Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Andaikata ia disuruh bersumpah mengenai titipan itu, wajiblah ia bersumpah dan menggunakan kata samaran dalam sumpahnya. Jika tidak menggunakan kata samaran, ia pun melanggar sumpah menurut pendapat yang lebih shahih dan wajib baginya membayar kafarat. Ada yang mengatakan, ia tidak melanggar sumpah. Begitu pula bila tujuannya adalah meredakan peperangan atau mendamaikan orang-orang yang berselisih atau membujuk orang yang disakiti agar memaafkan orang yang menyakitinya sedangkan hal itu hanya bisa tercapai dengan dusta, maka berdusta tidak haram.

Akan tetapi patutlah ia menghindarinya sedapat mungkin, karena ia membuka pintu dusta bagi dirinya, maka dikhawatirkan bisa menyebabkan dusta yang terus-menerus dan tidak terbatas pada keadaan darurat. Maka dusta itu asalnya haram, kecuali untuk kebutuhan mendesak dimana tujuannya tidak tercapai kecuali dengan dusta.

Untuk berhati-hati dalam semua ini digunakanlah tauriyah (kata samaran), yaitu kalimat yang maksudnya benar dan bukan dusta terhadapnya, meskipun ia berdusta pada lafaznya yang lahir.

Andaikata ia tidak bermaksud ini, tetapi mengucapkan perkataan dusta, maka tidaklah haram di tempat ini. Demikian disebutkan dalam AlAdzkar dan Al-Ihya’. Maka janganlah engkau senang melakukan itu.

  1. Menyalahi janji. Janganlah berjanji jika tidak dapat menepati. Akan tetapi hendaklah kebaikanmu kepada orang-orang merupakan perbuatan tanpa perkataan. Jika engkau terpaksa berjanji, maka janganlah engkau mengingkarinya, kecuali bila engkau tidak sanggup atau terpaksa. Karena ingkar janji tanpa alasan mendesak termasuk tanda orang munafik dan merupakan akhlak yang buruk.

Nabi  bersabda:

“Tiga perkara yang apabila berkumpul pada seseorang, maka ia menyerupai munafik, meskipun ta berpuasa dan salat. Yaitu orang yang apabila berbicara ia berdusta. Apabila berjanji, ia ingkar: Dan apabila Aiserahi amanar, ia berkhianat.”

Yang dimaksud dalam pembicaraan ini adalah orang yang sifat-sifat ini menjadi kebiasaan dan cirinya tidak terlepas darinya.

Diriwayatkan oleh Syaikhain dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash bahwa Nabi  bersabda:

“Empat perkara yang apabila terdaparpada seseorang, maka ia menjadi seorang munafik yang murni. Dan siapa yang ada padanya salah satu sifat padanya, maka ia mempunyai salah satu sifat munafik hingga ditinggalkannya. Apabila diserahi amanat ia berklianat. Apabila berbicara, ia berdusta. Apabila berjanji mengingkarinya. Dan apabila bertengkar, ia melampaui batas.”

Yang dimaksud dengan sifat munafik adalah perbuatan, bukan iman. Atau nifag urfi, bukan syar’i. Karena kedua makna ini tidak menyebabkan kufur yang dimasukkan dalam lapisan neraka yang paling bawah. Demikian dikatakan oleh AlAzizi.

  1. Ghibah. Maka jagalah lisanmu darinya. Ghibah itu lebih besar dosanya dari tiga puluh kali zina. Demikianlah yang disebutkan dalam khabar. Ghibah artinya bila engkau menyebut sesuatu pada seseorang yang tidak disukainya andaikata didengarnya, baik engkau menyebutnya dengan lisanmu atau dalam bentuk tulisan atau pun dengan isyarat mata, kedua tangan atau kepalamu.

Definisi ghibah adalah membuka atau membeberkan aib orang lain tentang kekurangan yang ada padanya seperti, cacat tubuh, nasabnya, perbuatannya, perkataannya, agama, harta miliknya seperti, pakaiannya, rumah atau hewan peliharaannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah perilaku ghibah yang zalim, meskipun apa yang dikatakan benar.

Sebagaimana sabda Nabi : “Jika padanya terdapat kekurangan seperti apa yang engkau katakan itu, maka engkau telah menggunjingnya. Dan jika tidak terdapat padanya, maka engkau telah memfitnahnya. Maka jagalah lisanmu dari ghibahnya orang yang bersifat riya’, karena yang demikian itu macam dari ghibah yang terburuk”, diriwayatkan oleh Muslim, Abi Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i.

Ketika engkau ditanya misalnya, “Bagaimana keadaan si Fulan?” Dan engkau menjawab: “Semoga Allah memperbaikinya. Aku merasa sedih atas apa yang dilakukannya. Maka kita mohon kepada Allah agar memperbaiki kami dan dia.”

Maka ucapan tersebut adalah gabungan antara dua perbuatan yang buruk. Yang pertama adalah ghibah bilamana dengan perkataan ini bisa memahami orang yang dimaksud. Adapun bila tidak bisa memahami orang yang dimaksud, bolehlah mengatakan itu. Adapun Rasulullah  apabila tidak menyukai pada seseorang, beliau berkata: “Mengapa orang-orang melakukan begini dan begini?” Dan beliau tidak menunjuk orangnya.

Memuji diri dengan mencela orang lain serta menganggap dirinya lebih baik. Maka yang demikian itu adalah pengagungan terhadap diri sendiri dan merendahkan orang lain.

Engkau memuji dirimu baik dalam mencela orang lain sehingga engkau gabungkan dua perbuatan buruk, yaitu ghibah dan memuji dirimu, bahkan empat, yaitu riya dan menganggap dirimu baik.

Engkau berbuat riya dan karena kebodohanmu mengira bahwa engkau termasuk orang salih yang tidak mau melakukan ghibah.

Maka siapa yang beribadat dalam kebodohan, ia pun dipermainkan setan. Dengan demikian ia menyebut kejelekan seseorang dan menyebut Allah serta menggunakan nama-Nya sebagai alat dalam mewujudkan kejahatannya. Juga dusta ketika merasa sedih dan susah dan di saat ia berdoa.

Akan tetapi jika maksud perkataanmu: ”Semoga Allah memperbaikinya” adalah doa, maka doakanlah dia dengan diam-diam sesudah salat. Dan jika engkau merasa sedih dengan sebabnya dan menampakkan aibnya. Sedangkan penampakan kesedihan atas aibnya itu sendiri berarti menjelekkannya.

Cukuplah bagimu peringatan atas perbuatan ghibah firman Allah : “Dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu ingin makan daging saudaranya yang sudah mati sehingga kamu tidak menyukainya.”

Allah telah mengumpamakanmu dengan pemakan daging orang yang sudah mati. Dalam perumpamaan ini terdapat petunjuk bahwa kehormatan manusia adalah seperti darah dan dagingnya, karena manusia merasa sakit hatinya bila kehormatannya disakiti sebagaimana tubuhnya merasa sakit bila dagingnya dipotong.

Untuk mencegahmu dari menggunjing orang muslim, hendaklah engkau pikirkan dengan memeriksa dirimu apakah pada dirimu ada aib batin atau lahir dan apakah engkau lakukan maksiat secara diam-diam atau terang-terangan. Apabila engkau telah mengetahui hal itu dari dirimu, maka ketahuilah bahwa ketidakmampuan orang yang engkau gunjingkan untuk membersihkan dirinya sama dengan ketidakmampuanmu dan uzurnya sama dengan uzurmu.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas  “Apabila engkau ingin menyebut kejelekan temanmu, maka sebutlah kejelekanrnu.” Abi Hurairah juga berkata: “Seseorang dari kami melihat debu di mata saudaranya dan tidak melihat batang pohon di depan matanya.”

Sebagaimana engkau tidak suka kejelekanmu diketahui dan disebutsebut orang lain, maka ia pun tidak menyukainya. Maka jika engkau menutupi kejelekannya, Allah pun menutupi kejelekanmu. Dan jika engkau mengungkapkan kejelekannya, maka Allah menurunkan orangorang yang tajam lisannya dan mencemarkan kehormatanmu di dunia, kemudian Allah mencemarkanmu di akhirat di hadapan khalayak pada hari kiamat. Jika engkau memandang kepada lahir dan batinmu, namun engkau tidak menemukan kekurangan dalam urusan agama dan dunia pada: keduanya, maka ketahuilah bahwa ketidaktahuanmu akan aib-aib dirimu adalah macam kedunguan yang terburuk dan tiada aib yang lebih besar daripada kedunguan.

Seandainya Allah menghendaki kebaikan bagimu, niscaya Dia menjadikanmu mengetahui aib-aib dirimu. Maka penglihatanmu terhadap dirimu dengan pandangan keridaan adalah puncak kedunguan dan kebodohanmu.

Kebanyakan manusia tidak mengetahui kejelekan dirinya. Seseorang dari mereka bisa melihat debu di mata saudaranya sedangkan ia tidak bisa melihat batang pohon di depan matanya. Maka siapa yang ingin mengetahui kejelekan dirinya, ia mempunyai empat jalan.

Pertama, ia duduk di depan seorang guru yang memahami kejelekankejelekan nafsu dan mengetahui cacat-cacat tersembunyi serta mengikuti petunjuknya dalam mengatasinya.

Kedua, hendaklah ia mencari teman yang bisa dipercaya, bijaksana dan taat beragama, lalu menjadikannya sebagai pengawas atas dirinya untuk mengawasi keadaan dan perbuatannya. Mana yang tidak disukainya dari akhlak dan perbuatan serta kejelekannya yang batin dan lahir, ia pun mengingatkannya.

Ketiga, ia ambil faidah dari lisan musuh-musuhnya untuk mengetahui keadaan dirinya, karena pandangan kebencian itu serasa menampakkan keburukan sedangkan tabiat itu diciptakan untuk mendustakan musuh dan mengartikan perkataannya sebagai dengki. Akan tetapi orang yang bijaksana tidak segan mengambil manfaat dari perkataan musuhnya.

Keempat, ia bergaul dengan orang-orang. Maka setiap sesuatu yang dianggap tercela di antara masyarakat, hendaklah ia tuntut dirinya dengan sifat itu, karena orang mukmin adalah cermin orang mukmin. Kemudian jika dugaanmu benar bahwa engkau tidak memiliki kekurangan dalam agama dan duniamu, maka bersyukurlah kepada Allah  atas hal itu dan jangan merusakkannya dengan mencela mereka dan mencemarkan kehormatan mereka, karena perbuatan itu termasuk aib terbesar. Umar  berkata: “Hendaklah kalian sering menyebut nama Allah , karena ja adalah obat. Dan jagalah dirimu dari ghibah dan menyebut kejelekan orang lain, karena itu adalah penyakit.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker