Adab Di Antara Terbit Hingga Tergelincirnya Matahari
Apabila matahari sudah terbit dan naik setinggi tombak, maka kerjakanlah salat dua rakaat. Hal itu dilakukan sesudah hilangnya waktu yang dilarang mengerjakan salat, karena salat di waktu itu makruh.
Yaitu setelah fardu Subuh hingga naiknya matahari. Apabila matahari telah tinggi dan lewat seperempat siang, maka kerjakanlah salat Dhuha empat atau enam atau delapan rakaat, masing-masing dua rakaat dan itu lebih utama.
As-Suyuthi menyebutkan bahwa yang lebih utama adalah dalam rakaat pertama sesudah Al-Fatihah membaca surah Asy-Syams dan rakaat kedua sesudah Al-Fatihah membaca surah Adh-Dhuha. Ibnu Hajar sependapat dengannya, akan tetapi Ar-Ramli berpendapat bahwa ia membaca dalam rakaat pertama Al-Kafirun dan dalam rakaat kedua Al-Ikhlash. Ia lalukan itu dalam setiap dua rakaat darinya. Jumlah ini seluruhnya telah diriwayatkan dari Rasulullah sebagaimana dikatakan oleh Ummu Hani, Nabi mengerjakan salat Dhuha dan memberi salam dari setiap dua rakaat. HR. Abi Dawud. Dan salat itu adalah baik seluruhnya, maka siapa yang mau ia boleh mengerjakan banyak dan siapa mau ia boleh mengerjakan sedikit sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Abi Hurairah : Tiada salat sunah di antara terbitnya matahari dan waktu tergelincirnya, kecuali salat Dhuha.
Maka waktumu yang lebih dari itu ada empat keadaan. Keadaan pertama, yang paling utama adalah bila engkau gunakan waktumu untuk menuntut ilmu agama, bukan ilmu yang tidak berguna seperti ilmu sihir dan ilmu nujum.
Orang alim menggunakan waktunya untuk mengajar dan mengarang. Jika engkau orang awam, maka kehadiranmu di majelis pengajian dan ilmu lebih baik dari pada membaca wirid-wirid dan mengerjakan salat sunah. Dalam hadis Abi Dzaar disebutkan bahwa menghadiri majelis zikir lebih utama daripada salat seribu rakaat dan menghadiri seribu jenazah serta menjenguk seribu orang sakit.
Ilmu yang berguna ialah ilmu yang menambah rasa takutmu kepada Allah dan menambah pengetahuanmu tentang kejelekan dirimu, menambah pengetahuan tentang ibadat kepada Tuhanmu, mengurangi keinginanmu terhadap dunia dan menambah kesukaanmu terhadap akhirat serta membuka mata hatimu terhadap cacat-cacat dari amalamahnu hingga engkau bisa menghindarinya disamping membantumu untuk menempuh jalan akhirat bila engkau belajar ilmu itu dengan tujuan tersebut. Ilmu itu bisa menunjukkanmu kepada kejahatan setan serta tipudayanya dan cara penyesatannya terhadap ulama yang buruk, yaitu mereka yang menggunakan ilmu dengan tujuan menikmati kesenangan dunia dan mencapai suatu kedudukan.
Mereka itu akan mendapat murka Allah karena mencari kesenangan dunia dengan menjual agama. Mereka menjadikan ilmu sebagai dalih dan alat untuk mengambil harta raja-raja dan makan harta wakaf dan anak yatim serta orang miskin.
Mereka rujukan kemauan mereka yang kuat dan mereka habiskan siang hari yang lama untuk mencari kedudukan dan pangkat yang tinggi dalam pandangan manusia. Perbuatan itu menyebabkan mereka bersikap riya, suka mendebat dan meyelidik di dalam pembicaraan.
Dalam salah satu naskah disebutkan, persaingan, yakni kesukaan akan ilmu dan amal dengan cara menentang dan membanggakan diri. Ilmu berguna yang semacam ini telah kami kumpulkan dalam kitab Ihya Ulumuddin.
Saya sebutkan ringkasanya, yaitu bahwa ilmu yang berguna itu ada dua macam. Ada macam yang sedikit dan banyaknya adalah terpuji. Semakin banyak jumlahnya semakin baik. Ada macam lain yang terpuji bila mencukupi, tetapi tidak baik bila lebih dari itu.
Yang pertama adalah pengetahuan tentang Allah , sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, serta sunah-Nya pada makhluk-Nya dan hikmah-Nya dalam menertibkan akhirat di atas dunia. Yang kedua terbagi menjadi empat bagian, yaitu Ushul, Furu’, pendahuluan dan pelengkap.
Ushul ada empat, yaitu Kitabullah dan sunah nabi Muhammad Bahasa dan nahwu bukanlah termasuk ilmu vang mulia secara tersendiri, tetapi harus dipelajari dengan sebab syara”, karena syariat ini datang dengan bahasa Arab dan setiap syariat dengan setiap bahasa. Maka belajar bahasa itu adalah alat ilmu dan termasuk alat adalah ilmu tentang tulisan. Mutammimaat (pelengkap) ada dalam ilmu Al-Qur’an, karena ia terbagi menjadi tiga macam. Satu macam berkaitan dengan hafal seperti belajar Al-Qur’an dan makhraj huruf. Satu macam berkaitan dengan makna seperti tafsir, karena ia mengandalkan nukilan, dan bahasa semata-mata tidak cukup.
Dan satu macam berkaitan dengan hukum-hukum Al-Qur’an seperti pengetahuan vasikh dan mansukh, aam dan khaash, nash dan dhahir, cara menggunakan sebagiannya dengan sebagian lainnya, yaitu ilmu yang dinamakan Ushulul Fikih.
Adapun mutammimaat dalam atsar dan khabar, maka ia adalah pengetahuan tentang para perawi, nama-nama mereka, nasab-nasab mereka, nama para sahabat dan sifat-sifat mereka, ilmu tentang keadilan para perawi dan keadaan mereka untuk membedakan antara yang lemah dan yang kuat, ilmu tentang umur-umur mereka untuk membedakan antara yang mursal dan yang musnad.
Inilah ilmu-ilmu syar’iyah dan seluruhnya termasuk fardu kifayah. Jika engkau menyenangi macam ilmu tersebut, maka pelajarilah dia dan amalkanlah, kemudian ajarkanlah kepada orang-orang dan serukanlah agar orang-orang mempelajarinya.
Maka siapa yang menguasai ilmu berguna dan mengamalkannya, kemudian mengajarkannya dan menyeru orang-orang untuk mempelajarinya, ia dinamakan orang besar di kerajaan langit dengan kesaksian Isa . Karena Sayyidina Isa berkata: “Siapa yang belajar dan mengamalkan serta mengajarkan, maka ia dinamakan orang besar di kerajaan langit.”
Nabi bersabda: “Siapa yang belajar satu bab ilmu untuk mengajari orang-orang, ia pun diberi pahala tujuh puluh Shiddig.” Apabila engkau selesai dari mempelajari ilmu yang berguna itu dan selesai memperbaiki dirimu lahir batin sedangkan waktumu masih tersisa, maka tidaklah mengapa bila engkau sibukkan dirimu dengan ilmu mazhab Fikih untuk mengetahui cabang-cabang yang jarang dalam ibadat dan cara menengahi persengketaan di antara para makhluk ketika mereka menuruti keinginan nafsu. Belajar ilmu mazhab juga termasuk fardu kifayah setelah mempelajari ilmu-ilmu yang wajib dipelajari. Termasuk fardu kifayah adalah belajar ilmu kedokteran. Az-Ziyadi berkata: Belajar ilmu syar’i ada tiga macam.
Fardu ain, yaitu belajar ilmu yang wajib. Fardu kifayah, yaitu belajar ilmu yang menyampaikan kepada derajat pemberian fatwa, dan sunah, yaitu yang lebih dari itu.
Al-Ghazali berkata, Jadilah engkau salah satu dari dua orang. Yaitu sibuk dengan dirimu atau sibuk untuk orang lain setelah selesai dari mengurusi dirimu. Janganlah engkau mengurusi orang lain sebelum mengurusi dirimu.
Jika engkau sibuk dengan dirimu, maka jangalah engkau sibukkan diri kecuali dengan ilmu yang wajib bagimu sesuai dengan keadaanmu dan segala yang berkaitan dengan amalan-amalan lahir seperti belajar salat, taharah dan puasa.
Yang lebih penting adalah ilmu sifat-sifat hati, mana yang terpuji dan tercela, darinya, karena manusia tidak luput dari sifat-sifat tercela seperti serakah, dengki, riya’, sombong, suka membanggakan diri dan sebagainya.
Jika nafsumu mengajakmu untuk meninggalkan wirid-wirid dan Zikir-zikir yang kami sebutkan karena menganggapnya berat, maka ketahuilah bahwa setan telah memasukkan dalam hatimu penyakit cinta harta dan kedudukan.
Maka janganlah engkau terpedaya olehnya sehingga menjadi bahan tawaannya. Karena ia akan membinasakanmu dan mengejekmu.
Jika engkau biasakan dalam waktu lama membaca wirid-wirid dan mengerjakan ibadat-ibadat sunah sehingga engkau tidak merasa berat karena malas, tetapi nampak keinginanmu untuk menghasilkan ilmu yang berguna dan engkau hanya mengharapkan rida Allah serta negeri akhirat, maka itu lebih utama dari pada ibadat sunah meskipun niatnya benar. Misalnya dalam belajar ilmu itu engkau bermaksud menghidupkan syariat dan menyiarkannya. Maka amal yang disertai niat ini lebih utama dari pada puasa dan salat malam, khalwat, riyadhah dan segala sesuatu lainnya.
Andaikata pelakunya membatasi pada amalan-amalan fardu disertai niat yang baik ini, maka hal itu berlipat-lipat kali lebih baik dari pada lainnya, karena manfaat yang meluas lebih besar pahalanya daripada manfaat yang terbatas.
Akan tetapi yang diperhitungkan adalah keabsahan niat. Jika niatnya tidak sah, maka belajar adalah tempat kesesatan orang-orang bodoh dan tempat tergelincirnya para ulama.
Keadaan kedua, adalah engkau tidak dapat menghasilkan ilmu yang berguna dalam agama, tetapi engkau sibukkan dirimu dengan wirid-wirid seperti Zikir, tasbih, membaca Al-Qur’an dan salat.
Semua itu termasuk derajat-derajat para ahli ibadat dan perilaku orang-orang salih. Dengan melakukan itu engkau menjadi orang yang beruntung. Diantara para sahabat ada yang wiridnya dalam sehari membaca 12.000 tasbih, ada yang wiridnya 30.000 tasbih, ada yang wiridnya 300 rakaat hingga 600 rakaat, bahkan 1.000 rakaat.
Di antara mereka ada yang wiridnya dalam sehari mengkhatamkan Al-Qur’an. Ada pula yang menghabiskan waktunya dalam sehari semalam untuk merenungkan satu ayat dan di ulang-ulang.
Karzin bin Wabrah yang bermukim di Makkah, bertawaf 70 kali dalam sehari dan 70 kali dalam semalam. Di samping itu ia juga mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari semalam dua kali.
Ketahuilah bahwa membaca Al-Qur’an di dalam salat sambil berdiri dengan merenungkannya telah mencakup semuanya, tetapi boleh jadi sulit dilakukan terus-menerus. Maka yang lebih utama menurut kemampuan masing-masing. Tujuan wirid adalah membersihkan dan menyenangkan hati dengan menyebut nama Allah .
Hendaklah pencari kebaikan melihat kepada hatinya. Mana yang dilihatnya lebih berpengaruh dalam hatinya, hendaklah ia menekuninya. Apabila ia merasa jemu, maka hendaklah ia berpindahlah kepada yang lain, karena kejemuan merupakan tabiat manusia. Demikian disebutkan dalam Al-Ihya”.
Keadaan ketiga, hendaknya engkau sibukkan dirimu dengan sesuatu yang menimbulkan kebaikan bagi kaum muslimin dan memasukkan kegembiraan dalam hati orang-orang mukmin dengan memenuhi hajat dan menolong mereka dalam kebajikan dan ketakwaan. Telah diriwayatkan dalam khabar bahwa amalan yang paling utama adalah menimbulkan kegembiraan dalam hati orang-orang mukmin. Atau kerjakanlah amalamal baik bagi untuk orang-orang salih seperti mengabdi para fuqaha dan orang-orang sufi serta ahli agama. Memberi makan kaum fakir miskin, menjenguk orang sakit, melayat jenazah dan mengantarkannya ke kuburan. Semua itu lebih utama dari pada salat sunah, karena merupakan ibadat dan mengandung manfaat bagi orang-orang muslim.
Al-Jailani berkata: “Tidaklah aku sampai kepada Allah dengan salat malam dan puasa di siang hari, tetapi aku sampai kepada Allah dengan kemurahan hati, rendah hati dan hati bersih.”
Keadaan keempat, jika engkau tidak sanggup melakukan ketiga keadaan yang di atas. Maka bekerjalah untuk memenuhi kebutuhanmu atau keluargamu, karena bekerja juga termasuk ibadat dan wajib bagi umat Islam. Wiridmu adalah memasuki pasar dan bekerja mencari nafkah.
Kaum muslimin telah selamat darimu dan aman dari lisan serta tanganmu dan selamat pula agamamu, karena engkau tidak melakukan pelanggaran sehingga dengan itu engkau mencapai derajat ashabul yamiin, meskipun tidak termasuk orang-orang yang naik ke kedudukan orang-orang yang bergegas dalam menunaikan ibadat di samping mengajar dan belajar. Mencari nafkah dengan sifat ini adalah derajat yang paling sedikit dalam tingkatan-tingkatan agama.
Adapun bila engkau terus mencari nafkah dan tidak lupa menyebut. nama Allah dalam pekerjaanmu, dengan membaca tasbih dan zikir zikir serta membaca Al-Qur’an dan menyedekahkan kelebihan dari hajatmu, maka semua itu lebih baik dari pada zikir-zikir yang saya sebutkan disini, karena ibadat yang menyangkut orang lain lebih berguna daripada yang untuk diri sendiri.
Mencari nafkah dengan niat ini adalah ibadat bagimu dalam dirimu yang mendekatkanmu kepada Allah , kemudian timbul faidah bagi orang lain disamping engkau mendapat berkah doa kaum muslimin dan berlipat kali pahalanya. Selain dari keadaan keempat yang tersebut ini adalah tempat berkeliarannya setan.
Karena sekain keadaan keempat itu engkau akan bekerja dengan sesuatu yang merobohkan agamamu atau mengganggu seorang hamba Allah. Ini adalah kedaan orang-orang yang binasa. Maka janganlah engkau termasuk golongan ini. Pepatah mengatakan: Waktu itu bagai pedang. Jika engkau tidak memotongnya, maka ia akan memotongmu.
Dan nafsumu, jika tidak engkau sibukkan dengan tindakan yang benar, maka ia akan menyibukkanmu dengan sesuatu yang batil.
Ketahuilah bahwa hamba terhadap agamanya ada tiga derajat. Pertama orang yang selamat dari dosa, ia adalah orang yang membatasi dengan menunaikan amalan-amalan fardu dan meninggalkan maksiat. Kedua orang yang beruntung untuk akhiratnya, yaitu mereka yang menyumbang-kan amalan-amalan dan salat-salat sunah. Dan yang ketiga orang yang merugi, yaitu mereka yang binasa dan berdosa dan ia adalah orang yang ceroboh dalam menunaikan amalan-amalan wajib.
Allah berfirman:
“Diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat baik dengan izin Allah.” (QS. Faathir :32)
Abu Bakar Al-Waraq berkata: “Keadaan hamba ada tiga, yaitu bermaksiat, lalai dan bertobat, kemudian mendekatkan diri kepada Allah. Apabila durhaka, ia masuk dalam golongan orang-orang yang zaiim. Apabila bertobat, ia masuk dalam golongan orang-orang yang pertengahan. Bila sah tobatnya dan banyak ibadat serta mujahadahnya ia akan masuk golongan orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan. Jika tidak bisa beruntung dengan amalan-amalan sunah, maka berijtihad untuk menjadi orang yang selamat dengan menunaikan amalan-amalan yang wajib dan menjauhi semua larangan. Oleh karenanya jagalah dirimu, agar tidak menjadi orang yang merugi dengan tidak adanya perhatian dalam menunaikan amalan-amalan fardu.
Meskipun hamba masuk surga dengan karunia Allah, namun setelah ia mempersiapkan diri dengan mentaati-Nya, karena rahmat Allah dekat dari orang-orang yang berbuat kebajikan.
Diceritakan bahwa seseorang lelaki dari kalangan Bani Israil beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Lalu Allah mengutus kepadanya seorang malaikat yang mengabarinya bahwa meskipun ia beribadat selama itu, namun ja tidak pantas masuk surga. Ketika mendengar itu, ahli ibadat tersebut berkata: “Kita diciptakan untuk beribadat, maka haruslah kita menyembah-Nya.”
Ketika malaikat itu kembali, ia berkata: “Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui apa yang dikatakannya.” Kemudian Allah berfirman: “Oleh karena ia tidak berpaling dari menyembah Kami, maka Kamipun tidak berpaling darinya dengan kemurahan Kami. Saksikanlah hai para malaikat, bahwa aku telah mengampuni dosanya.”
Hamba itu terhadap para hamba lainnya ada tiga tingkatan. Pertama, hamba yang menempati kedudukan para malaikat yang mulia dan berbakti. Hamba tersebut bekerja untuk memenuhi keinginan mereka dengan menolong mereka dan memasukkan kegembiraan dalam hati mereka. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis: Tidaklah Allah di sembah dengan sesuatu yang lebih baik daripada menggembirakan hati orang lain. Kedua, hamba yang menempati kedudukan hewan dan benda mati terhadap mereka. Maka kebaikannya tidak mencapai mereka, tetapi tidak menganggu mereka.
Ketiga, hamba yang menempati kedudukan kalajengking dan ular serta binatang buas yang berbahaya terhadap mereka sehingga tidak diharapkan kebajikannya dan dihindari kejahatannya.
Jika engkau tidak bisa meniru para malaikat yang mulia, maka janganlah engkau turun dari derajat hamba yang pertengahan, yaitu tingkatan hewan dan benda mati, menjadi tingkatan kalajengking, ular dan binatang buas yang berbahaya.
Jika engkau rela dirimu turun derajat malaikat ke derajat malikat ke derajat orang-orang yang pertengahan, maka jangalah engkau rela dirimu turun ke derajat yang paling rendah, yaitu derajat binatang buas.
Maka barangkali engkau selamat sekadar kebutuhanmu, tidak kurang dan tidak lebih, engkau tidak mendapat manfaat dan juga tidak dirugikan. Oleh sebab itu, kerjakanlah di waktu siangmu sesuatu yang bermanfaat bagimu untuk dunia dan akhiratmu yang engkau butuhkan.
Jika engkau seorang pedagang, maka berdaganglah dengan benar dan jujur. Jika engkau seorang pekerja, maka bekerjalah dengan baik dan jangan lupa menyebut nama Allah dalam semua pekerjaanmu. Batasilah pencaharianmu sesuai dengan kebutuhan harimu.
Sesanggup apapun engkau mencari nafkah dalam sehari dan telah cukup memperoleh keuntungan, hendaklah engkau luangkan waktu untuk menyiapkan bekal akhiratmu, karena kebutuhan akan akhirat lebih banyak dan kenikmatannya lebih kekal.
Jika engkau tidak sanggup menunaikan kewajiban agamamu ketika bergaul dengan orang banyak sedangkan engkau juga tidak dapat selamat dari maksiat, ghibah, riya, tidak dapat ber-amar ma’ruf dan nahi munkar serta tidak menunjukkan akhlak yang mulia dan selalu berbuat jahat sebagai akibat keserakahan terhadap dunia, maka sebaiknya engkau lakukan uzlah.
Hendaklah engkau jauhkan dirimu (uzlah) dari orang banyak karena di dalam uzlah terdapat keselamatan dari berbagai fitnah, permusuhan dan kejahatan orang lain serta keserakahan orang lain terhadap milikmu dan keserakahanmu terhadap milik orang lain. Karena terputusnya keserakahan orang-orang darimu mengandung faidah yang banyak. Sedangkan keridaan orang-orang adalah tujuan yang tidak tercapzsi. Maka sebaiknya manusia lebih mengutamakan perbaikan dirinya. Dan sesungguhnya terputusnya keserakahanmu dari mereka mengadung faidah yang banyak. Maka siapa yang memandang kepada keindahan dunia dan kebagusannya, bangkitlah keserakahannya.
Bilamana ia melakukan uzlah, maka ia tidak menyaksikan, dan jika tidak disaksikan, ia pun tidak menyukai dan tidak serakah. Bilamana engkau merasa was-was yang tidak diridai Allah di waktu uzlah sedang engkau tidak mampu mengatasi-nya dengan wirid, hendaklah engkau tidur. Karena tidur adalah keadaan yang terbaik. Bilamana tidak sanggup mendapat keuntugan dari kemenangan, kita rela dengan keselamatan dalam kekalahan.
Artinya bila kita tidak sanggup mengerjakan amal-amal Salih, maka janganlah melakukan amal-amal yang buruk. Seburuk-buruk keadaan adalah orang yang ingin selamat agamanya tanpa mengerjakan ibadat, dan meluangkan seluruh waktunya untuk tidur. Karena dengan tidur ia menganggurkan kehidupannya dan masuk dalam golongan benda mati.
Abu Thalib Al-Makki menyebutkan perselisihan mengenai keadaan jaga yang kosong dari ibadat-ibadat seperti zikir dan lainnya dan keadaan tidur yang bukan untuk takwa dengan mentaati Allah , maupun untuk meninggalkan maksiat.
Maka dikatakan, keadaan jaga lebih utama daripada tidur itu, karena merupakan kekurangan. Ada yang mengatakan, tidur lebih utama, karena boleh jadi ia bermimpi melihat nabi atau orang-orang salih. Adapun tidur yang bertujuan mencari keselamatan dan berniat salat malam, maka ia adalah ibadat.









One Comment