Asy-Syafi’i berkata: “Barangsiapa menasihati saudaranya dengan diam-diam, maka ia pun telah menasihatinya dengan membaguskannya sedangkan siapa yang menasihatinya secara terang-terangan, maka ia pun telah mencemarkan dan menjelekkannya.”
Hendaklah ia maafkan kesalahannya dalam agamanya karena melakukan maksiat atau kurang memenuhi hak persaudaraan, walaupun ia sanggup imbalannya, karena sikap itu lebih besar pahalanya. Janganlah ia menegurnya dengan kebencian. Adapun pelanggaran agama seperti perbuatan maksiat atau terus menerus melakukannya, maka nasihatilah dia dengan lemah lembut supaya ia kembali menjadi baik. Adapun kesalahan terhadap dirinya, maka tiada perselisihan bahwa yang lebih utama adalah memaafkan dan menanggungnya.
Telah dikatakan: Patutlah engkau mencari 70 uzur bagi kesalahan saudaramu. Jika hatimu tidak menerimanya, maka salahkan dirimu. Maka katakan pada hatimu: Betapa kerasnya engkau. Ia mengajukan 70 uzur kepadamu, namun engkau tidak menerimanya. Maka engkaulah yang tercela, bukan saudaramu, jika ia tidak bisa menerima perbaikan, maka jika sanggup sebaiknya engkau jangan marah. Akan tetapi hal itu tidak mungkin.
Asy-Syafi’i telah berkata: “Barangsiapa yang dibangkitkan kemarahannya sedang ia tidak marah, maka ia adalah keledai. Dan siapa pun yang diminta kerelaannya sedang ia tidak rela, maka ia adalah setan. Maka janganlah engkau menjadi keledai maupun setan jika tidak mau menerima.”
- Mendoakannya ketika berada sendirian di masa hidupnya dan sesudah matinya dengan segala yang disukainya bagi dirinya dan keluarganya. Maka engkau doakan dia sebagaimana engkau mendoakan dirimu.
Janganlah engkau bedakan antara dirimu dan dia, karena doamu baginya sama dengan doanya bagi dirimu. Nabi bersabda: “Apabila seseorang berdoa bagi saudaranya dalam keadaan sendirian, malaikat berkata, Dan bagimu seperti itu. Dalam lafaz lain: Allah berkata, Denganmu aku mulai.”
Disebutkan dalam hadis:” Dikabulkan doa seseorang bagi saudaranya tidak seperti yang dikabulkan baginya mengenai dirinya.”
Dalam hadis disebutkan: “Dan seseorang bagi saudaranya di kala sendirian tidak ditolak.”
- Tetap setia dalam mencintainya sampai mati terhadap anak-anaknya dan para kerabatnya setelah temannya meninggal seperti sebelumnya. Karena cinta itu sesungguhnya dimaksudkan untuk akhirat. Maka jika terputusnya sesudah mati, sia-sialah amal dan usahanya.
- Hendaklah ia berusaha meringankannya dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang memberatkannya. Maka janganlah meminta darinya suatu kedudukan atau harta untuk menghindari kejemuan yang menimbulkan perpecahan. Janganlah memaksanya bersikap tawadhu’ kepadanya, tetapi ia hanya mengharapkan rida Allah dengan kecintaannya untuk mencari berkah dengan doanya dan kesenangan ketika berjumpa dengannya untuk memelihara agamanya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan hak-haknya dan menanggung bebannya.
Dan menampakkan kegembiraan atas semua kegembiraan yang dialaminya serta menampakkan kesedihan atas gangguan yang dialaminya. Ia sembunyikan dalam hatinya seperti apa yang nampak sehinggaia benar-benar tulus dalam kecintaanya, baik dalam keadaan diam-diam maupun terang-terangan. Karena keikhlasan dalam persaudaraan’adalah kesamaan sikap pada ucapan dan di dalam hati, dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, di hadapan jamaah maupun dalam keadaan sendirian. Barangsiapa tidak ikhlas dalam persaudaraan (persahabatannya), maka ia pun munafik. Bilamana batin menyembunyikan dendam dan kedengkian, maka putus hubungan lebih baik daripada persahabatan.
Seorang bijak berkata: “Teguran yang nyata lebih baik daripada dendam yang tersembunyi.”
Apabila seseorang ingin mengetahui kecintaan temannya kepadanya, maka hendaklah ia melihat kecintaannya kepada temannya itu: Tanyailah hatimu tentang kecintaan orang lain
Itu adalah saksi yang tidak menerima suap
Janganlah kamu tanyai mata tentang kecintaan itu
Karena ia akan menunjukkan lain dari yang tersembunyi dalam hati.
- Mendahului memberi salam kepadanya ketika berjumpa dengannya. Demikian pula ia lakukan terhadap orang yang tak dikenalnya. Dan melapangkan tempat duduk baginya dalam majelis dan engkau panggil dia dengan nama yang paling disukainya.
- Keluar dan menyambut serta mengantarkannya ketika temannya berdiri demi menghormatinya, kecuali bila ia melarangnya.
- Diam ketika temannya berbicara hingga ia selesaikan bicaranya dan tidak mencampuri pembicaraannya.
Memenuhi undangannya bila ia mengundangnya,dan menjenguknya bila sakit walaupun sekali. Menghadiri jenazah keluarganya bila meninggal dunia walaupun tidak mengimami salat jenazah. Memenuhi sumpahnya ketika temannya bersumpah terhadapnya dalam perkara yang mubah. Ringkasnya ialah ia perlakukan temannya sebagaimana mestinya, karena hal itu menunjukkan kesempurnaan iman.
Sahl bin Abdullah berkata: “Barangsiapa tidak suka mengganggu orang lain, ia pun bisa berjalan di atas air, yakni menampakkan karomahnya untuk suatu keperluan. Karena boleh jadi wali wajib menyembunyikan karomah yang utama.” Sebagaimana dinukil oleh ArRamli dari Asy-Syeikh Khalil.
Maka siapa yang tidak menyukai pada saudaranya seperti yang ia sukai bagi dirinya, persaudaraannya adalah nifag dan persaudaraan itu akan menjadi berat baginya di dunia dan akhirat.
Hak persahabatan itu berat, tidak ada yang sanggup memenuhinya kecuali orang yang bijaksana. Tidaklah diragukan bahwa pahalanya banyak. Tidak ada orang yang dapat memperolehnya, kecuali orang yang mendapat taufik. Karena itu dikatakan: ”Berbuatlah baik kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin sejati. Semua ini adalah adabmu terhadap orang awam yang belum engkau kenal sebelumnya dan terhadap teman-teman yang telah engkau anggap sebagai Sudara.”
Adapun macam ketiga, yaitu para kenalan, maka waspadalah terhadap mereka, karena engkau tidak menemukan kejahatan kecuali dari orang yang dikenalnya. Adapun teman, maka ia akan membantumu. Adapun orang tak dikenal, maka ia tidak mengganggumu.
Sesungguhnya kejahatan itu timbul dari para kenalan yang menampakkan persahabatan dengan lisan mereka, tetapi menyembunyikan permusuhan dalam batin mereka. Maka sedikitlah berhubungan dengan para kenalan sedapat mungkin. Apabila engkau terpaksa bergaul dengan mereka dalam madrasah atau masjid atau masjid atau pasar atau di tempat lain di dalam maupun diluar negaramu, maka janganlah meremehkan seorang pun dari mereka. Karena engkau tidak tahu barangkali ia lebih baik darimu di sisi Allah “
Disebutkan dalam sebuah hadis:
“Cukuplah kejahatan orang muslim bila ia meremehkan saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya.”
Janganlah engkau memandang kepada mereka dengan mengagungkan mereka dalam urusan dunia, karena engkau akan binasa dengan sebab cintamu kepada dunia. Sebagaimana sabda Nabi : “Barangsiapa merendahkan diri kepada seorang kaya lantaran kekayaannya, lenyaplah dua pertiga agamanya.” Karena dunia itu di sisi Allah sangatlah kecil dan rendah, dan Allah tidak memandang kepada dunia sejak Dia menciptakannya.
Betapa pun besarnya penghuni dunia di dalam hatimu, ia telah jatuh dari pandangan Allah , yakni pandangan cinta. Karena dunia adalah musuh Allah dan para wali-Nya. Dalam hadis disebutkan: ”Cinta harta dan kehormatan menumbuhkan sifat munafik di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman.”
Janganlah engkau berikan agamamu kepada mereka untuk memperoleh kesenangan dunia dari mereka. Hal itu merupakan kerugian besar. Tidaklah seseorang melakukan itu, melainkan ia menjadi rendah dalam pandangan mereka, kemudian tidak mendapat harta dari mereka sebagaimana kita saksikan di masyarakat. Jika mereka memusuhimu, janganlah engkau balas mereka dengan permusuhan, karena engkau tidak bisa bersabar untuk membalas mereka sehingga lenyaplah agamamu dalam permusuhan mereka dan mengalami kepayahan yang Jama bersama mereka. Janganlah engkau condong kepada mereka ketika mereka menghormatimu dan memujimu di hadapanmu serta menampakkan kecintaan kepadamu. Karena jika engkau mencari hakikat perlakuan itu, niscaya engkau tidak menemukan seorang dari seratus orang.
Seorang penyair berkata:
Ambillah yang bersih dari temanmu dan tinggalkan mana yang keruh darinya karena umur manusia terlalu pendek untuk mencela orang lain.









One Comment