Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Nabi  bersabda: “Barangsiapa tidak bersedih atas kematian orang alim, maka ia adalah munafik. Karena tiada musibah yang lebih besar daripada kematian orang alim.”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya amal yang sedikit disertai kebodohan tidaklah berguna.”

Umar berkata: “Kematian seribu ahli ibadat yang mengerjakan salat malam dan berpuasa di siang hari lebih ringan daripada kematian seorang alim yang mengetahui apa yang halal dan haram Allah, meskipun tidak melebihi dari amalan-amalan fardu.”

Ar-Rabi’ berkata: “Para ulama adalah lampu-lampu zaman. Setiap orang alim adalah pelita zamannya yang dijadikan penerang oleh orangorang di zamannya.”

Dengan bertambahnya ilmu, setan akan berusaha keras menjadikanmu lalai, sebagaimana sabda Nabi : “Barangsiapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah kebaikannya, maka ia pun semakin jauh dari Allah.”

Dan orang yang alim yang lalai akan mendapat siksa yang berat, sebagaimana sabdanya :

“Orang yang paling keras siksanya di hari kiamat adalah orang alim yang tidak diberi Allah manfaat dengan imunya.”’

Nabi  sering berdoa sebagai pengajaran bagi umatnya:

”Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari ilmu yang tidak berguna, dan hati yang tidak khusyuk, (tunduk) serta amal yang tidak diangkat serta doa yang tidak diterima.”

Pada malam ketika aku di Isra’-kan dari Al-Masjidil Aqsha, aku melewati sekelompok orang yang menggunting bibir-bibir mereka dengan gunting yang terbuat dari api. Kemudian aku berkata: “Siapa kalian?”

Mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang menyeru kepada kebaikan, tetapi kami tidak mengerjakan. Dan melarang berbuat keburukan, tetapi kami melakukan.”

Asy-Syarbini dalam kitab As-Siraajul Munir yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah  bersabda: “Pada malam Isra’ aku melihat orang-orang lelaki menggunting bibir-bibir mereka dengan gunting api.”

Aku berkata: “Siapakah mereka ini, hai Jibril?”

Jibril menjawab: “Para khatib dari umatmu. Mereka menyeru kepada kebaikan, tetapi mereka lupa akan diri mereka, padahal mereka membaca Al-Kitab.”

Maka waspadalah engkau hai miskin, orang yang hina dan lemah yang tidak memiliki kecerdasan, janganlah engkau tunduk kepada kepalsuan setan sehingga engkau terperdaya olehnya.

Bilamana engkau belajar ilmu, maka wajib bagimu bertanya tentangnya, sesuai firman Allah : “Maka bertanyalah kepada orangorang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui”, maka mengamalkan ilmu sesudah mengetahuinya adalah wajib.

Maka wail (celaka, sebuah tempat siksaan atau kebinasaan di salah satu lembah Jahanam) sekali bagi orang bodoh yang tak mau belajar ilmu agama. Dan lebih celaka seribu kali bagi seorang alim yang tak mengamalkan ilmunya, sebagaimana yang dikatakan Asy-Syarbini. Dalam riwayat lain celaka 70 kali bagi orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya.

Maka perkataannya ”seribu kali” ditekankan bagi mereka yang tidak mengamalkan. Dan perkataan ”sekali” bagi mereka yang tidak mau belajar. Itu lebih jelas dan lebih baik dan boleh pula masing-masing dari kedua dharf itu berkaitan dengan perkataanya: ”Wail (celakalah di kedua tempat itu apabila dengan arti siksaan atau kebinasaan).

Dan hal itu tidak boleh apabila dengan arti lembah di Jahanam, karena ia adalah nama dzat dan ketika itu siksaan orang alim menjadi lebih besar daripada siksaan yang dialami orang bodoh. Ya, itu menurut jumlahnya saja, bukan bentuknya. Maka boleh jadi satu siksaan lebih keras daripada seribu kali lipat.

Begitu pula orang yang diharamkan dan Allah  menyiksanya, maka siksaan itu merupakan penyucian baginya. Demikianlah yang dikatakan oleh seorang ulama.

Berdasarkan makna ini dikatakan, bahwa para malaikat penyiksa, menyiksa para ulama yang tidak mengamalkan ilmunya sebelum penyembah berhala.

Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi : “Orang alim kekasih Allah, walaupun ia fasik. Dan orang bodoh itu musuh Allah, walaupun ia ahli ibadat.”

Diceritakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang kemuliaan orang alim yang fasik dan kemuliaan orang bodoh yang ahli ibadat.

Salah seorang dari mereka pergi ke biara ahli ibadat yang bodoh. Ia berkata: “Hai hambaku, aku telah menerima doamu dan mengampuni dosamu, maka tinggalkanlah ibadat dan beristirahatlah.”

Ahli ibadat itu berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku mengharapkan ini darimu dan memuji syukur kepadamu serta menyembahmu sejak zaman dahulu. Maka ia pun berdosa dan kafir karena kebodohannya.”

Kemudian salah seorang dari mereka pergi kepada orang alim yang fasik. Ternyata ia meminum khamar. Ia berkata: “Hai hambaku, takutlah kepadaku, karena aku Tuhanmu. Aku akan menutup dosamu sedang engkau tidak malu kepadaku, maka aku akan membinasakanmu. Tiba-tiba orang alim yang fasik itu keluar sambil menghunus pedangnya.

Ia berkata: “Hai terkutuk, engkau tidak mengetahui Tuhanmu. Aku akan memberitahu kepadamu tentang Tuhanmu sekarang.” Maka larilah orang yang berkata itu dan tahulah ia dengan itu kemuliaan ilmu dan ahlinya.

Ketahuilah, bahwa dalam menuntut ilmu ada tiga tingkatan. Menuntut ilmu dengan mengharapkan keridaan Allah dan menjadikannya sebagai bekalnya ke akhirat. Maka orang ini termasuk orang-orang beruntung, yakni selamat dari siksaan Allah  dan mendapatkan kebaikan.

Tanda orang yang alim akhirat ada tiga. Tidak mencari dunia dengan ilmunya, dan tujuannya mencari ilmu untuk mencapai kebahagiaan akhirat.

Maka ia memperhatikan ilmu batin dan membimbing hatinya dengan melawan nafsu. Dan dengan ilmu itu ia mengikuti pembawa syariat Muhammad  dalam perbuatan dan perkataannya.

Tanda tidak mencari dunia dengan ilmu adalah menjadi orang pertama yang mengerjakan perintah dan menjauhi larangan serta menjauhi makanan, tempat tinggal dan pakaian mewah. Dan menjauh dari pergaulan dengan raja, kecuali untuk menasihatinya atau untuk mengembalikan hak orang lain kepada pemiliknya atau memohon keringannan demi memperoleh rida Allah .

Dan ia tidak boleh terburu-buru berfatwa seperti menunjukkan orang yang lebih pandai daripada dia. Sebagaimana diriwayatkan dari Syuraih bin Hani, ia berkata: ” Aku mendatangi Aisyah  menanyainya tentang mengusap di atas sepasang sepatu khuff.”

Aisyah menjawab: “Hendaklah engkau menemui Ali bin Abi Thalib dan menanyainya, karena ia pernah bepergian bersama Rasulullah ” Maka kami pun menanyainya.

Sebagaimana diriwayatkan dari Sa’ad bin Hisyam bin Amir bahwa ia mendatangi Ibnu Abbas dan menanyainya tentang salat witir Rasulullah .

Ibnu Abbas menjawab: “Maukah kutunjukkan kepadamu orang yang paling mengetahui di antara penduduk bumi salat witir Rasulullah ”

Sa’ad berkata: “Siapa?”

Ibnu Abbas menjawab: “Aisyah, pergilah kepadanya dan tanyakanlah kepadanya tentang itu.”

Diriwayatkan dari Imran bin Haththan, ia berkata: “Aku bertanya kepada Aisyah tentang sutera.”

Ia menjawab: ” Pergilah kepada Ibnu Abbas dan tanyai dia.” Maka aku menanyainya.

Ibnu Abbas berkata: “Tanyalah Ibnu Umar.” Maka aku menanyai Ibnu Umar.

Ia menjawab: “Abu Hafsh Umar Ibnul Khattab memberitahu aku bahwa Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya yang memakai sutera di dunia adalah orang yang tidak mempunyai bagian di akhirat. Semua ini termasuk nasihat.”

Seorang yang mencari ilmu untuk memenuhi kebutuhannya dengan segera untuk memperoleh kekuatan, kedudukan dan harta sedang ia mengetahui hal itu dan menyadari kelemahan keadaannya di dalam hatinya serta kehinaan tujuannya. Ini termasuk orang-orang yang menghadapi bahaya.

Jika ajalnya datang dengan tiba-tiba sebelum ia bertobat dari tujuan itu, maka ditakutkan baginya penghabisan yang buruk. Maka keadaannya terserah Allah. Jika Allah  menghendaki, Dia memaafkannya atau tidak.

Jika ia sempat bertobat sebelum tiba ajalnya dan mengamalkan ilmunya serta memperbaiki kesalahan yang dilakukannya, maka ia pun termasuk orang-orang yang beruntung. Karena orang yang bertobat dari dosanya seperti orang yang tidak berdosa.

Orang ketiga dikuasai oleh setan. Maka ia menjadikan ilmunya sebagai alat untuk memperbanyak harta dan membanggakan diri dengan kedudukannya dan mencari kekuatan dengan pengikut yang banyak. Ia masukkan ilmunya ke dalam setiap tempat, yakni melancarkan banyak tipu daya dengan ilmunya, dengan harapan bisa memenuhi keperluannya.

Di samping itu orang ketiga tersebut menyembunyikan dalam hatinya bahwa ia mempunyai kedudukan di sisi Allah karena memakai tanda ulama dalam penampilannya serta perkataannya, padahal ia berambisi kepada dunia, lahir dan batin. Orang ketiga ini termasuk orang-orang binasa dan dungu yang terperdaya.

Karena harapan terputus dari tobatnya disebabkan ia mengira bahwa ia termasuk orang-orang yang berbuat baik sedangkan ia lalai dari firman Alllah : “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.”

Orang ini termasuk mereka yang dikatakan Rasulullah :” Aku lebih takut kepada selain Dajjal terhadap dirimu daripada Dajjal.”

Dalam sebuah riwayat: “Selain Dajjal lebih aku takutkan atas dirimu.”

Maka dikatakan: ”Siapakah dia, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Ulama yang buruk.”

Maksudnya ialah setiap munafik yang pandai bicara, bodoh hati dan amalnya. Ia menjadikan ilmu sebagai pekerjaan untuk mencari makan dan kebanggaan untuk menguatkan dirinya. Ia menyeru orang-orang kepada Allah sedang ia lari darinya.

Sebagaimana sabda Nabi  :

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umarku adalah setiap munafik yang pandai berbicara ”. (HR. Ahmad bin Hanbal dari Umar Ibnu Khattab)

Dalam sabdanya yang lain:

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atasa umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Imam Ahmad dan Thabrani dari Abi Darda”)

Hal ini disebabkan Dajjal bertujuan menyesatkan umat, orang alim seperti ini, meskipun ia mengalihkan orang-orang dari cinta dunia dengan lisan dan perkataanya, namun ia menyeru mereka kepadanya dengan amal-amal dan keadaannya, sedangkan lisanul hal lebih jelas petunjuknya daripada perkataan.

Watak manusia lebih condong membantu amal perbuatan daripada mengikuti perkataan. Apa yang dirusakkan oleh orang yang diperdayakan setan ini dengan amal-amalnya lebih banyak daripada apa yang diperbaikinya dengan perkataannya yang indah.

Karena orang yang bodoh tidak akan berani mencintai dunia kecuali bila para ulama berani melakukannya. Maka ilmu orang ketiga ini menyebabkan keberanian para hamba Allah untuk mendurhakai-Nya tanpa ragu-ragu.

Nafsunya yang buruk menjadi manja. Terkadang memberinya harapan seperti masuk surga dan mendapat pahala yang banyak dan terkadang memberi harapan seperti harta dan pengikut yang banyak.

Terkadang nafsunya menyeru agar menyebut-nyebut ilmunya terhadap Allah dengan mengatakan: “Ya Robb, aku mengetahui ini dan ini.”

Terkadang nafsunya membuat dirinya berkhayal bahwa ia lebih baik daripada banyak hamba Allah, yakni dengan sebab ilmunya yang banyak.

Wahai pencari ilmu, jadilah engkau dalam golongan pertama yang selamat dan janganlah engkau dalam golongan kedua, yaitu yang mendekati kebinasaan. Karena banyak orang yang menunda tobat tibatiba datang ajalnya sebelum bertobat hingga ia merugi. Jagalah dirimu, kemudian supaya tidak menjadi golongan ketiga, yaitu golongan yang binasa karena menuruti nafsunya. Maka engkau pun binasa dengan kebinasaan yang tidak ada harapan selamat bagimu dan tidak bisa diharapkan kebaikanmu.

Jika engkau katakan kepadaku: “Apakah permulaan hidayat yang engkau sebutkan tadi untuk saya cobakan bagi diriku apakah ia menerima atau menundanya.”

Maka saya katakan kepadamu: “Hai penanya yang menginginkan kebaikan, ketahuilah bahwa permulaan hidayat adalah ketakwaan yang lahir dan penghabisannya adalah ketakwaan batin.”

Tiada keberuntungan, kecuali dengan takwa. Dan tiada kebenaran, kecuali bagi orang-orang yang bertakwa. Takwa adalah ibarat mematuhi perintah-perintah Allah  dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketakwaan itu menjaga pelakunya dari bahaya-bahaya duniawi dan ukhrawi.

Keduanya (yakni mematuhi dan menjauhi itu) ada dua macam:

Selanjutnya saya kemukakan kepadamu secara ringkas dari ilmu takwa yang lahir dalam kedua macam ini semuanya, yaitu adab-adab dalam melakukan ketaatan dan adab-adab dalam meninggalkan maksiat. Dan saya sertakan bagian ketiga, yaitu adab-adab bergaul supaya kitab ini menjadi lengkap dan mencakup hubungan dengan Allah  maupun hubungan dengan manusia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker