Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Adab-Adab Salat Jumat

Ketahuilah bahwa hari Jumat adalah hari raya Orang-orang mukmin. Salat Jumat adalah salat yang paling utama dan harinya adalah hari yang paling utama.

Hari Jumat lebih besar di sisi Allah dari pada hari raya Fitri dan Adha. Adapun hari Arafah, maka ia lebih utama darinya dan ini berbeda dengan imam Ahmad.

Jumat adalah hari yang mulia, Allah   mengkhususkan umat ini dengannya. Dalam khabar disebutkan bahwa dalam setiap Jumat Allah   membebaskan 600.000 orang dari api neraka. Nabi  bersabda: “Barangsiapa mati pada hari Jumat atau malam Jumat, ditulis baginya pahala orang yang mati syahid dan dilindungi dari fitnah kubur.”

Di hari Jumat terdapat saat yang disembunyikan Allah  di dalamnya. Tidaklah seorang hamba muslim mendapatinya dan memohon sesuatu keperluan kepada Allah  di saat itu, melainkan Allah memberikannya kepadanya. Sebagian dari mereka mengatakan, waktu ijabah itu ada di akhir siang, karena Allah  menciptakan Adam   sesudah Asar pada hari Jumat dan karena sumpah menjadi berat sesudah Asar hari Jumat.

Oadhi Iyadh berkata: Waktu ijabah itu hanya sebentar dan terbatas antara duduknya imam di atas mimbar hingga ia memberi salam dari salat, yakni tidak keluar dari waktu itu.

Bukanlah yang dimaksud bahwa waktu itu meliputi seluruh waktu antara duduknya imam dan akhir salat, karena ia adalah waktu yang sedikit.

Kemudian pengarang menyebutkan di sini bahwa adab-adab Jumat ada tujuh.

Pertama, bersiap untuk menyambut Jumat sejak hari Kamis dengan membersihkan baju dan menyiapkan wangi-wangian, banyak mengucapkan tasbih dan istigfar pada sore hari Kamis, karena ia adalah saat yang keutamaannya menyamai keutamaan pada hari Jumat.

Seorang ulama salaf berkata: “Sesungguhnya Allah  mempunyai karunia selain rezeki untuk para hamba. Dia tidak memberikan karunia itu, kecuali kepada siapa yang memintanya pada sore hari Kamis dan siang hari Jumat.”

Berniatlah puasa hari Jumat, tetapi bersama Kamis atau Sabtu, karena tidak boleh pada hari Jumat saja.

Nabi  berkata:

“Janganlah seseorang puasa pada hari Jumat, kecuali bila berpuasa pada hari sebelumnya atau berpuasa sesudahnya.” (HR. Syaikhain)

Nabi  bersabda: “Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu, kecuali puasa yang diwajibkan atasmu.”

Kedua, apabila tiba waktu Subuh, maka mandilah, karena waktu mandi Jumat masuk dengan masuknya waktu Subuh.

Jika engkau tidak pergi ke masjid di awal waktu, maka sebaiknya engkau mandi di saat hendak berangkat ke masjid supaya kebersihanmu lebih dekat waktunya.

Mandi di hari Jumat sangat dianjurkan bagi setiap orang yang sudah baligh, tetapi tidak wajib berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abi Dawud dan lainnya:

“Barangsiapa berwudu pada hari Jumat, maka ia sudah berbuat benar dan baik. Dan siapa yang mandi, maka mandi lebih utama.”

Kemudian berhiaslah dengan memakai baju putih. Baju putih adalah baju terbaik di setiap zaman di mana tidak ada uzur sebagaimana dikatakan oleh pengarang. Karena ia adalah baju yang paling disukai Allah  Nabi  bersabda:

“Pakailah baju putih, karena ia adalah bajumu yang terbaik. Dan kafanilah mayitmu dengan baju itu.” (HR. Tirmidzi)

Pakailah minyak wangi yang paling harum yang engkau miliki.

Sebaik-baiknya minyak wangi bagi laki-laki adalah yang semerbak baunya dan tersembunyi warnanya sedangkan sebaik-baik minyak wangi bagi perempuan adalah yang nampak warnanya dan samar baunya.

Ketiga, bersihkan badanmu dengan mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan serta menggunting kumis hingga tampak bibirnya, tetapi dihukum makruh menghabiskannya.

Disunahkan menggunting kuku. Yang paling utama dalam menggunting kuku pada kedua tangan adalah memulai pada yang kanan dengan jari telunjuk hingga jari kelingking berturut-turut dan menyudahinya dengan ibu jari. Pada tangan kirinya ia mulai dengan jari kelingking dan menyudahinya dengan ibu jari secara berturut-turut. Pada kedua kaki ia mulai dari kelingking kaki kanan hingga kelingking kaki kiri secara berturut-turut.

Disunahkan pula bersiwak dan melakukan berbagai macam kebersihan lainnya serta mengharumkan bau. Yang paling utama adalah dengan misik, kecuali bila engkau dalam keadaan ihram sehingga wajib meninggalkannya atau dalam keadaan puasa sehingga dihukum makruh memakai minyak wangi. Imam Asy-Syaffi berkata: “Barangsiapa membersihkan bajunya sedikitlah kesusahannya. Dan siapa yang harum baunya, bertambahlah pemahamannya.”

Keempat, pergilah ke masjid pada awal waktu. Ini adalah sunah bagi selain imam dan khatib. Adapun imam, maka disunahkan baginya mengakhirkan hingga waktu khutbah. Berjalanlah dengan pelan dan tenang menuju masjid tanpa bermain-main dan selalu bersikap sopan. Nabi  , bersabda: “Barangsiapa pergi ke masjid untuk menunaikan salat Jumat dalam saat pertama, maka seakan-akan ia mengorbankan seekor unta. Dan siapa yang berangkat ke masjid dalam saat kedua, maka seakanakan ia mengorbankan seekor sapi. Dan siapa yang berangkat dalam saat ketiga, seakan-akan ia mengorbankan seekor domba yang besar tanduknya. Dan siapa yang berangkat dalam saat keempat, seakan-akan ia mengorbankan seekor ayam, sedangkan siapa yang berangkat dalam saat kelima seakan-akan mengorbankan sebutir telur. Apabila imam sudah masuk untuk naik mimbar, maka lembaran-lembaran di lipat dan penapena di angkat. Para malaikat berkumpul di dekat mimbar mendengarkan khutbah.”

Dalam sebuah riwayat, saat keempat seekor itik, dan saat kelima seekor ayam. Dalam riwayat An-Nasa’i, dalam saat kelima seperti orang yang menyembelih korban seekor burung. Dan saat keenam seperti menghadiahkan sebutir telur.

Ibnu Hajar berkata: “Yang dimaksud ialah waktu antara fajar dan naiknya khatib ke atas mimbar terbagi menjadi enam bagian yang sama, baik harinya panjang maupun pendek.”

Menurut riwayat, kedekatan para hamba di waktu memandang wajah Allah  adalah sesuai dengaan keberangkatan mereka di awal-awal waktu untuk menunaikan salat Jumat. Nabi  bersabda: “Tiga perkara yang andaikata Orang-orang mengetahui keutamaan yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka memacu unta untuk mencarinya, yaitu azan, saf pertama dan pergi di awal waktu untuk menunaikan salat Jumat.”

Ahmaad bin Hanbal berkata: “Yang paling utama dari semua itu adalah berangkat di awal waktu untuk menunaikan salat Jumat.”

Diriwayatkan dalam kabar: “Pada hari Jumat para malaikat duduk di pintu-pintu masjid dengan membawa kitab-kitab dari perak di tangan dan pena dari emas. Mereka menulis siapa yang datang pertama, lalu yang pertama sesuai dengan tingkatan-tingkatan mereka.”

Kelima, disebutkan dengan perkataannya, apabila engkau telah memasuki masjid maka carilah saf pertama karena keutamaannya banyak. Ini adalah bila tidak melakukan kemungkaran di depan khatib dan tidak melangkahi pundak orang-orang.

Said bin Amir berkata:” Aku salat di samping Abi Darda kemudian ia terus mundur dalam saf-saf hingga kami berada di saf terakhir. Setelah selesai salat, aku berkata: Bukankah dikatakan: Saf pertama yang terbaik adalah pemulaannya?”

Abi Darda’ menjawab: ”Benar, akan tetapi umat ini mendapat rahmat dan diperhatikan di antara umat-umat. Maka apabila Allah  memandang kepada seorang hamba di dalam salat, diampunilah dosanya dan orang-orang yang berada di belakangnya.”

Sesungguhnya aku mundur karena berharap Allah akan mengampuni dosaku dengan sebab salah seorang dari mereka yang Allah memandang kepadanya. Maka siapa yang mundur dari saf pertama dengan niat ini karena mengutamakan orang lain dan menampakkan akhlak yang baik, maka ia lebih utama dan sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.

Keenam, apabila orang-orang berkumpul, maka janganlah engkau melangkahi pundak-pundak mereka.

Adapun melewati saf-saf untuk mencapai saf terdepan misalnya bukanlah termasuk melangkahi pundak-pundak, tetapi menyibak saf bila tidak terdapat celah di dalam saf-saf itu untuk berjalan.

Melangkahi pundak-pundak hukumnya sangat makruh, karena Nabi  melihat seorang lelaki melangkahi pundak orang-orang, lalu berkata kepadanya: “Duduklah, engkau telah mengganggu orang karena datang terlambat.” Larangan ini tidak menunjukkan keharaman, karena gangguan disini untuk suatu tujuan sebagaimana disebutkan oleh Al-Bujairami.

Ketujuh, janganlah engkau lewat di depan mereka di saat mereka sedang salat.

Nabi , bersabda: “Andaikata orang yang lewat di depan orang yang sedang salat mengetahui dosa yang menimpanya, niscaya ia lebih baik berdiri empat puluh (hariltahun) dari pada lewat di depannya.”

Duduklah di dekat dinding atau tiang supaya mereka tidak lewat di depanmu. Jika tidak menemukan tiang, maka letakkanlah sesuatu di depanmu sebagai tanda batas.

Janganlah engkau duduk hingga engkau kerjakan salat tahiyyat masjid. Yang lebih baik adalah engkau kerjakaan salat empat rakaat dengan satu salam. Karena salat tahiyyat masjid hanyalah dengan satu salam walaupun seratus rakaat sebagaimana dikatakan oleh Al-Fasyani. Dalam setiap rakaat engkau bacaa sesudah Al-Fatihah surah AlIkhlash sebanyak 50 kali. Maka surah Al-Ikhlash dalam empat rakaat itu berjumlah 200 kali. Diriwayatkan dalam kabar bahwa siapa yang melakukan itu, ia pun tidak mati sebelum melihat tempatnya di surga atau ditunjukkan kepadanya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker