Apabila engkau menguap, maka tutupilah mulutmu dengan punggung tanganmu yang kiri untuk mengusir setan, karena menguap berasal dari setan.
Hendaklah engkau duduk dengan tenang dan bicara yang teratur. Dengarkanlah perkataan baik dari orang yang berbicara kepadamu tanpa menampakkan keheranan yang banyak dan jangan terlalu banyak bercerita. Janganlah engkau ceritakan tentang kekagumanmu terhadap anakmu maupun syairmu, perkataan dan karanganmu serta segala urusanmu. Janganlah memaksakan sikap seperti orang salih dalam tindaktandukmu seperti wanita yang berlebihan dalam bersolek.
Janganlah memakai baju yang hina seperti budak dan jangan terlalu banyak memakai celak. Janganlah berlebihan dalam memakai minyak di badan dan jangan mendesak dalam mencari keperluanmu dari orangorang dan jangan mendorong seseorang untuk berbuat kezaliman kepada orang lain. Karena siapa yang membantu perbuatan jahat, ia pun terlibat di dalamnya.
Janganlah engkau memberitahu istri dan anakmu maupun orang lain kader kedudukan yang engkau miliki.
Karena jika mereka melihatnya sedikit, maka mereka meremehkannya. Dan jika mereka melihatnya banyak, mereka tetapi tidak puas. Menjauhlah dari mereka bila mereka bersalah tanpa bersikap keras dan bersikaplah lunak terhadap mereka tanpa menunjukkan kelemahan. Janganlah engkau bercanda dengan budak perempuan maupun budak lelakimu supaya tidak hilang kewibawaanmu dari hati mereka.
Demikian pula terhadap orang-orang lainnya. Oleh karena itu dikatakan: “Janganlah menampakkan putihnya gigimu kepada seseorang supaya ia tidak menampakkan kehitaman duburnya kepadamu.”
Apabila engkau bertengkar dengan orang lain, maka hargailah dirimu supaya orang-orang mengikuti perkataanmu.
Demikian dikatakan oleh Asy-Syeikh Abdush Shomad. Jangan sampai engkau melakukan atau mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan syara di waktu bertengkar dan jangan terburu-buru ketika menjawab dan ketika marah. Pikirkanlah jawabanmu dan jangan banyak memberi isyarat dengan menoleh serta jangan sering menoleh kepada orang yang dibelakangmu, dan jangan duduk di atas kedua lututmu.
Apabila amarahmu telah reda, maka bicaralah. Bahkan patutlah engkau diam sebeum berwudu. (Ini adalah penyelesaian perkara yang dilakukan di hadapan raja atau penguasa).
Jagalah dirimu dari teman yang hanya menemanimu di saat engkau sakit dan miskin, karena ia adalah musuh yang paling jahat. Dan Janganlah engkau jadikan hartamu lebih mulia daripada kehormatanmu. Barangsiapa bergurau atau ribut di majelis, hendaklah ia menyebut nama Allah ketika berdiri.
Nabi bersabda:
“Barangsiapa duduk di suatu majelis dan banyak ribut di situ, lalu mengucapkan sebelum berdiri dari tempat duduknya itu: Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku mohon ampun dan bertobat kepada-Mu, maka diampunilah dosanya di majelis itu.”
Hai pemuda, cukuplah bagimu kadar ini dari Bidayatul Hidayat, maka amalkanlah dengan permulaan ini bagi dirimu. Permulaan itu terdiri dari tiga bagian. Satu bagian mengenai adab-adab ketaatan, satu bagian tentang meninggalkan maksiat dan satu bagian tentang pergaulan dengan manusia. Permulaan hidayat ini mencakup hubungan hamba dengan Al-Khalig dan manusia. Keseluruhan ini dinamakan agama yang sempurna dan ia adalah bekal untuk akhirat. Jika engkau lihat permulaan hidayat ini dekat dengan dirimu dan engkau dapati hatimu condong kepadanya serta ingin mengamalkan isinya, maka ketahuilah bahwa engkau adalah hamba Allah yang diterangi hatimu dengan iman sempurna oleh Allah dan dilapangkan Allah dadamu dengannya.
