Doa ini khusus di waktu Subuh. Adapun doa yang disunahkan bagi muazin dan orang yang menyerukan iqamat serta pendengarnya di setiap waktu adalah doa yang masyhur:
“Ya Allah, pemilik seruan yang sempurna dan salat yang berdiri ini, berilah Muhammad kedudukan wasiilah dan keutamaan serta berilah dia kedudukan terpuji yang Engkau janjikan kepadanya.”
Yakni setelah selesai menyerukan azan dan iqamat, disunahkan bagi muazin, pendengar dan siapa yang mendengarnya selain imam Jumat di waktu iqamat agar bacaan doa ini, sesudah membaca salawat dan salam atas Nabi sebagaimana disebutkan oleh Al-Wina’iy. Yang dimaksud seruan yang sempurna adalah azan, karena ia mengumpulkan akidahakidah secara lengkap.
Yang dimaksud dengan magam mahmud (kedudukan terpuji) adalah syafa’at terbesar dalam memutuskan perkara yang dipuji oleh orangorang yang terdahulu dan yang kemudian, karena Nabi sujud empat kali di bawah Arsy hingga dikabulkan. Sebelumnya mereka mengandalkan Adam , kemudian ulul azmi, Nuh , Ibrahim , Musa , dan Isa dan masing-masing mengemukakan uzurnya.
Dan apabila engkau mendengar suara azan sedang engkau berada dalam salat, maka selesaikanlah salatmu dan jangan menjawabnya, karena jawabanmu ketika itu adalah makruh.
Kemudian bacalah jawabannya sesudah salam menurut cara dan tertibnya. Begitu pula jika engkau berada di luar salat dan tidak menjawab muazin selesai dari dari azan atau iqamat, maka di anjurkan menyusulkan jawabannya walaupun tanpa uzur, jika selang waktunya tidak lama menurut kebiasaan.
Andaikata engkau hanya mendengar azan atau iqamat terakhir, maka engkau jawab dari permulaan lalu engkau jawab seluruhnya dan engkau jawab pula di waktu melakukan Tarjii’, meskipun engkau tidak mendengarnya menurut pendapat Al-Wana’iy.
Apabila imam mengucapkan takbiratul ihrom untuk salat fardu, maka janganlah menyibukkan diri kecuali dengan mengikutinya dan kerjakanlah salat fardu sebagaimana akan dikemukan kepadamu dalam cara salat dan adab-adabnya. Apabila engkau selesai dari mengerjakan salat fardu, maka ucapkanlah setelah istigfar tiga kali. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Tsauban bekas sahaya Rasulullah “Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam atas Muhammad dan keluarga Muhammad, Ya Allah, Engkau adalah pemberi keselamatan dan dariMu berasal keselamatan serra kepada-Mu kembali keselamatan. Maka hidupkanlah kami, Ya Tuhan kami dengan kesclamatan dan masukkanlah kami ke dalam surga negeri keselamatan. Maha suci Engkau, Tuhan yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
Kemudian mulai berdoa sesudah salat dengan perkataannya:
“Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi lagi Maha Pemberi karunia.”
Diriwayatkan oleh Salamah Ibnul Akwa’ bahwa Nabi , memulai doanya dengan perkataan subhana robbiyal aliyyil a’laa al-wahhaab tiga kali, kemudian membaca:
“Tiada Tuhan selain Allah sendiri rada sekutu bagi-Nya, Dia memiliki segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, Dia hidup kekal tidak bisa mati, di tangan-Nya terdapat segala kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah Pemberi kenikmatan dan karuma dan pemilik pujian yang baik, Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain Dia dengan memurnikan agama bagi-Nya, walaupun tidak disukai oleh orang-orang kafir.”
