Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Maroqil Ubudiyah

Adapun riya’ maka ia adalah syirik tersembunyi. Nabi  Bersabda: ”Hindarilah syirik kecil.”

Para sahabat berkata” Apakah syirik kecil itu?” Nabi  Menjawab: ”Riya’. Ia adalah salah satu dari dua syirik.”

Asal syirik ialah mencari simpati dalam hati orang-orang dengan menonjolkan sifat-sifat baik untuk memperoleh kedudukan dan supaya engkau disegani oleh mereka.

Cinta kedudukan termasuk hawa nafsu yang diikuti dan kebanyakan orang binasa karenanya. Maka tidaklah orang-orang binasa, melainkan dengan sebab orang-orang lainnya. Andaikata orang-orang bersikap adil, niscaya mereka mengetahui bahwa sebagian besar ilmu dan ibadat yang mereka amalkan di samping amalan-amalan biasa tidak lain disebabkan oleh riya’, sedangkan riya itu menghilangkan pahalanya.

Diriwayatkan dari Nabi , beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang berbuat riya’ akan dipanggil pada hari kiamat dengan empat nama, hai kafir, hai fajir (durjana), hai kadir (penghianat), dan hai khaasir (orang yang rugi), usahamu telah sesat dan sia-sia pahalamu. Maka tiada bagian untukmu hari ini. Carilah pahala dari orang yang untuknya engkau beramal.”

Diriwayatkan dalam khabar bahwa orang yang mati syahid dibawa ke neraka. Maka ia berkata: “Ya Robb, aku telah mati syahid untuk menegakkan agama-Mu.” Allah  berkata: “Engkau dusta! Engkau ingin dikatakan pemberani. Dan telah dikatakan begitu dan itulah ganjaranmu.” Begitu pula dikatakan kepada orang alim, orang haji dan pembaca AlQuran.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Abi Hurairah dari Nabi  beliau bersabda: “Orang pertama yang dipanggil pada hari kiamat adalah seorang yang telah hafal Al-Qur’an dan seorang yang berperan untuk menegakkan agama Allah serta seorang yang banyak harta.

Kemudian Allah  berkata kepada pembaca Al-Qur’an: “Bukankah Aku telah mengajarimu Al-Qur’an yang Aku turunkan kepada rasul-Ku?” Orang itu menjawab: “Benar, ya Robb.” Allah berkata: “Apa yang engkau

amalkan dari yang engkau ketahui itu?” Orang itu menjawab: “Aku mengamalkannya sepanjang malam dan siang.” Allah berkata: “Engkau dusta.” Dan para malaikat berkata: “Engkau dusta.” Kemudian Allah  berkata: “Akan tetapi engkau ingin supaya dikatakan sebagai ahli baca Al-Qur’an dan telah dikatakan begitu.” Kemudian pemilik harta didatangkan. Allah berkata kepadanya: “Bukankah Aku telah melapangkan rezekimu . hingga engkau tidak lagi membutuhkan seseorang?” Orang itu menjawab: “Benar, ya Robb.” Allah berkata: “Apa yang engkau lakukan terhadap rezeki yang Aku berikan kepadamu?”

Orang itu menjawab: “Aku menyambung hubungan kekeluargaan dan mengeluarkan sedekah.”

Allah berkata: “Engkau dusta.”

Dan para malaikat berkata: “Engkau dusta.”

Kemudian Allah  berkata: “Akan tetapi engkau ingin dikatakan ba’hwa engkau dermawan dan telah dikatakan begitu.”

Kemudian didatangkan orang berperang untuk menegakkan agama Allah. Allah berkata: ” Apa yang engkau lakukan?”

Orang itu menjawab: ” Aku diperintahkan berjihat untuk menegakkan agama-Mu. Maka aku berperang hingga aku terbunuh.”

Allah  berkata: “Engkau dusta.”

Dan para malaikat berkata: Engkau dusta.”

Allah berkata: ” Akan tetapi engkau ingin dikatakan ”Si Fulan berani” dan telah dikatakan begitu.”

Ketahuilah bahwa perbuatan riya’ itu ada lima macam. Pertama, riya dalam agama dengan menonjolkan badan seperti menampakkan kurus dan pucat serta membiarkan rambut acak-acakan. Dengan menampilannya ia ingin menunjukkan sedikit makan dan dengan pucat ia ingin menunjukkan kurang tidur di waktu malam dan sangat sedih atas agama. Dengan rambut acak-acakan, ia ingin menunjukkan dirinya sangat memikirkan agama dan tidak sempat menyisir rambut.

Kedua, riya dengan penampilan dan pakaian seperti menundukkan kepala di waktu berjalan, bersikap tenang dalam gerak serta membiarkan bekas sujud pada mukanya, mengenakan baju kasar, tidak membersihkan baju dan membiarkannya robek serta memakai baju bertambal.

Ketiga, riya’ dengan perkataan, seperti mengucapkan kata berhikmah dan menggerakkan kedua bibir dengan berzikir di hadapan orang banyak. Amar maruf nahi munkar di hadapan orang banyak, menampakkan amarah atas perbuatan mungkar, menampakkan penyesalan karena orang lain berbuat maksiat, melemahkan suara di waktu berbicara dan melunakkan suara ketika membaca Al-Qur’an untuk menunjukkan rasa takut dan sedih. Keempat, riya’ dengan amal seperti riya’nya orang salat, lama di waktu berdiri, sujud dan rukuk, tidak menoleh, meluruskan kedua telapak kaki dan kedua tangannya. Begitu pula di waktu puasa atau haji dan di waktu mengeluarkan sedekah dan memberikan makanan.

Kelima, bersikap riya kepada teman-teman, para tamu dan orangorang yang bergaul seperti orang-orang yang bergaul seperti orang yang berusaha mendatangkan seorang alim atau abid atau seorang raja atau seorang pejabat supaya dikatakan bahwa mereka mengambil berkah darinya karena kedudukannya yang besar dalam agama dan seperti orang yang banyak menyebut guru-guru supaya dilihat bahwa ia mempunyai banyak guru dan belajar dari mereka sehingga merasa bangga dengan guru-gurunya. Adapun kesombongan dan membanggakan diri maka ia adalah penyakit kronis yang telah menyulitkan para dokter.

Ujub adalah membanggakan amal salih. Kesombongan terbagi menjadi batin dan lahir. Kesombongan batin ialah sifat pada diri seseorang yang menganggap dirinya melebihi orang lain. Sedangkan kesombongan lahir ialah amal-amal yang timbul dari anggota badan. Apabila nampak sifat sombong pada anggota badan, maka dinamakan takabbur. Dan apabila tidak nampak, maka dinamakan kibir. Al-Kibru mengharuskan adanya orang yang disombongi dan perbuatan yang disombongkan. Adapun ujub, maka ia hanya menghendaki orang yang membanggakan diri. Bahkan seandainya manusia diciptakan sendirian, ia pun bisa dianggap membanggakan diri, bukan sombong, kecuali bila bersama lainnya. Al-kibru ialah padangan hamba kepada dirinya sebagai orang mulai dan pandangannya kepada orang lain dengan penghinaan. Apabila ia menganggap dirinya mulia, tetapi memandang orang lain lebih mulia, darinya atau seperti dirinya, maka ia tidak dianggap menyombongkan diri kepada orang itu.

Andaikata ia meremehkan orang lain, namun ia menganggap dirinya lebih hina, ia pun tidak menyombongkan diri. Andaikata ia menganggap orang lain seperti dirinya, ia pun tidak dianggap sombong. Akan tetapi orang yang sombong ialah orang yang menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Sebagaimana dikatakan oleh iblis terkutuk: “Engkau Ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.”

Kesombongan di majelis-majelis, ialah mengutamakan diri dan mendahulukan orang lain serta ingin memimpin dan tidak suka disanggah ketika berdialog.

Orang sombong ialah orang yang tidak mau mencrima jika dinasihati. Dan apabila menasihati, ia bersikap keras. Apabila perkataannya disanggah, ia marah. Dan jika mengajar, ia tidak bersikap lemah lembut terhadap para pelajar. Ja suka menghina dan membentak mereka, menyebut-nyebut kebaikannya kepada mereka dan menjadikan meraka sebagai pelayan.

Ia memandang kepada orang awam seperti memandang seekor keledai karena menganggapnya bodoh dan hina. Setiap orang yang menganggap dirinya lebih baik daripada seseorang di antara makhluk Allah, maka ia pun termasuk orang yang sombong.

Akan tetapi engkau harus mengetahui bahwa orans baik adalah orang yang baik di sisi Allah di negeri akhirat sedangkan hal itu tidak diketahui oleh manusia dan ia tergantung pada penghabisan hidupnya. Maka keyakinanmu tentang dirimu bahwa engkau lebih baik daripada orang lain adalah kebodohan semata-mata. Akan tetapi engkau harus menganggap orang lain lebih baik darimu dan mempunyai kelebihan atas dirimu. Caramu untuk merendahkan diri adalah dengan merendahkan dirimu terhadap teman-teman setaraf dan orang-orang di bawah mereka hingga mudahlah bagimu bersikap tawadhu dan hilanglah kesombongan darimu, Jika mudah bagimu melakukan itu, maka terwujudlah bagimu akhlak tawadhu”. Jika berat bagimu melakukan itu dan engkau tetap melakukannya, maka engkau memaksa diri, bukan bersikap tawadhu. Akhlak yang sebenarnya adalah yang engkau lakukan dengan mudah tanpa merasa berat. Ketahuilah bahwa manusia mempunyai dua ujung dan satu tengah. Ujung yang satu condong kepada kelebihan dinamakan takkabur. Ujung yang lain condong kepada kekurangan dinamakan kehinaan dan kerendahan dan yang tengah dinamakan tawadhu’. Yang terpuji adalah bersikap tawadhu tanpa menghinakan diri. Masing-masing dari kedua ujung itu tercela.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker