga Allah melaknat orang-orang fasik, semoga Allah melaknat para pematung dan sebagainya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker