Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Penyair lain berkata:

Bilamana manusia itu seorang yang berakal dan wara maka kewara’annya mencegahnya dari mengurusi aib orang lain seperti orang yang sakit parah rasa sakitnya mencegahnya dari mengurusi penyakit orang lain

Adapun telinga, maka jagalah dari mendengarkan bid’ah, nyanyian atau alat musik seperti gitar dan seruling, mendengarkan ghibah dan perkataan keji, menceritakan rahasia suami istri dan pembicaraan batil atau ceritera tentang keburukan-keburukan orang lain. Sesungguhnya telinga itu diciptakan bagimu untuk mendengarkan kalam Allah  dan sunah Rasulullah  serta hikmah para wali-Nya. Engkau gunakan telinga itu setelah mendapat ilmu dengannya untuk mencapai kedudukan dan kenikmatan abadi di sisi Tuhan. Apabila engkau gunakan untuk mendengarkan hal-hal yang buruk, maka apa yang berguna bagimu menjadi bahaya bagimu sehingga penyebab keberuntunganmu berubah menjadi penyebab kebinasaanmu dan ini adalah puncak kerugian.

Janganlah engkau mengira bahwa dosa itu hanya menimpa orang yang mengatakannya saja tanpa pendengarnya. Dalam kabar disebutkan bahwa pendengar ikut menanggung dosa bersama dengan orang yang membicarakannya, dan ia salah satu dari kedua penggunjing. Mengenai hal itu seorang penyair berkata:

Jagalah pendengaranmu dari mendengarkan perkataan buruk seperti menjaga lisan dari mengucapkannya karena ketika mendengar perkataan yang buruk engkau ikut berdosa dengan yang mengatakannya, maka waspadalah.

An-Nawawi berkata: Hendaklah ia membenci ghibah dengan perkataannya jika ia khawatirkan bahaya yang nyata bila mencegahnya dengan tangan atau lisan.

Apabila terpaksa berada di majelis berlangsungnya ghibah dan tidak sanggup mengingkarinya tetapi tidak diterima sedang ia tidak bisa meninggalkan majelis itu, maka diharamkan atasnya mendengarkan pembicaraan di situ. Dengan menyebut nama Allah  dengan lisan dan hatinya atau dengan hatinya atau memikirkan masalah lain supaya ia tidak sempat mendengarkannya. Dalam keadaan itu tidaklah mengapa bila ia mendengar tanpa mendengarkannya.

Jika sanggup meninggalkan majelis sesudah itu sedang mereka terus melakukan ghibah dan semacamnya, wajiblah ia meninggalkan majelis.

Diriwayatkan dari Ibrahim bin Adham bahwa ia diundang menghadiri walimah. Kemudian orang-orang di majelis itu menceritakan bahwa seorang laki-laki tidak datang kepada mereka. Kemudian yang lain berkata, orang itu berat.

Kemudian Ibrahim berkata: “Aku telah mengatakan ini dalam hatiku ketika menghadiri suatu tempat di mana orang-orang melakukan ghibah. Maka ia pun keluar dan tidak makan selama tiga hari.”

Adapun lisan, maka ia diciptakan bagimu untuk memperbanyak dzikrullah, membaca kitab-Nya dan menggunakannya untuk membimbing makhluk Allah menuju jalan-Nya, yakni agama-Nya yang benar dan ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Di samping itu engkau menggunakannya untuk menampakkan isi hatimu. berupa keperluan-keperluan agama dan duniamu. Maka apabila engkau menggunakannya di luar fungsinya, engkaupun telah mengingkari nikmat Allah  padanya sedangkan ia adalah anggotamu yang paling menonjol terhadapmu dan para makhluk lainnya.

Seorang penyair berkata:

Jagalah lisanmu dan berlindunglah dari kejahatannya sesungguhnya lisan itu adalah musuh yang membantai dan timbanglah perkataanmu bila engkau mengucapkannya di suatu majelis dengan timbangan yang menampakkan kebenaran

Nabi Dawud   berdoa: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu empat perkara dan berlindung kepada-Mu dari empat perkara. Aku mohon kepada-Mu lisan yang berzikir, hati yang bersyukur, badan yang sabar dan istri yang membantuku dalam urusan dunia dan akhiratku. Aku berlindung kepada-Mu dari anak yang mendurhakai aku, dan istri yang membuat rambutku beruban sebelum waktunya dan harta yang merupakan siksaan dan bencana bagiku serta tetangga yang bila melihat kebaikan dariku disembunyikannya dan bila melihat keburukan dariku disiarkannya.”

Tidaklah mejerumuskan kebanyakan orang dalam neraka, kecuali sebagai akibat korban kejahatan lisan mereka, yaitu perbuatan dosa seperti berdusta, menuduh orang berzina tanpa bukti, suka memaki orang lain, melakukan namimah dan lainnya.

Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

Jagalah dirimu, wahai manusia Jangan sampai ia menyengatmu sesungguhnya ia seperti ular banyak orang yang mati karena terbunuh oleh perbuatan hisannya padahal banyak pemberani takut kepadanya

Berusahalah sekuat tenaga dengan segenap kekuatanmu untuk mengatasi lisanmu supaya ia tidak mejerumuskanmu di dasar Jahannam.

Dalam kabar disebutkan bahwa ada orang mengucapkan perkataan supaya teman-temannya tertawa sehinggaa menjerumuskannya ke dalam neraka Jahannam selama 70 tahun.

Maksudnya ialah tertawa yang mengganggu orang muslim dan semacamnya, bukan sekadar bercanda yang dibolehkan. Karena terdapat dosa-dosa di dalamnya yang dilalaikannya atau bila ia tidak bertobat dasnya.

Maksudnya ia naik turun dalam waktu yang sangat lama di dalam neraka. Waktu tujuh puluh tahun adalah untuk menunjukkan waktu yang sangat lama, bukan pembatasan. Demikian dinukil oleh Al-Azizi dari AlManawi.

Diriwayatkan bahwa ada seorang mati syahid dalam perang di zaman Rasulullah , yakni dalam perang Uhud. Ternyata ditemukan sebuah batu di perut orang itu yang diikatkannya untuk menahan lapar. Kemudian ada orang berkata setelah mengusap tanah di wajahnya: Sungguh beruntung ia masuk surga.

Nabi  berkata: “Bagaimana engkau tahu? Barangkali ia berbicara yang tidak perlu baginya atau kikir dengan apa-apa yang tidak membuatnya kaya.”

Seorang ulama berkata: “Perkataan itu ada empat macam. Ada yang menimbulkan bahaya, ada yang menimbulkan manfaat, ada yang menimbulkan keduanya, dan ada yang tidak menimbulkan keduanya.

Yang menimbulkan bahaya harus didiamkan. Begitu pula yang menimbulkan bahaya dan manfaat. Adapun yang menimbulkan bahaya maupun manfaat, maka itu adalah perkataan yang sia-sia sedangkan mengatakan perkataan itu berarti membuang waktu dan itu merupakan kerugian. Maka tinggallah saru macam sehingga menggugurkan tiga perempat perkataan.

Dalam perkataan itu ada bahaya bila menimbulkan dosa dengan berbuat riya dan pura-pura dan sebagainya.

Lugman berkata kepada putranya: “Andaikata bicara itu adalah perak, maka diam itu adalah emas.” Maksudnya sebagaimana di katakan oleh Ibnul Mubarak: Andaikata bicara dalam mentaati Allah itu dari perak, maka berdiam diri dari mendurhakai Allah adalah dari emas.

Ibrahim Al-Atki berkata:

Mereka berkata, diammu berarti tidak mendapat rezeki, maka aku katakan kepada mereka apa yang ditakdirkan Allah datang kepadaku tanpa susah payah andaikata perkataan yang kuwcapkan itu terbuat dari perak maka diamku itu terbuat dari emas

Seorang ulama berkata: “Di dalam diam terdapat 7000 kebaikan dan semua itu berkumpul tujuh perkataan, dalam setiap perkataan terdapat seribu kebaikan.”

Pertama, bahwa diam itu ibadat tanpa kepayahan. Kedua, keindahan tanpa perhiasan. Keriga, wibawa tanpa kekuasaan. Keempat, benteng tanpa penjaga. Kelima, tidak ada keperluan mengajukan uzur kepada orang banyak. Keenam, Mengistirahatkan para malaikat yang mulia dan penulis. Ketujuh, menutupi aib-aibnya, karena diam itu perhiasan orang alim dan menutupi kebodohan orang yang bodoh.

Ada yang mengatakan: Tiga perkara membuat hati menjadi keras, tertawa tanpa merasa heran, makan tanpa merasa lapar dan bicara tanpa keperluan.

Maka jagalah lisanmu dari delapan perkara.

  1. Berdusta. Maka jagalah lisanmu dari berdusta, baik dalam keadaan serius maupun bercanda. Janganlah engkau biasakan lisanmu berdusta dalam bercanda sehingga menyebabkan engkau berdusta dalam keadaan serius.

Berdusta termasuk sumber dosa-dosa besar. Rasulullah  bersabda:

“Hendaklah kalian selalu berkata benar, karena perkataan yang benar menyebabkan kebajikan dan kebajikan menyebabkan masuk surga. Manusia selalu berkata benar dan mengutamakan kebenaran hingga dirulis di sisi Allah sebagai shiddig. Jagalah dirimu dari perkataan dusta, karena perkataan dusta menyebabkan perbuatan jahat sedangkan perbuatan Jahat menyebabkan masuk neraka. Adalah hamba selalu berdusta dan mengutamakan dusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.”

Jika engkau dikenal sebagai pendusta, maka gugurlah keadilanmu, orang-orang tidak percaya semua ucapanmu, serta meremehkan dan menghinakanmu. |

Apabila engkau ingin mengetahui keburukan dusta dari dirimu, maka lihatlah kepada dusta orang lain dan ketidak sukaan dirimu terhadap dusta serta sikapmu yang meremehkan pelakunya dan menganggapnya buruk. Begitu pula, lakukanlah seperti itu terhadap semua kejelekan dirimu, karena engkau tidak mengetahui kejelekanmu dari dirimu, tetapi dari orang lain. Maka apa yang engkau anggap buruk dari orang lain, ia pun pasti dianggap buruk oleh orang lain pada dirimu.

Ketahuilah bahwa lisan itu adalah alat untuk mencapai tujuan. Maka setiap tujuan terpuji yang dapat dicapai dengan perkataan benar maupun dusta, diharamkan berdusta untuk itu karena tidak perlu melakukannya.

Jika tujuan itu dapat dicapai dengan dusta dan tidak dapat dicapai dengan perkataan yang benar, maka dusta dalam keadaan itu adalah mubah bilamana pencapaian tujuan itu mubah. Dan menjadi wajib bilamana tujuan itu wajib dicapai.

Apabila seorang muslim bersembunyi dari seorang yang zalim dan ditanyakan tentang dia, maka wajiblah berdusta untuk menyembunyikannya. Begitu pula bila ada titipan padanya atau orang lain dan seorang yang zalim menanyakannya untuk mengambilnya, wajiblah ia berdusta untuk menyembunyikannya. Bahkan andaikata ia mengabarinya bahwa ada titipan barang padanya lalu di rampas oleh seorang yang zalim, wajiblah ia menggantinya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker