Pembicaraan Tentang Kedurhakaan Hati
Ketahuilah bahwa sifat-sifat tercela di dalam hati banyak jumlahnya, karena berkumpul pada manusia empat macam sifat, yaitu Sabu’iyah (binatang buas), Bahimiyah (binatang), Syaitaniyah dan Rabbaniyah. Semua itu terkumpul di dalam hati. Maka berkumpullah pada manusia sifat babi, anjing, setan dan orang bijak.
Babi adalah syahwat, anjing adalah amarah sedangkan setan selalu membangkitkan syahwat babi dan amarah binatang buas sementara orang bijak yang berupa akal, diperintah menolak tipu daya setan. Seseorang yang memiliki sifat babi, ia akan menuruti syahwatnya dengan menimbulkan sifat tak tahu malu, jahat, boros, kikir, riya’, berandal, kesiasiaan, tamak, dengki, dendam dan lainnya.
Sedang mereka yang memiliki sifat anjing, ia akan menuruti amarahnya dengan menyebarkan ke dalam hati sifat menonjolkan diri, suka berlaku keji, kemewahan, pembual, sombong, membanggakan diri, mengajak dan meremehkan orang lain, keinginan berbuat jahat dan kezaliman dan lainnya. Sedang mereka yang memiliki sifat setan ia akan menuruti syahwat dan amarah yang menghasilkan sifat licik dan penuh tipu-daya, keberanian, penyelewengan, pengkhianatan dan semacamnya.
Andaikata semua itu ditanam di bawah kepemimpinan sifat Rabbaniyah, niscaya menetaplah dari sifat-sifat Rabbaniyah di dalam hati, Yaitu ilmu, hikmah, keyakinan, pengetahuan akan hakikat segala sesuatu dan segala urusan menurut apa adanya.
Cara membersihkan hati dari sifat-sifat tercela sangatlah sulit. Cara pengobatan dan pengamalannya telah terhapus seluruhnya karena manusia lalai akan dirinya dan sibuk dengan kesenangan dunia. Kami telah menjelaskan hal itu semua, yaitu sifat-sifat tercela dan cara pembersihkan hati darinya dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dalam Rubu’ Muhlikaat dan Rubu? Munyiyaat.
Dalam Muhlikaat (perkara-perkara yang membinasakan) adalah pada bagian ketiga, sedangkan dalam Munjiyaat (perkara-perkara yang menyelamatkan) adalah pada bagian keempat. Akan tetapi kami peringatkan agar berhati-hati terhadap tiga sifat buruk di dalam hati yang kebanyakan menimpa pelajar figh di zaman ini, karena ketiga sifat ini menimbulkan kebinasaan dan merupakan pokok dari sifat-sifat buruk lainnya, yaitu dengki, riya dan kesombongan.
Maka berijtihadlah dalam membersihkan hati darinya. Jika seseorang sanggup membersihkannya, maka ia pun mengetahui cara menghindari sisanya diantara rubu’ muhlikaat.
Bilamana tidak sanggup melakukan ini, maka ia lebih tidak sanggup lagi membersihkan sifat-sifat buruk lainnya. Janganlah sering menyangka bahwa diri kita selamat dari dosa dengan niat yang baik dalam belajar ilmu sementara dalam hati kita terdapat sifat dengki, riya dan kesombongan.
Nabi bersabda:
“Tiga perkara menimbulkan keselamatan, yaitu rasa takut kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan. Berlaku adil Jalam keadaan rida dan marah, dan berbuat wajar dalam keadaan miskin dan kaya. Dan nga perkara menimbulkan kebinasaan yaitu kekikiran yang dituruti, hawa na Su yang diikuti dan kebanggaan manusia terhadap dirinya.”
Sifat yang terakhir ini adalah fitnah yang menimpa para ulama dan merupakan fitnah terbesar.
“Tiga perkara menimbulkan kebinasaan dan tiga perkara menimbulkan keselamatan serta tiga perkara menghapus dosa dan tiga perkara merupakan derajat-derajat. Adapun perkara-perkara yang membinasakan adalah kekikiran yang di taati, hawa nafsu yang diikuti dan kebanggaan manusia terhadap dirinya, Adapun perkara-perkara yang menimbulkan keselamatan alah berlaku adil dalam keadaan marah dan nda, berbuat wajar dalam kradaan miskin dan kaya, rasa takut kepada Allah dalam keadaan sembunyi dan terang-terangan. Adapun pertaraperkara yang menghapus dosa talah salat sesudah salat, menyempurnakan wudu mesti udara dalam keadaan sangat dingin dan melangkahkan kaki untuk salat jamaah. Adapun derajat-derajat (di surga) ialah dengan memberi makan orang lain, menyiarkan salam dan mengerjakan salat di waktu malam ketika orang-orang tidur:
Nabi bersabda :
“Tiga perkara yang tidak selamat umat ini darinya, yaitu iri hati, prasangka dan berfirasat buruk. Maukah kuberitahukan kepada kalian jalan keluarnya? Mereka menjawab: Beritahulah kami, Nabi berkata: Apabila menyangka, janganlah engkau pastikan. Apabila engkau iri. maka Janganlah berbuar zalim. Dan apabila berfirasat buruk, maka teruslah seraya bertawakal kepada Allah.”
Adapun hasad, maka ia adalah cabang dari kekikiran, dendam dan amarah. Karena orang bakhil adalah orang yang enggan membelanjakan hartanya yang dituntut oleh syara dan harga dirinya untuk menafkahkannya kepada orang lain.
Sedangkan syakhih adalah orang yang kikir dengan nikmat Allah yang terdapat dalam perbendaharaan kekuasaan Allah bukan dalam perberdaharaan-Nya pada hamba-hamba Allah. Maka kekikirannya lebih besar, karena macam yang kedua ini mencegah seseorang memberi orang lain sebagaimana ia mencegah seseorang memberi orang lain. Orang yang hasad ialah orang yang merasa berat melihat Allah memberi kenikmatan kepada orang lain dari perbendaharaan kekuasaan-Nya berupa ilmu atau harta atau kecintaan oleh orang banyak seperti pengikut yang banyak atau jabatan. Bahkan orang yang hasad itu menginginkan lenyapnya kenikmatan yang dimiliki orang lain, meskipun dengan keinginan itu ia tidak mendapatkan sedikitpun dari kenikmaran itu. Keinginan ini adalah puncak kekejian dan ini adalah salah satu tingkatan hasad.
Tingkatan kedua adalah menginginkan kenikmatan itu berada kepadanya karena ia menyukai nikmat itu. Seperti menyukai sebuah rumah yang bagus atau wanita yang cantik atau jabatan berpengaruh atau yezeki banyak yang diperoleh orang lain. Ia ingin memiliki kenikmatan jtu dan yang diharapkannya adalah kenikmatan itu, bukan lenyapnya kenikmatan itu darinya.
Tingkatan ketiga adalah ia tidak menyukai kenikmatan itu untuk dirinya, tetapi menyukai yang seperti itu. Jika tidak bisa memperoleh yang seperti itu, maka ia harapkan lenyapnya kenikmatan itu dari pemiliknya supaya tidak nampak perbedaan antara ia dan orang lain.
Bagian pertama tidak tercela dan itulah yang dinamakan ghibah (iri) dan munafasah (persaingan), sedangkan bagian kedua tercela. Tingkatan keempat adalah menginginkan kenikmatan seperti itu bagi dirinya. Jika tidak memperolehnya, maka ia tidak menginginkan lenyapnya kenikmatan itu dari pemiliknya. Macam terakhir ini bisa dimaafkan bila mengenai dunia dan dianjurkan bilamana mengenai agama.
Oleh sebab itu Nabi bersabda:
“Kedengkian itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu.” (H.R. Ibnu Majah)
Orang yang hasad itu tersiksa di dalam hatinya tanpa belas kasihan dan terus tersiksa di dunia.
Kedengkian itu menimbulkan lima perkara.
Pertama, rusaknya ketaatan, kedua, perbuatan maksiat dan kejahatan, ketiga, Kepayahan dan kesusahan tanpa faidah, keempat, kebutaan hati hingga nyaris tidak bisa memahami suatu hukum Allah dan kelima, kegagalan, dan nyaris tidak bisa mencapai keinginannya. Karena dunia tidak kosong dari banyak teman sebaya maupun kenalannya yang diberi Allah kenikmatan berupa ilmu atau harta atau kedudukan.
Maka orang yang hasad itu terus tersiksa di dunia, yaitu terjadinya kesusahan dan kebingungan pada akal dan beban pikiran sampai akhir hayatn a, sedangkan siksa akhirat lebih keras dan lebih besar. Bahkan hamba tidak bisa mencapai hakikat iman selama ia tidak menyukai bagi kaum muslimin lainnya apa yang ia sukai bagi dirinya. Akan tetapi ia harus ikut bersama kaum muslimin dalam merasakan kesenangan dan kesusahan.
Orang-orang muslim itu seperti sebuah bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya. Dan seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota darinya merasa sakit, maka anggota lainnya merasa sakit.
Nabi bersabda:
“Orang-orang mukmin iru seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh tubuh menderita sakit demam dan tidak bisa tidur:”
Ibnu Baththal dan lainnya berkata:
“Rasa cinta itu ada tiga macam, yaitu cinta penghormatan dan pengagungan seperti cinta terhadap ayah. Cinta kasih sayang seperti cinta terhadap anak. Dan cinta simpati seperti cinta terhadap orang-orang lainnya. Jika engkau tidak menemukan cinta ini dari hatimu, maka lebih baik engkau sibukkan dirimu dengan mencari jalan keselamatan dari kebinasaan daripada kesibukanmu dengan furu’ yang langka dan ihnu khusumat.”









One Comment