Maka bersyukurlah kepada Allah yang memberimu petunjuk untuk melakukan itu dan mohonlah kepada-Nya agar tetap di atas jalan yang lurus. Telah jelas bahwa permulaan ini mempunyai penghabisan dan di balik penghabisan itu ada rahasia-rahasia dan rincian-rincian yang telah saya sebutkan pertama kali dalam syarah ini dan ilmu-ilmu batin seperti ihnu hal ihwal hati.
Adapun yang terpuji darinya adalah kesabaran, syukur, rasa takut, harapan, keridaan, zuhud, gana’ah, pengetahuan karunia Allah dalam semua keadaan, baik sangka dan keikhlasan dan sebagainya. Adapun yang tercela adalah takut miskin, benci takdir, mencari ihnu, ingin dipuji, ingin panjang umur di dunia untuk bersenang-senang dan sebagainya.
Dan mukasyafah, yaitu puncak ilmu. Ia adalah ibarat cahaya yang nampak di dalam hati ketika membersihkan dari sifat-sifatnya yang tercela. Dari cahaya itu timbul banyak hal hingga timbul pengetahuan yang hakiki tentang Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya yang kekal dan sempurna, perbuatan-perbuatan-Nya, hikmah-hikmah-Nya dalam hukum penciptaan dunia dan akhirat dan alasan pengutamaan-Nya terhadap akhirat di atas dunia.
Kami telah memasukkannya dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, maka pelajarilah kitab Al-Ihya’ supaya engkau menjadi ahli dhahir dan batin sekaligus. Telah dikatakan: Ulama dhahir adalah perhiasan bumi dan kerajaan bumi, sedangkan ulama batin adalah perhiasan langit dan kerajaan langit. :
As-Sariyyu berkata kepada Al-Junaid: Semoga Allah menjadikanmu ahli hadis yang sufi dan tidak menjadikanmu sebagai sufi yang ahli hadis. Dengan itu ia mengisyaratkan kepada pendapat bahwa siapa yang mempelajari hadis dan ilmu, kemudian belajar tasawuf, ia pun beruntung. Dan siapa yang belajar tasawuf sebelum ilmu, ia pun membahayakan dirinya.
Jika engkau melihat dirimu merasa berat mengamalkan wirid-wirid ini dan mengingkari ilmu semacam ini, lalu dirimu berkata kepadamu: Bagaimana ilmu ini bisa bermanfaat bagimu dalam majelis ulama dan kapan engkau bisa mengungguli teman-teman sejawat dan sederajat dan bagaimana ilmu ini bisa mengangat kedudukanmu di majelis umara dan wuzara. Bagaimana ia menyampaikanmu kepada pemberian dan tunjangan yang diberikan oleh mereka serta kepemimpinan atas wakaf dan peradilan.
Maka ketahuilah bahwa setan telah menyesatkan dan membuatmu lupa akan tempat kembali dan tempat tinggalmu, yaitu akhirat. Oleh karena itu carilah setan seperti engkau untuk memberitahukan kepadamu apa yang engkau sangka bahwa ia berguna bagimu di dunia dan menyampaikanmu kepada keinginanmu. Kemudian ketahuilah bahwa kemuliaan itu tidak bersih dari kekeruhan, baik di rumahmu maupun di desa dan kotamu.
Kemudian engkau akan kehilangan kemuliaan yang kekal dan kenikmatan abadi di sisi Tuhan sekalian alam.
Segala puji bagi Allah yang pertama dan terakhir, yang lahir dan batin dan tiada daya dan kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam yang banyak kepada Sayyidina Muhammad dan keluarga serta para sahabatnya.









One Comment