Ini adalah sebagaimana yang tercantum dalam Al-Ihya”: An-Nawawi berkata dalam Al-Adzkar. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Zubair bahwa setiap habis salat setelah memberi salam dianjurkan membaca:
“Tiada Tuhan selain Allah sendiri, nada sekutu bagi-Nya. Dia memiliki segala kekuasaan, Bagi-Nya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Tiada Tuhan selam Allah dan kami tidak menyembah selain dia. Bagi-Nya segala kenikamaran dan karunia dan bagi-Nya pujian yang baik. Tiada Tuhan selain Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya, walaupun tidak disukai oleh orang-orang yang kafir.”
Kemudian berdoalah sesudah itu doa Al-Kawaamil (yang lengkap dan sempurna), yaitu doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah :
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu segala kebaikan, yang segera maupun yang akan datang, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan, yang segera maupun yang akan datang, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Aku mohon kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan kepadanya berupa perkataan, perbuatan, niat dan itikad dan aku berlindung kepada-Mu dari api neraka dan segala yang mendekatkan kepadanya berupa perkataan, perbuatan, niat, dan itikad. Aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kebaikan yang dimohon kepada-Mu oleh hamba dan nabi-Mu Muahammad , dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang dimohonkan perlindungan darinya oleh hamba dan nabi-Mu Muhammad Ya Allah, perkara apa saja yang Engkau putuskan atas diriku, maka jadikanlah kesudahannya kebaikan.”
Dalam riwayat lain dari Ibnu Majah dari Aisyah adalah: “Dan aku mohon kepada-Mu agar Engkau jadikan setiap keputusan yang Engkau putuskan bagiku merupakan kebaikan.”
Kemudian berdoalah seperti yang diwasiatkan oleh Rasulullah kepada Fatimah :
“Ya Tuhan yang hidup kekal dan selalu mengurusi makhluk-Nya, Ya Tuhan yang memiliki keagungan dan kemuliaan, tiada Tuhan selain Engkau, dengan rahmat-Mu aku meminta tolong dan aku memohon perlindungan dari siksa-Mu. Janganlah Engkan serahkan aku kepada diriku maupun kepada salah satu seorang makhluk-Mu sekejap matapun dan perbaikilah bagiku urusanku seluruhnya sebagaimana Engkau memperbaiki orangorang yang salih.”
Kemudian katakanlah apa yang yang dikatakan oleh Sayyidina Isa
“Ya Allah, di waktu ini aku tidak dapat menolak apa yang tidak aku sukai dan aku tidak berkuasa untuk memberi manfaat yang aku harapkan sedangkan segala urusan berada di tangan-Mu bukan di tangan selain Engkau. Diriku bergantung pada amalku, maka nada orang miskin yang lebih membutuhkan Engkau dari pada aku, dan tiada yang lebih kaya dan tidak membutuhkan aku dari pada Engkau. Ya Allah, janganlah Engkau Jadikan musuhku gembira atas penderitaanku dan janganlah Engkau Jadikan temanku sedih atas musibah yang menimpaku. Janganlah Engkau Jadikan musibahku dalam agamaku dan janganlah Engkau jadikan dunia keinginanku yang terbesar maupun puncak pengetahuanku dan janganlah Jadikan orang yang tidak kasihan padaku menguasai aku lantaran dosaku.”
Kemudian berdoalah sesukamu dengan doa-doa yang masyhur, yang paling utama adalah sayyidul istigfar, yaitu:
“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau. Engkau ciptakan aku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku dalam jaminan dan janjiMu sesuai kemampuanku. Aku mengakui bagi-Mu kenikmatan-Mu atas diriku dan aku mengakuai dosaku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan perbuatanku.”
Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah “ bersabda: ,
“Barangsiapa di waktu pagi dan sore mengucapkan: Di waktu pagi aku jadikan Engkau dan para pemikul Arsy-Mu dan para malaikat-Mu serta semua makhluk-Mu sebagai saksi bahwa Engkaulah Allah tiada Tuhan selain Engkau dan Mulommad dan rasul-mu, maka Allah membebaskan seperempatnya dari neraka. Barangsiapa mengucapkannya dua kali, maka Allah membebaskan separuhnya dari neraka. Dan siapa mengucapkannya tiga kali, maka Allah membebaskan tiga perempatnya dari neraka. Dan siapa mengucapkan empat kali, maka Allah membebaskan seluruhnya dari neraka.”
Diriwayatkan dari Ummi Salamah, ia berkata: Rasulullah apabila selesai dari salat Subuh, beliau mengatakan:
“Ya Allah, aku mohon kepadamu imu yang berguna dan amal yang diterima serta rezeki yang baik.”
Demikianlah disebutkan dalam Al-Adzkar oleh An-Nawawi .
Al-Ghazali berkata kepada salah seorang muridnya: “Bacalah doa ini dalam waktuwaktumu, terutama sesudah salat-salatmu.”
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu nikmat yang sempuna, perlindungan yang terus-menerus, rahmat yang menyeluruh, tetapnya kesehatan, kehidupan yang paling sejahtera, umur yang paling bahagia, waktu yang paling baik, kebaikan yang paling sempurna, kenikmatan yang paling menyeluruh, karunia yang paling nyaman, kelembutan yang paling berguna dan rezeki yang paling luas. Ya Allah, jadikah Engkau penolong kami dan janganlah Engkau memusuhi kami, Ya Tuhan yang Maha Perkasa. Ya Allah, akhirilah ajal kami dengan kebahagiaan dan tambahilah amal-amal kami, berilah kami kesehatan di waktu pagi dan sore, jadikanlah kesudahan dan penghabisanku dalam ampunan dan rahmat-Mu. Tuangkanlah maaf-Mu yang deras kepada dosa-dosa kami dan karuniatlah kami dengan memperbaiki kejelekan-kejelekan kami, Jadikanlah ketakwaan sebagai bekal kami dan ijtihad kami dalam agamaMu, dan kepada-Mu tawakal dan sandaran kami, tetapkan kami di atas Jalan yang lurus dan lindungilah kami di dunia dan aklurat dari hal-hal yang menyebabkan penyesalan di hari kiamat.”
“Ya Allah, ringankanlah dari kami beban dosa-dosa kami dan anugerahilah kami penghidupan orang-orang salih dan Iidungilah kami serta jauhkanlah dari kami kejahatan orang-orang yang jahat. Bebaskanlah batang leher kami dan batang leher bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara lelaki dan saudar-saudara perempuan kami dari api neraka dengan rahmat-Mu, Ya Tuhan yang Maha Perkasa, Ya Tuhan yang Maha Pengampun, Ya Tuhan yang Maha Pemurah, Ya Tuhan yang menutupi kejelekan, Ya Tuhan yang Maha Penyantun, Ya Tuhan yang Maha Perkasa, Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, Ya Tuhan yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Semoga Allah melimpahkan salawat atas Sayyidina Muhammad dan keluarganya semua.”
Hafalkanlah doa-doa itu yang kami sebutkan dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, lalu berdoalah dengan semuanya jika engkau mampu melakukannya atau hafalkanlah darinya mana yang lebih cocok dengan keadaanmu dan lebih menyentuh hatimu serta lebih ringan pada lisanmu sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali.
Di antara doa-doa yang tersebut dalam Al-Ihya’ adalah doa Sayyidina Ibrahim Al-Khalil , siapa yang berdoa dengannya ketika memasuki waktu pagi, maka ia telah menunaikan syukur di hari itu, yaitu:
“Ya Allah, ini adalah mahluk baru, maka bukalah dia bagiku dengan mentaati-Mu dan akhirilah bagiku dengan ampunan dan keridaan-Mu dan anugerahilah aku di dalamnya kebaikan yang Engkau terima dariku dan bersihkanlah dia serta lipar gandakanlah bagiku sedangkan dosa yang aku lakukan di dalamnya, maka ampunilah dia bagiku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah.”
Di antaranya adalah doa Atabah Al-Ghulam. Ada orang mimpi berjumpa dengannya. Ia berkata: Aku masuk surga dengan sebab kalimatkalimat ini:
“Ya Allah, pemberi petunjuk kepada orang-orang yang menyesatkan dan pengasih orang-orang berdosa serta pemaaf kesalahan orang-orang yang bersalah, kasihanilah hamba-Mu dalam menghadapi bahaya besar dan kaum muslimin semuanya dan jadikanlah kami termasuk orang-orang baik yang mendapar rezeki dan Engkau beri kenikmatan kepada mereka, yaitu para nabi, shiddiq syuhada dan orang-orang salih. Amin, Ya Tuhan semesta Alam.”
Bagilah waktu-waktumu sehabis salat hingga terbit matahari menjadi empat wirid. Pertama, satu wirid berupa pembacaan doa-doa, Yang dimulai dengan menyebut nama Allah, sebagaimana telah di kemukakan di atas dan janganlah memulai dengan meminta.
Salamah Ibnu Akwa’ berkata, tidaklah aku mendegar Rasulullah memulai doa, melainkan beliau memulai dengan perkataan: “Subhana robbiyal aliyyil alaa al-wahhab.” Kemudian itu membaca salawat atas nabi . Barulah setelah itu mintalah keperluan, dan akhirilah dengan membaca salawat atas Nabi Karena Allah menerima kedua salawat itu dan tidak menyia-yiakan doa di antara keduanya. Demikianlah disebut dalam Al-Ihya”.
Kedua, satu wirid dalam bentuk zikir-zikir dan tasbih dan engkaufbaca dengan bantuan biji tasbih. Ketiga, satu wirid berupa bacaan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengumpulkan antara keutamaan zikir , berfikir dan berdoa bilamana dilakukan dengan penuh renungan. Maka dianjurkan bagimu membaca sejumlah ayat yang disebutkan dalam khabar-khabar tentang keutamaannya, yaitu membaca Al-Fatihah, ayat Kursi dan penghabisan surah Al-Bagarah, Akhir surah At-Taubah, lima ayat dari awal surah Al-Hadid dan empat ayat terakhir dari surah Al-Hasyr da beberapa ayat lainnya. Demikianlah disebutkan dalam Al-Ihya’. Keempar, satu wirid dengan renungan. Maka renungan apa pun yang bisa engkau lakukan, maka ia adalah ibadat yang paling mulia, karena di dalamnya terdapat makna dzikrullah dan tambahan dua perkara.
Yang pertama, tambahan makrifat, karena renungan adalah kunci makrifat dan kasyaf. Yang kedua, ialah tambahan mahabbah (cinta), karena hari tidak mencintai selain siap yang diagungkannya dan tidaklah tersingkap kebesaran Allah , kecuali dengan mengenal sifat-sifat dan kekuasaan serta keajaiban perbuatan-perbuatannya. Maka dari renungan itu timbul makrifat dan dari makrifat timbul pengagungan dan dari pengagungan timbul cita.
Maka renungkanlah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahanmu serta ke cerobohanmu dalam beribadat kepada Tuhanmu dengan akibatnya berupa hukuman-Nya yang pedih dan kemurkaan-Nya yang besar.
Dengan renungan engkau atur wirid-wiridmu dalam seluruh harimu untuk menyusul ketinggalanmu dan menghidari kemurkaan Allah pada harimu dan engkau niatkan kebaikan bagi seluruh orang muslim.
Engkau putuskan untuk tidak menyibukkan diri dalam seluruh siangmu kecuali dengan mentaati Allah dan engkau maksudkan dalam hatimu ketaatan yang bisa engkau lakukan dan engkau pilih mana yang paling utama, engkau persiapkan sebab-sebabnya untuk mengerjakan dan jangan lupa memikirkan dekatnya ajal dan datangnya kematian yang memutuskan angan-angan dan timbulnya hal itu secara pasti serta terjadinya kesedihan dan penyesalan di akhirat disebabkan kelalaian yang lama di dunia. Rasulullah bersabda:
”Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (yakni kematian).”
Aisyah berkata:” Ya Rasulullah, apakah ada orang yang dihimpun bersama para syuhada?”
Nabi menjawab: “Ya, yaitu siapa yang mengingat kematian 20 kali dalam sehari semalam. Hendaklah diantara tasbih-tasbih dan zikirzikirmu adalah sepuluh kalimat.” Salah satunya:
“Tiada Tuhan selain Allah sendiri, tiada sekutu bagi-Nya, Dia memiliki segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia hidup kekal tidak bisa mati, di tangan-Nya terdapat segala kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Yang kedua ialah:
”Tiada Tuhan selain Allah Raja yang Maha Benar dan menjelaskan kebenaran. ”
“Tiada Tuhan selai Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Penakluk, Tuhan Penguasa langit dan bumi dan segala yang terdapat di antara keduanya, yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Keempat:
”Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selai Allah dan Allah Maha Besar, nada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Perkataan ini sampai perkataannya, “Wallahu Akbar” dinamakan Al-Baaqiyaatush salihaat. Ada yang mengatakan sampai perkataannya: ”Illaa billah.”
Rasulullah bersabda:
”Perkataanku: Subhanallah walhamdu lillah wa laa ilaha illallah allahu Akbar lebih aku sukaidari pada tempat naiknya matahari.”
Kelima:
“Tuhan yang disucikan dan Maha Suci, Tuhan para malaikat dan ruh (jibril).”
Beda antara tasbih dan tagdis, tasbih diwujudkan dengan melakukan berbagai ketaatan dan ibadatnya sedangkan tagdis diwujudkan dengan mengenal Dzat Allah sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Maka tagdis adalah merenungkan semua itu. Diriwayatkan oleh Abi Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Sunni dari Az-Zubair.
Nabi bersabda:
“Tidaklah para hamba memasuki waktu pagi, melainkan ada suara berseru: Hai para makhluk, sucikanlah Raja Yang Maha Suci, Tuhan para malaikat dan ruh.”
Asy-Syarbini berkata, Ruh itu adalah Jibril ada yang mengatakan ruh itu adalah seorang malaikat yang kepalanya berada dibawah Arsy dan kedua kakinya berada di lapisan bumi yang ketujuh. Ia mempunyai seribu kepala dan setiap kepala lebih besar dari pada dunia. Pada setiap kepala ada seribu muka dan pada setiap muka ada seribu mulut dan pada setiap mulut ada seribu lisan yang bertasbih menyucikan Allah Pada setiap lisan ada seribu magam tasbih, tahmid dan tamjin dan setiap lisan mempunyai bahasa yang tidak sama dengan bahasa lisan lainnya. Apabila ia membuka mulut-mulutnya dengan bertasbih, maka para malaikat di langit ketujuh menyungkur sujud karena takut terbakar oleh cahaya yang keluar dari mulutnya.
Keenam:
”Maha Suci Allah dengan segala puji bagin-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung.”
Jabir berkata bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa mengucapkan, Subhanallahi wa bihamdihi, ditanamlah baginya sebatang pohon kurma di surga.”
Ketujuh:
“Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung yang tiada Tuhan selain Dia Yang hidup kekal dan selalu mengurusi makhluk-Nya dan aku bertobat kepada-Nya.”
Dalam salah satu naskah ada tambahan: “Dan ampunan”, sedangkan dalam Al-Ihya’ tidak ada tambahan ini. Kedelapan,
“Ya Allah, tiada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tiada yang dapat memberikan apa yang Engkau cegah dan tiada yang dapat menolak apa yang Engkau takdirkan dan tidaklah bermanfaat kekayaan seseorang di sisi-Mu (bila tanpa amal).”
Kesembilan:
“Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad serta para sahabatnya.”
Kesepuluh:
“Dengan nama Allah yang tidak berbahaya dengan menyebut nama-Nya sesuatu apa pun di bumi maupun di langit dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Kalimat-kalimat ini berbeda dengan yang terdapa: dalam Al-Ihya’ sebagaimana dan tertibnya.
Kalimat pertama sama, kalimat kedua tanpa al-aliyyil adhim, kalimat ketiga sama, kalimat keempat: perkataanya subhanallahil adhim wa bihamdihi, kalimat kelima sama, kalimat keenam sama, kalimat ketujuh sama, kalimat kedelapan sama, kalimat kesembilan:
“Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam atas Muhammad, hamba-Mu, nabi dan rasul-Mu, nabi yang ummiy dan keluarga serta sahabatnya.”
Kalimat kesepuluh:
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk. Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan dan aku berlindung kepada-Mu, Ya Tuhanku dari kehadiran mereka kepadaku.”
Kemudian pengarang berkata: “Jika engkau baca sepuluh kalimat yang dihadiahkan Al-Khidhir kepada Ibrahim At-Taimi, maka telah lengkap keutamaan dan mengumpulkan keutamaan semua doa tersebut.”
Yaitu engkau baca sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari surah Al-Fatihah, An-Naas, Al-Falag, Al-Ikhlash, Al-Kafirun dan avat
Al-Kursi masing-masing tujuh kali. Kemudian membaca ”subhanal walhamdu lillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar” tujuh kali, dan bersalawat atas Nabi tujuh kali serta memohon ampunan bagi dirimu, ayah dan ibumu serta orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan sebanyak tujuh kali. Dan jangan engkau meninggalkan bacaan tersebut setiap pagi dan sore. Kemudian bacalah:
“Ya Allah, perlakukanlah aku dan mereka di waktu dekat maupun di masa yang akan datang dalam urusan agama, dunia dan aklurat dengan sesuatu yang pantas bagi-Mu dan jangan perlakukan kami Ya Tuhan kami dengan sesuatu yang kami pantas menerimanya. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyantun, Maha Pemberi lagi Maha Pemurah, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Ulangilah masing-masing kalimat ini seratus atau tujuh puluh atau sepuluh kali, paling sedikit supaya seluruhnya berjumlah seratus.
Hal itu lebih baik daripada mengulangi setiap kalimat seratus kali, karena masing-masing kalimat ini mempunyai keutamaan tersendiri sedangkan setiap kalimat menimbulkan semacam kegiatan dan kenikmatan di dalam hati dan perpindahan dari satu kalimat ke kalimat yang lain menimbulkan ketenangan di dalam jiwa dan keamanan dari kebosanan. Demikianlah disebutkan oleh pengarang dalam Al-Ihya”. Bacalah selalu wirid-wirid ini. Janganlah bicara sebelum terbit matahari. Di dalam khabar disebutkan bahwa hal itu lebih utama daripada membebaskan delapan orang keturunan Ismail Yakni terus berzikir hingga terbit matahari tanpa diselingi bicara.
Nabi bersabda:
” Aku lebih suka duduk di majelisku dengan menyebut nama Allah sejak salat Subuh hingga terbit matahari daripada membebaskan empat orang hamba sahaya.”
Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Allah berfirman, “Hai anak Adam, ingatlah Aku sesudah salat Subuh dan sesudah salat Asar sesaat, niscaya aku melindungimu di antara kedua waktu itu.” Demikianlah disebutkan dalam Al-Ihya”.
Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa mengerjakan salat Subuh berjamaah, kemudian duduk menyebut nama Allah hingga terbit matahari, kemudian mengerjakan salat dua rakaat, maka pahalanya seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” Demikian disebutkan dalam Al-Ihya’.









One Comment