Janganlah engkau berharap sikap mereka sama terhadapmu dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan. Janganlah engkau heran bila mereka mencelamu di saat engkau tidak ada dan jangan marah kepadanya lantaran itu, karena jika engkau berlaku adil, maka engkau dapati dirimu seperti itu pula. Bahkan engkau telah melakukan seperti itu terhadap teman-teman dan para kerabatmu sekalipun terhadap gurumu dan kedua orang tuamu, karena engkau menyebut mereka di saat mereka tidak ada, lain dari yang engkau katakan secara langsung kepada mereka. Janganlah engkau terlalu mengharapkan harta, kedudukan dan pertolongan mereka, karena orang yang tamak pada umumnya adalah sia-sia dalam akibatnya di masa yang akan datang. Orang yang tamak itu pasti hina seketika itu.
Seorang penyair berkata:
Hamba itu merdeka jika ia menerima apa adanya sedang orang merdeka adalah hambajika ia tamak maka terimalah apa yang ada dan jangan tamak karena tiada sesuatu yang buruk selain tamak.
Apabila engkau mempunyai keperluan kepada seseorang, lalu ia memenuhinya, maka berterima kasihlah kepadanya dan bersyukurlah kepada Allah Karena tidaklah sempurna syukur kepada Allah , kecuali disertai terima kasih kepada perantaranya.
Rasulullah bersabda: “Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, ia pun tidak bersyukur kepada Allah ” Sabdanya pula:
”Barangsiapa berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah dia. Jika kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia.”
Dalam sabdanya yang lain:
“Barangsiapa memberikan suatu kenikmatan kepada suatu kaum, tetapi mereka tidak berterima kasih kepadanya hingga ia doakan kebiasaan mereka, maka doanya dikabulkan.”
Jika berbuat ceroboh, maka jangan menegurnya. Abu Sulaiman AdDaazani berkata kepada Ahmad bin Abil Hawazi: Jika engkau berteman dengan seeorang, janganlah engkau menegurnya atas sesuatu yang tidak engkau sukai. Karena engkau akan mendapatkan dalam jawabanmu sesuatu yang lebih buruk daripada yang pertama.
Ahmad berkata: Kemudian aku mencobanya. Ternyata begitulah adanya. Salah seorang dari mereka berkata: Bersabar atas gangguan teman lebih baik daripada menegurnya. Menegur lebih baik daripada memutuskan hubungan, memutus hubungan lebih baik daripada mencaci maki. Janganlah engkau adukan perbuatannya terhadapmu kepada orang lain sehingga menimbulkan permusuhan.
Jadilah engkau sebagai orang mukmin yang mencari uzur dan jangan menjadi seperti orang munafik yang mencari aib-aib orang Lain.
Katakanlah di dalam hatimu bila temanmu berbuat kesalahan itu karena ja mempunyai uzur yang tidak aku ketahui. Janganlah engkau menasihati salah seorang dari mereka sebelum engkau periksa dengan hatimu apakah ia bisa menerima nasihatmu. Kalau tidak, ia tidak akan mendengarkan nasihatmu dan memusuhimu. Apabila mereka keliru dalam suatu masalah dan mereka enggan belajar darimu, maka janganlah engkau ajari mereka, karena bila mereka belajar darimu, mereka akan menjadi musuhmu.
Kecuali bila kekeliruan itu berkaitan dengan maksiat yang mereka lakukan karena kebodohan dari mereka. Maka sebutlah kebenaran dengan lemah lembut tanpa kekerasan.
Apabila engkau melihat perbuatan mulia dan kebaikan, maka bersyukurlah kepada Allah yang menjadikan mereka mencintaimu. Dan apabila engkau melihat kejahatan dari mereka, serahkanlah mereka kepada Allah dan berlindunglah kepada Allah dari kejahatan mereka dan jangan menegur mereka.
Teguran secara sembunyi lebih baik daripada pemurusan hubungan, sindiran lebih baik daripada penegasan, rulisan lebih baik daripada bicara langsung dan menahan diri lebih baik daripada semua itu. Janganlah engkau katakan kepada mereka: Mengapa kalian tidak mengenal hakku sedang aku adalah fulan bin fulan dan aku unggul dalam ilmu. Itu adalah perkataan orang yang dungu, sedangkan orang yang paling dungu adalah orang yang memuji dirinya.
Ketahuiah bahwa Allah tidak menjadikan mereka menindasmu dengan kejahatan itu, kecuali lantaran suatu dosa yang pernah engkau lakukan, walaupun setelah beberapa tahun. Maka mohonlah ampun kepada Allah atas dosamu setiap waktu.
Dalam riwayat Ibnu Hibban: Kami menghitung seratus kali perkataan Rasulullah dalam satu majelis, yaitu:
“Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
Asy-Syadzali rahimahullah berkata: Hendaklah engkau sering mengucapkan istigfar, meskipun tidak berdosa.”
Ketahuilah bahwa kejahatan yang mereka lakukan adalah hukuman dari Allah bagimu di dunia dan jadilah engkau di antara mereka mendengarkan perkataan mereka yang benar dan tidak mendengarkan kebatilan mereka dengan tidak menyiarkan di antara orang-orang atau engkau menasihati mereka dengan lemah lembut atau mengabaikannya sama sekali. Engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka dan menyiarkannya di antara orang-orang dengan menampakkan kegembiraan dan menutupi kejelekan-kejelakan mereka. Semoga Allah mengasihani orang yang melihat kejelekan saudaranya dan menutupinya. Hindarilah bergaul dengan para pelajar fikih di zaman ini, terutama orang-orang yang menyibukkan diri dengan ilmu khilaf dan perdebatan.
Waspadalah terhadap mereka, karena mereka mengharap-kan datangnya bencana atas dirimu karena kedengkian mereka mengharapkan datangnya bencana atas dirimu berdasarkan sangkaan-sangkaan yang buruk. Mereka memberi isyarat di belakangmu dengan kedipan mata dan menyebut-nyebut kesalahanmu dalam pergaulan mereka hingga mereka mengecammu dengan kesalahan-kesalahan itu seakan-akan mereka memukulmu dengan batu di dahimu ketika mereka marahmarah kepadamu dan berdebat denganmu. Mereka tidak memaafkan kesalahanmu dan tidak menutupi aibmu. Mereka menunrutmu atas perbuatan yang sangat remeh, maka terlebih pula yang lebih besar dari itu.
Mereka dengki kepadamu atas sesuatu kenikmatan yang sedikit dan banyak. Mereka menghasut orang-orang terhadapmu dengan melancarkan naminah. Dalam hadis disebutkan: Tidaklah masuk surga orang yang suka melakukan naminah. Mereka suka mengadukan kepada penguasa dan melancarkan fitnah terhadapmu. Jika mereka senang kepadamu, maka pada lahirnya mereka menunjukkan kelembutan yang sangat. Jika mereka tidak senang denganmu, maka batin mereka adalah kejengkelan. Bagian luar mereka adalah baju dan bagian dalam mereka adalah serigala. Ini adalah yang kita saksikan pada sebagian besar dari mereka, kecuali siapa yang dipelihara Allah Maka berteman dengan mereka adalah suatu kerugian dan bergaul dengan tidak mendatangkan pertolongan.
Ini adalah hukum orang yang menampakkan persahabatan denganmu. Maka bagaimana pula orang yang memusuhimu secara terangterangan.
Al-Oadhi ibnu Maruf rahimahumullah berkata:
Waspadailah musuhmu sekali, dan waspadailah temanmu seribu kali.
Barangkali temanmu berubah, maka ia lebih tahu cara untuk menimbulkan bahaya.
Abu Tamman berkata:
Musuhmu berasal dari temanmu, maka jangan terlalu sering menyalahkan teman.
Karena penyakit’yang engkau lihat kebanyakan berasal dari makanan atau minuman.
Abu Said Ats-Tsauri berkata: ” Apabila engkau berteman dengan seseorang, maka buatlah dia marah. Kemudian suruhlah orang untuk menanyainya tentang dirimu dan rahasia-rahasiamu. Jika ia berkata baik atau menyembunyikan rahasiamu, maka temanilah dia.”
Dzun Nun berkata: “Tiada kebaikan dalam berteman dengan orang orang tidak ingin melihatmu kecuali dalam keadaan terpelihara. Dan siapa yang menyiarkan rahasia di waktu marah, maka ia adalah orang yang hina.” Seorang bijak berkata: “Janganlah berteman dengan orang yang berubah dalam empat keadaan, yaitu di waktu marah dan senangnya, di saat ia tamak dan menuruti hawa nafsunya. Akan tetapi ia harus tetap sikapnya dalam berbagai keadaan sebagai teman yang tulus.”
Seorang penyair berkata:
Engkau lihat orang yang mulia apabila putus hubungannya
Menyembunyikan yang buruk dan menampakkan kebaikan Dan engkau lihat orang yang hina ketika dipenuhi kebutuhannya
Menyembunyikan yang baik dan menampakkan dusta.
Jadilah engkau sebagaimana dikatakan oleh Hilal ibnu Ala Ar-Ruqiy:
Ketika kuberi maaf dan aku tidak mendendam kepada seorangpun kubebaskan diriku dari keresahan permusuhan kuberi salam kepada musuhku sewaktu melihatnya untuk menolak gangguan dariku dengan memberi salam kutampakkan senyum kepada manusia yang kubenci seakan-akan ia telah memenuhi hatiku dengan kegembiraan aku tidak selamat dari orang yang tidak kukenal maka bagaimana aku selamat dari orang yang berkasih sayang orang-orang itu penyakit dan obatnya adalah membiarkan mereka sedang menjauhi mereka berarti memutuskan persaudaraan maka berdamailah dengan orang-orang niscaya engkau selamat dari gangguan mereka dan berusahalah keras untuk menghasilkan kasih sayang
Asy-Syaf”i berkata:
Manusia itu penyakit tersembunyi yang tak ada obatnya akal bingung terhadap mereka dan tak berdaya Jika engkau giat mereka bilang engkau mengejek atau engkau bersantai mereka bilang pemalas Jika engkau bergaul dengan mereka maka mereka bilang engkau tamak Jika engkau jauhi mereka, maka mereka bilang engkau jemu Jika engkau tidak menginginkan harta mereka sebagai kemuliaan mereka bilang engkau sudah kaya dan jika engkau minta kepada mereka, ternyata mereka kikir Sungguh aku bingung mengenai urusanku dan urusan mereka seperti halnya burung unta yang bukan burung dan bukan unta
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya kalian tidak bisa mencukupi orang-orang dengan hartamu, tetapi yang mencukupi mereka dari kamu adalah wajah ceria dan akhlak yang baik.”
Wahai pencari kebaikan, amalkanlah adab-adab penghidupan dan pergaulan bersama berbagai macam manusia.
Seorang bijak berkata: Temuilah teman dan musuhmu dengan wajah ceria tanpa merendahkan diri maupun.takut kepada keduanya. Tunjukkan kewibawaan tanpa menyombongkan diri dan tawadhu tanpa menghinakan diri. Beradablah engkau dalam semua urusanmu ditengahnya, karena kedua ujungnya adalah sifat tercela.
Seorang penyair berkata:
Ambillah sikap tengah dalam segala urusan karena ia adalah cara terbaik dalam menempuh jalan yang lurus Janganlah engkau melampaui batas atau ceroboh karena kedua sifat itu tercela Rasulullah bersabda:
“Sebaik-baik perkara adalah yang di tengah.” Janganlah engkau memandang ke kanan dan kiri dan jangan sering menoleh ke belakang maupun berhenti di tempat orang-orang yang duduk tanpa keperluan. Apabila engkau duduk bersama orang-orang, maka janganlah mengangkat kedua kakimu dan janganlah mengaitkan jari-jarimu, karena perbuatan itu menyebabkan mengantuk dan berasal dari setan. Janganlah engkau mempermainkan janggut dan cincinmu dan mengorek gigimu serta memasukkan jari-jarimu dalam hidungmu. Janganlah banyak meludah dan mengeluarkan ingus serta mengusir lalat dari wajahmu. Janganlah banyak menggeliat dan menguap di hadapan orang banyak dan di dalam salat serta lainnya.









One Comment